WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (26 TAMAT)


Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Setiap perjalanan pada akhirnya akan sampai pada sebuah persinggahan. Begitu pula kisah Wajah Abah, Tangan Emak, yang selama dua puluh enam episode telah mengajak pembaca menyusuri lorong-lorong kehidupan Alone—seorang anak pesisir yang tumbuh dalam keterbatasan, meniti jalan panjang di antara kehilangan, perpisahan, perjuangan, pendidikan, dan pencarian makna tentang keluarga.
Pada episode terakhir ini, perjalanan Alone menemukan sebuah titik yang mengharukan. Senin, 15 Agustus 2005, ketika dari Helsinki, Finlandia, kabar perdamaian Aceh mengalir ke tanah rencong, harapan seakan menemukan pintunya. Di tengah euforia perdamaian yang baru saja lahir, Alone pun menemukan bentuk perdamaian yang lain: perdamaian di dalam keluarganya sendiri.
Pertemuan Emak, Abah, Bang Ni, Cut Kak, dan anak-anak menjadi lebih dari sekadar sebuah kebersamaan. Ia adalah pertemuan kembali serpihan-serpihan kehidupan yang selama bertahun-tahun tercerai oleh keadaan. Tidak semua luka harus dilupakan. Tidak semua masa lalu dapat diubah. Tetapi manusia selalu memiliki pilihan untuk tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk terus saling menjauh.
Di sinilah kisah Alone menemukan simpulnya.
Pulang ternyata bukan sekadar kembali ke rumah. Pulang adalah menemukan kembali kasih yang sempat tercecer di sepanjang perjalanan.
Kisah keluarga Alone kemudian berkelindan dengan kisah Aceh. Setelah konflik panjang dan bencana tsunami yang meninggalkan duka mendalam, Aceh memasuki babak baru. MoU Helsinki menjadi pintu menuju perdamaian, sebagaimana pertemuan keluarga menjadi pintu menuju penerimaan dan rekonsiliasi.
Namun, sebagaimana ditegaskan kisah ini, perdamaian bukan berarti seluruh luka seketika sembuh. Perdamaian adalah keberanian untuk memilih kehidupan setelah begitu lama berhadapan dengan kematian; memilih harapan setelah kehilangan; dan memilih berjalan bersama meski masa lalu tidak mungkin sepenuhnya dihapus.
Episode ke-26 ini sekaligus menjadi penutup perjalanan Wajah Abah, Tangan Emak. Sebuah perjalanan yang sejak awal tidak hanya bercerita tentang seorang anak dan keluarganya, tetapi juga tentang manusia yang belajar memahami arti kehilangan, ketabahan, kasih sayang, dan kepulangan.
Pada akhirnya, wajah Abah dan tangan Emak bukan sekadar simbol dua sosok dalam kehidupan Alone. Keduanya menjadi bagian dari akar yang membentuk dirinya—akar yang mungkin pernah retak, tetapi tidak pernah benar-benar tercabut.
Dan ketika semua perjalanan itu sampai pada halaman terakhir, barangkali pembaca akan menemukan satu pesan sederhana:
Bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada jalan untuk pulang.
Bahwa sedalam apa pun luka, hati masih mungkin belajar memaafkan.
Dan bahwa keluarga, dengan segala kekurangan dan sejarahnya, tetap menjadi salah satu tempat paling sunyi sekaligus paling dirindukan untuk kembali.
Selamat membaca episode terakhir.
Semoga kisah ini tidak benar-benar berakhir ketika sampai pada kata TAMAT, melainkan tinggal sebagai kenangan, renungan, dan sepotong perjalanan batin bagi siapa saja yang pernah merasakan kehilangan, menunggu kepulangan, atau diam-diam merindukan sebuah rumah.
Catatan: Agusni AH, adalah Ketua KIP Aceh Periode 2023-2028. Di tengah kesibukannya sebagai pungguwa demokrasi; ia aktif menulis Opini, Cerpen, puisi, esai dan berbagai prosa sastra, dan kini sedang menyelesaikan beberapa buku kumpulan Cerpen dan Novel. Insya Allah kisah menarik lainnya akan kembali hadir di waktu berikutnya.
— Redaksi
AJAH ABAH, TANGAN EMAK (26)
Senin, 15 Agustus 2005
HARI Senin yang cerah. Alone baru saja menyelesaikan liputan langsung di sejumlah titik sepanjang lintasan pantai timur Aceh. Siang itu, bukan hanya angin Selat Malaka yang membawa kesejukan bagi warga pesisir. Dari Helsinki, Finlandia, kabar besar menyebar melalui berbagai saluran televisi: Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah menandatangani nota kesepahaman perdamaian.
Bagi Alone, kabar itu bukan sekadar berita yang harus ditulis. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang konflik, berita dari negeri jauh itu terasa seperti cahaya yang perlahan menembus celah-celah gelap kehidupan masyarakat Aceh.
Angin Selat Malaka siang itu terasa berbeda. Seolah laut sedang membawa pulang sebuah harapan.
Harapan akan hari-hari ketika orang-orang tak lagi hidup dalam kecemasan. Ketika suara tembakan tidak lagi memecah malam, ketika perjalanan tidak lagi dibayangi ancaman maut, dan ketika anak-anak dapat bersekolah tanpa dihantui ketakutan. Harapan akan kehidupan ketika setiap orang dapat mencari rezeki dengan tenang, siang maupun malam, tanpa harus terus-menerus menoleh ke belakang karena takut kehilangan.
Kabar perdamaian itu segera disambut kegembiraan. Orang-orang turun ke jalan, memenuhi ruang-ruang terbuka. TNI/Polri tampak melebur bersama masyarakat. Begitu pula para anggota GAM yang menyambut perdamaian dengan penuh harap. Setelah konflik berkepanjangan dan bencana tsunami pada 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan negeri indatu, Aceh seolah mendapat kesempatan untuk menarik napas panjang.
Sujud syukur dan pekikan Allahuakbar membahana. Air mata jatuh di antara senyum dan pelukan. Ada luka yang belum sembuh, ada kehilangan yang tak mungkin diulang, tetapi hari itu orang-orang kembali berani membicarakan masa depan.
Di tengah suasana yang menggetarkan itu, Alone teringat Emak.
Ia ingin pulang.
Bukan semata-mata untuk melepas rindu, melainkan untuk menyaksikan sendiri wajah-wajah yang selama ini hanya hadir dalam ingatan dan doa. Ia ingin pulang ke rumah sederhana tempat segala perjalanan hidupnya bermula; tempat ia mengenal lapar, kehilangan, ketabahan, dan cinta yang tak pernah benar-benar pergi.
Sesampai di rumah, Alone mendapati Bang Ni baru saja tiba.
“Alhamdulillah... Allahuakbar!” Emak spontan berseru. Matanya berkaca-kaca melihat kedua anak lelakinya datang hampir bersamaan.
Mereka berangkulan. Tak ada kalimat panjang yang sanggup mewakili segala yang tersimpan di dalam dada. Tangis yang semula tertahan akhirnya pecah menjadi tangis haru.
“Alhamdulillah, Bang Ni...” suara Alone tercekat.
“Maafkan Bang Ni, ya. Bang Ni menyesal dahulu tidak mendengarkan Alone.”
“Tak perlu lagi disesali,” ujar Alone, mencoba menguatkan kakaknya.
“Terima kasih, ya. Atas doa-doamu. Kita semua masih dipertemukan oleh Allah.”
Emak, Kak Muna, dan ketiga anak Bang Ni ikut mendekat. Mereka merapat mengelilingi kedua bersaudara itu, seolah hendak merangkum kembali bagian-bagian keluarga yang sekian lama tercerai-berai oleh keadaan.
Tak lama kemudian, Cut Kak datang bersama ketiga anaknya menggunakan BMW yang dikendarai anak tertuanya. Kendaraan itu merupakan peninggalan rahimahullah Bang M. Nur, lelaki yang telah lebih dahulu berpulang, meninggalkan kenangan dan ruang kosong di tengah keluarga.
Anak-anak berlarian kecil menyambut kedatangan mereka. Rumah yang semula sederhana mendadak terasa penuh. Suara percakapan bersahutan, wajah-wajah yang dirindukan saling mendekat, dan kenangan lama perlahan menemukan tempatnya kembali.
Abah datang menyusul dengan sepeda motor tuanya. Ia memarkir kendaraan di sisi BMW, lalu berdiri tak jauh dari mereka. Kedua matanya berkaca-kaca menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul.
Emak tetap menjaga jarak. Bagaimanapun, hubungan mereka sebagai suami istri telah lama berakhir. Namun, tak ada kemarahan yang diperlihatkan. Tak ada dendam yang sengaja dibangkitkan. Percakapan di antara keduanya berlangsung sewajarnya, seperti dua orang yang telah melewati banyak hal dan akhirnya belajar menerima kenyataan.
Abah tetaplah ayah bagi anak-anaknya. Dan Emak, dengan segala luka yang pernah disimpannya, tak ingin masa lalu menjadi alasan untuk merampas hak anak-anaknya merasakan kebersamaan.
Alone memandangi semua itu dalam diam.
“Ini adalah kebersamaan paling utuh sepanjang sejarah hidupku,” desisnya lirih.
Ia menatap Emak, Bang Ni, Cut Kak, anak-anak Cut Kak, dan Abah. Untuk pertama kalinya setelah perjalanan hidup yang begitu panjang, serpihan-serpihan waktu itu seakan bertemu dalam satu ruang.
Sejak lahir, Alone nyaris tak pernah benar-benar merasakan keluarganya berkumpul lengkap. Bang Ni lebih sering berada jauh dari rumah. Sesekali ia pulang, lalu pergi kembali, mengikuti jalan hidup yang tak selalu bisa dipilihnya dengan mudah. Cut Kak telah berkeluarga dan membangun kehidupannya sendiri. Sementara Alone tumbuh dengan segala keterbatasan, meniti hari dari satu keadaan ke keadaan berikutnya.
Ia masih mengingat masa ketika harus bersekolah dengan kaki telanjang, menempuh jalan panjang yang becek. Ia pernah meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja dan mencari rezeki. Hidup membawanya berkelana dari kampung ke kampung, dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya, sampai akhirnya ia menjejakkan kaki di Kota Medan untuk melanjutkan pendidikan.
Di kota itu, dunia memperkenalkannya pada banyak hal. Ia belajar, menulis, dan perlahan menemukan jalan sebagai seorang jurnalis. Hari-harinya dipenuhi kesibukan kampus, berita, koran, dan lembar-lembar tulisan. Ia mengejar masa depan, sementara jarak dan waktu membuatnya semakin jarang pulang.
Waktu berjalan seperti sungai yang tak pernah kembali ke hulu. Masa kecil berlalu. Orang-orang bertumbuh. Sebagian pergi, sebagian bertahan, dan sebagian lainnya hanya tinggal sebagai nama yang sesekali disebut dalam percakapan.
Namun, hari itu, di rumah sederhana tersebut, Alone merasa perjalanan panjangnya menemukan sebuah persinggahan yang istimewa.
Ia menundukkan wajah.
Barangkali, pikirnya, keluarga bukan semata-mata tentang seberapa sering orang-orang berkumpul. Keluarga adalah wajah-wajah yang tetap dirindukan, bahkan ketika hidup berkali-kali memisahkan. Ia adalah doa yang tak terdengar, tangan yang pernah menguatkan, dan pintu yang tetap ingin diketuk meski seseorang telah berjalan begitu jauh.
Keluarga juga bukan tentang siapa yang tak pernah berbuat salah. Ada penyesalan, ada keputusan yang melukai, ada perpisahan yang meninggalkan bekas. Namun, selama hati masih menyediakan ruang untuk menerima, selalu ada kemungkinan bagi manusia untuk kembali duduk berdekatan—bukan untuk menghapus masa lalu, melainkan untuk berdamai dengannya.
Alone memandang Emak. Perempuan itu telah melewati tahun-tahun panjang dengan kesabaran yang tak selalu mampu diungkapkan oleh kata-kata. Tangan Emak yang dahulu bekerja demi menghidupi anak-anaknya seakan menyimpan seluruh kisah tentang ketabahan: tentang lapar yang ditahan, lelah yang disembunyikan, dan kasih sayang yang tak pernah meminta balasan.
Kemudian ia menatap Abah. Lelaki itu berdiri dalam jarak yang tak terlalu jauh, tetapi juga tak sepenuhnya dekat. Di antara keduanya, terbentang masa lalu yang tak mungkin diulang. Namun, hari itu, jarak tersebut tak lagi harus diisi oleh kebencian. Cukuplah mereka berdiri bersama sebagai orang tua yang pernah menjadi bagian dari perjalanan anak-anak mereka.
Alone menarik napas panjang.
Ia menyadari bahwa pulang bukan selalu berarti kembali ke tempat yang sama. Kadang-kadang, pulang adalah keberanian untuk menerima kenyataan. Kadang-kadang, pulang berarti memaafkan tanpa harus melupakan, merelakan tanpa kehilangan kasih, dan menyadari bahwa hidup tak selalu memberikan akhir seperti yang pernah diimpikan.
Hari itu, setelah perjalanan panjang yang dipenuhi luka, jarak, kehilangan, dan pencarian, Alone akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini hanya hidup sebagai kerinduan: dipertemukan kembali dengan keluarganya.
Dan di luar rumah itu, Aceh sedang mengalami perjalanan serupa.
Setelah bertahun-tahun terpisah oleh konflik, ketakutan, dan kehilangan, rakyat Aceh mulai menatap masa depan dengan harapan baru. MoU Helsinki bukanlah akhir dari segala persoalan. Perdamaian tidak serta-merta menyembuhkan semua luka, mengembalikan mereka yang telah tiada, atau menghapus kenangan pahit yang tersimpan di dalam ingatan.
Namun, perdamaian membuka kesempatan. Kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh tanpa ketakutan, bagi keluarga untuk kembali merawat kehidupan, dan bagi masyarakat untuk membangun hari esok tanpa terus-menerus dibayangi pertumpahan darah.
Alone melihat kebersamaan keluarganya sebagai gema dari kepulangan yang lebih besar: Aceh yang sedang berusaha merajut kembali kehidupan setelah sekian lama tercerai-berai.
Ia tahu, sebagaimana keluarganya, Aceh pun masih harus menempuh perjalanan panjang. Akan ada perbedaan, ujian, dan kenangan yang sesekali kembali menyakitkan. Akan ada hal-hal yang tak dapat dipulihkan sepenuhnya. Namun, selama orang-orang bersedia menjaga harapan dan memilih kehidupan, masa depan tetap layak diperjuangkan.
Sore perlahan mendekat. Di rumah sederhana itu, percakapan terus mengalir. Anak-anak bercengkerama, orang-orang dewasa saling bertukar kabar, sementara Emak sesekali memandangi mereka dengan mata yang masih menyimpan sisa haru.
Tak ada kemewahan. Tak ada pesta besar. Hanya sebuah keluarga yang duduk berdekatan setelah sekian lama menjalani jalan hidup masing-masing.
Tetapi bagi Alone, itulah kebahagiaan yang selama ini dicarinya.
Ia kembali menatap wajah-wajah di hadapannya. Dalam diam, ia memahami bahwa perjalanan hidup tak selalu membawa seseorang kepada kekayaan, kemasyhuran, atau kemenangan yang dapat dipamerkan. Terkadang, anugerah terbesar justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana: kesempatan untuk pulang, memandang orang-orang tercinta, dan menyadari bahwa hari ini mereka masih diberi waktu untuk bersama.
Ia teringat perjalanan panjangnya. Kaki telanjang di jalan berlumpur. Tangan Emak yang bekerja tanpa mengenal lelah. Abah yang hadir dan pergi dalam kisah keluarga mereka. Bang Ni yang menempuh jalan berliku. Cut Kak yang membangun rumah tangganya sendiri. Orang-orang yang telah pergi, meninggalkan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.
Semua itu kini menjadi bagian dari dirinya. Bukan untuk disesali sepanjang usia, melainkan untuk dipahami sebagai jalan yang telah membentuknya menjadi manusia.
Alone menunduk, menyimpan syukur dalam hati.
Barangkali, kehidupan memang tak pernah menjanjikan perjalanan tanpa luka. Namun, di antara kehilangan dan perpisahan, Allah selalu membuka kemungkinan bagi manusia untuk menemukan makna. Ada pertemuan yang datang setelah penantian panjang. Ada kedamaian yang tumbuh setelah pertikaian. Ada pintu yang kembali terbuka ketika seseorang hampir kehilangan harapan untuk pulang.
Dan pada akhirnya, yang tinggal bukanlah panjangnya perjalanan atau banyaknya air mata, melainkan kasih yang tetap bertahan ketika segala sesuatu berubah.
Alone mengangkat wajahnya. Kali ini, senyum tipis hadir di antara sisa-sisa haru.
“Alhamdulillah... akhirnya kita bisa berkumpul lagi.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Alone, ia merangkum seluruh perjalanan yang telah dilaluinya. Bagi keluarganya, ia menjadi doa agar kebersamaan itu tak lagi dianggap biasa. Dan bagi Aceh, ia seolah menjadi harapan agar perdamaian yang baru tumbuh tidak kembali direnggut oleh kebencian.
Di luar sana, angin Selat Malaka terus berembus. Laut tetap menyimpan gelombangnya, sebagaimana kehidupan akan selalu menyimpan ujian. Namun, hari itu, angin seakan membawa kabar bahwa harapan masih ada.
Bahwa setelah sekian lama berjalan menjauh, manusia masih dapat menemukan jalan untuk kembali.
Bahwa setelah luka yang panjang, hati masih mungkin belajar memaafkan.
Bahwa rumah bukan semata-mata tempat seseorang dilahirkan, melainkan tempat kasih diberi ruang untuk hidup kembali.
Dan di antara wajah Abah yang menyimpan air mata, serta tangan Emak yang telah lama menjadi sandaran kehidupan, Alone akhirnya memahami arti pulang.(***).
TAMAT























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda