Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (12)

Redaksi
Redaksi
Jumat, 25 September 2026 - 6.58 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (12)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Episode ke-12 Wajah Abah, Tangan Emak kembali membawa Alone pada persimpangan antara kerasnya kehidupan dan tumbuhnya kesadaran sebagai seorang remaja. Di tengah konflik bersenjata yang membuat kata-kata harus dijaga dan langkah mesti diperhitungkan, Alone memilih untuk tidak larut dalam pusaran yang bukan dunianya. Ia memahami bahwa bertahan hidup bukan hanya tentang keberanian, tetapi juga tentang kemampuan membaca keadaan.

Di sisi lain, kehidupan memperlihatkan warna yang lebih personal melalui kisah Akong dan Faridah. Percakapan mereka tentang cinta, penolakan, kesabaran, dan restu orang tua menjadi cermin bahwa setiap perasaan memiliki waktunya sendiri. Bagi Alone, cinta tidak cukup hanya dengan keinginan memiliki; ada pendidikan yang harus diselesaikan, ada kematangan yang perlu ditunggu, dan ada tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Episode ini sekaligus memperlihatkan tumbuhnya dunia kepengarangan Alone. Puisi dan cerpennya mulai menemukan ruang di media massa, bahkan menarik perhatian teman-teman sekolahnya. Dari seorang anak pesisir yang bergelut dengan benur, tambak, sekolah, dan kemiskinan, perlahan tumbuh seorang penulis muda yang menemukan kata-kata sebagai jalan lain untuk memahami kehidupan.

Namun, di balik kegembiraan kecil itu, panggilan tentang Emak menghadirkan kesadaran yang lebih dalam. Kesibukan mengejar sekolah, pekerjaan, dan tulisan ternyata membuat Alone semakin jarang pulang. Ketika mendengar kabar Emak sakit, seluruh kesibukan itu seakan runtuh dalam sekejap. Di situlah episode ini menemukan simpul emosionalnya: sejauh apa pun seorang anak berjalan mengejar masa depan, rumah dan Emak tetap menjadi tempat paling sunyi yang memanggilnya pulang. Silahkan menyimaknya di bawah ini Wajah Abang, Tangan Emak (12) karya Agusni AH.(red).

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (12)

“SEMALAM Alone ke rumah Nurlaili, ya? Bagaimana kondisinya? Kenapa suaminya ditembak? Siapa yang menembaknya?”

Sederet pertanyaan Akong itu membuat Alone menjelaskan seadanya, sebatas yang ia ketahui. Ia tidak ingin terlalu panjang lebar bercerita tentang sesuatu yang memang tidak diketahuinya. Dalam suasana yang serba karut-marut akibat konflik bersenjata, bukan hanya peluru yang bisa berbicara. Mata-mata pun berkeliaran; bahkan dinding rumah terkadang seolah memiliki telinga.

Alone tidak ingin masuk terlalu jauh ke dalam pusaran konflik politik orang-orang dewasa. Baginya, apa yang dilihat dan didengarnya cukup menjadi pengingat untuk selalu waspada dan menjaga langkah. Ia hanya ingin menjalani hidup, mencari jalan keluar dari kemelaratan yang sejak kecil membelenggunya.

Namun, hidup ternyata tidak pernah benar-benar memberi jarak kepada siapa pun. Konflik yang melanda negerinya perlahan ikut menyeret Alone ke dalam arus yang tak pernah ia pilih. Di satu sisi, ia sedang berjuang menaklukkan kemiskinan; di sisi lain, keadaan memaksanya belajar bahwa dalam kehidupan yang serba tidak pasti, kemelaratan dan ketakutan kadang tumbuh dari tanah yang sama.

Dan Alone pun kembali belajar: menjadi anak muda di tengah konflik bukan sekadar tentang bagaimana bertahan hidup, tetapi juga bagaimana menjaga mulut, membaca keadaan, dan menyelamatkan diri dari sesuatu yang bahkan belum tentu ia mengerti.

“Kesempatan, nih. Tapi, tak usah lagi, lah. Aku sudah ada Faridah,” lanjut Akong, seakan berbicara sendiri di tengah diamnya Alone.

Tanpa sadar, ucapan itu kembali memantik kenangan lama tentang Nurlaili—perempuan yang dahulu pernah menolak cintanya. Kini, Nurlaili telah menjadi janda belia. Sebulan lalu, ketika menikah, ia bahkan belum sempat menuntaskan sekolah tingkat Aliyahnya.

Sementara itu, Alone kini duduk di kelas satu SMA. Adapun Akong mulai mengelukan dirinya sebagai tauke benur di kampung pesisir itu. Kehidupan seperti sedang mempertemukan mereka dengan jalan yang berbeda-beda, meski masa lalu sesekali masih datang mengetuk dari celah ingatan.

“Kalau memang serius, fokus saja pada Faridah. Tapi, Akong harus sabar menunggunya sampai menyelesaikan sekolah,” seru Alone, mengingatkan agar Akong tidak mempermainkan perasaan Faridah—keponakannya, anak dari kakak sepupunya yang semata wayang.

Alone tahu, cinta bukan sekadar perkara memiliki. Ada masa yang harus ditunggu, ada pendidikan yang mesti dituntaskan, dan ada perasaan yang tidak boleh dipermainkan hanya karena sebuah kesempatan tiba-tiba terbuka.

“Tapi, sepertinya Kak Limah dan Bang Ma’e Lekmen, ibu dan ayah Faridah, tidak setuju denganku,” ungkap Akong setengah galau. Ada keraguan yang terselip di antara kata-katanya, seolah ia sendiri belum menemukan jalan untuk meyakinkan kedua orang tua Faridah.

“Kak Limah dan Bang Ma’e Lekmen bukan orang yang gampang diyakinkan. Jadi pendekar pun, belum tentu mampu menaklukkan hati mereka,” seloroh Alone menimpali.

“Tapi, suatu saat nanti, ketika usia kami sudah cukup, aku pastikan kedua orang tuanya akan luluh. Kami akan menikah,” ucap Akong penuh semangat, tanpa sedikit pun menyisakan keraguan.

***

Apa yang menjadi keteguhan Akong, bagi Alone, biarlah waktu yang menjawabnya. Sedangkan apa yang telah menjadi tekadnya sendiri, harus diperjuangkannya hingga dapat diraih. Jalan satu-satunya bagi Alone adalah bekerja keras, tetap fokus pada sekolah, dan tidak meninggalkan ibadah.

Tak ayal, dunia kepengarangan pun kian mewarnai kehidupannya. Beberapa karya sastranya mulai tampil di media massa. Harian Serambi Indonesia mulai memuat puisi dan cerpennya. Bagi Alone, setiap tulisan yang terbit bukan sekadar kebanggaan, melainkan semacam pertanda bahwa dari kampung pesisir yang sederhana, ia perlahan menemukan jalan untuk menyuarakan isi hati dan pikirannya.

Bahkan, pernah suatu ketika, sebuah cerpennya yang dimuat Majalah Dunia Wanita, anak penerbitan Harian Waspada Medan, menghebohkan satu sekolah. Cerpen berjudul Elegi Rindu Membakar Mimpi Biru itu rupanya begitu menarik perhatian para siswi yang gemar membaca majalah tersebut. Karya Alone pun menjadi buah bibir.

“Romantis nih, ye...!”

“Awas... awas, sang pujangga kita lewat!”

Alone hanya senyam-senyum. Ia membiarkan gurauan itu berlalu seperti angin. Barangkali, ia sendiri belum menyadari bahwa kata-kata yang ditulisnya telah menemukan jalan menuju hati pembaca.

“Lon, sini!”

Suara Kepala Sekolah, Pak Abdul Aziz, memanggilnya ke ruang guru.

“Ya, Pak.”

“Bapak minta kamu menjadi Ketua Panitia Lomba Tulis Sastra di sekolah. Sekaligus menjadi kurator karya-karya yang masuk.”

“Siap, Pak. Segera saya bentuk kepanitiaannya,” jawab Alone mantap.

Belum sempat ia melangkah jauh dari ruang guru, seseorang datang menyampaikan kabar yang membuat senyumnya seketika meredup.

“Lon, segera pulang. Emak sakit keras di rumah,” ujar Bang Ni. Ia datang menjemput Alone setelah sebelumnya sempat pulang untuk menjenguk Emak. Sehari-hari, Bang Ni bekerja menjual kopi di Keude Krueng Geukuh.

Mendengar kabar itu, Alone tergagap. Dadanya seketika sesak. Ia terkesiap, panik, dihimpit kecemasan yang tiba-tiba membesar. Bayangan tentang Emak melintas begitu saja di benaknya.

Untuk sesaat, rasa bersalah pun menyeruak. Ia merasa berdosa karena belakangan ini semakin jarang pulang ke rumah. Padahal, jarak antara rumah dan tempatnya beraktivitas tidaklah terlalu jauh dengan rangkang menjadi rumah keduanya di tambak.

Tetapi, kesibukan sekolah, pekerjaan, dan dunia kepengarangan membuat waktu terasa begitu cepat berlalu. Ia terus mengejar hari esok, sementara Emak mungkin sedang menunggu kepulangannya hari demi hari.

Kali ini, Alone tidak lagi memikirkan sekolah, benur, tulisan, atau apa pun yang selama ini memenuhi kepalanya. Yang ada dalam pikirannya hanya satu: Emak.

Mereka pulang dengan angkutan umum. Sesampainya di rumah, Alone langsung menubruk Emak yang terbaring lemas di dipan seadanya.

“Mak, maafkan Alone.”

Air mata Alone berurai. Ia memeluk Emak erat, seolah ingin menebus seluruh hari yang telah dilewatinya tanpa pulang.

“Ke mana saja kamu, Nak?” Emak memeluk Alone dengan senyum lembut. Tidak tampak kesedihan di wajahnya, meski kerinduan kepada anaknya selama sepekan itu begitu dalam.

“Emak hanya khawatir. Sudah sepekan Alone tidak pulang-pulang.”

“Maafkan Alone, Mak...”

Emak tersenyum. Senyum yang perlahan berubah seperti orang kegirangan melihat anaknya kembali. Ia bahkan bangkit dari dipan, seolah ingin meyakinkan Alone bahwa dirinya baik-baik saja.

“Emak tidak sakit keras seperti yang dikatakan Bang Ni.”

Bang Ni yang berdiri tak jauh dari mereka segera angkat bicara.

“Kalau tidak Bang Ni bilang Emak sakit keras, pasti dia tidak akan pulang, Mak,” katanya membela diri. Bang Ni memang terkenal suka bersandiwara di tengah keluarga kecil mereka, terutama kalau ingin membuat adiknya segera pulang.

Emak hanya tersenyum mendengar kelakar itu. Lalu ia menoleh kepada Bang Ni.

“Apa sudah ke tempat Cut Kak? Bagaimana kabar dan kondisinya?” tanya Emak.

“Alhamdulillah, Cut Kak dan suaminya baik-baik saja, Mak,” jawab Bang Ni. Ia kemudian menerangkan bahwa kemarin ia juga sempat berkunjung ke rumah Cut Kak di pesisir Lhokseumawe. Kakak tertua mereka itu kini telah dikaruniai tiga orang anak laki-laki yang tumbuh sehat dan menjadi penghibur di tengah keluarganya.(***).

(Bersambung...)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement