WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (23)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Episode ke-23 membawa Alone pada sebuah persimpangan penting dalam perjalanan hidupnya. Setelah melewati masa-masa sulit sebagai mahasiswa perantauan, pintu dunia jurnalistik akhirnya terbuka. Surat keputusan masa percobaan dan surat tugas dari Harian Waspada bukan sekadar lembaran administratif, melainkan awal dari tanggung jawab baru yang harus dijawab dengan kerja, ketekunan, dan kemampuan. Pada saat yang sama, kepindahan kuliah ke Universitas Samudra di Langsa mempertemukannya dengan kemungkinan hidup yang lebih dekat dengan kampung halaman dan Emak yang selalu menjadi sumber kekuatan. Namun, meninggalkan Medan ternyata tidak sesederhana meninggalkan ruang kuliah dan kamar kos. Ada Icha yang menangis, ada ibu kos yang menyimpan perasaan dalam diam, dan ada kenangan yang perlahan berubah menjadi bagian dari perjalanan batinnya.
Perjalanan pulang menuju Langsa di tengah hujan menjadi semacam lorong kontemplasi bagi Alone. Di dalam bus Pelangi, wajah-wajah masa lalu hadir silih berganti: Emak, Abah, saudara-saudaranya, kampung pesisir, hingga hari-hari panjang yang telah ditempuh seorang diri di perantauan. Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Kota Langsa, kerinduan itu menemukan arah baru. Sepiring nasi perang, segelas teh hangat, sebuah BMW, dan rumah Haji Hasan menjadi potongan-potongan kecil yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Episode ini mengisahkan bahwa pulang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kembali menemukan akar, mengenali kembali jejak yang pernah ditinggalkan, dan menyadari bahwa setiap langkah manusia—sejauh apa pun ia berjalan—pada akhirnya selalu membawa pulang cerita tentang siapa dirinya. Berikut ini dapat Anda simak WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (23) karya Agusni AH.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (23)
KEESOKAN harinya, Alone kembali mendatangi kantor redaksi Harian Waspada.
Di tengah kesibukan para wartawan dan redaktur di balik meja masing-masing, ia menjumpai Rizal Bey, sapaan akrab Rizaldi Anwar, mantan wartawan perang yang pernah ditugaskan ke Aceh selama beberapa waktu untuk meliput konflik bersenjata di daerah itu.
“Eh, datang juga kamu!” sambut Rizal Bey begitu melihat Alone. “Saya dan Bos Edo sudah menghadap pimpinan. Dan kamu diterima. Kamu akan ditugaskan di Aceh.”
Alone terdiam sesaat, seolah ingin memastikan bahwa apa yang didengarnya bukan sekadar harapan yang terlalu cepat menjadi kenyataan.
“Benar, Bang?”
“Benar. Sekarang, segera temui Bos Edo di ruangannya. Beliau sudah menunggumu.”
“Siap, Bang!”
Alone segera beranjak menuju ruang di sudut gedung, melewati beberapa ruangan redaksi yang dipisahkan sekat-sekat setinggi dada. Suasana kantor tetap sibuk. Suara mesin ketik, percakapan para wartawan, dan dering telepon berpadu menjadi irama khas sebuah ruang redaksi yang tak pernah benar-benar sepi.
Setibanya di depan ruangan Edwar Thahir, Alone mengetuk pintu perlahan.
“Assalamu'alaikum, Bang.”
“Wa'alaikumussalam. Eh, Alone! Masuk, masuk.”
Bos Edo, demikian ia biasa disapa, mempersilakan Alone duduk di sofa dalam ruangannya yang sejuk.
Setelah berbasa-basi sejenak, Edwar mengambil beberapa lembar dokumen dari atas meja.
“Ini surat keputusan untuk masa percobaan selama enam bulan. Dan ini surat tugasmu.”
Alone menerima kedua dokumen itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Ada kegembiraan, kelegaan, sekaligus kesadaran bahwa sebuah tanggung jawab baru telah menunggunya.
Selama ini, ia hanya bermimpi memeroleh pekerjaan tetap agar bisa membiayai kuliah dan menyambung hidup di perantauan. Kini, pintu itu benar-benar terbuka.
“Terima kasih, Bang,” ucapnya tulus.
Edwar mengangguk, lalu menatapnya.
“Bagaimana dengan kampusmu? Sudah kamu urus proses pindahnya?”
“Sepulang dari sini, saya akan langsung ke kampus untuk mengurus administrasi perpindahan kuliah, Bang,” jawab Alone.
Ia kemudian menjelaskan bahwa tujuan kepindahannya baru akan ditentukan setelah mengetahui secara pasti daerah tempat ia ditugaskan.
“Kalau begitu, saya akan pindah kuliah ke Kota Langsa saja, Bang. Di sana juga banyak perguruan tinggi. Salah satunya Universitas Samudra, atau Unsam.”
Edwar mendengarkan penjelasan itu dengan saksama.
Bagi Alone, Langsa bukan sekadar kota yang mungkin menjadi tempatnya bekerja dan melanjutkan pendidikan. Kota itu juga memberinya peluang untuk lebih dekat dengan kampung halaman, dengan Emak yang selama ini menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan.
Namun, ia sadar bahwa menjadi wartawan bukan berarti seluruh persoalan hidupnya akan selesai dengan sendirinya. Ia masih harus belajar, menyesuaikan diri, dan membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya memang layak dipertahankan.
Enam bulan masa percobaan itu bukan hanya hitungan waktu di atas surat keputusan. Baginya, itulah kesempatan untuk membuktikan diri—bahwa ia mampu menulis, bekerja, dan memikul tanggung jawab tanpa harus mengubur cita-cita pendidikannya.
Alone kembali menatap dokumen di tangannya.
Di balik lembaran kertas itu, ia seakan melihat jalan panjang yang mulai terbentang: jalan menuju dunia jurnalistik, menuju kampus yang baru, dan mungkin juga menuju kehidupan yang lebih dekat dengan Emak.
Ia belum tahu bagaimana semuanya akan berjalan.
Tetapi, sebagaimana yang selalu diyakininya, manusia hanya bisa berikhtiar. Selebihnya, Allah yang menentukan.
Dan hari itu, dengan surat keputusan serta surat tugas di tangannya, Alone merasa satu langkah penting dalam hidupnya telah dimulai.
***
Setelah mengurus proses perpindahan kuliah dari USU ke Universitas Samudra (Unsam) di Langsa, Alone kembali ke rumah kosnya di Jalan Gagak Hitam.
Ada satu hal yang belum selesai ia lakukan: berpamitan.
Ia ingin menemui ibu kos sekaligus meminta izin untuk meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh selama menjalani hari-hari sebagai mahasiswa di Medan.
Dan terutama, ia ingin berpamitan kepada Icha.
Gadis kecil itu kini sudah duduk di kelas I SD. Selama tinggal di rumah kos tersebut, Icha telah tumbuh menjadi seperti keponakannya sendiri. Bocah itu sangat dekat dengannya, bahkan sering bermanja-manja dan mencari Alone setiap kali pulang sekolah.
Alone sendiri tidak pernah membayangkan bagaimana perpisahan itu nanti.
Setiba di rumah, ia mengutarakan maksudnya untuk kembali ke Aceh dan melanjutkan kuliah di Kota Langsa.
Semula Icha menyambut kedatangan Om kesayangannya dengan riang.
Namun, begitu mendengar kabar bahwa Alone akan pergi, wajah cerianya seketika berubah.
“Icha nggak mau Om pergi.”
Alone terdiam.
“Icha ikut Om!”
Suara Icha pecah.
Gadis kecil itu mulai menangis dan merengek. Ia memeluk Alone erat-erat, seolah dengan pelukan kecilnya itu ia dapat menahan langkah lelaki yang selama ini telah menjadi bagian dari hari-harinya.
“Ma... Mamaaaa...!”
Tangisnya semakin menjadi.
Ia meminta ibunya menahan Alone agar tidak pergi meninggalkannya.
Alone mencoba menenangkan.
“Om bukan pergi selamanya, Cha. Nanti kalau ada kesempatan, Om datang lagi.”
Namun Icha terus menangis.
Bagi anak seusianya, perpisahan bukanlah soal jarak dan waktu. Pergi berarti kehilangan seseorang yang selama ini hadir dalam dunianya.
Ibu Icha hanya bisa memandangi keduanya.
Janda muda itu sebenarnya juga merasakan ngilu yang sama ketika mendengar Alone akan meninggalkan Medan.
Namun, ia berusaha menyembunyikannya.
Ia tahu, kepergian Alone bukan karena ia ingin menjauh dari mereka. Ada kuliah yang harus dilanjutkan, ada pekerjaan yang harus dijalankan, dan ada masa depan yang sedang diperjuangkannya.
Tetapi, sebagai seorang perempuan, ia menyadari ada sesuatu yang selama ini diam-diam tumbuh di dalam dirinya.
Bukan sekadar rasa kehilangan seorang penghuni kos.
Bukan pula hanya rasa sayang seorang ibu kepada anak yang telah akrab dengan putrinya.
Entah sejak kapan, kekaguman itu perlahan berubah menjadi rasa suka.
Mungkin ia sendiri tidak pernah benar-benar menyadarinya.
Setelah suaminya meninggal, hatinya lama seperti rumah yang pintunya tertutup. Ia tidak pernah membayangkan akan kembali menyimpan rasa kepada seorang lelaki.
Namun, kehadiran Alone perlahan menghadirkan sesuatu yang telah lama mati dalam dirinya: rasa nyaman, perhatian, dan percakapan sederhana yang membuat hari-harinya terasa tidak terlalu sunyi.
Ia tidak pernah mengungkapkannya.
Ia memilih menyimpannya dalam diam.
Sebab ia tahu, Alone adalah seorang anak muda yang sedang mengejar masa depan. Kuliahnya belum selesai. Jalan hidupnya masih panjang.
Dan kini, lelaki muda itu akan pergi.
Ia hanya berdiri memandangi Alone dan Icha.
Ada perasaan yang ingin ditahannya agar tidak jatuh menjadi air mata.
Barangkali begitulah perasaan seorang perempuan yang pernah kehilangan suami.
Ketika seseorang datang membawa kehangatan, hati bisa saja kembali mengenal cahaya.
Tetapi ketika orang itu hendak pergi, hati pula yang harus belajar menerima gelap kembali.
Icha masih terisak dalam pelukan Alone.
Sementara ibunya hanya berkata pelan,
“Sudahlah, Icha... Om Alone bukan meninggalkan kita. Om hanya harus pergi untuk kuliah dan bekerja.”
Alone menatap perempuan itu.
Untuk sesaat, pandangan mereka bertemu.
Tidak ada kata-kata.
Tetapi dalam tatapan yang singkat itu, mungkin ada banyak hal yang tidak sanggup mereka ucapkan.
Di luar rumah, sore mulai turun.
Dan untuk pertama kalinya, Alone menyadari bahwa meninggalkan Medan ternyata bukan hanya soal meninggalkan kampus, kamar kos, dan jalan-jalan yang telah akrab dengannya.
Ada hati-hati kecil yang harus ia tinggalkan.
Ada pula perasaan yang mungkin tidak pernah sempat diberi nama.
***
Malam itu, Alone kembali menaiki bus Pelangi, seperti setahun silam, ketika untuk pertama kalinya ia menempuh perjalanan panjang dari kampung menuju Medan. Bus serupa, jalan yang sama, dan hujan yang kembali turun membasahi bumi. Mula-mula hanya gerimis kecil, mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan jemari halusnya. Namun, perlahan, gerimis menjelma butir-butir air yang rapat, berderai, lalu melebur menjadi aliran bening yang berkejaran di kaca bus yang melaju menyusuri jalan lintas Medan–Banda Aceh.
Di antara deru mesin dan gemuruh hujan, wajah-wajah yang pernah mengisi hidupnya kembali berkelebat di benak Alone. Seraut wajah gadis kecil dengan roman ayu, yang selama ini kerap menyapanya dengan kepolosan, dan sebentuk kebaikan ibunya, wajah-wajah orang kampung yang pernah memberi ruang ketika ia nyaris tak punya tempat berpijak. Terutama wajah Emak, perempuan yang selama ini diam-diam menjadi tangan tak terlihat di balik setiap langkahnya—meringankan beban, menanak harapan, dan mengajarinya bahwa hidup harus dijalani meski berkali-kali harus menahan lapar dan perih.
Kini, kerinduan itu terasa semakin dekat, sekaligus semakin dalam. Wajah Abah ingin disentuhnya, meski ia tahu ada jarak dan takdir yang membuat perjumpaan itu tidak sederhana. Tubuh Emak ingin segera didekap, seolah seluruh perjalanan panjangnya hendak ditumpahkan ke bahu perempuan tua itu: lelah, rindu, cerita, dan segala yang selama ini dipendamnya sendirian. Di balik kaca yang dipenuhi jejak hujan, Alone menatap gelap malam. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya—barangkali kerinduan seorang anak yang akhirnya menemukan jalan pulang, setelah sekian lama mengejar masa depan.
Sepanjang perjalanan itu, Alone tak mampu memejamkan mata. Benaknya melayang-layang, berpindah dari satu ingatan ke ingatan lain, seperti daun kering yang diterbangkan angin malam. Kadang ia kembali ke kampung pesisir, kepada rumah sederhana yang menyimpan wajah Emak dan segala kesabaran yang tak pernah selesai. Kadang pikirannya melompat ke Medan—kampus, kamar kos, ruang redaksi, tulisan-tulisan yang mulai mengenalkan namanya. Semua datang silih berganti, berkelindan dalam kepala, seolah perjalanan pulang itu sekaligus menjadi perjalanan menyusuri lorong-lorong hidupnya sendiri.
Di sampingnya, seorang lelaki paruh baya tertidur pulas. Sesekali tubuhnya bergeser mengikuti guncangan bus, sementara dengkurannya terdengar berat dan teratur, menyelusup di antara suara mesin dan gemuruh hujan. Alone sempat melirik, lalu tersenyum tipis. Lelaki itu seolah telah berdamai dengan malam dan perjalanan, sementara dirinya justru semakin jauh terseret ke dalam pikirannya sendiri. Matanya tetap terbuka, memandang gelap di balik kaca yang sesekali diterangi cahaya lampu kendaraan dari arah berlawanan.
Ia membiarkan benaknya mengembara. Terbayang wajah Emak yang mungkin sedang menunggu, wajah saudara-saudaranya, terutama Bang Ni yang sebelum ia berangkat setahun lalu diburu aparat keamanan, halaman rumah, suara azan dari meunasah, juga jalan-jalan kampung yang pernah dilaluinya dengan kaki telanjang. Di antara bayangan itu, wajah Abah kembali muncul—wajah yang selama ini lebih banyak hidup dalam ingatan daripada dalam pelukan. Alone menarik napas panjang. Malam terasa begitu panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa jarak menuju rumah justru sedang dipendekkan oleh kerinduan.
“Di Langsa nanti turun di mana, ya?” tanya kernet yang menghampiri Alone.
“Di terminal saja, Bang,” jawab Alone singkat.
Bus Pelangi terus melaju memasuki kawasan Aceh Tamiang, wilayah yang menjadi pintu gerbang Aceh dari arah Sumatera Utara. Di luar jendela, gelap malam perlahan mulai menipis. Sesekali lampu-lampu rumah dan warung di tepi jalan terlihat berkelebat, lalu kembali ditelan pekat. Tak lama lagi, bus akan memasuki Kuala Simpang, ibu kota Kabupaten Aceh Tamiang. Dari sana, Langsa tinggal sekitar lima puluh menit perjalanan.
Jam tangan Alone menunjukkan pukul 04.00 WIB. Ia kembali menyandarkan kepala ke kursi, matanya menatap jalan yang masih basah oleh hujan. Ada rasa haru yang perlahan mengembang di dadanya. Perjalanan panjang dari Medan hampir sampai pada ujungnya. Dalam diam, ia membisikkan doa kecil kepada Tuhan: "Insya Allah, Subuh akan tiba di Kota Langsa," gumamnya dalam hati.
Alone turun di Terminal Terpadu Langsa (TTL) ketika waktu memasuki salat Subuh. Ia segera menuju musalla dan melaksanakan salat Subuh berjamaah.
Sembari menunggu pagi benar-benar terang, Alone menyantap sarapan nasi perang¹ yang dijual di sebuah warung dalam kompleks terminal. Dua bungkus nasi perang sekaligus dilahapnya. Perut yang sejak tadi terasa kempis mulai sedikit membengkas, ditambah segelas teh tong² yang menghangatkan tubuhnya.
“Hendak ke mana, Nak?” tanya ibu penjaga warung itu.
Usianya kira-kira sebaya dengan Emak di kampung. Selama hampir setahun terakhir, wajah Emak tak pernah ditatapnya secara langsung. Pertanyaan sederhana perempuan itu tiba-tiba membuat ingatannya berkelana. Ternyata, masih ada emak-emak lain yang bertarung dengan kehidupan pada subuh buta, demi menyambung napas keluarga.
“Mau ke rumah Haji Hasan di Gampong³ Daulat, Mak.”
Setelah berbasa-basi sejenak, Alone takzim meninggalkan warung. Ia kemudian menaiki BMW, becak yang biasa disebut orang-orang di Langsa.
Pikirannya seketika teringat kepada Bang M. Nur, abang iparnya, yang juga menyebut becaknya BMW-- Becak Mesin Weng. Namun, BMW yang ditungganginya pagi itu benar-benar BMW dalam arti lain: Becak Model Weng⁴, becak yang dirakit dari sepeda dan hanya mengandalkan tenaga manusia untuk mengayuhnya.
Alone tersenyum kecil. Di antara derit roda dan embusan angin pagi, ingatannya kembali melayang kepada kampung, kepada Bang M. Nur, dan terutama kepada wajah Emak yang setahun terakhir hanya hidup dalam ingatan.
BMW yang membawa Alone menuju rumah Haji selama dua puluh menit itu melintasi jalan-jalan yang menyimpan kenangan lama. Dahulu, ketika mengantar benur kepada para petambak di pesisir Langsa, Alone tidak selalu langsung pulang ke kampung. Ia biasa menyewa kamar di rumah Haji itu untuk bermalam, sebelum kembali melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
“Kami kira kamu sudah lupa rumah ini,” sahut istrinya, menyambut Alone dengan wajah berseri.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu muncul lagi, ya?” tambah Haji Hasan, tak kalah gembira.
Keduanya seolah berebut menyapa dan menanyakan kabar Alone. Kehangatan itu membuatnya merasa seperti pulang ke rumah sendiri, ke tempat yang menyimpan jejak perjalanan masa lalunya.
“Panjang ceritanya, Pak, Bu....” Alone tersenyum tipis.
“Ya, sudah. Masuk dulu!” ajak Haji Hasan.
Haji Hasan menyuruh Alone langsung masuk ke kamar yang dahulu biasa disewanya setiap kali mengantar benur kepada para petambak di pesisir Langsa. Kamar itu masih seperti yang diingatnya, menyimpan kenangan tentang masa ketika ia harus pandai membagi waktu antara mencari nafkah dan menempuh perjalanan pulang ke kampung.(***).
(Bersambung...)
¹Nasi bungkus daun pisang/porsi kecil/sedikit dengan lauk sederhana yang umum dijual sebagai sarapan pagi di Aceh/daerah Langsa.
²Teh hangat yang diseduh/disajikan dalam gelas atau wadah sederhana di warung.
³Desa/Kampung
⁴Kayuh, seperti mendayung sepeda.


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda