Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (16)

Redaksi
Redaksi
Selasa, 29 September 2026 - 6.00 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (16)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Cerbung WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (16) karya Agusni AH menghadirkan persimpangan batin Alone ketika cita-cita untuk melanjutkan pendidikan berhadapan dengan kenyataan hidup yang tak kunjung reda. Keinginan menjemput masa depan di Kota Medan bukanlah perjalanan yang sederhana. Di belakangnya ada Emak yang kian menua, Bang Ni yang berada dalam pengejaran aparat keamanan, serta rumah kecil di kampung pesisir yang masih dibayangi kecemasan. Konflik tersebut membuat perjalanan Alone tidak semata-mata menjadi perjalanan seorang anak menuju perguruan tinggi, melainkan perjalanan batin untuk belajar melepaskan sesuatu yang dicintainya demi sebuah harapan.

Kekuatan episode ini terutama terletak pada sosok Emak yang digambarkan tidak banyak mengeluh, tetapi menyimpan kecemasan jauh di balik keteguhan dan senyumnya. Dialog antara Emak dan Alone menjadi ruang penting yang memperlihatkan kasih seorang ibu: ia mengetahui persoalan anak-anaknya, merasakan ketakutan, tetapi memilih tidak menjadikan ketakutannya sebagai belenggu bagi masa depan Alone. Bahkan beberapa lembar rupiah yang diselipkan kepada anaknya menjelang keberangkatan memperoleh makna simbolik yang kuat—bukan sekadar bekal perjalanan, melainkan doa yang diam-diam menyertai langkah seorang ibu kepada anaknya. Di sisi lain, gambaran patroli aparat dan ketakutan warga memperluas cerita dari persoalan keluarga menjadi potret kehidupan masyarakat kecil yang berada dalam bayang-bayang konflik.

Pada bagian akhir, keberangkatan Alone menuju Medan menjadi semacam ambang perubahan dalam struktur cerita. Bus yang menembus malam dan hujan membawa seorang anak pesisir meninggalkan kampung, tetapi tidak benar-benar meninggalkan akar kehidupannya. Tas di punggung, beberapa lembar rupiah pemberian Emak, dan doa yang mengiringi langkahnya menjadi simbol sederhana tentang perjuangan menuju masa depan. Medan yang dahulu hanya menjadi tempat persinggahan untuk mencari rezeki, kini berubah menjadi pintu bagi cita-cita. Di titik inilah WAJAH ABAH, TANGAN EMAK semakin menemukan napasnya sebagai kisah tentang kemiskinan, keluarga, konflik, pendidikan, dan keteguhan seorang anak dalam merawat harapan—sebuah perjalanan yang terus bergerak antara luka masa lalu dan masa depan yang belum selesai dituliskan.(red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (16)

DI tengah persiapan memasuki perguruan tinggi, setelah mempertimbangkan berbagai hal atas desakan pihak sekolah dan keinginannya melanjutkan kuliah demi meraih cita-cita agar masa depan lebih baik, Alone justru diliputi kecemasan mendalam. Ada kehendak untuk menjemput masa depan, tetapi ada pula kenyataan hidup yang terus menarik langkahnya kembali ke tanah tempat ia berpijak.

Terlebih, Bang Ni mulai dicari-cari aparat keamanan. Sejak abangnya terlibat dalam kelompok yang berseberangan dengan pemerintah, itulah yang paling ditakutkan Alone apabila sampai diketahui Emak. Ia tidak ingin Emak kembali menanggung beban psikologis dan hidup dalam ketakutan.

Sudah cukup Emak menderita sejak Abah pergi meninggalkannya. Sudah cukup pula perempuan itu bersusah payah, bekerja membanting tulang untuk membesarkan anak-anaknya. Kini, ketika usia Emak mulai memasuki senja, Alone tak ingin menghadirkan lagi kecemasan baru di pundaknya.

Ia tahu, bagi seorang ibu, penderitaan anak sering kali terasa lebih berat daripada penderitaan yang ditanggungnya sendiri. Luka yang tidak terlihat pun dapat menjadi beban yang diam-diam menggerogoti hati.

Alone mulai dihadapkan pada dua jalan yang sama-sama berat. Di satu sisi, ada kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi—jalan yang mungkin dapat mengubah masa depannya. Di sisi lain, ada Emak yang semakin tua, Bang Ni yang mulai diburu, dan rumah sederhana mereka yang kembali diselimuti kecemasan.

Cita-cita sedang mengetuk pintu, sementara kekhawatiran berdiri di belakangnya. Alone hanya perlu memilih, tetapi setiap pilihan seperti meminta sesuatu untuk dikorbankan.

“Sejauh Alone sanggup membiayai kuliahnya nanti, Emak setuju dan mendukung lewat doa. Jangan pikirkan Emak.”

“Tapi, Emak akan sendiri.”

“Bukankah selama ini Emak juga sering sendirian?”

Emak menimpali dengan nada bercanda, seraya menyunggingkan senyum kecil. Namun, di balik senyum itu tersimpan sesuatu yang tidak ingin diperlihatkannya kepada Alone.

“Tapi, Bang Ni...”

“Kenapa dengan abang kamu itu?”

Emak menyergah, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.

“Dia sudah besar. Dia juga sudah tahu dengan segala pilihannya.”

Alone terdiam. Ada sesuatu dalam ucapan Emak yang membuatnya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan Emak sudah mengetahui semuanya.

“Ya, Emak sudah tahu semuanya,” ungkap perempuan itu.

Kedua bola matanya berbinar bening. Ada air yang nyaris jatuh, tetapi segera ditahannya. Bukan karena ia tidak takut. Justru karena ia takut, tetapi tidak ingin ketakutannya menjadi alasan bagi Alone untuk mengubur cita-citanya.

“Biarkan saja Bang Ni dengan pilihannya sendiri. Yang penting, Alone sudah ikut memperingatkannya.”

Emak kemudian mengaku bahwa ia telah mengetahui Alone bertemu dengan Bang Ni dan mengingatkan abangnya itu.

Alone semakin terdiam.

Untuk sesaat, ia merasa tidak sedang berbicara dengan seorang ibu yang perlu dilindungi, melainkan dengan seorang perempuan yang telah terlalu lama ditempa kehidupan. Emak ternyata tahu lebih banyak daripada yang selama ini disangkanya. Hanya saja, ia memilih diam agar anaknya tetap memiliki keberanian untuk melangkah.

Di hadapan Alone, Emak kembali tersenyum. Senyum kecil yang seolah berkata bahwa tidak semua kesedihan harus diwariskan kepada anak, dan tidak semua ketakutan harus menjadi alasan untuk berhenti mengejar masa depan.

***

Dalam sebulan terakhir, aparat keamanan yang diperbantukan (BKO) kerap memasuki kampung pesisir. Patroli dilakukan siang dan malam. Warga diperiksa satu per satu di pos-pos jaga. Bahkan pada siang hari, regu pasukan TNI masih menyusuri lorong-lorong kampung, mencari Bang Ni yang keberadaannya tak kunjung diketahui.

Orang-orang kampung pun kerap menerima imbasnya. Mereka dituduh menyembunyikan pemberontak, seolah-olah setiap pintu rumah menyimpan rahasia yang harus dibongkar.

“Seharusnya kalian memberi tahu kami, bukan malah menyembunyikannya. Akhirnya sekampung terkena imbasnya,” ujar seorang komandan dalam arahannya seusai pemeriksaan. Beberapa warga yang dianggap tidak memberikan keterangan dengan benar dihukum push-up.

Di kampung itu, bahasa pun kadang menjadi perkara. Tidak semua warga lancar berbahasa Indonesia. Salah mengucapkan kata, salah memahami pertanyaan, atau terlambat menjawab bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan. Ada yang akhirnya menerima tamparan hanya karena lidahnya tak cukup fasih menjelaskan apa yang sebenarnya tidak mereka ketahui.

Di tengah konflik, orang-orang kecil terkadang bukan hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga kehilangan hak untuk menjelaskan dirinya sendiri.

Emak yang tinggal seorang diri di rumah itu sudah beberapa kali didatangi aparat. Namun, sejauh ini ia masih diperlakukan dengan baik. Emak menjawab setiap pertanyaan apa adanya, tanpa menyembunyikan sesuatu yang memang tidak diketahuinya. Begitupun anak perempuannya yang tertua, ikut suaminya tinggal di Lhokseumawe. Sementara si bungsu, Alone, pelajar SMA yang sebentar lagi akan kuliah di Kota Medan.

“Saya sudah lama tinggal sendiri. Dia—Bang Ni—sudah lama tidak menjenguk saya. Coba saja cari ke rumahnya. Tanyakan langsung kepada istrinya.”

Delapan orang berseragam loreng dengan senjata laras panjang kemudian bergerak menuju rumah Bang Ni.

Suasana kampung pesisir menjelang siang tampak lengang. Angin laut masih membawa asin ke daratan, tetapi tak banyak orang berani berada di luar rumah. Mereka hanya mengintip dari balik pintu dan jendela, menyaksikan iring-iringan itu dalam diam. Kampung seperti kehilangan suara. Yang tersisa hanya langkah kaki dan kecemasan yang berjalan dari rumah ke rumah.

Sesampainya di rumah Bang Ni, istri dan kedua anak lelakinya yang masih berusia belasan tahun tampak ketakutan. Mereka saling berangkulan ketika dua orang berseragam loreng merangsek masuk ke dalam rumah. Sang istri berusaha menjelaskan dengan suara yang bergetar.

“Suami saya sudah empat bulan tidak pulang-pulang. Saya juga tidak tahu di mana keberadaannya.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan mata yang menyimpan kecemasan.

“Saya benar-benar tidak tahu keberadaannya. Selama empat bulan ini, kami hanya bertahan hidup dengan mencari rezeki di pantai, Pak.”

Di rumah sederhana itu, ketakutan seperti telah lebih dahulu tiba sebelum siapa pun mengetuk pintu.

Setelah seluruh sudut rumah kecil itu diperiksa, tak ada apa pun yang mereka temukan. Mereka akhirnya bersiap meninggalkan rumah. Salah seorang di antaranya, yang tampaknya merupakan komandan, berhenti sejenak di ambang pintu dan menyampaikan pesan kepada istri Bang Ni.

“Kalau dia pulang, suruh menyerahkan diri ke pos terdekat atau ke Koramil Kecamatan.”

Istrinya hanya mengangguk pelan. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya.

Setelah rombongan berseragam loreng itu meninggalkan halaman, kedua anak lelakinya semakin erat memeluk ibunya. Mereka masih berdiri dalam diam, seakan takut melepaskan pelukan, sementara suara langkah pasukan perlahan menjauh di jalan kampung.

***

“Alone tak perlu memikirkan Emak, apalagi Bang Ni. Sekarang pergilah. Jangan sampai terlambat menunggu bus.”

Seusai salat Isya malam itu, Emak mendesak anaknya segera menuju jalan raya Medan–Banda Aceh. Alone harus berangkat malam agar dapat tiba di Medan menjelang Subuh.

Sebelum Alone melangkah, Emak mengeluarkan beberapa lembar rupiah dari balik lipatan pakaiannya.

“Ini buat nambah-nambah,” katanya sambil menyodorkan uang itu.

“Tak usah, Mak. Emak simpan saja untuk kebutuhan sehari-hari.”

“Insya Allah, Emak akan ada rezeki lain. Ambillah…!”

Alone masih menggeleng. Ia tahu, uang itu bukan sesuatu yang berlebih bagi Emak. Justru karena itulah hatinya semakin berat menerimanya.

Namun, demi menghargai pemberian seorang ibu dan agar Emak tidak berkecil hati, akhirnya uang itu ia terima dengan kedua tangannya.

Kadang-kadang, pemberian seorang ibu bukan tentang berapa banyak yang berpindah dari tangannya ke tangan anaknya. Ia adalah doa yang diam-diam diselipkan bersama beberapa lembar rupiah, agar langkah sang anak tetap menemukan jalan pulang.

Alone diantar Bang Syafruddin, abang sepupunya yang selama ini menjadi langganan menyuplai surat-surat cinta. Dengan sepeda, Bang Syafruddin memboncengnya menuju jalan raya. Tas ransel tergantung di punggung Alone, sementara gerimis mulai turun membasahi jalan.

Tak berapa lama kemudian, Bus Pelangi melintas dan berhenti di hadapan mereka. Alone segera naik. Dari balik pintu bus, ia sempat menatap Bang Syafruddin yang masih berdiri di tepi jalan dengan sepeda di sampingnya.

Bus Pelangi kembali bergerak, menerobos hujan yang mulai deras, membelah pekatnya malam menuju Medan, Sumatra Utara.

Di balik kaca jendela yang dipenuhi titik-titik hujan, Alone mungkin sedang meninggalkan satu malam yang panjang—membawa beberapa lembar rupiah pemberian Emak, sebuah tas di punggung, dan harapan yang belum selesai dituliskan.

Tepat pukul 05.00 WIB, Bus Pelangi yang ditumpangi Alone memasuki Terminal Pinang Baris, Kota Medan. Setelah perjalanan semalaman menembus hujan dan pekatnya malam, Alone segera turun dengan tas ransel masih melekat di punggung.

Langkahnya bergegas menuju musala terminal. Subuh telah tiba. Di tengah hiruk-pikuk terminal yang perlahan mulai menggeliat, Alone ingin terlebih dahulu menghadap Rabb-nya, menunaikan salat sebelum melanjutkan langkah menuju tujuan berikutnya.

Kota Medan bukanlah tempat yang asing bagi Alone. Ia sudah beberapa kali singgah setiap mengantar benur udang atau nener bandeng kepada para petambak di pesisir Belawan. Jika ada pesanan dari petambak di Pangkalan Susu atau Pangkalan Brandan, perjalanan biasanya berlanjut ke Medan, yang kala itu dapat ditempuh sekitar satu jam.

Setiap datang ke Medan, Alone tak pernah menginap di hotel. Ia lebih memilih rumah-rumah kos dengan biaya sewa yang jauh lebih terjangkau. Namun, kali ini kedatangannya membawa tujuan yang berbeda. Bukan sekadar mengantar benur atau nener, melainkan menjemput babak baru kehidupannya: melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di USU.

Setelah tiba di Medan, ia kembali mendatangi rumah kos yang pernah menjadi tempat persinggahannya. Harga sewanya lebih bersahabat dengan isi kantongnya. Kali ini, Alone langsung membayar untuk satu bulan.

Setelah berbasa-basi sejenak dengan pemilik rumah, ia meletakkan tas dan beristirahat. Tubuhnya masih menyimpan lelah perjalanan semalaman. Namun, waktu tak banyak memberinya kesempatan untuk berlama-lama.

Sekitar pukul sebelas, ia berencana menuju kampus dengan membawa berkas-berkas yang diperlukan sekaligus melakukan daftar ulang.

Medan yang dahulu hanya menjadi persinggahan untuk mencari rezeki, kini menjadi pintu yang hendak dibukanya untuk merengkuh masa depan.(***).

(Bersambung...)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement