WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (17)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK episode ke-17, karya Agusni AH yang mengangkat tokoh utama Alone akhirnya menjejakkan kaki di Universitas Sumatera Utara (USU), sebuah dunia baru yang sejak lama hidup dalam angan dan harapannya. Di balik kegembiraan menjadi mahasiswa, terselip kecemasan yang tidak sederhana: biaya kuliah, kebutuhan hidup, buku-buku, dan masa depan yang belum memiliki kepastian. Ia bahkan harus menerima kenyataan bahwa cita-citanya menekuni kesusastraan belum dapat diwujudkan. Untuk sementara, ilmu ekonomi menjadi jalan yang mesti ditempuhnya.
Namun, takdir seperti membuka pintu lain. Seusai mendaftar ulang di kampus, Alone mendatangi kantor Harian Waspada untuk menemui redaksi Majalah Dunia Wanita. Di sana, ia berjumpa dengan Rizaldi Anwar, Redaktur Halaman Aceh, yang ternyata telah mengenal namanya melalui tulisan-tulisan yang pernah dikirimnya dari Aceh. Naskah cerpen yang dibawanya pun diterima untuk diserahkan kepada Redaktur Sastra/Budaya. Bagi Alone, pertemuan itu bukan sekadar kunjungan ke sebuah kantor media, melainkan pertemuan dengan dunia yang selama ini hanya dikenalnya dari kejauhan.
Di tengah langkahnya menuju kehidupan baru, bayang-bayang kampung halaman tetap mengikuti. Ada Emak yang kian menua, tetapi tangannya masih setia menganyam daun pandan menjadi tikar demi menyambung hidup. Kini, dari hasil yang sedikit itu, Emak juga harus menanggung istri dan anak-anak Bang Ni yang terpaksa meninggalkan kampung karena konflik. Sementara Alone berada jauh di Medan, setiap rupiah yang diusahakan Emak seakan menjadi doa yang diam-diam dikirimkan kepada anak-anaknya agar tetap bertahan dan menemukan jalan pulang.
Cerbung episode ini mempertemukan dua dunia dalam perjalanan Alone: dunia pendidikan dan dunia kepengarangan. Di satu sisi, ia sedang belajar menjadi mahasiswa; di sisi lain, tulisan-tulisannya mulai menemukan jalan menuju ruang redaksi di kota besar. Dari kampung pesisir hingga Medan, dari tangan Emak yang menganyam pandan hingga lembaran naskah yang berpindah ke meja redaksi, perjalanan itu mengajarkan bahwa cita-cita kadang tidak datang melalui jalan yang lurus. Ada jalan yang harus dijalani dengan sabar, ada luka yang harus dipikul dalam diam, dan ada doa yang bekerja tanpa suara.(red)
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (17)
TEPAT pukul 11.00 WIB, Alone sudah berada di gerbang Universitas Sumatera Utara (USU). Untuk pertama kalinya, ia menginjakkan kaki di kampus itu, sekaligus menjejakkan langkah ke dunia barunya—dunia yang selama ini hanya hidup dalam angan dan harapan.
Alone langsung menuju Biro Rektorat untuk melakukan pendaftaran ulang.
“Semua dokumen saudara sudah lengkap,” terang seorang petugas.
“Baik, terima kasih, Pak,” ucap Alone.
Setelah memastikan jadwal perkuliahan semester pertama dimulai bulan depan, ia segera mengambil jadwal Ospek sebagai masa pengenalan kampus. Namun, ia tidak langsung meninggalkan USU. Beberapa saat ia mengitari kompleks kampus yang terasa begitu luas baginya. Gedung-gedung berdiri dengan kesibukannya masing-masing, sementara langkah Alone terasa kecil di antara dunia akademik yang baru pertama kali disentuhnya.
Ia juga menyempatkan diri mendatangi gedung Fakultas Ekonomi, tempat kelak ia akan menimba ilmu. Di sana, Alone berdiri sejenak, memandang bangunan yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dalam benaknya, berbagai pertanyaan berputar-putar bagai baling-baling helikopter yang tak kunjung berhenti.
Bisakah aku menyelesaikan studi S-1 ini?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Jalan menuju perguruan tinggi saja telah ditempuhnya dengan susah payah. Kini, ia harus kembali berhadapan dengan perjalanan panjang yang belum tentu mudah: biaya kuliah, kebutuhan hidup, buku-buku, serta berbagai keperluan lainnya yang selama ini selalu menjadi bagian dari kecemasan hidupnya.
Sesungguhnya, Alone berharap dapat kuliah di Fakultas Sastra. Ia ingin menekuni dunia yang sejak lama diam-diam tumbuh di dalam dirinya—dunia kata, cerita, dan kesusastraan. Tetapi, hidup kadang membawa seseorang ke jalan yang tidak sepenuhnya dipilihnya sendiri.
Kini, langkahnya telah terlanjur menapak di disiplin ilmu ekonomi.
Ia menarik napas panjang.
“Ya sudahlah. Yang penting dijalani dulu,” gumamnya dalam hati.
Alone kemudian melangkah meninggalkan gedung Fakultas Ekonomi. Ia belum tahu ke mana jalan ini akan membawanya. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa telah sampai di sebuah persimpangan baru: antara cita-cita yang pernah dibayangkan dan kenyataan yang harus dijalani.
Di belakang langkahnya, kampung halaman, laut, tambak, benur dan nener, serta
Emak yang kian menua masih harus bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Tangannya tetap mencari daun pandan, satu demi satu, untuk kemudian dijadikan bahan baku dan dianyam menjadi tikar. Setiap pekan, pada hari Minggu, tikar-tikar itu dibawanya ke Keude Krueng Geukuh untuk dipasarkan. Dari hasil itulah Emak bertahan hidup—menyambung hari dengan rupiah yang tak pernah banyak, tetapi selalu diusahakannya cukup.
Kini, dari hasil yang sedikit itu pula Emak harus berbagi. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk istri dan anak-anak Bang Ni yang telah hengkang dari kampung pesisir demi menghindari buruan TNI. Sementara Bang Ni sendiri entah di mana, sudah lama tak bisa pulang.
Barangkali begitulah tangan seorang ibu bekerja dalam diam. Ketika anaknya pergi menjauh, tangannya justru semakin panjang menjangkau mereka. Ketika hidup menambah beban, Emak tidak pernah bertanya kepada takdir mengapa. Ia hanya terus menganyam pandan, seolah setiap helai daun yang disilangkan adalah doa agar anak-anaknya tetap bertahan.
Alone terus dibayangi segala getir masa lalu seolah masih mengikutinya.
Sementara di hadapannya, sebuah dunia baru sedang membuka pintunya perlahan-lahan.
***
Alone meninggalkan gerbang kampus USU dengan langkah yang belum sepenuhnya mengenal dunia barunya. Namun, sebelum kembali ke tempat kos, ada satu tujuan yang ingin disinggahinya.
_“Aku harus ke kantor redaksi Majalah Dunia Wanita dan Harian Waspada,”_ batinnya.
Ia kemudian naik metro mini, lalu dua kali berganti sudako menuju Jalan Brigjend Katamso/Letjen Suprapto, Nomor 1, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia teringat tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di majalah itu, dan koran Waspada. Kini, untuk pertama kalinya, ia hendak menginjakkan kaki di tempat orang-orang yang selama ini hanya dikenalnya melalui tulisan.
Sesampai di alamat yang dituju, Alone berdiri sejenak di depan gedung. Matanya mencari-cari sesuatu yang dapat meyakinkannya bahwa ia tidak salah alamat.
Ia kemudian mendekati seorang sekuriti.
“Bang, apa benar ini alamat kantor redaksi Majalah Dunia Wanita?”
“Ya, benar. Mas bisa langsung naik ke lantai dua,” jawab sekuriti itu.
Alone mengangguk.
Gedung itu ternyata satu bangunan dengan kantor Harian Waspada. Ia menaiki tangga menuju lantai dua dengan dada yang dipenuhi kecemasan. Ada perasaan asing yang sulit ia jelaskan—antara ingin bertemu dengan orang-orang yang selama ini hanya dikenalnya melalui tulisan dan rasa takut kalau-kalau kehadirannya justru dianggap mengganggu.
Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB.
Di dalam gedung itu, orang-orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sebagian duduk di belakang meja, menatap lembaran-lembaran kertas, mengetik, membaca, atau berbicara seperlunya. Hampir tak terdengar suara percakapan yang berlebihan.
Bagi Alone, pemandangan itu terasa baru.
Inilah untuk pertama kalinya ia melihat orang-orang bekerja dalam sebuah ruang redaksi—masing-masing berada di meja, tenggelam dalam pekerjaan, seolah setiap lembar kertas memiliki cerita yang harus segera diselesaikan.
Alone berdiri beberapa saat, sedikit kikuk. Ia seperti seseorang yang tersesat di antara meja-meja dan kesibukan orang lain.
“Saudara hendak mencari siapa?”
Alone menoleh.
Seorang lelaki berdiri tidak jauh darinya. Tubuhnya semampai, kulitnya hitam manis, hidungnya lumayan mancung, sementara rambutnya sedikit ikal. Usianya masih terbilang muda.
Pertanyaan lelaki itu membuat Alone tersadar dari lamunannya.
Ia menarik napas perlahan.
“Saya ingin mencari redaksi Majalah Dunia Wanita, Bang.”
Lelaki itu memandang Alone beberapa saat, seolah sedang memastikan maksud kedatangannya.
“Majalah Dunia Wanita?” ulangnya.
“Ya, Bang.”
Alone mengangguk pelan.
Di hadapan lelaki itu, untuk pertama kalinya ia merasa bahwa perjalanan panjang dari kampung halaman menuju kota ini bukan sekadar perjalanan seorang anak pesisir untuk memasuki perguruan tinggi.
Ada dunia lain yang sedang menunggunya.
Dunia yang selama ini hanya ia kenal melalui huruf, kata, dan halaman-halaman majalah dan koran.
Dan sore itu, di lantai dua sebuah gedung di Medan, Alone sedang berdiri di ambang pintunya.
“Ini ruang redaksi koran Waspada. Sementara Majalah Dunia Wanita dan Harian Berita Sore ada di lantai tiga. Saudara hendak menjumpai siapa?”
Barulah Alone menyadari bahwa Harian Waspada ternyata tidak hanya menerbitkan Majalah Dunia Wanita. Ada pula anak koran lainnya, Harian Berita Sore, yang terbit pada sore hari. Informasi itu sedikit mengejutkannya. Selama ini, yang ia kenal dari jauh hanyalah nama-nama yang terpampang di halaman media yang dibacanya.
“Maaf, Bang. Saya Alone dari Aceh.”
Alone memperkenalkan diri seraya menjulurkan tangan yang sedikit gemetaran.
“Alone?”
Lelaki itu menatapnya beberapa saat.
“Kauuuu Alone?”
Nada suaranya terdengar khas anak Medan—agak keras, seperti hendak memastikan bahwa nama yang baru saja didengarnya benar-benar orang yang selama ini dikenalnya.
“Ya... iiiya, Bang.”
Alone semakin kikuk.
“Ah, kauuu... kapan nyampenya?”
“Subuh tadi, Bang. Dan ini baru dari kampus USU. Daftar ulang kuliah, Bang.”
“Ooo...”
Lelaki itu mengangguk. Tatapannya berubah. Seolah-olah nama Alone bukan lagi sekadar nama yang pernah ia dengar, melainkan seseorang yang memang sudah dikenalnya melalui tulisan-tulisan yang pernah sampai ke meja redaksi.
“Apa ada bawa naskah?”
Pertanyaan itu membuat Alone sejenak terdiam.
Ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Lelaki yang kemudian diketahui bernama Rizaldi Anwar itu ternyata sudah sangat mengenal namanya.
“Iya, Bang. Ada.”
Alone meraih tas yang disandangnya. Tangannya masih menyimpan sedikit gemetar ketika membuka tas dan mengambil beberapa lembar naskah yang dibawanya dari Aceh.
“Okey, naskah cerpenmu ini akan aku serahkan kepada Redaktur Sastra/Budaya, ya. Palingan minggu depanlah terbitnya,” ujar Rizaldi Anwar.
Alone terdiam sejenak. Ada rasa lega yang perlahan mengalir di dadanya. Naskah yang dibawanya dari Aceh, yang semula hanya tersimpan di dalam tas, kini telah berpindah ke tangan orang yang akan membawanya ke meja redaksi.
Baru kemudian Alone mengetahui bahwa Rizaldi Anwar adalah Redaktur Halaman Aceh. Sosok yang awalnya ia kira sekadar seorang pekerja di ruang redaksi itu ternyata memiliki posisi penting di Harian Waspada.
“Terima kasih, Bang,” ucap Alone pelan.
“Tak usah terima kasih. Nanti kalau sudah terbit, kau baca sendiri.”
Rizaldi tersenyum, sementara Alone hanya mengangguk.
Kalimat sederhana itu terasa seperti pintu yang baru saja dibukakan untuknya. Ia datang ke Medan dengan membawa cita-cita menjadi mahasiswa, tetapi sore itu, di sebuah ruang redaksi, ia menemukan jalan lain yang selama ini telah diam-diam menuntunnya: jalan kepengarangan.
Ia pun berpamitan.
Di tangga menuju lantai bawah, langkah Alone terasa berbeda. Bukan karena ia telah menjadi siapa-siapa, melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa tulisan yang lahir dari kampung kecil di pesisir Aceh ternyata dapat menemukan jalan menuju ruang redaksi di kota besar, tidak sebagaimana selama ini untuk pengiriman naskah saja harus bergelut waktu ke Kantor Pos dan Giro. Belum lagi menunggu penerbitannya yang terkadang berbulan-bulan baru terpampang di media cetak itu.
Alone kemudian pulang ke tempat kosnya di Jalan Gagak Hitam. Jaraknya lumayan jauh dari kantor Harian Waspada, terlebih dari Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU) yang menjadi tempatnya menempuh pendidikan, di Jalan Prof. T. M. Hanafiah, S.H., Kota Medan.
Hari itu terasa panjang bagi Alone. Sejak meninggalkan kampung halaman, menempuh perjalanan malam, tiba di Medan saat subuh, mendaftar ulang sebagai mahasiswa, hingga mendatangi kantor redaksi yang selama ini hanya dikenalnya melalui halaman-halaman media.
Di perjalanan pulang, pikirannya kembali kepada ucapan Rizaldi Anwar.
“Palingan minggu depanlah terbitnya.”
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya.
Di antara deru kendaraan dan riuh Kota Medan yang belum akrab baginya, Alone membayangkan namanya kembali tercetak di halaman media. Namun kali ini terasa berbeda. Ia tidak lagi menunggu dari kejauhan di kampung halaman.
Ia berada di kota tempat tulisan itu akan dilahirkan kembali menjadi sesuatu yang dapat dibaca banyak orang.
Sementara di depan matanya, gedung kampus, ruang kuliah, kamar kos, dan meja redaksi seakan menjadi bagian-bagian baru dari perjalanan hidup yang belum ia ketahui ujungnya.(***)
(Bersambung...)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda