Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (10)

Redaksi
Redaksi
Rabu, 23 September 2026 - 9.05 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (10)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Pada episode kesepuluh ini, Wajah Abah, Tangan Emak karya Agusni AH kembali membawa pembaca menyusuri masa remaja Alone yang mulai belajar menapaki kehidupan dengan kakinya sendiri. Di tengah keterbatasan, ia tumbuh sebagai anak pekerja keras yang menjadikan kejujuran dan ketepatan janji sebagai modal. Benur dan nener bukan sekadar barang dagangan, tetapi menjadi medium yang memperkenalkannya pada arti amanah, kepercayaan, dan tanggung jawab.

Menariknya, perjalanan Alone tidak hanya bergerak dari satu tambak ke tambak lainnya, tetapi juga dari satu pengalaman hidup menuju pengalaman berikutnya. Rangkang menjadi rumah kedua, buku dan pena menjadi sahabat dalam kesunyian, sementara pesan Emak tentang Tuhan dan keselamatan menjadi kompas yang diam-diam mengiringi setiap langkahnya. Di sini, Agusni AH mempertemukan kerja, pendidikan, literasi, dan doa seorang ibu dalam satu tarikan narasi yang lirih dan kontemplatif.

Ketegangan kemudian hadir ketika Alone bersama Bang Din Burgek harus melintasi jalan raya Medan–Banda Aceh pada malam yang tidak sepenuhnya bersahabat. Kelompok bersenjata, pemeriksaan, dan suasana konflik Aceh menjadi latar yang memperlihatkan betapa rentannya kehidupan masyarakat biasa di tengah zaman yang bergolak. Namun, narasi tidak menjadikan konflik sebagai pusat cerita. Ia justru menjadi cermin yang memperlihatkan keberanian seorang remaja dalam mempertahankan amanah, sekaligus kecemasan seorang ibu yang hanya mampu melepas anaknya dengan doa.

Episode ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa benur yang kecil dapat membawa amanah yang besar. Alone sedang mengantar bibit kehidupan untuk tambak, tetapi tanpa disadarinya ia juga sedang membawa bibit bagi masa depannya sendiri: kejujuran, keberanian, kecintaan pada ilmu, dan keteguhan memegang janji. Di antara gelap malam, jalan panjang, dan doa Emak yang tak pernah putus, pembaca diajak menyadari bahwa perjalanan menuju kedewasaan sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang ditempuh dengan penuh tanggung jawab.(red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (10)

SETIAP libur sekolah, terutama hari Minggu, Alone kerap keluar daerah mengantar pesanan benur udang dan nener bandeng. Sejak kecil ia memang dikenal sebagai anak pekerja keras. Tak ayal, memasuki usia remaja, naluri berdagang pun mulai tumbuh dalam dirinya. Ia menjadi semacam pebisnis kecil-kecilan di kampung pesisir itu.

Tanpa modal, Alone menjalankan perannya sebagai agen ketika ada pesanan benur dan nener. Modalnya bukan uang, melainkan kejujuran dan ketepatan janji. Berapa pun jumlah bibit yang dibutuhkan para petani tambak, baik di pesisir Aceh maupun hingga ke Sumatera Utara, ia tinggal mengambilnya dari para tauke penyemai di kampungnya.

Dari tangan ke tangan, dari tambak ke tambak, Alone belajar bahwa kepercayaan kadang lebih berharga daripada uang. Ia belum memiliki toko, belum pula punya kendaraan sendiri. Namun, namanya mulai dikenal di antara para petani tambak dan tauke bibit. Ia menjual bukan sekadar benur dan nener, tetapi juga janji yang harus ditepati.

Bagi Alone, setiap pesanan adalah amanah. Dan setiap perjalanan keluar daerah menjadi pelajaran baru tentang kehidupan—tentang orang-orang, tentang kerja keras, dan tentang bagaimana seorang anak pesisir perlahan menemukan jalan hidupnya sendiri.

Alone pun mulai jarang pulang ke rumah. Buku, perlengkapan sekolah, dan pakaiannya ditempatkan di rangkang yang telah menjelma menjadi rumah keduanya. Di sanalah sebagian hari-harinya berlalu, di antara pekerjaan, sekolah, dan kehidupan pesisir yang tak pernah benar-benar memberinya jeda.

Karena itu, ketika bepergian, Alone jarang memberi tahu Emak. Bukan karena ia ingin menjauh, melainkan karena ia merasa sudah cukup besar untuk menentukan langkahnya sendiri. Namun, ia memahami, di setiap sujudnya, doa seorang ibu selalu menyertai ke mana pun kaki anaknya melangkah.

Suatu kesempatan, Emak berpesan: “Ke mana pun Alone pergi, setiap melangkahkan kaki, dan di mana pun berada, jangan lupa menunaikan tugas kepada Tuhan.”

Pada kesempatan lain, pesan Emak terdengar lebih singkat, tetapi menyimpan kecemasan yang lebih dalam: “Hati-hati selalu. Negeri sedang tidak baik-baik saja.”

Dua pesan itu selalu melekat dalam ingatan Alone. Yang satu mengajarinya tentang kewajiban kepada Tuhan, sementara yang lainnya mengingatkannya bahwa dunia di luar kampung tidak selalu seramah jalan pulang.

Dan Alone terus melangkah—membawa benur, nener, buku-buku sekolah, serta niat untuk tetap menulis serta membaca di sela-sela kesibukannya. Di antara perjalanan dari satu tambak ke tambak lainnya, ia menyempatkan diri membuka buku, membaca halaman demi halaman, atau menuliskan sesuatu yang melintas di kepalanya. Baginya, sekolah tidak berhenti hanya karena kehidupan menuntutnya bekerja. Ada pengetahuan yang harus dikejar, ada kata-kata yang harus dipelihara, dan ada mimpi yang tak boleh dibiarkan padam oleh kerasnya kehidupan.

Kadang, di sebuah rangkang yang sunyi, ditemani suara air tambak yang beriak dan angin Selat Malaka yang menyusup dari sela-sela dinding, Alone membaca hingga matanya terasa berat. Buku-buku pelajaran menjadi teman dalam kesunyian, sementara kertas dan pena menjadi tempat ia menyimpan apa yang belum mampu diucapkannya kepada siapa pun. Ia belum tahu akan menjadi apa kelak. Namun, ia percaya, membaca akan membuatnya mengenal dunia lebih luas daripada batas kampungnya, sedangkan menulis akan memberinya ruang untuk menyimpan jejak perjalanan hidupnya sendiri.

Dan di setiap langkah yang membawanya semakin jauh dari rumah, diam-diam ada doa Emak yang tak pernah selesai mengiringi. Mungkin Alone tidak selalu mendengarnya, tetapi ia percaya doa itu selalu menemukan jalan—menyusuri pematang tambak, menyeberangi sungai, bergelut di bibir pantai Selat Malaka, melewati jalan-jalan panjang, bahkan menembus malam ketika ia belum juga pulang. Alone membawa benur dan nener untuk menghidupi hari ini, membawa buku untuk menjemput hari esok, sementara doa Emak menjadi bekal yang tak terlihat, tetapi selalu terasa hangat di sepanjang perjalanan.

“Untuk kali ini, sebaiknya Alone jangan pergi. Kondisi sedang kacau-balau. Apalagi kalau bepergian malam,” pinta Emak.

Alone terdiam sejenak. Ia tahu, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Tetapi benur yang hendak diantarnya sudah terlanjur dipanen. Para petani tambak di Langsa pun telah menunggu kedatangannya.

“Bibit benur sudah terlanjur dipanen, Mak. Petani tambak di Langsa sedang menunggu. Kalau tidak diantar malam ini, kapan lagi mereka bisa menabur benih?”

Ada nada memohon dalam suara Alone, tetapi juga keteguhan seorang anak yang merasa telah mengikat dirinya pada sebuah janji.

Baginya, perjalanan itu bukan semata-mata tentang keuntungan. Ada amanah yang harus ditunaikan. Ia tidak ingin para petambak di pesisir Langsa kecewa, apalagi masa tabur benih sudah berada di ujung waktu. Sekali janji diingkari, kepercayaan yang telah dibangun sedikit demi sedikit bisa runtuh. Alone lebih takut kehilangan kepercayaan daripada kehilangan keuntungan.

Emak akhirnya hanya mampu menghela napas. Tatapannya mengikuti langkah Alone hingga menghilang dari halaman rumah. Dalam hati, ia kembali menitipkan anaknya kepada Allah. Barangkali seorang ibu tidak selalu mampu menghentikan langkah anaknya, tetapi ia selalu mempunyai satu jalan yang tak pernah tertutup: doa.

Kekhawatiran Emak ternyata bukan sekadar firasat.

Malam itu, Alone bersama Bang Din Burgek melaju membawa benur dengan Hiace pikap menuju Langsa. Jalan raya Medan–Banda Aceh terasa panjang dan sunyi. Lampu kendaraan memecah gelap, sementara di kejauhan hanya sesekali tampak cahaya rumah penduduk. Alone duduk dengan pikiran yang tertuju pada petambak yang sedang menunggu muatan benur.

Namun, ketika kendaraan memasuki kawasan Aceh Timur, perjalanan itu mendadak berubah.

Di tengah jalan, sebuah kelompok bersenjata yang tidak mereka kenal menghadang kendaraan.

Bang Din Burgek mengurangi kecepatan. Alone menoleh ke luar jendela. Dadanya berdegup lebih cepat. Suasana yang sejak tadi hanya dibungkus kesunyian malam, seketika berubah menjadi ketegangan yang sulit dijelaskan.

Alone tumbuh pada sebuah zaman ketika tanah leluhurnya—_Tanoh Indatu_ sedang berdarah-darah. Perang bukan lagi sekadar kabar yang didengar dari mulut ke mulut. Kontak tembak dapat pecah di mana saja. Jalan yang siang hari dilalui orang-orang untuk mencari nafkah, pada malam hari bisa berubah menjadi ruang yang menyimpan ketakutan.

Dan malam itu, di jalan raya Medan–Banda Aceh, Alone mulai memahami bahwa janji yang hendak ia tunaikan kepada para petambak ternyata harus ditebus dengan keberanian menghadapi sebuah zaman yang sedang tidak ramah kepada siapa pun.

Dua dari sekitar sepuluh orang berpakaian loreng lengkap dengan senjata api mendekati pintu Hiace. Wajah mereka tertutup syebo, hanya menyisakan sorot mata yang tajam di balik kain penutup. Salah seorang menghampiri sisi tempat Alone duduk, lalu membentak dengan suara tinggi.

“Troun... troun...

bagah bacut!" (Aceh: Turun...turun...cepat sedikit!)

Alone dan Bang Din Burgek segera turun dari kendaraan. Keduanya berusaha tetap tenang. Alone menjelaskan bahwa mereka membawa benur untuk para petambak di Langsa yang sudah menunggu sejak malam. Waktu tabur benih hampir tiba, sementara perjalanan masih cukup jauh.

“Maaf, Pak. Kami cuma mengantar benur. Petani tambak di Langsa sudah menunggu. Kami mohon izin melanjutkan perjalanan agar sebelum Subuh kami sudah sampai,” jelas Alone.

Penjelasan itu berlangsung cukup panjang. Bang Din Burgek sesekali ikut memberikan keterangan, sementara Alone lebih banyak menjawab pertanyaan yang diajukan. Setelah memastikan mereka bukan bagian dari kelompok yang sedang dicari, orang-orang bersenjata itu akhirnya mempersilakan keduanya kembali melanjutkan perjalanan.

Sebelum beranjak, salah seorang dari mereka berpesan agar Alone dan Bang Din Burgek lebih berhati-hati. Beberapa waktu sebelumnya, telah terjadi kontak tembak di sekitar perbatasan Aceh Timur–Langsa. Jalan yang hendak mereka lalui karenanya bukan lagi sekadar jalur penghubung antardaerah, melainkan wilayah yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi garis antara aman dan bahaya.

Alone kembali naik ke dalam Hiace. Ia menarik napas panjang. Perjalanan dilanjutkan. Langit di ufuk timur mulai menyimpan pertanda pagi, sementara gelap masih menggantung di sepanjang jalan.

Namun, belum lama kendaraan bergerak, mereka kembali berhadapan dengan pemeriksaan.

Kali ini bukan kelompok bersenjata, melainkan aparat keamanan yang berjaga di sebuah pos berikade di perbatasan.

Bang Din Burgek memperlambat kendaraan. Alone segera membuka kaca jendela. Ia melihat beberapa petugas berdiri di bawah cahaya lampu pos.

“Izin kami lewat, Pak,” ujar Alone sigap seraya memberi tabik kepada para petugas.

Petugas mendekati kendaraan dan memeriksa sekilas bagian dalam serta muatan yang mereka bawa. Alone kembali menjelaskan tujuan perjalanan dan asal benur yang hendak diantar ke Langsa.

Malam semakin tua. Subuh semakin dekat.

Di sepanjang perjalanan itu, Alone mulai merasakan bahwa mencari nafkah di tengah negeri yang sedang bergolak bukanlah perkara sederhana. Benur yang dibawanya memang kecil, tetapi amanah yang dipikulnya terasa jauh lebih besar. Ia hanya seorang remaja yang hendak menepati janji kepada para petambak, tetapi malam itu jalan hidup mempertemukannya dengan wajah-wajah perang yang kelak tak mudah dilupakannya.(***)

(Bersambung...)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement