Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (20)

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 3 Oktober 2026 - 6.32 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (20)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Dalam episode ke-20 cerbung Wajah Abah, Tangan Emak, Agusni AH menghadirkan perjalanan Alone sebagai mahasiswa perantauan yang mulai dikenal melalui karya-karya sastranya. Namun, di balik sambutan hangat lingkungan kampus, tersimpan perjuangan seorang anak pesisir Aceh yang berusaha meraih pendidikan di tengah keterbatasan hidup.

Ketika uang kian menipis dan biaya kos belum terbayar, Alone memilih bersujud, mengadukan kegelisahannya kepada Allah. Di tengah kesulitan itu, ketulusan Bu Rosita dan kepolosan Icha menghadirkan kehangatan melalui sepiring nasi. Sebuah pertolongan sederhana yang mengingatkan bahwa rezeki dapat datang melalui tangan siapa saja.

Episode ini menyiratkan bahwa perjuangan bukan hanya tentang keberanian mengejar cita-cita, tetapi juga keteguhan menjaga iman, harga diri, dan harapan. Sebab, ketika hari esok masih diselimuti ketidakpastian, doa dan kebaikan sesama menjadi cahaya yang menguatkan langkah untuk terus bertahan.(red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (20)

MENJADI anak kampus ternyata tidak begitu sulit bagi Alone. Ia cepat berbaur, bukan hanya dengan teman-teman seangkatannya yang baru memasuki semester pertama, tetapi juga dengan para senior. Sikapnya yang terbuka dan mudah menyesuaikan diri membuat pergaulannya lekas meluas.

Bahkan, beberapa senior di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), begitu mendengar nama Alone—anak pesisir dari Aceh—langsung menghampiri dan memanggilnya.

“Benarkah kamu Alone?”

“Anak pesisir Aceh, kan?”

“Iya, Kak,” sahut Alone.

Pemuda di hadapannya tersenyum.

“Jangan kau panggil aku Kak,” katanya. “Sebut saja namaku. Robby. Ya, Robby Hasibuan.”

Alone tersenyum. Ternyata, namanya lebih dahulu hadir di benak orang-orang, sebelum dirinya benar-benar hadir di hadapan mereka.

“Ah, ternyata kampus kita ikut diisi seorang pujangga,” seru Robby Hasibuan. Ucapannya membuat beberapa senior lain menoleh, bahkan sejenak melongo ke arah Alone.

“Hei, aku suka membaca karya sastramu, Lon. Selama ini namamu hanya kukenal dari majalah dan koran-koran. Hari ini, aku bisa langsung bertemu dengan pemilik nama itu,” ungkap seorang senior lainnya. Matanya tampak berbinar memandang Alone.

“Kok pilih Ekonomi? Kenapa bukan Fakultas Sastra?”

“Jangan-jangan Alone ini kesasar. Nanti malah menjadi anak salah asuhan,” celetuk senior lainnya, disambut tawa.

Alone hanya tersenyum. Ia maklum, pilihan kuliahnya memang sedikit mengundang tanda tanya. Di mata mereka, Alone sudah telanjur dikenal sebagai anak yang gemar menulis sastra—cerpen, puisi, maupun esai.

Namun, mereka tidak pernah tahu jalan panjang yang akhirnya membawa Alone sampai ke FEB USU.

Sesaat, pikirannya kembali melayang ke sekolahnya—kepada para guru dan kepala sekolah yang telah membuka jalan dan memberinya keyakinan untuk melanjutkan pendidikan. Bagi Alone, kesempatan itu terlalu berharga untuk dilewatkan. Bisa menginjakkan kaki di kampus ternama di Sumatera Utara saja sudah seperti menemukan pintu yang selama ini hanya berani diketuk dalam angan.

Ia tidak terlalu memikirkan harus berada di fakultas mana. Yang ada dalam benaknya hanya satu: ia ingin kuliah.

Meski jauh di lubuk hati, ia tahu, Fakultas Sastra mungkin lebih dekat dengan jiwa dan dunia yang selama ini dirawatnya—kata, puisi, cerpen, dan segala kegelisahan yang kerap menjelma tulisan.

Tetapi hidup tidak selalu menyediakan jalan sesuai dengan kehendak hati.

“Yang penting bisa kuliah,” bisiknya dalam hati.

Maka, ia pun memilih melangkah. Sebab bagi Alone, kesempatan tidak selalu datang dua kali. Dan pendidikan, baginya, adalah pintu yang harus dibuka—meski di baliknya terbentang jalan yang belum sepenuhnya ia kenal.

Sejak percakapan singkat itu, jarak antara mahasiswa baru dan para senior seakan luruh. Bagi Alone, kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga ruang baru untuk mengenal banyak wajah, watak, dan kisah dari berbagai penjuru.

Namanya di kampus rupanya sudah lebih dahulu dikenal, berkat pemberitaan media, terutama Majalah Dunia Wanita yang digemari kaum hawa, khususnya kalangan menengah ke atas, tak terkecuali para mahasiswi. Begitu pula Harian Waspada, surat kabar yang peredarannya telah menembus berbagai kalangan, bahkan menjadi salah satu bacaan yang sampai ke Istana Negara.

Di Kota Medan sendiri, koran itu seakan menjadi bagian dari pagi. Sebelum fajar benar-benar pecah, ketika sebagian orang masih terlelap, lembar-lembar Waspada telah berpindah dari tangan ke tangan, dibaca di warung kopi, rumah-rumah, kantor, hingga sudut-sudut kota.

Alone pun diam-diam menyadari betapa cepat media massa mengangkat nama seseorang. Dalam sekejap, seseorang yang semula tak dikenal dapat melambung tinggi. Namun, media pula yang dapat membawa seseorang jatuh hingga ke dasar bumi ketika jejak dan perilakunya berbalik menjadi buah pemberitaan.

Nama bisa diangkat oleh tulisan, tetapi martabat tetap ditentukan oleh laku.

Begitulah yang terlintas di benak Alone. Jika ingin namanya tetap baik, maka berbuat baiklah. Sebab pada akhirnya, apa yang ditulis orang tentang seseorang mungkin dapat membesarkan namanya, tetapi bagaimana ia menjalani hidup akan menentukan apakah nama itu layak dikenang atau justru dilupakan.

***

Alone mulai kelimpungan. Persediaan uang di dompetnya hanya cukup untuk beberapa hari lagi. Sementara kebutuhan lain—terutama biaya transportasi sehari-hari—juga kian mendesak. Belum lagi uang sewa kos yang beberapa hari lagi harus dibayarkan kepada induk semangnya.

“Lon, Ibu hanya mengingatkan dari awal, agar pembayaran sewa kos untuk bulan depan bisa disetor sejak sekarang, ya,” ujar Bu Rosita sepulang Alone dari kampus, menjelang Magrib.

“Ya, iyaaaa, Bu.”

Alone hanya mengiyakan. Ia tak menjelaskan keadaan keuangannya yang kian menipis, sisa uang yang dibawanya dari kampung.

Ia buru-buru mengambil wudu. Waktu Magrib telah tiba, sementara ia belum menunaikan salat. Di antara gemericik air wudu dan azan yang mengalun, pikirannya masih berkelindan dengan uang yang semakin sedikit dan kebutuhan yang tak kunjung sedikit.

Alone berusaha menepis segala sesuatu yang bertengger dan menghimpit pikirannya. Di tengah otaknya yang terus diburu berbagai kecemasan, ia berusaha menenangkan hati dan memusatkan diri menghadap Tuhannya.

Dalam setiap sujudnya, ia berlama-lama. Di sanalah ia mengadu langsung kepada Sang Pencipta, menumpahkan segala kesah yang selama ini dipendam. Ia yakin, Allah Azza wa Jalla mendengar setiap keluhnya—tentang hidup di perantauan, tentang ikhtiar yang belum menemukan jalan, dan tentang nasib yang seakan terus menghimpit langkahnya.

“Ya Allah, ya Rabb...”

Ucapannya tertahan di kerongkongan.

Di satu sisi, ia ingin menumpahkan seluruh beban yang memenuhi pikirannya. Namun, di sisi lain, hatinya merasa malu kepada Tuhannya. Ia takut keluhnya terdengar seperti penyesalan atas takdir yang telah digariskan.

Namun, Alone tetap percaya. Dengan segenap keimanannya, ia meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui apa pun yang sedang terjadi pada hamba-Nya. Bahkan sebelum sebuah keluh terucap menjadi kata, Dia telah mengetahui segala yang bersemayam di dalam dada.

Maka, dalam sujud yang panjang itu, Alone tak lagi banyak meminta. Ia hanya ingin hatinya dikuatkan, langkahnya dituntun, dan jalan keluar dibukakan—sebab ia tahu, ketika ikhtiar manusia sampai pada batasnya, doa tak pernah mengenal batas.

Seusai salat Magrib, Alone kembali menghampiri ibu kos yang rumahnya berhadapan dengan tempat ia tinggal. Bu Rosita masih duduk di kursi yang tersedia di teras rumah.

Namun, sebelum Alone sempat membuka mulut, Bu Rosita lebih dahulu menyapanya.

“Lama salatnya, Lon...”

Rupanya, Bu Rosita memang sengaja menunggu hingga Alone selesai menunaikan salat Magrib. Pembicaraan mereka sebelumnya terputus ketika Alone buru-buru mengambil air wudu.

“Ya, Bu...”

“Alone minta keringanan, Bu. Insya Allah, pekan depan akan Alone bayar, ya.”

“Lama amat, Lon.”

“Maaf, Bu. Alone benar-benar belum punya uang saat ini.”

“Baiklah... kalau begitu.” Bu Rosita mengangguk, sedikit melunak.

Janda beranak satu yang telah ditinggal mati suaminya itu diam-diam tampaknya menyimpan rasa prihatin di dalam hati. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya, tetapi urung ia sampaikan.

“Alhamdulillah... terima kasih, Bu.”

“Oh ya, apa Alone sudah makan?”

“Su...sudah, Bu.”

Alone sengaja menutupi keadaan sebenarnya. Ia tidak ingin terlalu banyak membebani orang lain. Baginya, selama masih mampu menahan lapar, ia lebih memilih menyimpan kesusahan itu seorang diri.

Sebab bagi Alone, lapar masih bisa ditahan, tetapi kehilangan harga diri dan menjadi beban bagi orang lain adalah perkara yang jauh lebih berat.

Bocah perempuan, anak Bu Rosita, yang sejak awal kedatangan Alone memang terlihat akrab dengannya, ikut melendot di bahu Alone. Saat itu Alone duduk di beton teras, berhadapan dengan ibunya.

“Om... ayo makan, Om.”

“Icha mau makan bareng Om.”

“Om sudah makan sepulang dari kampus tadi. Ya sudah... Om temani Icha makan, ya.”

Alone tetap bersikeras menyembunyikan keadaan sebenarnya. Ia tak ingin Icha tahu bahwa sejak siang perutnya belum terisi.

Melihat keakraban keduanya, Bu Rosita hanya tersenyum. Namun, sekelebat pikiran melintas di benaknya.

Mungkin Icha sedang mencari sosok ayah.

Bayangan suaminya yang telah meninggal dua tahun lalu, ketika Icha masih bayi, tiba-tiba melintas. Pandangannya kemudian kembali tertuju kepada Alone dan putrinya yang masih berada di hadapannya.

Sesaat kemudian, Alone pun ikut masuk ke ruang makan, mengekori tarikan tangan mungil Icha yang seakan tak memberi kesempatan untuk menolak.

Setiba di meja makan, bocah perempuan yang masih duduk di bangku TK itu melepaskan tangan Alone. Usianya baru empat tahun. Ia langsung naik ke atas kursi, meraih sebuah piring, lalu menyerahkannya kepada Alone.

“Anak pintar...” suara Bu Rosita tiba-tiba terdengar dari belakang.

Alone akhirnya tak bisa mengelak. Ia mengikuti Icha duduk di meja makan. Mereka pun makan bersama. Sementara itu, Bu Rosita ikut duduk dengan sedikit menggeser kursinya, memberi ruang agar Alone dan Icha leluasa menikmati makanan.

“Om Alone harus makan. Jangan sampai Nyonya Icha marah,” ledek Bu Rosita.

Alone tersenyum kecil. Untuk sesaat, rasa lapar yang sejak tadi disembunyikannya terlerai oleh sepiring nasi dan kehangatan sederhana yang tak pernah diduganya. Dalam hati, ia menganggapnya sebagai rezeki yang tak pernah disangka-sangka—pemberian Allah yang sampai kepadanya melalui tangan seorang hamba-Nya.

Baginya, rezeki kadang tidak datang dengan suara gemuruh. Ia hadir sederhana, melalui uluran tangan, sepiring nasi, dan ketulusan yang membuat hati kembali percaya bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian.

Seusai makan, mereka berdua sempat bermain dan bercengkerama riang di teras. Namun, karena malam telah beranjak larut dan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, Icha akhirnya diminta tidur. Esok pagi ia harus bangun lebih awal untuk bersekolah.

“Ini sudah larut malam. Icha tidur, ya. Besok pagi-pagi harus bangun dan sekolah,” bujuk Alone. Mata Icha masih berbinar, seperti lampu listrik empat puluh watt.

“Iya, Icha sudah harus tidur. Om Alone juga mau istirahat,” tambah ibunya.

Alone kemudian meminta izin dan kembali ke kamarnya.

Di kamar, Alone merebahkan tubuh. Kendati perutnya sudah terisi, ia belum juga mampu memejamkan mata. Pikirannya kembali melayang jauh—tentang hari esok, tentang pekerjaan yang belum didapatkannya, tentang Emak yang seorang diri di kampung, tentang Bang Ni yang masih dalam pemburuan TNI, dan tentang kampung pesisir yang kian dirindukannya.

Malam semakin larut. Namun, di kepala Alone, hari esok seperti tak kunjung menemukan ujungnya.(***).

(Bersambung...)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement