Mempertahankan Identitas di Tengah Keberagaman


Oleh: Edy Suhartono¹, Asti Mayada², Angelia Silitonga², Bunga Ria Br. Sinaga², dan Arum Dias²
Pengantar
Mempertahankan identitas budaya di tengah keberagaman bukanlah hal yang selalu mudah. Di kota yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis, setiap budaya memiliki sejarah, tradisi, dan ciri khas yang ikut membentuk kehidupan masyarakat. Hal ini juga terjadi di Kota Medan, tempat masyarakat Melayu hidup berdampingan dengan masyarakat Batak, Jawa, Mandailing, Minangkabau, Tionghoa, dan berbagai kelompok lainnya. Keberagaman tersebut menjadikan Medan sebagai kota multikultural sekaligus menghadirkan tantangan bagi setiap kelompok untuk menjaga dan memperkenalkan identitas budayanya agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Pernahkah kita berpikir, mengapa ketika mendengar kata Medan, sebagian orang langsung teringat dengan etnis Batak? Padahal, Melayu, khususnya Melayu Deli, juga memiliki akar sejarah yang penting dalam perkembangan Kota Medan. Keberadaan Kesultanan Deli dan peninggalan sejarah seperti Istana Maimun menjadi bukti bahwa budaya Melayu merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah kota ini.
Lalu, jika budaya Melayu memiliki akar sejarah yang kuat, bagaimana identitas tersebut dipertahankan di tengah masyarakat yang semakin beragam? Apakah cukup dengan menjaga peninggalan sejarah, atau perlu ada upaya lain agar budaya Melayu tetap dikenal dan dipahami oleh masyarakat luas? Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan Melayu dengan etnis lain, melainkan untuk memahami bagaimana identitas Melayu dapat terus hidup berdampingan dengan berbagai identitas budaya yang ada di Kota Medan.
Untuk memahami persoalan tersebut, dalam kesempatan melakukan kegiatan mini riset di Istana Maimun pada 23 September 2026, kami berhasil mewawancarai empat informan, yaitu Fajar Dominggus Silitonga, Nindia Kalista, Indri, dan Itasa Pujangga Tumangger, serta melakukan observasi di lokasi.
Analisis VOSviewer
Hasil wawancara ini kemudian dikombinasikan dengan analisis bibliometrik menggunakan VOSviewer. Hasilnya menunjukkan bahwa istilah identitas, Melayu, dan Kota Medan memiliki keterkaitan dengan istilah lain, seperti budaya, identitas budaya, Melayu Deli, generasi, Batak, Jawa, dan Mandailing. Keterhubungan tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai identitas Melayu di Kota Medan tidak dapat dipisahkan dari keberagaman etnis dan proses pewarisan budaya antargenerasi.
Temuan ini sejalan dengan hasil mini riset kami yang menunjukkan bahwa budaya Melayu masih memiliki keberadaan yang nyata melalui peninggalan sejarah dan aktivitas pengenalan budaya di Istana Maimun. Artinya, persoalan identitas Melayu bukan semata-mata tentang keberadaan budaya tersebut, melainkan juga tentang bagaimana sejarah dan nilai budayanya terus diperkenalkan agar dikenal oleh masyarakat yang beragam.
Hasil wawancara dengan para informan di Istana Maimun memperkuat pemahaman tersebut. Fajar Dominggus Silitonga menjelaskan bahwa Istana Maimun merupakan bangunan bersejarah yang dikunjungi masyarakat, sedangkan Nindia Kalista menerangkan bahwa kegiatan pemanduan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Melayu kepada pengunjung. Indri juga menyampaikan bahwa Istana Maimun membantu masyarakat mengenal budaya Melayu melalui sejarah dan budaya Deli. Sementara itu, Itasa Pujangga Tumangger menekankan pentingnya menyesuaikan cara penyajian budaya dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya.
Temuan lapangan ini berkaitan dengan munculnya istilah generasi dalam peta VOSviewer, yang memberi ruang untuk membahas pentingnya pewarisan budaya agar identitas Melayu tetap dikenal pada masa mendatang.
Keterkaitan antara hasil bibliometrik dan temuan lapangan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan identitas Melayu tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan atau benda bersejarah. Pengetahuan mengenai sejarah, tradisi, dan nilai budaya juga perlu disampaikan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Dalam hal ini, Istana Maimun tidak hanya menjadi peninggalan Kesultanan Deli, tetapi juga berperan sebagai ruang pembelajaran dan pengenalan budaya Melayu kepada pengunjung. Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan memperkuat kegiatan edukasi budaya serta menyampaikan sejarah Melayu melalui cara yang menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Identitas Melayu yang kurang terlihat di tengah masyarakat multikultural tidak dapat langsung diartikan sebagai hilangnya budaya Melayu. Hasil mini riset yang kami lakukan justru menunjukkan bahwa budaya tersebut masih diperkenalkan melalui sejarah, peninggalan budaya, dan kegiatan pemanduan di Istana Maimun.
Sementara itu, peta VOSviewer memperlihatkan keterkaitan tema identitas Melayu dengan keberagaman etnis dan generasi dalam literatur yang dianalisis. Kedua temuan ini memberikan dasar untuk memahami pentingnya memperluas pengenalan budaya Melayu agar keberadaannya semakin dipahami sebagai bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Medan.
Namun, peta bibliometrik menggambarkan hubungan antara istilah dalam literatur, bukan ukuran langsung tentang seberapa dikenal budaya Melayu oleh masyarakat luas.
Istana Maimun Bukan Sekadar Tempat Berfoto
Pernahkah kita berkunjung ke Istana Maimun, lalu berfoto dan membuat konten di depan bangunannya yang megah, kemudian pulang tanpa mengetahui cerita di baliknya?
Pertanyaan ini mengajak kita untuk melihat kembali ikon yang ada di Kota Medan, salah satunya Istana Maimun. Kita tidak hanya perlu melihat bentuk arsitekturnya, tetapi juga memahami etnis Melayu dari sejarah yang ada di Istana Maimun tersebut.
Namun, ketika berkunjung ke sana, apakah kita benar-benar tahu cerita di balik bangunan tersebut? Atau, selama ini kita lebih mengenalnya sebagai tempat berfoto dan berjalan-jalan saja?
Dalam percakapan dengan pemandu lokal, Fajar Dominggus Silitonga menjelaskan bahwa Istana Maimun kini terbuka untuk masyarakat sebagai tempat kunjungan wisata dan termasuk dalam warisan cagar budaya. Sementara itu, Nindia Kalista, yang juga bertugas sebagai pemandu, menekankan pentingnya mengenalkan sejarah dan budaya Melayu kepada para pengunjung.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa Istana Maimun memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar menarik wisatawan. Tempat ini bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal sejarah Kesultanan Deli, memahami budaya Melayu, dan melihat bagaimana warisan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kota Medan.
Hal ini juga penting bagi generasi muda. Mengenal budaya tidak harus selalu melalui buku atau pelajaran di kelas. Berkunjung langsung ke Istana Maimun, mendengarkan cerita pemandu, atau mencari tahu sejarahnya melalui media sosial bisa menjadi langkah sederhana untuk mengenal budaya sendiri.
Menjaga warisan budaya bukan hanya soal merawat bangunannya agar tetap berdiri. Kita juga perlu menjaga agar cerita di baliknya tidak dilupakan. Istana Maimun boleh menjadi tempat untuk berfoto, tetapi akan lebih bermakna jika kita pulang dengan pengetahuan baru tentang sejarah Melayu Deli. Istana Maimun boleh menjadi tempat untuk berfoto, tetapi jangan sampai kita pulang hanya membawa gambar tanpa mengenal cerita Melayu Deli yang diwariskannya.

Tidak Melayu Hilang di Bumi: Identitas yang Perlu Dipertahankan?
Mendengar kata Medan, apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita? Mungkin kita langsung teringat logat Medan, kuliner khasnya, atau identitas Batak yang sering dikaitkan dengan kota ini. Namun, pernahkah terpikir bahwa Medan juga memiliki akar sejarah Melayu yang kuat? Bahkan, ada Istana Maimun yang menjadi salah satu peninggalan penting Kesultanan Deli di tengah kota.
Kita bisa saja sudah berkali-kali melihat foto Istana Maimun di media sosial, tahu lokasinya, atau bahkan pernah berkunjung ke sana. Namun, apakah kita benar-benar tahu cerita Melayu Deli di balik bangunan itu? Jangan-jangan, kita lebih hafal tempat berfoto yang bagus daripada sejarah yang membuat tempat tersebut begitu berarti.
Padahal, Melayu bukan sekadar nama etnis yang sesekali kita dengar. Melayu Deli memiliki jejak sejarah dalam perkembangan Kota Medan. Istana Maimun menjadi salah satu pengingat bahwa sebelum Medan berkembang seperti yang kita kenal sekarang, ada perjalanan sejarah dan kebudayaan yang ikut membentuk kota ini.
Artinya, ketika kita membicarakan identitas Medan, cerita Melayu juga layak mendapat tempat.
Lalu, mengapa identitas Melayu terkadang terasa kurang menonjol dalam percakapan sehari-hari? Salah satu hal yang bisa kita pikirkan adalah seberapa sering sejarah Melayu diperkenalkan kepada masyarakat. Kita mungkin sering mendengar berbagai cerita tentang identitas etnis di Medan, tetapi belum tentu mendapat kesempatan yang sama untuk mengenal sejarah Melayu Deli secara lebih dekat.
Ini bukan berarti budaya Melayu sudah hilang. Bisa jadi, budayanya masih ada, tetapi ceritanya belum cukup sering disampaikan.
Di sinilah tantangannya. Kalau sejarahnya jarang diceritakan, bagaimana orang bisa mengenalnya? Kalau generasi muda hanya tahu Istana Maimun sebagai tempat wisata, siapa yang akan memperkenalkan cerita di baliknya? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengingatkan bahwa mengenal budaya perlu dimulai dari rasa ingin tahu.
Mengenalkan Melayu juga tidak harus selalu melalui acara adat yang besar atau penjelasan sejarah yang panjang. Bisa dimulai dari hal sederhana: menceritakan sejarah Istana Maimun, mengunjungi tempat bersejarah, mengenal tradisi Melayu Deli, atau membuat konten media sosial yang bukan hanya menampilkan bangunannya, tetapi juga menjelaskan kisah di baliknya.
Dengan begitu, sejarah Melayu bisa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda.
Yang perlu digarisbawahi, membicarakan Melayu bukan berarti mengurangi tempat bagi etnis Batak, Jawa, Tionghoa, Mandailing, Karo, Minangkabau, atau kelompok lainnya. Medan memang tumbuh dengan banyak identitas. Kita tidak perlu mempertentangkan semuanya untuk mengakui bahwa Melayu Deli juga memiliki peran penting dalam sejarah kota ini.
Mengenal Melayu Deli bukan berarti harus memilih satu identitas dan melupakan yang lain. Justru, semakin banyak sejarah yang kita kenal, semakin lengkap pula cara kita memahami Medan sebagai rumah bagi banyak kebudayaan.
Melayu di Era Gen Z: Generasi Pelanjut Cerita
Coba bayangkan, beberapa tahun ke depan, Istana Maimun masih berdiri megah dan tetap ramai dikunjungi. Orang-orang datang untuk berfoto, menikmati keindahan bangunannya, dan mengunggah momen mereka ke media sosial. Namun, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah cerita tentang Melayu Deli di balik istana itu juga akan terus dikenal?
Di sinilah generasi muda berperan. Menjaga budaya bukan hanya tugas orang tua, sejarawan, atau orang-orang yang bekerja di tempat bersejarah. Kita juga bisa ikut mengambil bagian. Apalagi, sekarang informasi bisa dibagikan dengan mudah melalui media sosial.
Sejarah yang dulu terasa jauh dan membosankan bisa dikemas menjadi cerita singkat, video, foto dengan penjelasan menarik, atau konten yang mengajak orang mengenal budaya lokal.
Istana Maimun sendiri memiliki banyak cerita yang bisa dikenalkan. Istana ini dibangun atas perintah Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888 dan selesai pada 1891. Bangunannya memperlihatkan perpaduan unsur Melayu, Islam, dan Eropa.
Artinya, ketika kita membicarakan Istana Maimun, kita bukan hanya membicarakan bangunan tua, tetapi juga sejarah Kesultanan Deli dan perjalanan budaya yang ikut membentuk Kota Medan. Informasi sejarah ini juga tercatat dalam laman resmi pariwisata Indonesia dan situs Cagar Budaya Medan.
Pandangan ini sejalan dengan UNESCO yang menjelaskan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa bangunan atau benda bersejarah, tetapi juga mencakup tradisi, bahasa, kesenian, praktik sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
UNESCO juga menekankan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat yang menjaga dan meneruskan warisan tersebut. Artinya, mempertahankan identitas Melayu Deli bukan hanya soal menjaga Istana Maimun agar tetap berdiri, tetapi juga memastikan bahwa cerita, tradisi, dan nilai budaya yang berkaitan dengannya tetap dikenal dan diteruskan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan generasi muda? Tidak harus langsung membuat acara besar atau menjadi ahli sejarah. Langkahnya bisa dimulai dari hal sederhana: kalau berkunjung ke Istana Maimun, luangkan waktu untuk membaca informasi sejarahnya dan mendengarkan penjelasan pemandu.
Kalau menemukan cerita menarik, bagikan kembali dengan bahasa yang mudah dipahami. Bisa juga mengenalkan tradisi Melayu Deli melalui kegiatan sekolah, komunitas, atau obrolan bersama teman. Dengan begitu, kunjungan ke tempat bersejarah tidak berhenti sebagai pengalaman wisata, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar.
Menjaga budaya bukan hanya soal membuat konten di media sosial. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu menjaga sikap kita saat berada di tempat bersejarah. Menghormati aturan kunjungan, tidak merusak bagian bangunan, dan ikut menjaga kebersihan merupakan bentuk kepedulian yang sederhana.
Sebab, kalau kita ingin warisan ini tetap bisa dinikmati generasi berikutnya, bangunannya juga harus dirawat. Pelestarian cagar budaya memang membutuhkan perhatian terhadap kondisi fisik dan nilai sejarahnya, bukan sekadar menjadikannya objek wisata.
Selain Istana Maimun, budaya Melayu juga bisa terus dikenalkan melalui tradisi, kesenian, bahasa, cerita keluarga, dan kegiatan masyarakat. Hal-hal seperti ini penting karena budaya tidak hanya hidup di dalam bangunan bersejarah. Budaya juga hidup ketika orang masih mau mempelajarinya, mempraktikkannya, dan menceritakannya kembali.
Istana Maimun bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal Melayu Deli, tetapi keberlanjutan identitasnya juga bergantung pada bagaimana masyarakat menjaga dan memperkenalkan warisan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu saja, mengenalkan Melayu Deli bukan berarti generasi muda harus meninggalkan identitas lain yang mereka miliki. Di Medan, kita hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang etnis dan budaya. Justru, mengenal sejarah Melayu Deli bisa menjadi bagian dari cara kita menghargai keberagaman kota ini. Kita bisa bangga mengenal satu warisan budaya tanpa harus merendahkan atau membandingkannya dengan budaya lain.
Jadi, siapa yang akan melanjutkan cerita Melayu Deli? Jawabannya bukan hanya orang yang tinggal di sekitar Istana Maimun atau mereka yang memiliki latar belakang Melayu. Siapa pun bisa ikut mengenal dan menghargainya. Namun, generasi muda memiliki kesempatan besar untuk membuat cerita itu menjangkau lebih banyak orang melalui cara-cara yang dekat dengan kehidupan mereka.
Jangan sampai kita hafal tempat-tempat untuk dikunjungi di Medan, tetapi justru lupa mengenal sejarah yang ada di kota sendiri. Istana Maimun sudah menjadi saksi perjalanan waktu. Sekarang, bagaimana kita ikut menjaga agar cerita di baliknya tetap dikenal pada masa mendatang?
Pada akhirnya, mempertahankan identitas Melayu Deli bukan hanya tentang menjaga peninggalan sejarah, tetapi juga memastikan ceritanya terus hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan media sosial yang semakin pesat, informasi budaya bisa lebih mudah diperkenalkan, tetapi juga perlu disaring agar sejarah yang dibagikan tidak bercampur dengan informasi keliru atau konten yang dimanipulasi.
Karena itu, kita perlu mengenal sumber yang tepercaya, memahami sejarah, dan memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan budaya, bukan justru mengaburkan kebenarannya.
Sebab, budaya yang tidak diceritakan bisa perlahan dilupakan, tetapi budaya yang terus dikenalkan akan menemukan jalannya untuk tetap hidup. Istana Maimun telah mewariskan cerita dari masa lalu; sekarang, giliran kita meneruskannya ke masa depan. Demikian. WASPADA.id
¹ Dosen Antropologi UNIMED.
² Mahasiswa Antropologi UNIMED.



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda