Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (8)

Redaksi
Redaksi
Senin, 21 September 2026 - 9.19 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (8)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Cerbung “Wajah Abah, Tangan Emak” (8) karya Agusni AH, kini membawa pembaca menyusuri masa remaja Alone, ketika keinginannya mengenal dunia tumbuh jauh melampaui keterbatasan ekonomi dan ruang hidupnya di kampung pesisir. Kebersamaannya dengan Cik Wardi memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Buku, kitab agama, percakapan di rangkang, dan pengalaman orang-orang yang lebih dewasa menjadi semacam madrasah kehidupan bagi Alone. Dalam kemiskinan, buku hadir bukan sekadar sebagai benda bacaan, melainkan sebagai jendela menuju dunia yang lebih luas.

Namun, rasa ingin tahu itu perlahan membawa Alone ke wilayah yang berbahaya. Ia yang sebelumnya dikenal suka “mencuri waktu” untuk pergi ke pantai mencari rezeki, kini benar-benar mencuri beberapa eksemplar surat kabar Simponi. Menariknya, cerbung ini tidak serta-merta menghadirkan tindakan tersebut sebagai kenakalan semata. Penulis memperlihatkan lapisan batin di baliknya: keterbatasan ekonomi, kegandrungan membaca, dan dahaga pengetahuan yang tak selalu mampu dipenuhi oleh keadaan. Di sinilah konflik moral mulai menemukan bentuknya—bahwa niat mencari pengetahuan tetap tidak membenarkan cara yang ditempuh dengan mengambil hak orang lain.

Kehadiran Cik Wardi juga memperkaya dimensi cerita. Ia bukan sekadar teman berbagi bacaan, tetapi sosok yang sedang berhadapan dengan kegagalan meraih pendidikan tinggi. Percakapan tentang Unsyiah, cita-cita menjadi sarjana yang memahami budidaya ikan dan udang, serta candaan Alone tentang menunggu dirinya lulus SMA, menghadirkan ironi sekaligus kehangatan persahabatan. Di tengah kegagalan dan keterbatasan, keduanya masih mampu tertawa. Laut, rangkang, tambak, dan balai meunasah kembali menjadi ruang tempat cita-cita, kegagalan, dan persahabatan berkelindan dalam kesederhanaan hidup masyarakat pesisir.

Pada akhirnya, cerbung episode ke-8 ini mencapai titik emosional ketika Emak mengetahui perbuatan Alone. Kemarahannya bukan sekadar kemarahan seorang ibu terhadap anak yang mencuri, melainkan teguran terhadap nilai yang selama ini ia tanamkan: kejujuran dan harga diri. Sosok Emak tampil dengan dua wajah yang saling melengkapi—tangan yang kasar karena kerja dan hati yang lembut karena kasih; keras ketika mendidik, tetapi sesungguhnya sedang menjaga anaknya agar tidak kehilangan arah dan jati diri. Di titik inilah judul “Wajah Abah, Tangan Emak” kembali menemukan resonansinya: kehidupan Alone dibentuk oleh kehilangan, keterbatasan, kasih sayang, dan tangan seorang ibu yang tak pernah berhenti menuntunnya, bahkan ketika langkahnya sempat menyimpang.(red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (8)

ALONE bukan lagi bocah ingusan. Sebagai seorang remaja, ia mulai memilih teman. Bukan semata-mata dari kalangan sebaya, tetapi juga dari mereka yang lebih dewasa. Baginya, orang-orang yang lebih tua bukan hanya perisai dalam kehidupan, melainkan juga tempat berbagi cerita yang sering kali memberi makna. Dari mereka, Alone belajar banyak hal. Pengalaman hidup, pengetahuan, bahkan perkara agama, ia jadikan semacam madrasah dalam pergaulan sehari-hari. Ia menyadari, ilmu tidak selalu datang dari ruang kelas. Kadang, ia tumbuh dari percakapan sederhana di beranda, di rangkang, di tepian pantai, atau di bawah cahaya lampu yang temaram.

Salah seorang yang cukup dekat dengannya adalah Cik Wardi, sebaya dengan Bang Ni. Ia anak Teungku Ali Hasan, dari kampung pesisir Teupin Pukat—Lancang Barat. Selain terpelajar, Cik Wardi juga cukup memahami ilmu agama. Dari sosok seperti itulah Alone menemukan ruang lain untuk mengenal dunia yang lebih luas daripada batas kampung dan kehidupannya sehari-hari.

Suatu ketika, Alone memberanikan diri bertanya.

“Cik Wardi, boleh pinjam buku-buku SMA?”

“Boleh. Nanti saya bawa ke rangkang. Kita baca sama-sama malam ini, ya.”

Cik Wardi juga berjanji membawa beberapa kitab agama.

Mendengar itu, hati Alone berbunga. Ia memang tak mampu membeli buku. Untuk mendapatkan bahan bacaan saja, ia harus berpikir berkali-kali. Jika ingin mencari bacaan lain, ia terpaksa merogoh kantong lebih dalam agar dapat pergi ke perpustakaan di Kota Lhokseumawe.

Bagi Alone, sebuah buku bukan sekadar kumpulan huruf yang dijilid menjadi satu. Buku adalah jendela. Dari sana ia dapat memandang dunia yang belum pernah didatanginya.

Dan malam itu, di sebuah rangkang sederhana, di bawah cahaya lampu yang tak begitu terang, Alone mulai menyadari: barangkali kemiskinan hanya mampu membatasi langkah, tetapi tidak selalu mampu membatasi keinginan seseorang untuk mengenal dunia.

“Sudahi dulu bacaannya. Besok pagi-pagi, seusai Subuh, kita harus bangun untuk memanen benih udang. Ada pesanan dari Tauke Ali Moto untuk dikirim ke Pangkalan Susu,” ujar Cik Wardi yang telah mendapatkan orderan.

Alone terdiam sejenak. Buku yang sejak tadi terbuka di hadapannya perlahan ia tutup. Ada sedikit berat di dadanya, bukan karena harus berhenti membaca, melainkan karena malam kembali mengajarinya bahwa hidup tak selalu memberi kesempatan untuk memilih antara ilmu dan kebutuhan.

“Baik, Cik,” jawab Alone lirih.

Ia merapikan buku-buku pinjaman itu, lalu meletakkannya di sisi rangkang. Di luar, angin laut berembus pelan, membawa aroma asin dari Selat Malaka. Cahaya bulan jatuh tipis di sela-sela daun kelapa.

Besok pagi, sebelum matahari membuka pintunya di ufuk timur, mereka akan kembali turun ke tambak. Benih-benih udang harus dipanen, ditakar, dikemas, lalu dikirim jauh ke Pangkalan Susu, pesisir Sumatera Utara.

Bagi Alone, begitulah hidup berjalan: malam yang terkadang menjadi ruang bagi ilmu, sementara pagi memanggilnya kembali kepada kenyataan.

***

ALONE KEMBALI MENCURI

Di subuh yang lain, Alone pelan-pelan merunduk memasuki beberapa rangkang yang berjejer di sepanjang pematang tambak. Ia menyelinap ke dangau-dangau di sekitarnya, tempat para pemuda nelayan biasa beristirahat setelah turun melaut.

Sebelumnya, Alone telah mengamati dan memastikan dangau mana saja yang akan menjadi titik aksinya. Ia hafal kebiasaan para pemuda: kapan mereka pergi melaut, kapan kembali, dan kapan dangau-dangau itu ditinggalkan dalam kesunyian.

Jika sebelumnya Alone kerap “mencuri waktu” dari kelengahan Teungku Dolah—diam-diam meninggalkan balai pengajian ketika sedang mengaji, lalu bergegas ke pantai untuk menangguk benur dan nener, terutama pada malam-malam purnama—kali ini yang dicurinya bukan lagi waktu.

Kali ini sesuatu yang nyata. Beberapa eksemplar mingguan surat kabar Simponi.

Surat kabar itu cukup digemari para pemuda kampung. Bahkan beberapa lelaki yang telah berkeluarga pun kerap membacanya.

Sebagian besar halamannya menyajikan informasi mistik, ramalan, angka buntut, dan seputar SDSB¹ (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Sebagian kecil halaman lainnya mewartakan berita-berita pop dan sastra, seperti sajak, cerpen, dan cerbung.

Bagi kebanyakan orang, mungkin lembaran-lembaran itu tidak lebih dari bacaan pengisi waktu.

Tetapi bagi Alone, ada sesuatu yang lain di sana. Ada dunia yang belum ia kenal. Ada mutiara yang menyilaukan mata. Ada kata-kata yang seperti mengetuk pintu batinnya. Dan ada rasa ingin tahu yang semakin hari semakin sulit ia bendung. Ia mengambil satu eksemplar, lalu menyelipkannya di balik bajunya. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Untuk pertama kalinya, Alone merasa bahwa “mencuri” ternyata tidak selalu berawal dari keinginan memiliki. Kadang-kadang, ia lahir dari kehausan untuk mengetahui sesuatu yang tak mampu dibeli oleh tangan yang sedang menggenggam kemiskinan.

***

Bang Ibnu Abbas dan Cik Wardi yang sedang duduk di balai meunasah tampak serius. Dari raut wajah keduanya, seperti ada perbincangan penting yang sedang mereka bicarakan.

“Usah terlalu dipikirkan. Mungkin belum rezeki, Cik Wardi. Kan masih bisa dicoba lagi tahun depan,” kata Bang Ibnu Abbas sembari menepuk-nepuk bahu temannya itu, mencoba menguatkan.

Tampak Cik Wardi tertunduk lesu. Wajahnya seperti kehilangan cahaya. Semangat yang tadi mungkin masih tersisa, entah ke mana perginya. Ia hanya diam, menatap kosong ke depan.

Alone yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka, tak berani bertanya apa gerangan yang sedang menimpa abang seniornya itu. Ia memilih diam, menyimpan rasa ingin tahunya sendiri.

Belakangan, barulah Alone mengetahui bahwa Cik Wardi gagal lulus UMPTN untuk masuk ke Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), kampus ternama sekaligus salah satu kebanggaan masyarakat Aceh.

Kegagalan itu rupanya bukan sekadar tentang sebuah ujian. Bagi Cik Wardi, mungkin ada harapan yang ikut runtuh bersamanya.

Di kesempatan lain, Cik Wardi dan Alone duduk santai di balai meunasah, mengobrolkan banyak hal. Dari perkara sehari-hari hingga mimpi-mimpi yang diam-diam mereka simpan di dalam dada. Tak terkecuali tentang hasrat Cik Wardi untuk menjadi seorang sarjana yang ahli dalam budidaya ikan dan udang. Ia ingin suatu hari nanti ilmu yang diperolehnya dapat kembali berguna bagi kampung, bagi tambak-tambak yang sejak dulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir.

Namun, jalan menuju cita-cita itu ternyata tidak semulus yang dibayangkannya. Cik Wardi gagal menembus perguruan tinggi. Impian yang telah ia rajut perlahan seperti tertahan di sebuah persimpangan.

Angin sepoi-sepoi menyentuh wajah keduanya. Percakapan terus mengalir pelan, sementara dari kejauhan suara ombak sesekali terdengar memecah sunyi. Di antara desir angin dan suara laut itulah Cik Wardi masih menyimpan harapan—barangkali tahun depan, atau entah kapan, pintu menuju cita-citanya akan kembali terbuka.

“Cik Wardi tunggu Alone selesai SMA saja. Nanti kita sama-sama ikut tes di Unsyiah lagi,” goda Alone, bermaksud menghibur.

“Kamu, Lon, terkadang bikin aku gila saja,” timpal Cik Wardi. Ia menggeleng-geleng kepala, lalu melanjutkan dengan nada setengah menggerutu,

“Menunggu kamu, remaja ingusan yang masih SMP itu, sama halnya aku tua dulu baru bisa kuliah.”

Suasana yang semula setengah galau itu pun pecah. Keduanya tertawa lepas. Barangkali, untuk sejenak, kegagalan Cik Wardi terasa lebih ringan ketika ditertawakan bersama.

Suasana santai itu tiba-tiba berubah tegang ketika Emak datang dan berdiri tepat di hadapan mereka. Wajahnya memerah, tegang, dan masam. Tatapannya nanar, seolah ada bara yang sedang ditahan di balik matanya. Emak seperti sedang menyimpan geram yang dalam.

Cik Wardi dan Alone terkesiap. Keduanya mendadak kikuk. Tak ada lagi percakapan. Alone bahkan segera sibuk mengingat-ingat kesalahan apa yang mungkin telah dilakukannya.

Ia sangat paham tabiat Emak. Jika perempuan itu sudah murka, biasanya ada sesuatu yang mendasar telah dilanggarnya. Padahal, di balik telapak tangan yang kasar dan penuh kapalan akibat bekerja, Emak sesungguhnya adalah perempuan yang lembut. Kasih sayangnya tak banyak dibungkus kata-kata.

Namun, pada saat tertentu, kelembutan itu bisa berubah menjadi ketegasan yang menakutkan. Di mata Alone, Emak seakan menjelma singa betina yang sedang menjaga anaknya—diam, garang, dan siap menerkam siapa saja yang dianggap telah melampaui batas.

“Apa yang kamu lakukan, Alone? Emak didik kamu bukan untuk menjadi pencuri, ya!” bentak Emak berang. Emosinya tak lagi mampu ditahannya. Tangannya meraih lengan Alone, lalu menariknya dari tempat duduk di atas balai.

Cik Wardi segera berusaha melerai.

“Sabar, Teeh. Jangan dulu marah. Biar Alone menjelaskan.”

Baru saat itulah Alone teringat akan kesalahannya. Ia pernah mencuri surat kabar Simponi. Rupanya, kabar tentang hilangnya beberapa bacaan dari rangkang telah sampai kepada Emak. Entah siapa yang melaporkannya, tetapi Emak tampaknya sudah mengetahui semuanya.

Alone tertunduk. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Cik Wardi kemudian ikut menasihatinya.

“Lon... Lon. Tentang bacaan-bacaan itu, kan sudah aku pinjamkan buku-buku kepadamu. Untuk apa lagi harus mencuri koran-koran orang lain?”

Alone semakin menundukkan kepalanya. Ia tahu, kali ini bukan sekadar soal koran yang hilang. Melainkan kepercayaan dan hati Emak yang telah ia gores dengan tangannya sendiri.(***)

(Bersambung...)

¹Merupakan program undian berhadiah yang populer pada era pemerintahan Orde Baru. Mulai diselenggarakan pada 1989, program ini kemudian dihentikan pada 1993 setelah menuai banyak protes karena dianggap mengandung unsur perjudian.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement