Memahami Identitas Kota Medan


Oleh: Edy Suhartono¹ & Asti Mayada²
Intro
Ada anggapan dan fenomena bahwa “Orang Medan” identik dengan “Orang Batak” karena sikapnya yang terus terang, tegas, dan blak-blakan; cara bercakap dengan suara keras seperti seakan marah (padahal tidak); serta perilakunya yang cenderung suka mendahului dan menerobos, sebagaimana terlihat di jalanan maupun di tempat keramaian.
Di balik anggapan ini, kenyataannya Kota Medan memiliki fakta keberagaman penduduk yang menunjukkan jejak sejarah dan keberadaan etnis Melayu sebagai etnis “tuan rumah” (host people) yang memiliki akar kultural di wilayah ini. Namun, eksistensinya semakin memudar di tengah geliat perkembangan kota yang tidak lagi mencirikan watak dan ciri khas Melayu yang kuat sebagaimana pada masa-masa awal perkembangan kota ini. Hal inilah yang selanjutnya telah membentuk persepsi atau anggapan “orang dari luar Medan” bahwa Medan tak lagi menampilkan ciri yang kuat sebagai wilayah budaya Melayu.
Menyebut Medan, Bertanya tentang Marga
“Dari mana asalmu?”
“Dari Medan.”
“Oh, margamu apa?”
Cuplikan percakapan dan pertanyaan di atas mungkin tidak asing bagi sebagian orang yang berasal dari Medan ketika berada di luar Pulau Sumatra Utara (Pulau Jawa, misalnya). Ketika menyebutkan asal daerah dari Medan, pertanyaan tentang marga sudah lebih dahulu muncul. Seolah-olah seluruh masyarakat Kota Medan berasal dari etnis Batak, padahal kota ini dipenuhi oleh beragam etnis.
Sebagian orang di luar daerah, ketika mendengar “Orang Medan”, memang sangat melekat dengan gambaran umum masyarakat Batak. Gaya bicaranya yang tegas dan keras dengan suaranya yang lantang, serta kebiasaan menanyakan marga, sering kali menjadi gambaran umum tersebut. Akibatnya, identitas Batak seolah begitu melekat dan menjadi wajah utama masyarakat di Sumatera Utara dan Kota Medan khususnya.
Mengapa ketika orang mendengar kata Medan, yang terlintas justru Batak, bukan etnis lainnya seperti Jawa, padahal dari segi jumlah, etnis Jawa tercatat sebagai penduduk terbanyak di kota ini? Mengapa pula sejarah Melayu Deli yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan Kota Medan tidak menjadi hal pertama dan utama ketika orang luar membicarakan kota ini?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menarik penulis untuk menelaahnya lebih jauh dan tidak bermaksud untuk membangun sebuah stereotip. Pertanyaan ini ingin mengajak kita berpikir dan melihat Kota Medan secara holistik. Medan sebagai sebuah kota tidak hanya dibentuk dan dicirikan oleh kelompok yang paling mudah dikenali, baik secara struktur maupun kultur, tetapi juga terdiri atas berbagai kelompok etnis yang hidup dan berkembang serta dapat mempertahankan identitasnya masing-masing.
Masalahnya, mengapa satu identitas sepertinya begitu kuat melekat di persepsi masyarakat, sementara identitas lainnya kurang terlihat, meskipun ada yang mengakar secara kultural (baca: etnis Melayu) dan mendominasi secara komposisi demografi (baca: etnis Jawa)?
Jawa Terbanyak, Tidak Cukup Mewarnai
Ada satu fakta menarik yang menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan tersebut, terkait dengan jumlah beberapa etnis yang ada di Kota Medan: Jawa 35,03%, Batak 33,39%, dan Melayu 6,59% (Sensus Penduduk BPS 2010).
Data tersebut menghadirkan sebuah pertanyaan yang menarik: jika masyarakat Jawa memiliki proporsi terbesar dalam data tersebut, mengapa Medan tidak lebih dikenal sebagai kota orang Jawa?
Mengapa orang yang mendengar nama Medan justru dapat langsung membayangkan masyarakat Batak, bahkan terkadang merasa terkejut ketika mengetahui bahwa masyarakat Jawa memiliki jumlah yang besar di kota ini? Namun, jumlah penduduk yang besar ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa “orang Medan” adalah “orang Jawa”. Secara demografi (komposisi jumlah penduduk), hal itu bisa dibenarkan, tetapi tidak secara kultur maupun struktur sosial.
Sebuah identitas dapat menjadi begitu lekat dengan suatu daerah melalui proses sosial yang panjang. Bahasa yang sering terdengar, tradisi yang terlihat di ruang publik, tokoh yang dikenal masyarakat, hingga gambaran yang berulang dalam media dan percakapan sehari-hari dapat membentuk cara orang luar mengenali sebuah kota.
Akibatnya, ada kelompok etnis yang lebih mudah diasosiasikan dengan suatu daerah, meskipun daerah tersebut dihuni oleh banyak kelompok lainnya. Masyarakat Jawa di Medan merupakan bagian penting dari keberagaman kota ini. Kehadiran mereka tidak serta-merta menjadikan identitas Jawa sebagai gambaran utama Medan di mata publik.
Sebaliknya, identitas Batak kerap muncul lebih dahulu dalam percakapan tentang Medan. Hal ini bukan berarti masyarakat Batak lebih dominan dalam setiap aspek kehidupan kota, melainkan menunjukkan bahwa jumlah penduduk dan kekuatan sebuah identitas dalam persepsi publik merupakan dua hal yang berbeda.
Meski demikian, kita perlu berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Data demografi yang tersedia dari tahun-tahun sebelumnya tidak dapat langsung dianggap mencerminkan komposisi etnis Medan saat ini. Begitu pula anggapan bahwa identitas Batak lebih melekat pada Medan perlu dipahami sebagai persepsi sosial yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, bukan sebagai gambaran yang berlaku bagi semua orang.
Pada akhirnya, Medan memperlihatkan bahwa sebuah kota tidak selalu dikenal melalui kelompok etnis yang jumlahnya paling besar. Identitas kota terbentuk dari sejarah, interaksi sosial, kebudayaan, dan cara masyarakat memandang lingkungannya. Karena itu, memahami Medan tidak cukup hanya dengan bertanya etnis mana yang paling banyak atau identitas mana yang paling terkenal. Kita juga perlu melihat bagaimana beragam kelompok hidup berdampingan dan bersama-sama membentuk wajah kota.
Meski secara komposisi demografis etnis Jawa menempati urutan terbanyak dalam hal jumlah penduduk, realitasnya etnis Jawa tidak begitu mewarnai (apalagi mendominasi) dinamika perkembangan budaya dan wajah Kota Medan. Meski pertumbuhan jumlah penduduk menunjukkan angka yang relatif masih banyak bila dibandingkan dengan etnis lainnya, secara kultur maupun struktur, etnis Jawa tidak cukup mengakar di daerah ini.
Melayu Deli Mengakar, tetapi Kurang Menonjol?
Medan dikenal sebagai kota multietnis dengan beragam budaya. Namun, di tengah kuatnya berbagai identitas yang melekat pada kota ini, sejarah Melayu Deli masih perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Ketika mendengar nama Kota Medan, sebagian orang mungkin langsung teringat pada suku Batak, marga, atau logat khas masyarakat Sumatera Utara. Ada pula yang mengenal Medan sebagai kota dengan penduduk dari berbagai etnis, termasuk Jawa, Melayu, Tionghoa, Minangkabau, dan kelompok lainnya. Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa identitas Melayu Deli tidak selalu muncul ketika orang membicarakan Medan, padahal kelompok ini memiliki akar sejarah dan kultural yang kuat di kawasan tersebut?
Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat kembali sejarah Kesultanan Deli. Salah satu peninggalan pentingnya adalah Istana Maimun, yang dibangun atas perintah Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Pembangunannya dimulai pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 1891. Hingga kini, Istana Maimun menjadi salah satu ikon sejarah Kota Medan yang memperlihatkan perpaduan unsur Melayu, Islam, dan Eropa dalam arsitekturnya.
Namun, mengenal Istana Maimun sebagai tempat wisata belum tentu berarti memahami sejarah Melayu Deli yang ada di baliknya. Orang mungkin mengenal bangunannya, tetapi belum tentu mengetahui perjalanan Kesultanan Deli, adat istiadat Melayu, bahasa, kesenian, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sinilah pentingnya membedakan antara mengenal sebuah bangunan bersejarah dan memahami identitas budaya yang menyertainya. Lalu, mengapa identitas Melayu Deli terkesan kurang menonjol?
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana masyarakat mengenal suatu etnis melalui kehidupan sehari-hari, bahasa, tradisi, dan pemberitaan di ruang publik. Identitas yang sering muncul dalam percakapan atau media mungkin lebih mudah melekat dalam ingatan orang. Sementara itu, sejarah suatu kelompok bisa saja belum banyak diketahui, meskipun memiliki akar yang panjang.
Meski demikian, anggapan bahwa Melayu Deli kurang menonjol masih perlu penelitian lebih lanjut.
Mempertahankan identitas Melayu Deli tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan bersejarah. Bahasa Melayu, adat perkawinan, kesenian, tradisi, cerita sejarah keluarga, dan nilai kebersamaan juga perlu terus diwariskan. Keluarga dapat mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini, sekolah dapat memperkuat pembelajaran sejarah lokal, sedangkan komunitas budaya dapat mengajak generasi muda terlibat dalam kegiatan adat dan kesenian.
Media sosial pun bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan Melayu Deli melalui konten yang menarik, seperti cerita sejarah, wawancara dengan tokoh budaya, dan dokumentasi tradisi.
Upaya ini bukan berarti masyarakat Melayu Deli harus menutup diri dari etnis lain. Justru, identitas budaya dapat tetap terjaga sambil hidup berdampingan dengan masyarakat Batak, Jawa, Tionghoa, dan kelompok lainnya. Keberagaman adalah bagian dari kehidupan Medan, sehingga memperkenalkan budaya Melayu Deli tidak perlu dilakukan dengan merendahkan atau mempertentangkan identitas siapa pun.
Pertanyaan tentang Melayu Deli di tanah sendiri bukan sekadar persoalan mengapa identitasnya terasa kurang menonjol, melainkan juga tentang apa yang bisa dilakukan agar sejarah dan budayanya semakin dikenal.
Istana Maimun telah menjadi pengingat perjalanan Kesultanan Deli, tetapi warisan yang sesungguhnya juga hidup dalam bahasa, adat, kesenian, dan kebiasaan masyarakatnya. Jika semua itu terus dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan, Melayu Deli tidak hanya akan dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian hidup dari identitas Kota Medan hari ini.
Siapa yang Berhak, Siapa yang Tidak Dikenal?
Membicarakan identitas Kota Medan tidak dimaksudkan untuk menentukan etnis mana yang paling berhak mewakili kota ini. Medan bukan milik satu kelompok saja. Kota ini tumbuh dari pertemuan berbagai masyarakat yang membawa bahasa, adat istiadat, tradisi, dan sejarah masing-masing.
Masyarakat Batak, Jawa, Melayu, Tionghoa, Minangkabau, dan kelompok lainnya sama-sama menjadi bagian dari kehidupan Medan. Karena itu, mengenalkan satu kebudayaan tidak berarti mengurangi arti kebudayaan yang lain.
Namun, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah semua sejarah yang membentuk Kota Medan sudah dikenal dengan baik oleh masyarakatnya sendiri?
Ketika nama Medan disebut, sebagian orang mungkin langsung teringat pada Batak dan marga. Sementara itu, sejarah Melayu Deli belum tentu menjadi hal pertama yang muncul dan dikenal dalam pikiran mereka. Hal ini bukan berarti budaya Melayu Deli telah hilang atau tidak dikenal, tetapi menjadi pengingat bahwa pengenalan terhadap sejarah lokal perlu terus diperluas.
Melayu Deli memiliki jejak sejarah yang cukup panjang dan dapat ditelusuri melalui Kesultanan Deli dan peninggalan seperti Istana Maimun. Akan tetapi, mengenal sebuah bangunan bersejarah tidak selalu berarti memahami kebudayaan di baliknya. Kita bisa saja mengetahui letak Istana Maimun, mengagumi arsitekturnya, bahkan menjadikannya latar foto, tetapi belum tentu memahami kisah Kesultanan Deli, tradisi Melayu, dan nilai budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di sinilah pentingnya memperkenalkan sejarah bukan hanya sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai bagian dari identitas masyarakat hari ini.
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Upaya mengenalkan Melayu Deli dapat dimulai dari keluarga, sekolah, komunitas budaya, hingga media sosial. Cerita sejarah bisa disampaikan dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda, kesenian dan adat istiadat dapat diperkenalkan melalui kegiatan budaya, sedangkan peninggalan sejarah bisa dijadikan ruang belajar yang lebih hidup.
Bahasa, tradisi, dan nilai budaya juga perlu terus dipraktikkan agar tidak sekadar dikenal namanya, tetapi benar-benar dipahami dan diwariskan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan siapa yang paling berhak disebut sebagai identitas Medan, melainkan bagaimana setiap kelompok mendapatkan ruang untuk menceritakan sejarah dan kebudayaannya. Melayu Deli tidak perlu menjadi lebih unggul daripada Batak, Jawa, atau etnis lainnya untuk layak dikenal. Sejarahnya sendiri sudah menjadi bagian penting dari perjalanan kota ini.
Sebab, mengenal Medan secara utuh berarti tidak hanya mengingat identitas yang paling sering disebut, tetapi juga memberi kesempatan kepada sejarah yang belum banyak dibicarakan untuk didengar, dipahami, dan diwariskan.
Medan adalah Rumah bagi Banyak Identitas
Kota Medan merupakan ruang sosial yang terbentuk dari pertemuan berbagai kelompok etnis dengan latar belakang budaya, sejarah, dan tradisi yang berbeda. Keberadaan masyarakat Batak, Melayu, Jawa, Minangkabau, Tionghoa, dan kelompok lainnya menjadikan Medan sebagai kota dengan identitas yang beragam.
Hal ini dapat dikaitkan dengan kajian Edward M. Bruner, seorang antropolog asal Amerika Serikat yang meneliti hubungan urbanisasi dan identitas etnis di Sumatra Utara (Bruner, 1961). Kajiannya membantu menjelaskan bahwa identitas etnis tetap memiliki arti dalam kehidupan perkotaan yang multikultural.
Dalam konteks ini, Medan tidak tepat dipahami hanya melalui satu kebudayaan etnis, sebab kehidupan kota dibentuk oleh interaksi berbagai kelompok masyarakat. Tidak ada satu identitas etnis yang dapat dianggap mewakili seluruh kebudayaan di Kota Medan secara mutlak.
Artinya, tidak ada budaya dominan (dominant culture) di Kota Medan. Medan tidak hanya mencirikan identitas Batak, Melayu, Jawa, atau kelompok tertentu lainnya, melainkan merupakan rumah bersama bagi beragam identitas yang tumbuh dan hidup berdampingan.
Cara masyarakat memandang Kota Medan bisa berbeda-beda, terutama masyarakat yang berasal dari luar Kota Medan. Ada orang yang mengidentikkan Medan dengan Batak karena pengalaman sehari-hari, lingkungan pergaulan, atau pengetahuan yang lebih banyak mempertemukannya dengan budaya Batak. Sebaliknya, ada pula yang melihat Medan melalui sejarah Melayu Deli atau keberadaan kelompok etnis lainnya.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa persepsi tentang budaya yang dianggap dominan tidak selalu sama dengan keseluruhan kenyataan sosial sebuah kota. Apa yang paling menonjol dalam pandangan seseorang belum tentu menjadi satu-satunya identitas yang membentuk Medan. Cara pandang tersebut turut dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, lingkungan sosial, dan seberapa jauh seseorang mengenal kebudayaan di sekitarnya.
Penting bagi masyarakat untuk memperluas pemahaman tentang Medan agar tidak terjebak dalam satu gambaran etnis saja. Melalui pemahaman yang lebih terbuka, Medan dapat dilihat bukan sebagai kota yang harus diwakili oleh satu kelompok, melainkan sebagai rumah bagi banyak identitas yang memiliki ciri khas, sejarah, dan keberadaannya serta tetap mendapat tempat dalam kehidupan kota. Demikian. WASPADA.id
¹ Dosen Antropologi UNIMED
² Mahasiswa Antropologi UNIMED


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda