Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (18)

Redaksi
Redaksi
Kamis, 1 Oktober 2026 - 6.36 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (18)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Memasuki episode ke-18 cerbung WAJAH ABAH, TANGAN EMAK karya Agusni AH, kisah ini kembali mengajak pembaca menyusuri perjalanan seorang anak pesisir dalam menjemput masa depan. Setiap anak yang berangkat menuju cita-cita sesungguhnya membawa serta doa dan pengorbanan orang-orang yang mencintainya. Langkah Alone menuju Universitas Sumatera Utara (USU) bukan semata perjalanan menuju bangku perguruan tinggi, melainkan perjalanan panjang yang tumbuh dari keterbatasan, kerja keras, dan keteguhan hati. Kampung sederhana telah mengajarinya bahwa hidup tidak selalu menyediakan jalan yang lapang, tetapi selalu menyisakan ruang bagi mereka yang mau berikhtiar.

Di sisi lain, percakapan Cik Wardi, Ibnu Abbas, dan Akong menghadirkan kembali wajah masa lalu—tentang cita-cita yang pernah sederhana, pilihan hidup yang berbeda, serta persahabatan yang tetap bersemi di antara gurauan. Dari balee meunasah, nama Alone kembali disebut sebagai anak kampung yang telah melangkah lebih jauh. Namun, keberhasilan itu tidak lahir dari kemudahan. Ada jejak kaki tanpa alas, jalan sekolah yang panjang, pekerjaan yang diselipkan di antara waktu belajar, serta ketabahan seorang Emak yang diam-diam menjadi akar bagi setiap langkah anaknya.

Dan ketika surat Alone akhirnya sampai ke tangan Emak, kisah ini menemukan ruang paling lirihnya. Beberapa baris sederhana dari seorang anak di perantauan justru menjadi penawar bagi hati seorang ibu. Tidak ada keluhan, hanya kabar kesehatan, kuliah, pekerjaan, dan permintaan doa. Sebab bagi seorang Emak, barangkali itulah hakikat kasih: melepas dengan air mata yang disembunyikan, merelakan dengan hati yang lapang, lalu terus mengirimkan doa agar anaknya menemukan jalan pulang—bukan hanya ke kampung halaman, tetapi kepada takdir terbaik yang telah disiapkan-Nya.(red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (18)

CIK Wardi tak patah hati. Kendati beberapa kali gagal menembus pintu perguruan tinggi, langkahnya tak lantas surut. Baginya, kegagalan hanyalah jeda kecil dalam perjalanan panjang menuju cita-cita—sebuah ikhtiar untuk merengkuh gelar sarjana.

Tepat pada waktunya, ia berhasil menyelesaikan kuliah sarjana (S1) di salah satu perguruan tinggi swasta di Aceh. Sebelumnya, ia sempat gagal masuk Fakultas Perikanan Unsyiah, Banda Aceh.

“Syukur Alhamdulillah. Daripada kamu...” kilah Cik Wardi ketika berbincang dengan Ibnu Abbas, teman seangkatannya semasa SMA.

Ibnu Abbas sejak awal memang tidak memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Baginya, sekolah cukup sampai tingkat menengah. Setelah itu, ia ingin segera bekerja dan hidup sebagaimana kebanyakan pemuda di kampung pesisir. Laut yang membentang di hadapan kampung telah lama menjadi tempat orang-orang menggantungkan hidup. Menjadi nelayan, melaut dengan perahu sederhana, atau membantu orang tua mengurus tambak adalah pilihan yang terasa lebih dekat daripada membayangkan bangku kuliah yang jauh dan mahal.

Bagi mereka yang tidak memiliki perahu atau keberanian menghadapi gelombang, tambak menjadi pilihan lain. Pemuda-pemuda yang memiliki lahan tambak dan sedikit modal biasanya membudidayakan ikan atau udang secara tradisional, mengandalkan pasang surut air laut, musim, dan pengetahuan yang diwariskan dari orang-orang tua. Begitulah kehidupan berjalan di kampung pesisir: sederhana, keras, dan penuh ketidakpastian. Ibnu Abbas pun merasa bahwa jalan hidupnya tidak perlu jauh-jauh dari laut dan tambak—cukup bekerja, memeroleh penghasilan, lalu perlahan membangun kehidupannya sendiri.

Pembicaraan mereka kemudian sampai pada Alone yang berhasil masuk Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur undangan khusus tanpa tes.

Nama Alone kerap terselip dalam bincang-bincang kedua sahabat itu. Bagi mereka, perjalanan Alone menuju bangku perguruan tinggi merupakan sebuah keberhasilan yang patut dibicarakan—meski mereka tahu, jalan yang ditempuh anak pesisir itu tidak pernah benar-benar lapang.

Sementara itu, Akong yang telah berumah tangga dengan Faridah menganggap perkawinannya sebagai kesuksesan tersendiri. Baginya, dapat mempersunting Faridah adalah sebuah prestasi hati—sebuah kemenangan cinta yang ditempuh dengan perjuangan panjang.

“Yang penting aku telah berhasil mempersunting Faridah. Untuk mendapatkannya, kalian kan tahu, aku penuh perjuangan,” ujar Akong dengan nada bangga.

“Daripada kalian berdua yang semakin tua. Jangankan memiliki istri, pacar saja tak punya,” Akong terus meledek kedua seniornya itu tanpa ampun.

“Can jadi tua lapuk kalian, ini,” celutuknya lagi. “Nanti keburu berkarat sebelum sempat punya pasangan.”

Petang itu, mereka duduk di balee meunasah. Angin dari laut menyusup perlahan di antara pepohonan nyiur yang melambai di kampung pesisir. Suara ombak terdengar samar, seperti percakapan alam yang tak pernah selesai.

Cik Wardi tersenyum. Ibnu Abbas terkekeh. Akong mengisap rokoknya dalam-dalam.

Mereka sedang mengenang masa lalu—masa ketika cita-cita masih sebatas bayangan, cinta masih berupa keberanian untuk menunggu, dan hidup belum memperlihatkan seluruh wajahnya.

Di antara nama-nama yang mereka sebut, nama Alone kembali hadir.

Anak yang dahulu berjalan tanpa alas kaki, menempuh jalan panjang menuju sekolah, mencuri waktu di antara mengaji dan bekerja, kini telah meninggalkan kampung untuk menjemput masa depan di sebuah kampus besar di Medan.

Namun, keberhasilan Alone bagi mereka bukan sekadar tentang USU.

Ada sesuatu yang lebih jauh dari itu.

“Apa ada kabar dari Alone?” tanya Akong.

“Dengar-dengar, beberapa hari lalu Emaknya menerima surat dari Alone. Bagaimana kondisinya, ya? Semoga kuliahnya lancar-lancar saja,” sela Cik Wardi.

“Aku yakin Alone akan mampu menaklukkan seganas dan sebesar apa pun Kota Medan,” tukas Ibnu Abbas tegas. “Anak itu sudah terbiasa menaklukkan kerasnya hidup sejak dari kampung.”

Perjalanan seorang anak yang tumbuh dari tangan Emak, dari tanah yang miskin, dari laut yang tak selalu memberi, dan dari doa-doa yang tak pernah terdengar suaranya.

Dan mungkin, hanya Emak yang tahu, bahwa di balik langkah Alone menuju kampus itu, ada sepotong hidupnya sendiri yang ikut dibawa pergi.

***

Sehari sebelumnya, Emak menerima surat dari Alone yang disampaikan melalui Syafruddin. Surat itu dititipkan Alone melalui loket Bus Pelangi di Krueng Geukuh, sebelum akhirnya sampai ke tangan Emak.

Syafruddin, yang sehari-hari bekerja sebagai operator alat berat, memang cukup sering singgah di loket bus tersebut. Pergaulannya luas. Ia memiliki banyak kawan dari kalangan harlan¹, sehingga urusan titip-menitip surat atau pesan antarkampung bukan sesuatu yang asing baginya.

Emak membuka lipatan surat itu perlahan. Matanya menyusuri setiap baris tulisan tangan Alone. Ia membacanya berulang-ulang, seolah hendak memastikan tak ada satu pun kata yang terlewat.

Assalamu'alaikum...

Mak, Alone sudah di Kota Medan. Alhamdulillah, Alone dalam keadaan sehat wal'afiat, tanpa kurang suatu apa pun. Alone juga sudah mendaftar ulang kuliah.Insya Allah, bulan depan mulai aktif kuliah.

Kini, selain tetap aktif menulis, Alone juga tengah berusaha mencari-cari pekerjaan. Doakan Alone, ya, Mak.

Semoga Emak, dan semua di kampung selalu berada dalam rahmat dan kasih sayang-Nya.

Wassalam,

(Alone)

Surat itu sederhana. Tidak banyak cerita tentang perjalanan, tentang kamar kos yang masih asing, atau tentang hari-hari Alone di kota besar. Namun, bagi Emak, beberapa baris itu sudah cukup untuk menenteramkan hati.

Ia tahu, di balik kalimat “Alone dalam keadaan sehat wal'afiat”, ada seorang anak yang sedang belajar berdiri sendiri jauh dari kampung halaman. Di balik permintaan “Doakan Alone, ya, Mak”, ada langkah panjang yang belum tentu mudah ditempuh.

Emak melipat kembali surat itu dengan hati-hati. Lalu disimpannya di tempat yang aman—dekat dengan benda-benda kecil yang masih menyimpan jejak kehidupan anak-anaknya.

Di dalam hati, Emak berbisik lirih:

Berjuanglah, Nak. Jemputlah masa depanmu. Doa Emak akan selalu menyertai setiap langkahmu.(***)

(Bersambung...)

¹Agen penumpang bus

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement