Selamat Jalan Bang Tumsila, Striker Legendaris PSMS Sang Kepala Emas


Oleh: Indra Efendi Rangkuti
Dunia sepak bola Indonesia, khususnya Medan dan Sumatera Utara, kembali berdukacita. Striker legendaris PSMS dan mantan bintang Timnas Indonesia, Tumsila, meninggal dunia pada 8 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB di kediamannya, Jalan Monginsidi III, Medan.
Berita ini menimbulkan dukacita mendalam bagi seluruh pencinta sepak bola, khususnya PSMS, karena Tumsila adalah sosok penting dalam kejayaan PSMS dan Timnas Indonesia pada akhir era 60-an hingga pertengahan 70-an.
Bagi pencinta PSMS Medan, nama Tumsila tentu tidak asing lagi. Apalagi bagi pencinta sepak bola di Indonesia tempo doeloe.
Tumsila merupakan pesepak bola berdarah India yang lahir di Binjai pada 18 Agustus 1947.
Kariernya sebagai pesepak bola dimulai di klub anggota PSMS, Al Wathan, pada 1965. Kemudian, pada 1967, Tumsila bergabung dengan klub anggota PSMS lainnya, Medan Putra. Tumsila cukup andal membobol gawang lawan, terutama lewat sundulan. Kebetulan, Tumsila terinspirasi aksi bintang PSMS era akhir 50-an dan awal 60-an, Azis Tanjung, yang memiliki sundulan tajam.
Bakat Tumsila yang andal dalam membobol pertahanan lawan, terutama melalui sundulan, kemudian dilirik oleh legenda PSMS, Ramli Yatim, pelatih PSMS Jr.
Tumsila kemudian dipanggil memperkuat PSMS Jr untuk persiapan Piala Suratin 1967.

Tumsila berdiri ketiga dari kanan ketika memperkuat PSMS di Piala Suratin 1967
Ramli Yatim, yang ketika aktif sebagai pemain dikenal dengan julukan "Kepala Maut", kemudian memberi latihan khusus bagi Tumsila untuk mempertajam sundulannya.
Singkat cerita, Tumsila tampil memimpin lini depan PSMS Jr di Suratin Cup 1967. Ternyata, pilihan Ramli Yatim tidak salah.
Tumsila tampil prima hingga akhirnya sukses membawa PSMS Jr juara Suratin Cup 1967 dengan menjadi juara bersama Persija Jr.
PSMS Jr di Suratin Cup 1967 ini kelak kemudian hari sukses melahirkan bintang-bintang legendaris PSMS, antara lain Ronny Pasla, Sarman Panggabean, Tumsila, Chaliq Mazlan, Nobon, dan lain-lain.

Ki-Ka : Sarman Panggabean,Isworo (Ketua I PSMS),Ronny Pasla Dan Tumsila.
Penampilan gemilang PSMS Jr di Suratin Cup 1967 membuat beberapa pemainnya seperti Ronny Pasla, Tumsila, Sarman Panggabean, Chaliq Mazlan, dan Wibisono ditarik memperkuat PSMS yang akan berlaga di putaran final Kejurnas PSSI 1967.
Kebetulan, di tim ini legenda PSMS dan Timnas, Yusuf Siregar, menjadi pelatih didampingi oleh Ramli Yatim. Perpaduan bintang-bintang muda tersebut dengan para pemain senior seperti Yuswardi, Sukiman, Muslim, Sunarto, Ipong Silalahi, Djamal, Zulkarnaen Pasaribu, Zulham Yahya, Azis Siregar, Syamsuddin, dan lain-lain membuat PSMS menjadi lebih solid.
Dan ternyata, Tumsila tidak canggung ketika dipercaya untuk tampil bersama PSMS di putaran final hingga akhirnya sukses membawa PSMS juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI untuk pertama kalinya pada 1967. Di final, PSMS mengalahkan Persib 2-0 lewat gol yang dicetak A. Rahim dan Zulkarnaen Pasaribu.
Kesuksesan ini adalah untuk kali pertama diraih oleh PSMS Medan sejak berdiri pada 1950. Langkah sebelumnya, PSMS Medan hanya sampai runner-up Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI pada 1954 dan 1957.
Keberhasilan menjuarai Kejurnas PSSI 1967 ini membuat PSMS mewakili Indonesia di Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh.

Dua legenda PSMS Tumsila dan Nobon
Dan lagi-lagi Tumsila tampil cukup bagus setelah membawa PSMS juara Aga Khan Gold Cup 1967. Di final, PSMS yang dijuluki "The Killer" ini mengalahkan tuan rumah Mohammaden 2-0 lewat dua gol yang dicetak Tumsila melalui sundulan. Ketika pulang ke Medan, Pangdam II Bukit Barisan Brigjen Sarwo Edhie Wibowo memberi julukan "Kepala Emas" atas aksi hebatnya dalam menyundul bola.
Penampilan gemilangnya bersama PSMS sepanjang 1967 ini membuat Tumsila dilirik oleh pelatih Timnas kala itu, Endang Witarsa. Akhirnya, pada 1968, Tumsila dipanggil memperkuat Timnas Indonesia untuk menghadapi Kings Cup 1968 di Bangkok. Timnas waktu itu sukses menjadi juara setelah di final mengalahkan Birma (Myanmar) 1-0.
Selama berkiprah di PSMS, Tumsila dan rekan-rekannya meraih prestasi sebagai juara Piala Suratin (1967), Kejurnas PSSI 1967, 1969, 1971 dan 1975 (juara bersama dengan Persija), Aga Khan Gold Cup (1967), Soeharto Cup 1972, Marah Halim Cup 1972 dan 1973, serta semifinalis AFC Champions Cup 1970 dan Piala Yusuf 1974.
Tumsila juga turut membawa Tim Sumut merebut medali emas PON 1969 di Surabaya setelah di final mengalahkan DKI Jakarta 2-1.
Atas prestasinya yang gemilang sebagai striker PSMS, Tumsila mendapat penghargaan sebagai Warga Utama Kota Medan (1967) yang diberikan oleh Wali Kota Medan Sjoerkani.
Pada Kejuaraan Antarwilayah/PSSI Regional 1974, Tumsila bersama rekan-rekannya membawa PSSI Wilayah I yang bermaterikan 90 persen pemain PSMS Medan menjadi juara.

Striker Timnas asal PSMS Medan Tumsila bersalaman dengan Presiden Soeharto ketika Timnas berpamitan dengan Presiden Soeharto untuk mengikuti Pra Piala Dunia 1974 Zona Asia/Oceania di Sydney dan Melbourne pada 1973
Kesuksesan menjadi juara Kejuaraan Antarwilayah/Regional PSSI ini membuat PSSI Wilayah I ditunjuk mewakili Indonesia di Piala Presiden di Seoul.
Sayang, PSSI Wilayah I kalah di final dari tuan rumah Korea Selatan yang diperkuat legenda Korsel, Cha Bum Kun, dan harus puas menjadi runner-up.
Salah satu aksi gemilangnya bersama Timnas yang diingat publik adalah aksinya ketika memperkuat Timnas menghadapi Stoke City pada 26 Juni 1976.

PSMS Medan 1977, (Berdiri ki-ka) Yuswardi, alm. Suharno, Tumsila, alm. Taufik Lubis,alm.Ismail Ruslan, alm.Zulkarnain Pasaribu, Nobon. (Jongkok Ki-ka) alm.Parlin Siagian, alm. Effendi Marico, Sunardi B, alm. Suparjo. Yuswardi,Taufik Lubis,Nobon,Tumsila dan Parlin Siagian adalah pegawai DJP
Aksi gemilangnya melalui sundulan mautnya sukses membobol gawang Stoke City yang dikawal Pat Jennings dan menyelamatkan Timnas dari kekalahan dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1 itu. Gol ini juga mendapat pujian dari Pat Jennings.
Seusai mundur sebagai pemain pada 1980, Tumsila mulai menekuni dunia kepelatihan sambil menjalani aktivitas sebagai ASN di Direktorat Jenderal Pajak.
Tumsila pernah melatih PSMS di Divisi Utama Perserikatan PSSI 1987/1988 dan 1993/1994.

Pelatih PSMS Medan Tumsila memberi pengarahan kepada anak - anak asuhnya pada persiapan PSMS jelang 6 Besar Div.Utama Perserikatan PSSI 1987/1988.Tampak di foto dari kiri : Zulkarnaen Lubis,M.Siddik,Azwardin Lubis dan Hamdardi
Di era Liga Indonesia, Tumsila juga pernah menangani PSMS pada Liga Indonesia musim 1995/1996. Di musim ini pula PSMS pertama kali diperkuat pemain asing, yaitu Alessandro Godinho dan Ronaldo Bteilho.
Seusai mundur dari dunia kepelatihan, Tumsila aktif dalam kegiatan bersama mantan pemain PSMS dan Timnas Indonesia.
Kariernya sebagai pesepak bola kemudian diikuti oleh adiknya, Raj Kumar, dan keponakannya, Witya Fusen.
Raj Kumar adalah salah satu bintang PSMS ketika menjadi juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985.
Hingga akhir hidupnya, rasa cintanya kepada PSMS tidak pernah luntur dan berharap PSMS bisa kembali ke kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia. Begitu juga kecintaannya terhadap Timnas Indonesia yang dia harapkan kembali berjaya di panggung sepak bola internasional.
Secara pribadi, saya terharu dengan sikapnya yang sangat hangat ketika kami bertemu dan bersilaturahmi.
Tumsila disemayamkan di rumahnya di Jalan Monginsidi 3 No. 4-A, Medan. Rencananya, Tumsila akan dimakamkan pada 9 Oktober 2026.
Tumsila meninggalkan seorang istri, yaitu Erleni Lubis, dan empat orang anak serta beberapa orang cucu. WASPADA.id
- Penulis adalah pemerhati olahraga






















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda