Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (25)

Redaksi
Redaksi
Kamis, 8 Oktober 2026 - 8.59 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (25)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Episode 25 WAJAH ABAH, TANGAN EMAK menghadirkan kepulangan Alone ke kampung halaman setelah satu setengah tahun terpisah dari Emak. Kepulangan itu menjadi pertemuan emosional yang mempertemukan kembali seorang anak dengan ibunya, sekaligus menjadi ruang bagi Alone untuk menuturkan perjalanan hidupnya: kuliah, bekerja sebagai jurnalis muda, menulis sastra, hingga menyisihkan penghasilan untuk mendaftarkan Emak menunaikan ibadah haji. Adegan pertemuan Alone dan Emak terasa sebagai salah satu simpul emosional penting dalam cerbung ini—bahwa di balik perjalanan seorang anak mengejar masa depan, selalu ada ibu yang menunggu dalam doa dan kesunyian.

Namun, kepulangan yang semula membawa kegembiraan perlahan berubah menjadi kabar kehilangan. Bang M. Nur berpulang selepas salat Subuh, sementara nama-nama lain dari masa lalu juga satu per satu tinggal kenangan. Di tengah suasana duka itulah Alone akhirnya kembali berhadapan dengan Abah, sosok yang selama ini lebih banyak hadir dalam ingatan. Pelukan dan permintaan maaf keduanya menjadi puncak kontemplatif episode ini: sebuah pertemuan yang terlambat, tetapi justru menemukan makna dalam suasana kehilangan. Episode 25 memperlihatkan bahwa waktu bukan hanya membawa perubahan, tetapi juga kematian, kerinduan, dan kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu. Di ujung cerita, ketidakhadiran Bang Ni yang masih berada dalam bayang-bayang konflik menegaskan bahwa perjalanan keluarga ini belum selesai.(red).

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (25)

Enam Bulan Kemudian

SELAMA satu setengah tahun, Alone tidak melihat Emak sejak pertama kali meninggalkan tempat kelahirannya, kampung pesisir Selat Malaka. Setelah setahun di Kota Medan, ia sudah enam bulan kembali ke Aceh.

Hari-harinya sibuk kuliah dan bekerja sebagai jurnalis muda. Sesekali ia mengirim karya-karya sastra ke sejumlah media massa sebagai tambahan pundi-pundi untuk membiayai kuliahnya. Selebihnya, ia sisihkan untuk membeli sepeda motor sebagai sarana penunjang kerja yang terus membawanya wara-wiri melakukan liputan di tiga wilayah: Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Aceh Timur. Dengan kendaraan itu, ia bahkan bisa menjangkau hingga ke pedalaman.

Inilah kesempatan pertama baginya kembali menjejakkan kaki di kampung halaman.

Saat senja mulai turun, ia mengetuk pintu rumah kecil itu. Di halaman, dua bocah remaja laki-laki tampak saling berebut menggendong seorang bocah laki-laki yang masih kecil.

“Assalamu’alaikum...”

“Wa’alaikumussalam...” jawab Kak Munah sembari membukakan pintu.

Ketiga keponakannya itu langsung merapat. Alone memeluk mereka erat, seolah hendak menebus waktu yang begitu lama terpisah.

“Mak, Alone datang...” suara Kak Munah memecah keheningan di dalam rumah.

Emak yang baru selesai melaksanakan salat Asar segera menoleh. Seperti biasa, ia sering berlama-lama di atas sajadah, menunggu waktu Magrib tiba, jika sedang tidak menganyam tikar atau pergi ke pantai mencari benur dan nener.

Seketika, mata tua itu menatap ke arah pintu.

Alone berdiri di sana.

Untuk beberapa saat, Emak hanya terdiam. Seakan-akan yang berdiri di hadapannya bukan anak yang telah lama pergi, melainkan masa lalu yang tiba-tiba pulang membawa seluruh kerinduannya.

“Alone...?”

Suara itu lirih, hampir seperti bisikan.

“Mak...”

Hanya satu kata. Tetapi di antara keduanya, kata itu seperti membawa kembali seluruh perjalanan yang pernah mereka lalui—tentang kemiskinan, perpisahan, doa-doa yang tak pernah putus, dan seorang anak yang pergi membawa mimpi, sementara seorang ibu tetap tinggal bersama kesunyian dan sajadahnya.

Alone melangkah mendekat.

Emak bangkit dari tempat duduknya.

Lalu, tanpa banyak kata, keduanya berpelukan.

Di pelukan itu, satu setengah tahun terasa seperti baru kemarin.

Kak Munah dan anak-anaknya hanya bisa memandang dalam diam pelukan seorang ibu dan anak itu. Tak ada yang berani menyela. Mereka seolah memahami, ada rindu yang terlalu panjang untuk diterjemahkan dengan kata-kata.

Pelukan itu bukan sekadar pertemuan setelah sekian lama berpisah. Di dalamnya ada air mata yang tertahan, doa-doa yang pernah dipanjatkan, dan perjalanan seorang anak yang akhirnya kembali ke pangkuan ibunya.

Kak Munah menundukkan wajah. Sementara ketiga anaknya berdiri di dekat pintu, menyaksikan pemandangan yang barangkali akan mereka ingat sepanjang hidup: seorang ibu memeluk anaknya, setelah jarak dan waktu begitu lama memisahkan keduanya.

“Emak sehat-sehat saja, kan?” tanya Alone.

“Alhamdulillah... kalau pun terkadang sakit, ya namanya juga orang sudah uzur,” jawab Emak. Ia sedikit menutupi keadaan sebenarnya. Selain tubuh yang mulai renta, sesungguhnya ada sakit lain yang jauh lebih memilukannya selama ini: sakit karena rindu kepada anak-anaknya.

Kak Munah yang duduk tak jauh dari mereka kemudian membuka rahasia yang selama ini disimpan Emak.

“Emak sering mengigau dalam tidurnya. Yang ditanyakan hanya Alone...”

Alone terdiam. Ada sesuatu yang terasa menyentuh bagian terdalam dadanya.

“Bang Ni bagaimana kabarnya?” tanyanya kemudian, ingin mengetahui keberadaan abangnya.

“Insya Allah, abangmu akan baik-baik saja,” terang Emak.

Kak Munah menimpali, “Beberapa bulan lalu sempat pulang sebentar. Namun, tak lama kemudian langsung pergi lagi.”

“Pulang malam?” tanya Alone.

“Ya, menjelang subuh. Tidak lama kemudian abangmu sudah bersiap pergi,” ungkap Kak Munah, mengenang kepulangan suaminya beberapa bulan lalu.

Alone kembali terdiam. Rumah itu ternyata menyimpan banyak kepulangan yang tak pernah benar-benar menjadi pertemuan.

“Apa sudah ke rumah Cut Kak?” tanya Emak kepada Alone.

“Belum, Mak,” jawab Alone seraya mengatakan: "Sebenarnya enam bulan lalu sempat pulang ke Lhokseumawe, namun kemudian tiba-tiba harus balik ke Idi karena tugas liputan dari redaksi. Dan, baru ini bisa pulang langsung jumpai Emak."

Ia kemudian menguraikan keberadaannya selama ini. Sejak pindah kuliah dari USU Medan, sudah enam bulan ia melanjutkan pendidikannya di Kota Langsa. Kepindahan itu bukan tanpa alasan. Ada keadaan yang memaksanya meninggalkan Medan dan kembali ke Aceh. Di kota itu pula, selain meneruskan kuliah, Alone mulai menekuni dunia jurnalistik.

Sambil bercerita, ia mengisahkan bagaimana semuanya bermula—dari pertemuannya dengan orang-orang di dunia pers, kesempatan menulis untuk media massa, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi jurnalis yang melakukan liputan di Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Aceh Timur.

Emak mendengarkan dengan saksama. Sesekali matanya menatap wajah Alone, seakan ingin memastikan bahwa anak yang dahulu pergi dengan segala keterbatasan itu kini telah menemukan jalannya sendiri.

“Jadi, selama ini itulah kesibukanmu?” tanya Emak.

Alone mengangguk.

“Iya, Mak. Kuliah sambil bekerja. Kalau ada waktu, menulis cerita dan mengirimkannya ke koran.”

Emak tersenyum kecil.

Ia mungkin tidak sepenuhnya memahami dunia yang sedang dijalani anaknya. Namun, seorang ibu tak selalu membutuhkan penjelasan panjang untuk memahami perjuangan seorang anak.

Baginya, melihat Alone pulang dengan selamat sudah lebih dari cukup.

“Tetapi, Alone pulang kali ini sekalian mau mendaftarkan Emak pergi haji,” katanya. Sebagian uang yang ditabungnya selama ini memang ia sisihkan dari hasil kerja, setelah mencukupi kebutuhan hidup dan kuliahnya.

“Apa? Emak mau didaftarkan naik haji?” Emak setengah terperanjat.

“Iya, Mak. Emak senang, kan?” Alone tersenyum. Ia hanya ingin memastikan bahwa orang tuanya bisa merasakan sedikit kegembiraan dari hasil jerih payahnya sendiri.

“Alhamdulillah... siapa yang tidak senang mendengar berita seperti ini,” Kak Munah menimpali, seakan mewakili suara Emak yang masih tergagap-gagap menahan haru.

Emak memandang wajah Alone. Matanya berkaca-kaca. Mungkin tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa anak yang dulu pergi meninggalkan kampung dengan segala keterbatasan, kini pulang membawa sesuatu yang begitu berarti baginya.

“Alhamdulillah, Nak. Emak tidak pernah meminta sejauh itu,” ucapnya lirih.

“Alone tahu, Mak. Tapi kalau Allah memberi rezeki, kenapa tidak kita niatkan untuk sesuatu yang baik?”

Emak mengusap wajahnya. Bibirnya bergerak pelan, seperti sedang mengucapkan syukur yang tak sanggup dirangkai menjadi kalimat panjang.

“O ya, Abah bagaimana? Apa sering pulang?” tanya Alone, tiba-tiba teringat ayahnya.

“Abah hanya pulang seperti dulu, mengantarkan daging menjelang hari raya,” terang Emak.

“Mungkin meugang lusa juga akan pulang lagi,” tambah Emak.

Alone mengangguk pelan. Ia memang sengaja pulang sebelum bulan Ramadan agar dapat berkumpul dengan Emak, kakak-kakaknya, dan keponakan-keponakannya. Ada kerinduan yang ingin ia tebus setelah sekian lama meninggalkan rumah.

Namun, di balik kegembiraan itu, pikirannya kembali tertuju kepada Bang Ni.

Bagaimana dengan Bang Ni yang masih dalam perburuan TNI? batinnya.

Pertanyaan itu hanya berputar di kepalanya, tak sampai terucap di hadapan Emak. Ia tak ingin kepulangannya yang baru saja membawa sedikit cahaya ke rumah itu berubah menjadi bayang-bayang kecemasan.

***

Tahun-Tahun Kematian

Kabar kepulangan Alone menyebar cepat. Malam pertama keberadaannya di kampung, setelah satu setengah tahun merantau, seketika berubah menjadi sebuah reuni. Wajah-wajah lama berdatangan, membawa cerita, kenangan, dan tawa yang sempat lama terpendam oleh jarak dan waktu.

Seperti dahulu, mereka duduk di balee meunasah. Alone, yang sejak usai salat Isya langsung menghempaskan diri, larut dalam suasana malam yang terasa akrab.

Cik Wardi, Bang Ibnu Abbas, Akong, dan beberapa lelaki setengah baya lainnya ikut bercengkerama. Sepoi angin laut membawa cerita-cerita lama, mengalir dari satu kenangan ke kenangan lainnya, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan mereka.

Cik Wardi sudah menyelesaikan S-1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Lhokseumawe. Sementara Bang Ibnu Abbas masih menekuni profesi lamanya. Keduanya ternyata masih membujang. Berbeda dengan Akong. Cintanya yang tak lekang kepada Faridah akhirnya berlabuh di rumah tangga; mereka kini telah dikaruniai seorang anak.

Namun, di tengah kisah-kisah yang mengemuka di balee meunasah, terselip pula nama-nama yang telah mangkat satu per satu. Bang Ali Moto, si tauke yang dikenal dermawan, telah meninggal dunia. Disusul adiknya, Bang Adnan, yang juga merupakan abang ipar Cik Wardi. Begitu pula Bang Syafruddin, abang sepupu Alone, telah berpulang setelah beberapa lama menderita sakit.

Malam itu, di antara tawa yang sesekali pecah dan angin laut yang berembus lirih, Alone seperti sedang mendengar kabar tentang tahun-tahun yang diam-diam menjemput kematian.

Pagi di kampung pesisir itu cerah. Semilir angin Selat Malaka berembus pelan, menyusuri halaman dan pepohonan, menghadirkan suasana yang teduh. Namun, ketenangan itu seketika berubah ketika langkah Alone hendak menjenguk Cut Kak.

Tiba-tiba, anak tertuanya datang membawa kabar duka tentang ayahnya, Bang M. Nur. Lelaki itu telah berpulang, usai menunaikan salat Subuh tadi.

Alone terdiam.

“Ayah, tadi setelah salat Subuh...” suaranya terputus, menahan tangis yang sejak tadi menggenang di sudut mata.

Ia menarik napas panjang, seakan berat sekali melanjutkan kalimat yang membawa kabar paling pahit pagi itu.

“Ayah sudah berpulang...” ujarnya lirih.

Kabar itu seperti angin yang tiba-tiba berhenti berembus—menyisakan sunyi yang dalam di antara pagi dan kenangan.

Alone memeluk keponakannya erat. Pelukan itu seakan menjadi dua makna yang bertemu dalam satu keheningan: pelukan karena rindu setelah lama tak berjumpa, sekaligus pelukan duka untuk menguatkan hati atas kepergian ayahnya.

Di dalam pelukan itu, tak banyak kata mengemuka. Hanya air mata yang jatuh perlahan, seolah menjadi bahasa paling jujur untuk mengabarkan kehilangan.

Alone, Emak, Kak Munah bersama tiga anaknya, serta beberapa kerabat lainnya, segera bergegas menuju rumah duka dengan menggunakan mobil pikap. Pagi yang semula cerah kini terasa muram. Di sepanjang perjalanan, tak banyak kata terucap. Masing-masing larut dalam pikiran dan kesedihan, menyusuri jalan menuju rumah tempat Bang M. Nur telah pergi untuk selamanya.

Sesampai di rumah Cut Kak, suasana lebih banyak diliputi diam. Cut Kak hanya berulang kali memeluk adiknya yang telah lama berada di perantauan. Seolah-olah pelukan itu menjadi tempat menumpahkan rindu sekaligus kesedihan yang tak mudah diucapkan.

“Dalam sebulan terakhir ini, kondisi Abang memburuk,” ujar Cut Kak seadanya kepada Alone.

“Yang tabah, ya, Kak,” kata Alone pelan sambil mendekap kakaknya.

Emak hanya bisa mengelus-elus punggung anak tertuanya. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Hanya sentuhan seorang ibu yang seakan ingin meneguhkan hati anaknya di tengah kehilangan.

Di tengah prosesi fardu kifayah, orang-orang terus berdatangan. Kabar tentang berpulangnya Bang M. Nur pada subuh tadi akhirnya sampai kepada Abah. Tak lama kemudian, sosok yang selama ini jarang pulang itu pun menampakkan diri—membawa wajah duka di antara kerumunan orang yang sedang melepas kepergian.

Menyusul kepergian Bang M. Nur, Abah datang sehari lebih awal menjelang meugang, sebagaimana biasanya, tepat pada hari punggahan. Ia membawa pulang daging dan sedikit uang untuk menyambut bulan suci Ramadan. Alone telah merencanakan untuk menunggu kedatangan Abah terlebih dahulu. Setelah itu, barulah ia kembali berangkat, bekerja dan melanjutkan kuliahnya di Kota Langsa.

"Syukur Alhamdulillah Abah datang," gumam Alone.

Tidak seperti saat Alone bertemu Abah sewaktu kecil, kali ini ia langsung menubruk tubuh Abah. Entah karena rindu yang lama terpendam, atau rasa bersalah karena selama ini ia merasa seperti anak yang kurang peduli kepada orang tuanya.

“Maafkan Alone, Abah.”

“Tidak ada yang salah denganmu, Alone. Abahlah yang lalai terhadap kalian. Terutama terhadapmu, Alone.”

Abah menepuk-nepuk bahu Alone, seakan hendak menguatkan anaknya yang selama ini lebih sering hanya hadir dalam ingatan dan bayang-bayangnya. Alone menatap lekat-lekat wajah Abah, memastikan bahwa sosok yang selama ini hanya mengapung dalam ingatannya kini benar-benar berdiri di hadapannya, diantara duka Cut Kak, atas kepergian suaminya.

Kepergian Bang M. Nur yang menyisakan duka mendalam seakan menjadi ruang pertemuan bagi keluarga kecil itu. Mereka kembali berkumpul dalam kehilangan, meski tidak semua dapat hadir. Hanya Bang Ni yang tak kunjung pulang. Entah ia belum mengetahui kabar duka itu, masih menghindari kejaran TNI, atau sedang bertahan di tengah belantara, di antara perang yang kian berkecamuk.(***).

(Bersambung...).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement