Aceh

Pelatihan Digital Marketing di Kawasan Transmigrasi Jantho Resmi Ditutup

Pelatihan Digital Marketing di Kawasan Transmigrasi Jantho Resmi Ditutup
Kepala Disnakertrans Aceh Besar, Rahmawati, S.Pd, M.Si, memberikan sambutan dan menutup kegiatan Pelatihan Digital Marketing di Kawasan Transmigrasi Jantho, di Kota Jantho, Senin (13/04/2026). (Waspada.id/Ist)
Kecil Besar
14px

KOTA JANTHO (Waspada.id): Kegiatan Pelatihan Digital Marketing di Kawasan Transmigrasi Jantho resmi ditutup setelah berlangsung selama sepekan, sejak 7 hingga 13 April 2026. Pelatihan ini digelar di kompleks Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Aceh Besar, dengan tujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di kawasan transmigrasi.

Kepala Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Pekanbaru, Ahmad Syahir, SHI, MH., dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan keterampilan masyarakat sebagai indikator utama kemandirian suatu kawasan.

“Jika suatu kawasan ingin maju dan mandiri, maka masyarakatnya harus memiliki keterampilan yang mampu menunjang perekonomian lokal. Kehadiran kami di sini adalah untuk mendorong kawasan Jantho menjadi kawasan yang berdaya saing,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelatihan digital marketing menjadi salah satu langkah strategis agar masyarakat tidak tertinggal dari perkembangan teknologi dan mampu bersaing dengan daerah lain. Peserta pelatihan diharapkan dapat memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar produk mereka.

“Melalui digital marketing, produk yang dihasilkan masyarakat di kawasan transmigrasi bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional. Kami ingin peserta menjadi pelaku pasar, bukan hanya sebagai konsumen,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Disnakertrans Aceh Besar, Rahmawati, S.Pd, M.Si, saat menutup kegiatan tersebut, mengatakan potensi produk lokal di kawasan Kota Jantho sangat besar, terutama di sektor pertanian dan UMKM. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah aspek pemasaran dan kemasan produk.

“Produk-produk masyarakat sebenarnya sudah sangat baik, seperti keripik yang banyak diminati saat hari besar. Namun, dari sisi pemasaran dan packaging masih perlu ditingkatkan agar lebih menarik dan kompetitif,” jelas Rahmawati.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak hanya disimpan, tetapi dapat langsung diterapkan, bahkan oleh peserta yang belum memiliki usaha sendiri.

“Walaupun belum punya usaha, peserta bisa membantu memasarkan produk milik keluarga atau tetangga. Yang penting ilmunya digunakan dan memberi dampak nyata,” ujarnya.

Rahmawati juga menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk menghadirkan pelatihan-pelatihan inovatif di masa mendatang. Menurutnya, kawasan transmigrasi harus menjadi salah satu solusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Aceh Besar.

Pada sisi lain, Rahmawati menyoroti tingginya angka pengangguran di Aceh Besar yang mencapai sekitar 6,95 persen, sehingga diperlukan perubahan pola pikir masyarakat, dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.

“Pelatihan ke depan tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga melahirkan wirausahawan baru. Kita ingin peserta mampu membuka usaha sendiri, meskipun dimulai dari skala kecil,” katanya.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang juga dibekali materi tambahan seperti teknik fotografi produk dan desain label, guna menunjang kualitas pemasaran secara digital.

Dengan berakhirnya pelatihan ini, diharapkan para peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dan berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian di kawasan transmigrasi Jantho. (id67)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE