WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (13)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (13) karya Agusni AH kembali membawa pembaca menyusuri masa remaja Alone—masa ketika cinta mulai berkelindan di antara persahabatan, tetapi belum menjadi tujuan hidupnya. Di tengah gurauan Cik Wardi, Ibnu Abbas, dan Akong, terselip gambaran tentang anak-anak muda pesisir yang tumbuh dalam kesederhanaan, memaknai cinta dengan cara masing-masing, sementara kehidupan terus menuntut mereka untuk bekerja, belajar, dan bertahan.
Episode ini juga memperlihatkan kedewasaan Alone dalam menjaga perasaan sahabat. Surat Nurlaili yang pernah menyimpan harapan kepadanya sengaja ia rahasiakan dari Akong. Bukan karena takut pada kenyataan, melainkan karena ia memahami bahwa tidak setiap kebenaran harus segera diucapkan. Ada kalanya persahabatan lebih membutuhkan kebijaksanaan daripada keterusterangan.
Di antara bale meunasah, pantai, perahu nelayan, dan riak Selat Malaka, cinta hadir sebagai percakapan ringan, tetapi menyimpan pertanyaan yang dalam. Akong mengejar harapan kepada Faridah, sementara Alone justru memilih laut, pekerjaan, dan cita-cita yang belum sepenuhnya menemukan bentuk. Di sinilah episode ini menemukan lirihnya: hati manusia pun seperti laut—tidak semua yang disimpannya harus segera sampai ke daratan.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (13)
MESKI Nurlaili telah menjadi janda setelah suaminya tewas tertembak, usianya masih sangat belia. Baru 19 tahun. Alone sendiri baru menginjak 17 tahun, sebaya dengan Akong.
Namun, sedikit pun tak pernah terlintas di benak Alone tentang cinta remaja. Apalagi keinginan memiliki kekasih hati. Jauh sekali dari bayangannya untuk menikah, sebagaimana sohibnya, Akong, yang mulai mengancang-ngancang membangun rumah tangga.
Bagi Alone, cinta belumlah menjadi pintu yang ingin diketuk. Hidup masih terlalu sibuk mengajarinya tentang sekolah, pekerjaan, kemiskinan, dan bagaimana bertahan di antara kerasnya gelombang kehidupan.
Barangkali, pada usia itu, hati Alone belum mengenal nama lain selain Emak, laut, dan cita-cita yang masih samar.
Pernah suatu ketika, seniornya, Cik Wardi, mencoba memancing perasaan Alone.
“Alone kan gemar menulis surat cinta. Mengapa Nurlaili, janda belia itu, tak juga disapa? Lagi pula, selain wajahnya manis, dia juga memiliki banyak harta. Bukankah sejak dulu Nurlaili berharap Alone membalas cintanya?”
Alone hanya tersenyum. Godaan Cik Wardi seperti angin yang lewat di antara daun-daun kelapa yang melambai—terdengar, tetapi tak cukup kuat untuk menggoyahkan hati.
Baginya, surat cinta hanyalah kata-kata yang pernah ia titipkan untuk orang lain. Ia belum tentu memahami ke mana kata-kata itu akan membawa hati. Apalagi menjadikan cinta sebagai jalan menuju perkawinan.
Nurlaili memang pernah menaruh harap. Tetapi harapan seseorang, pikir Alone, bukanlah utang yang harus dibayar dengan cinta.
“Cik, usah menjadi ifrit lah,” sergah Alone.
Cik Wardi yang mendengar dirinya ditamsilkan seperti ifrit, salah satu golongan jin yang dalam kisah-kisah dikenal kuat dan lihai menggoda manusia, bukannya tersinggung. Ia malah tertawa terbahak-bahak.
Tawa itu pecah di antara gurauan dua sahabat, sementara Alone hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu, di balik kelakar Cik Wardi, ada bujuk rayu yang sengaja dilemparkan untuk mengusik hati.
Namun, bagi Alone, hati bukanlah ikan lapar di laut yang bisa dipancing dengan umpan apa pun. Apalagi dengan harta, rupa, atau kisah cinta masa remaja.
“Cik sendiri bagaimana? Apa sudah menemukan tambatan hati, atau masih dalam penjajakan? Biar kita eksekusi lewat sepucuk surat cinta,” goda Alone.
Belum sempat Cik Wardi menjawab, Ibnu Abbas, sahabat seangkatannya, tiba-tiba datang dan ikut nimbrung.
“Itu pun usah digoda. Bujang lapuk yang tak pernah punya rasa,” celutuk Ibnu Abbas, disambut tawa.
Alone tak mau kalah. Ia segera membalas, seolah-olah hendak membela Cik Wardi.
“Bukankah kalian berdua punya nasib serupa? Sama-sama lanang lapuk, tapi banyak cerita!”
Skakmat.
Cik Wardi dan Ibnu Abbas saling pandang. Sesaat mereka terdiam, sebelum akhirnya tawa kembali pecah. Di antara kelakar tiga anak muda itu, cinta terasa seperti permainan kata—ringan di lidah, tetapi diam-diam menyimpan banyak rahasia di dalam hati.
Di tengah senda gurau tiga lelaki yang menikmati angin siang di atas bale meunasah pada Minggu yang ceria itu, Akong datang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ia sedang kepayang kepada Faridah, gadis pujaan hatinya.
Bukan sekadar dilanda mabuk cinta setengah mati, Akong bahkan menganggap Faridah sebagai kebanggaan yang kelak akan melengkapi hidupnya. Dalam benaknya, berhasil mempersunting gadis itu bukan semata-mata perkara memiliki kekasih, melainkan sebuah kebanggaan yang ingin dibawanya ke hadapan dunia.
Alone, Cik Wardi, dan Ibnu Abbas tentu sudah mafhum dengan gejolak hati Akong. Setiap kali nama Faridah disebut, wajahnya seakan berubah menjadi langit yang disiram cahaya purnama. Cinta telah membuatnya berbunga-bunga, bahkan sebelum akad mengikat dua hati menjadi satu.
“Memangnya Faridah mau? Terus, Kak Limah dan Bang Ma’e Lekmen setuju?” selidik Ibnu Abbas menggoda.
Kalimat pendek itu terdengar ringan, tetapi menyimpan sengatan. Seolah-olah Ibnu Abbas sedang menantang sekaligus menyangsikan kemampuan Akong untuk benar-benar mendapatkan Faridah dan restu keluarganya.
Akong yang semula datang dengan wajah berbunga, seketika seperti terusik. Namun, ia berusaha tetap tenang. Baginya, cinta kepada Faridah bukan sekadar angan-angan yang tumbuh di kepala. Ia merasa telah menemukan seseorang yang ingin diperjuangkannya, meski jalan menuju pelaminan belum tentu semulus yang dibayangkannya.
Akong yang pantang menerima kekalahan segera mencari pendukung setianya. Hanya satu nama yang diyakininya paling berpengaruh dan siap membantu memperjuangkan cintanya kepada Faridah: Alone. Selain memiliki hubungan keluarga langsung dengan Faridah, Alone juga memiliki kedekatan dengan kedua orang tuanya.
“Mana mungkin aku gagal. Selain ada dukun—eh, maksudku dewa cinta—ia juga orang yang bisa tembus langsung kepada kedua orang tuanya,” cetus Akong, menunjuk Alone sembari tersenyum-senyum.
Alone hanya menggeleng. Ia tahu, dirinya baru saja diseret Akong ke dalam urusan cinta yang sejak awal tak pernah ingin disentuhnya. Namun, sebagai keluarga, ia pun tak mungkin begitu saja menutup pintu ketika sahabatnya datang membawa harapan.
Cik Wardi dan Bang Ibnu Abbas hanya memoyongkan senyum kepada Akong yang rada-rada selengekan. Mereka seperti sedang menyaksikan seorang bujang yang sudah lebih dahulu sampai di pelaminan, padahal jalan menuju ke sana saja belum tentu terbuka. Lagi pula, Akong masih remaja, sama seperti Alone. Apalagi Faridah, yang masih duduk di bangku tsanawiyah.
“Entahlah, Kong.” Cik Wardi menyeringai.
Akong tak bergeming. Senyum tipis di wajahnya justru menyiratkan keyakinan yang sulit digoyahkan. Bagi orang yang sedang dimabuk cinta, jarak antara angan dan kenyataan kadang terasa begitu dekat.
“Ya sudah dululah. Alone mau ke pantai. Siapa tahu ada nelayan yang sudah pulang melaut. Kalau mau ikut, ayok.”
Alone beranjak dari bale meunasah. Angin laut masih berembus pelan, membawa aroma asin Selat Malaka. Percakapan tentang cinta pun berhenti di sana, sementara bagi Alone, pantai dan perahu-perahu nelayan jauh lebih nyata daripada urusan hati yang belum ingin dipikirkannya.
***
Siang yang lembut menyusul matahari yang redup. Awan seakan memayungi bibir pantai Selat Malaka, sementara angin laut perlahan menerpa daratan. Dari kejauhan, perahu-perahu nelayan tampak kian mendekat, seolah membawa serta kabar dari laut: ikan-ikan hasil tangkapan sebentar lagi akan tiba di daratan.
Alone dan Akong, yang sedari kecil tercatat sebagai aneuk iteek, masing-masing berdiri menunggu perahu nelayan langganannya. Mata keduanya tak lepas dari garis laut, tempat perahu-perahu itu perlahan muncul dari balik riak dan cakrawala. Bagi mereka, kepulangan sebuah perahu bukan sekadar tibanya ikan, tetapi juga datangnya rezeki yang selalu ditunggu dengan sabar.
Sembari menunggu perahu mendarat, kedua sahabat itu duduk di antara tumpukan pasir yang menggunduk, bersandar pada pohon aru yang rindang, menikmati gelombang yang silih berganti menghempas pantai. Pemandangan itu mengingatkan mereka pada kebiasaan semasa kecil. Setelah lelah berkejar-kejaran di antara riak-riak pecahan ombak, mereka biasa beristirahat sambil menikmati ikan bakar hasil tangkapan pukat jaring yang dilabuh di tepian pantai.
Akong kembali membuka percakapan, sekaligus mengusik kenangan masa lalu.
“Lon, aku masih penasaran soal Nurlaili lah. Mengapa, ya... dia menolakku waktu itu? Sejak saat itu, entah mengapa aku malah menaruh curiga kalau sebenarnya dia menyukai kamu, kan?”
Akong kembali bercanda. Namun, ia cukup hati-hati mengungkapkan rasa penasaran sekaligus kecurigaannya. Ia tak ingin ucapannya menyinggung perasaan Alone, sahabat yang sangat dikaguminya. Bagi Akong, Alone bukan sekadar teman. Ia adalah panutan—pekerja keras, rajin menuntut ilmu, dan selalu berusaha menjauh dari urusan cinta. Diam-diam, Akong menyimpan rasa salut sekaligus bangga kepada sahabatnya itu.
“Tak perlu terjebak dalam kenangan masa lalu, Kong. Soal Nurlaili, aku sendiri tak pernah merasa memiliki ikatan, apalagi rasa. Dan apa yang menjadi fokusku, kan kamu tahu...”
Alone sengaja tidak membuka rahasia tentang surat Nurlaili yang pernah menitipkan rasa kepadanya. Baginya, tak semua yang diketahui harus disampaikan, terlebih jika hanya akan membuat hati sahabatnya semakin terluka. Penolakan Nurlaili sudah cukup membuat Akong menyimpan tanda tanya. Alone tak ingin menambahnya dengan kenyataan yang mungkin lebih menyakitkan.
Ia memilih menyimpan surat itu sebagai bagian dari masa lalu—sebuah rahasia kecil yang tak perlu mengubah persahabatan mereka. Baginya, menjaga hati seorang sahabat terkadang berarti membiarkan sebagian kebenaran tetap tinggal dalam diam.
Alone menghentikan kalimatnya sejenak. Pandangannya mengarah ke laut, seolah hendak mencari sesuatu di balik garis cakrawala. Barangkali, ada hal-hal yang memang lebih baik disimpan di kedalaman hati, sebagaimana laut menyimpan rahasia di balik gelombangnya.(***).
(Bersambung...)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda