WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (19)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Episode 19 WAJAH ABAH, TANGAN EMAK memperlihatkan keteguhan Emak dalam menjalani kehidupan setelah Alone berangkat menuntut ilmu ke Medan. Di tengah kesunyian yang ditinggalkan anak bungsunya, Emak tetap bekerja merajut tikar pandan dan mencari benur serta nener di tepian Selat Malaka. Laut menjadi ruang tempat rezeki dicari sekaligus tempat rindu dipungut diam-diam. Kehadiran cucu-cucunya sedikit mengusir kesepian, menghadirkan kehangatan keluarga di tengah hidup yang serba sederhana.
Episode ini kemudian bergerak pada kepulangan Bang Ni yang berlangsung singkat, penuh tangis, permintaan maaf, dan kecemasan. Kepulangannya bukanlah akhir dari persoalan, melainkan jeda sebelum ia kembali pergi karena masih dicari aparat dalam pusaran konflik bersenjata. Adegan perpisahan dengan Emak, istri, dan kedua anaknya menjadi salah satu bagian paling emosional: seorang ayah meninggalkan rumah, sementara anak-anaknya berusaha mengenali kembali wajah dan sentuhan ayah yang lama menghilang. Ketika teja mulai merambat di ufuk timur, cahaya pagi justru menjadi metafora getir tentang harapan yang datang bersamaan dengan kepergian.
Pada bagian akhir, kedatangan Cut Kak bersama suami dan anak-anaknya menghidupkan kembali rumah Emak, tetapi kegembiraan itu segera berhadapan dengan kenyataan pahit tentang Bang Ni. Episode ini memperlihatkan bahwa konflik tidak pernah berhenti pada mereka yang berada di tengah pertikaian; ia merembes ke ruang keluarga, membebani seorang ibu, istri, dan anak-anak yang hanya ingin hidup dalam ketenteraman. Dengan narasi yang lirih dan kontemplatif, Agusni AH kembali menghadirkan keluarga sebagai cermin kemanusiaan: di balik sejarah konflik dan pilihan-pilihan hidup, selalu ada wajah-wajah yang menunggu kepulangan, tangan yang ingin menahan kepergian, serta doa agar mereka yang pergi masih menemukan jalan untuk kembali.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (19)
SEPENINGGAL Alone, Emak masih terus bergelut dengan kehidupan kampung pesisir di tepi Selat Malaka. Selain merajut tikar pandan, tak jarang, ketika laut sedang tenang dan musim bibit udang serta bibit bandeng tiba, Emak bersama warga lainnya turun ke pantai mencari benur dan nener.
Telur-telur udang dan ikan yang menetas di sekitar karang laut kemudian menjadi benih-benih kecil yang dibawa arus dan hempasan ombak hingga ke bibir pantai. Di sanalah Emak menangguknya, satu demi satu, berharap ada sedikit rezeki yang dapat dibawa pulang.
Kendati kesedihan masih menggelayut sejak Alone berangkat kuliah ke Medan, Emak tak lagi merasa terlalu sunyi. Dua bocah laki-laki, anak Bang Ni dan Kak Munah, kini ikut tinggal bersamanya.
Kak Munah pun terkadang menemani Emak ke pantai mencari benur dan nener. Kedua anaknya ikut dibawa serta. Mereka bermain dengan girangnya di antara riak-riak air yang pecah di tepian pantai, seolah laut adalah halaman luas tempat mereka menumpahkan kegembiraan.
Sesekali Emak memandang kedua cucunya itu. Ada sesuatu yang terasa hangat di dadanya. Di tengah sunyi yang ditinggalkan Alone, suara tawa mereka seperti mengisi ruang-ruang kosong di rumahnya.
“Kamu dan anak-anak duluan pulang. Masak nasi untuk makan siang, ya,” saran Emak kepada Kak Munah.
“Emak pulang menjelang salat Zuhur nanti.”
“Ya, Mak.” Kak Munah mengangguk. Ia kemudian memanggil kedua anaknya yang masih asyik bermain kejar-kejaran di tepian pantai.
“Ayo, kita pulang!”
Kedua bocah itu berlari menghampiri ibunya. Sementara Emak tetap di pantai, menangguk benur dan nener yang terseret ombak—seolah sedang memungut rezeki dari laut, sambil diam-diam memungut pula rindu yang ditinggalkan anaknya.
Walau sesekali terlintas juga wajah Abah—suaminya yang telah meninggalkannya sejak Alone masih tiga bulan di dalam kandungan—Emak tak lagi banyak memikirkan lelaki yang telah lama pergi dan menikahi seorang perempuan janda di kawasan lereng Gunong Goh¹. Sesekali Abah memang pulang, membawa nafkah seadanya. Namun, Emak tak pernah menuntut lebih. Baginya, anak-anak telah terbiasa hidup mandiri sejak kecil, tumbuh dalam kekurangan yang perlahan mereka kenali sebagai bagian dari kehidupan.
Yang lebih sering memenuhi pikirannya justru si bungsu, Alone. Anak yang tumbuh tanpa sempat mengenal dekat wajah Abahnya; anak yang sejak dalam kandungan telah belajar menerima kehilangan, bahkan sebelum mengenal arti kehilangan itu sendiri.
Zuhur pun tiba. Emak beranjak pulang. Bibit-bibit benur dan nener yang sejak pagi terkumpul di dalam drum plastik itu dikeluarkan, dihitung satu per satu, lalu dijual kepada seorang perempuan tauke bangku², Kak Som, teman Emak sejak mereka masih muda.
“Banyak dapat, Teeh?”
“Alhamdulillah, lumayan, Kak Som.”
Setelah menerima uang hasil tangkapannya, Emak segera bergegas pulang. Di tangannya ada beberapa lembar rupiah; tak banyak, tetapi cukup untuk menyambung hidup hari itu.
Barangkali begitulah rezeki Emak selalu datang—sedikit demi sedikit, dari pandan yang dianyam, dari benur yang ditangguk, dan dari laut yang tak pernah menjanjikan berapa banyak yang akan diberikannya.
***
Dini hari menjelang Subuh, tiba-tiba Bang Ni pulang.
Emak yang baru saja selesai salat Tahajud mendengar ketukan di pintu. Ia beranjak dan membukanya. Di ambang pintu berdiri anaknya yang tampak kurus kering, wajahnya pucat, tubuhnya ringkih seperti lama tak mengenal tidur dan ketenangan.
Emak terpaku sesaat. Lalu keduanya saling mendekap erat.
Bang Ni menangis. Berkali-kali ia meminta ampun kepada Emak, suaranya tersendat di antara isak yang tak mampu lagi disembunyikannya.
“Maafkan anakmu, Mak...”
“Kemana saja kamu, Nak?”
Bang Ni tak mampu menjawab. Hanya tangis yang semakin pecah di dada. Seolah selama berbulan-bulan ia menyimpan seluruh ketakutan, kesalahan, dan kerinduan di dalam tubuhnya, lalu malam itu semuanya tumpah di pelukan Emak.
Suara tangis itu membangunkan kedua anaknya yang masih terlelap. Mereka terjaga dan memandang ke arah pintu, seperti belum sepenuhnya mengerti siapa yang telah kembali.
Kak Munah pun segera bangkit. Ia menubruk suaminya yang masih berada dalam pelukan Emak. Tangannya mengusap-usap wajah Bang Ni yang kian ringkih, penuh kasih—seperti seorang ibu yang kembali menemukan anaknya setelah lama hilang dari pandangan.
Di ruang kecil itu, tiga orang yang lama dipisahkan oleh kecemasan akhirnya kembali berhimpit dalam satu pelukan.
Tak ada yang bertanya lebih jauh.
Malam telah cukup panjang untuk membuat mereka mengerti: pulang kadang bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan kembali kepada orang-orang yang masih bersedia membuka pintu dan memaafkan.
Setelah kegundahan sedikit mereda, hati Emak kembali dihimpit lara. Keberadaan Bang Ni masih dicari-cari oleh TNI. Karena itu, sebelum mentari pagi benar-benar menampakkan wajahnya, Bang Ni meminta izin untuk kembali pergi.
Kedua anaknya dipeluk dan diciuminya berkali-kali. Tangannya mengusap kepala kedua buah hatinya, seolah hendak menghafalkan kembali wajah mereka sebelum meninggalkan rumah.
“Maafkan Ayah, Nak, ya.”
Di antara ingatan yang samar dan kerinduan yang tak mereka mengerti, kedua anaknya ikut memegang-megang wajah dan kepala ayahnya, seakan hendak mengenali kembali sosok yang lama hilang dari pelukan mereka.
Emak dan istrinya sempat menahannya. Mereka memohon agar Bang Ni tidak pergi lagi. Bahkan, Emak dan Kak Munah berani pasang badan, berniat membawa Bang Ni ke Kantor Koramil di Krueng Geukuh, ibu kota Kecamatan Dewantara, atau menyerahkannya kepada pos TNI terdekat.
Namun, Bang Ni tetap bersikukuh. Ia menolak. Dalam gulita yang belum sepenuhnya beranjak, ia hanya meminta izin untuk pergi.
“Maafkan Bang Ni, Mak. Bang Ni harus pergi.”
Ia lalu menciumi tangan Emak, lama. Seakan ada sesuatu yang hendak disampaikannya, tetapi tak sanggup terucapkan.
“Maafkan suamimu, ya.”
Ia mengecup kening dan kedua pipi istrinya. Kak Munah tak bisa berbuat apa-apa, hanya air mata yang berurai dan mengalir di kedua pipinya.
Emak terdiam. Ada keinginan kuat untuk menahan anaknya, tetapi ada pula ketakutan yang membuat lidahnya kelu. Ia hanya mampu memandangi tubuh Bang Ni yang perlahan menjauh dari pintu.
Kak Munah berdiri di ambang pintu, memeluk kedua anaknya yang masih mengantuk. Tatapannya mengikuti langkah suaminya yang semakin jauh, hingga sosok itu perlahan ditelan gelap.
Di ufuk timur, teja mulai merambat, mengapung membentuk semburat kemerah-merahan. Pertanda pagi sebentar lagi kembali menampakkan wajahnya.
Namun bagi Emak, pagi itu seperti membawa dua wajah sekaligus: cahaya yang perlahan datang, dan seorang anak yang kembali pergi ke dalam gelap.
***
Pagi-pagi, Cut Kak bersama suaminya, Bang M. Nur, dan ketiga anak lelaki mereka tiba di rumah Emak. Ketiganya adalah Rian yang duduk di kelas III SMA, Ikhwan yang duduk di kelas III SMP, dan Akwan yang masih duduk di kelas III SD.
Dengan becak motor milik Bang M. Nur, yang oleh keluarga mereka sering disebut BMW—Becak Model Weng, mereka tiba di halaman rumah Emak. Satu per satu mereka turun dari atas becak, membawa suasana pagi yang perlahan menghidupkan kembali rumah Emak yang selama ini lebih banyak sunyi.
Tampak Emak begitu gembira menyambut kedatangan mereka. Ketiga anak Cut Kak satu per satu menyalami Emak. Kak Munah bersama kedua buah hatinya, Riasy dan Lazur, pun melebur dalam keriangan yang seketika memenuhi rumah kecil itu.
Cut Kak dan suaminya, Bang M. Nur, tampak seperti sedang mencari-cari sesuatu. Seolah-olah ada yang terasa kurang di rumah Emak. Padahal, mereka tahu Alone sudah berangkat kuliah ke Kota Medan.
“Bang Ni pada ke mana?”
Emak dan Kak Munah berpandang-pandangan. Kedua wajah mereka seketika berubah suram. Bang Ni, yang hanya sesaat muncul dalam gelap malam menjelang Subuh tadi, kembali menghilang.
Selama ini, keluarga Cut Kak tidak pernah tahu bahwa adiknya itu telah lama diburu aparat karena keterlibatannya dengan GAM
Raut wajah Emak seakan menggelayutkan beban yang tak kunjung reda. Begitu pula Kak Munah, istri Bang Ni, tertunduk dalam diam. Keduanya seakan kehilangan kata-kata.
“Bang Ni sejak beberapa bulan terakhir ini tengah dicari TNI,” jelas Kak Munah lirih. “Tadi menjelang Subuh, dia sempat pulang. Hanya sebentar, kemudian kembali pergi.”
Cut Kak dan Bang M. Nur saling bertatapan, seakan tak percaya adik mereka harus tergerus dalam arus konflik bersenjata. Mereka menyayangkan pilihan Bang Ni. Selain Emak yang kian menua, istrinya yang terlihat sedang mume³, dan anak-anaknya yang masih kecil pun kini harus ikut menanggung beban yang ditinggalkannya.
Mereka terdiam. Ada kecemasan yang sama-sama mereka simpan, tetapi tak mudah untuk diucapkan. Konflik bukan hanya menghadirkan ketakutan bagi mereka yang berada di garis depan, melainkan juga menyisakan luka dan beban bagi keluarga yang menunggu di rumah.(***)
(Bersambung...)
¹Gunung berbentuk punuk yang berada di kawasan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah arah selatan Kabupaten Bireuen
²Tauke atau agen setempat (orang dalam, orang setempat)
³Mengandung atau sedang hamil
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda