Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (21)

Redaksi
Redaksi
Minggu, 4 Oktober 2026 - 6.34 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (21)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Dalam episode ke-21 cerbung Wajah Abah, Tangan Emak, Agusni AH kembali merajut kisah tentang kasih sayang keluarga yang tumbuh di tengah keterbatasan hidup masyarakat pesisir. Melalui sosok Cut Kak dan Bang M. Nur, pembaca diajak menyelami makna tanggung jawab yang tidak selalu terucap lewat kata-kata, tetapi hadir dalam sebungkus ikan, beberapa lembar rupiah, dan kesediaan berbagi beban. Di tengah kehidupan yang serba sederhana, keduanya tetap berusaha menopang Emak dan Kak Munah yang sedang menanti kelahiran anaknya. Narasi ini mengingatkan kita bahwa kemiskinan tidak selalu membuat manusia kehilangan kekayaan batin. Justru ketika hidup terasa sempit, ketulusan dan kepedulian menemukan ruang untuk tumbuh, mengikat keluarga dalam ikatan kasih yang melampaui sekat rumah dan kepentingan pribadi. Silahkan Anda simak berikut ini kisahnya.(red).

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (21)

PERUT Kak Munah semakin membesar. Bersamaan dengan itu, beban Emak pun kian bertambah. Cut Kak dan suaminya, Bang M. Nur, semakin sering menjenguk Emak. Bukan hanya setiap hari Minggu ketika anak-anak mereka libur sekolah, pada hari-hari biasa pun keduanya kerap datang, meski sekadar mengantarkan ikan hasil tangkapan Bang M. Nur melaut.

Kehadiran mereka bukan semata karena Emak. Anak-anak dan istri adiknya yang tinggal menunggu hari persalinan juga telah menjadi bagian dari tanggung jawab mereka, meski sebatas kemampuan yang ada.

“Kami tidak membawa apa-apa. Hanya ikan hasil Bang M. Nur melaut semalam ini yang ada,” ujar Cut Kak. Seperti biasa, ia menyelipkan beberapa lembar uang rupiah untuk Emak.

“Alhamdulillah...” Emak menerimanya dengan penuh syukur.

“Terima kasih banyak, Cut Kak. Maaf, Bang, ya, telah banyak membebani,” sela Kak Munah dengan raut wajah yang menahan malu.

“Ini memang sudah menjadi bagian dari tanggung jawab kami,” sergah Bang M. Nur.

Seandainya Alone masih berada di kampung, barangkali beban itu tidak akan terlalu berat bagi mereka. Sebab Cut Kak dan Bang M. Nur pun harus memikirkan biaya pendidikan ketiga anak mereka: yang sulung duduk di kelas III SMA, anak kedua di kelas III SMP, dan si bungsu masih duduk di bangku SD.

Namun, begitulah kehidupan. Di tengah keterbatasan, seseorang terkadang harus tetap mengulurkan tangan kepada yang lain. Sebab keluarga bukan hanya tentang siapa yang tinggal serumah, melainkan tentang siapa yang tetap merasa bertanggung jawab ketika yang lain sedang berada dalam kesusahan.

Bagi keluarga kecil yang menggantungkan hidup pada laut itu, kemiskinan bukanlah penghalang untuk menautkan kasih dan sayang. Justru di tengah keterbatasan, mereka belajar berbagi apa yang ada—sepotong ikan, beberapa lembar rupiah, dan perhatian yang mungkin sederhana, tetapi penuh makna.

Cut Kak dan Bang M. Nur akhirnya berpamitan. Waktu telah beranjak, sementara anak-anak mereka sebentar lagi pulang dari sekolah. Sebelum langkah-langkah kecil itu tiba di halaman rumah dan memanggil-manggil orang tuanya, keduanya ingin lebih dahulu sampai. “Kami pulang dulu, ya,” ujar Cut Kak lirih. Emak mengangguk, melepas mereka dengan pandangan yang menyimpan terima kasih.

Mereka kemudian melangkah menuju kendaraan yang terparkir di halaman. Bang M. Nur menyalakan “BMW”-nya—Becak Model Weng, begitu mereka menyebutnya sambil bergurau. Cut Kak masih sempat menoleh sejenak ke arah rumah Emak. Ada banyak hal yang tak sempat diucapkan: tentang ikan yang dibawa, beberapa lembar rupiah yang diselipkan, dan tentang keluarga yang dalam keterbatasan tetap saling menopang. Barangkali kasih memang tak selalu hadir dalam kata-kata; terkadang ia hanya meninggalkan jejak kecil sebelum pergi.

BMW itu perlahan melaju meninggalkan halaman, menyusuri jalan pesisir menuju rumah mereka di Lhokseumawe, sekitar empat puluh menit perjalanan. Dari kejauhan, suara laut masih terdengar seperti doa yang tak pernah selesai. Di dalam kendaraan sederhana itu, mereka membawa pulang kegelisahan tentang anak-anak, sekolah, dan hari esok yang harus tetap dijalani. Sementara di rumah Emak, kepergian mereka meninggalkan kehangatan: bahwa di tengah kemiskinan, kasih sayang masih selalu menemukan jalannya sendiri.

Seperti hari-hari biasanya, setiap pulang melaut Bang M. Nur langsung menuju rumah. Hanya sebentar ia melepas penat, membersihkan diri, lalu memastikan anak-anaknya sudah makan. Setelah itu, ia kembali bersiap dengan BMW-nya, kendaraan sederhananya. Ia kemudian berkeliling di wilayah Kota Lhokseumawe, mencari penumpang sekadar menambah rupiah untuk kebutuhan keluarga.

Bang M. Nur sering mangkal di sekitar Pasar Pusong, pasar yang berdiri di bibir Pantai Selat Malaka. Di tempat itu, kehidupan bergerak sejak pagi: pedagang menata dagangan, pembeli menawar harga, dan para pengayuh becak menunggu rezeki yang entah dari arah mana datangnya. Matahari terasa menyengat, sementara angin laut membawa aroma asin yang begitu akrab dengan kehidupannya. Ia duduk menunggu, matanya menyapu setiap orang yang keluar dari pasar dengan barang bawaan di tangan.

“Ayo, naik. Ibu pulang ke mana?” tawarnya kepada seorang perempuan paruh baya yang tampak kerepotan membawa beberapa kantong belanjaan. Perempuan itu menoleh, kemudian menghampiri becaknya. “Ke ujung sana, Bang. Dekat lorong setelah jembatan.” Bang M. Nur segera turun dan membantu menaikkan barang-barang tersebut. “Baik, Bu. Naik saja. Barangnya biar saya yang angkat.” Perempuan itu tersenyum kecil. “Berapa, Bang?” tanyanya. “Nanti saja kita bicarakan, Bu. Yang penting sampai dengan selamat,” jawab Bang M. Nur sambil kembali memegang kemudi.

Mesin BMW pun bergerak meninggalkan keramaian Pasar Pusong. Dari laut, Bang M. Nur membawa pulang ikan; dari becaknya, ia mengumpulkan beberapa lembar rupiah tambahan. Sedikit demi sedikit, dari keringat yang jatuh dan tenaga yang tersisa, ia mencoba mencukupi kebutuhan rumah tangga. Begitulah ia menjalani hari—seperti ombak yang tak pernah lelah datang ke pantai, meski berkali-kali kembali ke tengah laut. Baginya, selama tangan masih mampu bekerja dan kaki masih sanggup melangkah, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti berikhtiar.

Yang ada dalam pikirannya sederhana: asal dapur tetap mengepul, anak-anak bisa makan, dan sekolah mereka tidak terhenti. Ia ingin anak-anaknya kelak dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin, bahkan bila mungkin mengikuti jejak Alone yang hidup mandiri di Kota Medan—berkuliah tanpa banyak meminta kepada siapa pun, tanpa kehadiran Abah di sisinya. Anak-anak Bang M. Nur mungkin sedikit lebih beruntung daripada Alone. Sejak kecil, mereka tidak harus mencari penghidupan sendiri di tengah kerasnya kehidupan pesisir. Tetapi Bang M. Nur tahu, keberuntungan pun tetap membutuhkan perjuangan. Sebab pendidikan dan masa depan anak-anak tidak cukup ditunggu; keduanya harus dijemput dengan keringat, doa, dan kesediaan untuk terus berikhtiar.

***

Rumah tangga Cut Kak dan Bang M. Nur bersama tiga anak lelaki mereka berlangsung tanpa banyak cekcok. Kehidupan mereka memang sederhana, bahkan serba seadanya, tetapi ketenteraman tetap menjadi bagian dari hari-hari yang mereka jalani.

Sebenarnya, Bang M. Nur berasal dari keluarga yang cukup berada di Ujong Balang, kampung pesisir di Lhokseumawe. Pada awal-awal pernikahannya dengan Cut Kak, ia bahkan memiliki sebuah boat langga, perahu motor yang menjadi tumpuan mencari nafkah di laut.

Namun, waktu perlahan menggerus segala yang pernah dimilikinya. Kapal ikan itu akhirnya tak lagi mampu beroperasi. Mesin dan peralatan lainnya mulai rusak, sementara pukat dan jaring pun lapuk dimakan usia. Keterbatasan biaya membuat Bang M. Nur tak sanggup melakukan perawatan dan mengganti perlengkapan yang sudah usang.

Pada akhirnya, kapal yang dahulu menjadi sandaran hidup itu terpaksa dijual kepada tauke bangku¹. Dari situlah perjalanan hidup Bang M. Nur perlahan berubah: dari seorang pemilik perahu menjadi lelaki pesisir yang harus mencari nafkah dengan apa pun yang masih tersisa.

"Bang, istirahatlah. Tubuh juga butuh rebahan…,” pinta Cut Kak kepada suaminya, Bang M. Nur.

“Iya. Tapi, selagi masih memungkinkan, tidak ada salahnya, kan?”

“Iya… tapi Abang sudah lelah melaut seharian. Mestinya sekarang Abang beristirahat.”

“Usah narik dulu.”

“Jam-jam begini penumpang sedang banyak-banyaknya, Cut.”

Bang M. Nur tersenyum tipis. Ia tahu istrinya mengkhawatirkan kondisi tubuhnya. Namun, kebutuhan rumah tangga tak mengenal lelah. Selama tenaganya masih tersisa, ia merasa belum pantas membiarkannya berlalu begitu saja.

Ia pun tetap melangkah ke halaman. Mesin BMW dinyalakannya. Suaranya memecah senja yang mulai turun di kampung pesisir itu. Tak lama kemudian, becak mesin tua itu bergerak perlahan menuju Pasar Pusong, pasar yang berada di bibir Pantai Selat Malaka.

Di sana, pikirnya, masih ada penumpang yang menunggu. Dan setiap penumpang berarti beberapa rupiah untuk dibawa pulang—rupiah yang kelak menjelma menjadi beras, lauk, uang sekolah anak-anak, dan kebutuhan rumah tangga yang tak pernah benar-benar selesai.

Sepulang mencari penumpang sewa becak di kawasan Kota Lhokseumawe, Bang M. Nur terlihat pucat. Batuknya terdengar beberapa kali, sementara tubuhnya yang tinggi dan besar tampak semakin kuyu. Langkahnya pun tak lagi setegap biasanya.

Cut Kak hanya memandang suaminya dengan cemas. Ia tahu, hari-hari terakhir kondisi kesehatan Bang M. Nur semakin menurun. Selain mengidap penyakit gula, ia juga memiliki penyakit jantung. Namun, lelaki itu seakan tak pernah benar-benar mengenal kata berhenti. Laut, jalanan, dan kebutuhan keluarga selalu membuatnya kembali bekerja meski tubuh mulai meminta jeda.

“Bang, kita ke dokter sekarang, ya?”

Bang M. Nur terdiam sejenak. Napasnya terdengar berat.

“Nanti malam Abang tidak usah melaut,” lanjut Cut Kak, lebih lembut, seolah sedang membujuk seseorang yang selama ini terlalu keras kepada dirinya sendiri.

“Iya…” jawab Bang M. Nur pendek.

Kali ini ia menurut.

Barangkali, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tubuh yang selama ini dipakainya untuk mencari nafkah akhirnya meminta haknya sendiri: beristirahat.(***).

(Bersambung...)

¹Pembeli dan penampung ikan di setempat.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement