Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (15)

Redaksi
Redaksi
Senin, 28 September 2026 - 7.03 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (15)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kembali menghadirkan WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (15). Menjelang berakhirnya masa SMA, Alone berhadapan dengan sebuah persimpangan yang tidak pernah dibayangkannya. Sebagai siswa berprestasi, ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Perbankan USU, sebuah pintu menuju masa depan yang semestinya disambut dengan kegembiraan. Namun, bagi anak pesisir yang sejak kecil akrab dengan keterbatasan, sebuah kesempatan besar justru menghadirkan pertanyaan yang tak sederhana: dari mana biaya kuliah akan diperoleh, dan bagaimana mungkin ia meninggalkan kampung jika kehidupan masih menuntutnya untuk bertahan?

Di sinilah episode ini memperlihatkan sisi lain dari perjalanan Alone. Sekolah mengenalnya sebagai anak yang berprestasi dan pandai menulis, tetapi tidak sepenuhnya mengetahui sunyi yang ia bawa di balik seragamnya. Ia terbiasa menyelesaikan kewajiban lebih awal, bekerja sebelum kebutuhan datang, dan menata langkah tanpa banyak mengeluh. Di tengah segala keterbatasan, tangan Emak menjadi penyangga yang membuatnya tetap berdiri. Sementara wajah Abah yang jarang hadir perlahan menjelma bayang-bayang panjang dalam ingatan masa kecilnya.

Undangan kuliah itu akhirnya bukan sekadar selembar surat penerimaan, melainkan sebuah ujian baru tentang keberanian memilih masa depan. Guru-guru mendorongnya untuk percaya bahwa setiap jalan yang dibuka selalu menyimpan kemungkinan bagi mereka yang mau berikhtiar. Alone pun belajar bahwa tidak semua perjuangan harus diceritakan, dan tidak setiap langkah membutuhkan pengakuan. Ada perjalanan yang cukup diketahui oleh hati dan diserahkan kepada Allah—sebab hidup, pada akhirnya, adalah ikhtiar manusia dalam menjemput takdir. Berikut, WAJAH ABAH TANGAN EMAK episode ke-15 karya Agusni AH, selengkapnya dapat Anda simak di bawah ini.(red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (15)

SEBENTAR lagi Alone akan meninggalkan bangku SMA. Ia juga akan memasuki babak baru dalam hidupnya. Masa remaja yang selama ini dilaluinya dengan bekerja, belajar, mengaji, dan bergulat dengan kerasnya kehidupan pesisir perlahan akan ditinggalkan.
Namun, semakin dekat langkahnya menuju masa depan, semakin banyak pula pertanyaan yang berkelindan di benaknya. Ke mana ia harus melangkah setelah sekolah? Tetap bertahan di kampung, melanjutkan pendidikan, atau mencari jalan hidup di tempat lain?
Alone sadar, hidup tidak pernah benar-benar menyediakan jalan yang lurus. Ada simpang yang mesti dipilih, ada tanjakan yang harus didaki, dan ada keputusan yang kelak membawa seseorang pada takdirnya sendiri.
Di rumah sederhana itu, Emak tetap menjadi tempat ia menambatkan segala resah. Wajah Abah yang nyaris tak pernah hadir dalam kesehariannya telah lama menjadi ruang kosong dalam ingatan. Tetapi tangan Emak—tangan yang sejak dulu menghidupi, menguatkan, dan menuntun—selalu menjadi alasan Alon untuk terus melangkah.
Kini, ketika masa sekolah hampir usai, Alone mulai memahami bahwa meninggalkan bangku SMA bukan sekadar menanggalkan seragam. Ada masa depan yang harus diperjuangkan, ada harapan yang mesti dijaga, dan ada amanah hidup yang tak boleh disia-siakan.

***

KEPALA Sekolah Abdul Aziz memanggil Alone ke ruangannya. Ada kabar yang hendak disampaikannya—sebuah kabar yang semestinya menjadi berita paling membahagiakan bagi seorang siswa yang sebentar lagi meninggalkan bangku SMA.
“Alhamdulillah, Alone diterima di Fakultas Ekonomi Perbankan USU,” ungkap Pak Abdul Aziz sambil menyerahkan sepucuk surat undangan kepadanya.
Alone hanya diam.
Antara bahagia dan rasa hampa, kabar itu justru terasa hambar. Seperti sebuah kemustahilan yang tiba-tiba mengetuk pintu kehidupannya. Bagaimana mungkin ia menerima undangan itu, sementara keadaan hidupnya sendiri membuat dada terasa sesak? Bagaimana mungkin ia berkuliah di Medan tanpa biaya?
Alone menunduk. Pikirannya dipenuhi keraguan.
Dari mana biaya kuliahnya nanti?
“Kamu tidak merasa senang, Alone?” tanya Pak Abdul Aziz.
“Bukan... bukan tidak senang, Pak. Tapi...”
“Tapi, kenapa?”
Pak Abdul Aziz dibuat bertanya-tanya. Ia tidak tahu apa yang tengah berseteru di kepala Alone.
“Sepertinya undangan itu bukan untuk Alone, Pak.”
“Ini jelas-jelas nama kamu, Lon,” kata Pak Abdul Aziz seraya menunjuk nama yang tertera pada surat itu.
Ia kemudian menatap Alone.
“Kamu harus terima dan bangga. Belum pernah sekolah kita mendapatkan undangan dari perguruan tinggi bergengsi di Medan.”
Alone kembali menunduk. Di hadapan sebuah pintu menuju masa depan, ia justru sedang menghitung-hitung kemampuan untuk mengetuknya. Baginya, diterima di perguruan tinggi bukan sekadar soal lulus seleksi. Ada biaya, ada perjalanan, ada tempat tinggal, ada makan yang harus dipikirkan.
Dan di rumah, Emak masih harus berjuang sendiri dengan kedua tangannya.
Surat itu berada di tangannya, tetapi masa depan terasa begitu jauh dari jangkauannya.

“Pokoknya, Bapak berharap Alone menerima undangan ini dan melanjutkan kuliah di USU,” tegas Pak Abdul Aziz. “Kamu harus percaya pada kemampuanmu sendiri. Kamu adalah salah seorang siswa kebanggaan sekolah ini.”
Pak Aziz berhenti sejenak, lalu menatap Alone lebih dalam.
“Jangan biarkan keadaan membuatmu takut melangkah. Kesempatan seperti ini tidak datang kepada semua orang.”
Alone tetap terdiam. Kata-kata itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini terkunci di dalam dirinya. Ia ingin percaya, tetapi keadaan hidupnya seolah selalu mengajarinya untuk berhitung sebelum bermimpi.
“Tapi, Pak...” suara Alone lirih.
“Tidak ada tapi-tapian, Lon. Terima dulu undangan ini. Soal bagaimana nanti, kita pikirkan bersama.”
Untuk pertama kalinya, Alone mengangkat wajah. Ada secercah harapan yang tumbuh perlahan, meski masih dikepung keraguan.

“Iya, Lon. Kamu tak perlu ragu. Insya Allah akan diberikan kemudahan. Ini adalah jalan terbaik buat Alone,” sambung Ibu Darmiati, wali kelasnya.

Di dalam ruangan itu, beberapa guru lainnya turut menyaksikan percakapan tersebut. Satu per satu berusaha meneguhkan semangat anak didiknya. Mereka seperti sedang menyalakan cahaya kecil di tengah keraguan yang menyelimuti hati Alone.

Bagi mereka, undangan itu bukan sekadar selembar surat dari sebuah perguruan tinggi ternama. Di dalamnya ada kesempatan, harapan, dan mungkin sebuah jalan yang selama ini tidak pernah berani dibayangkan Alone.

Namun bagi Alone, selembar surat itu terasa seperti pintu besar yang terbuka di hadapannya—sementara ia sendiri belum tahu apakah kedua kakinya sanggup melangkah melewati ambangnya.

“Alone tidak perlu memutuskan sekarang. Tapi, Bapak meminta orang tua Alone besok datang ke sekolah menemui Bapak, ya.”
Mendengar arahan Kepala Sekolah, Alone semakin merasa tersudut. Bagaimana mungkin Emak datang ke sekolah untuk memberikan keputusan, sementara keputusan itu pada akhirnya juga akan kembali berada di tangannya sendiri.
Lalu, kepada siapa ia harus menyampaikan semua ini?
Abah?
Mustahil.
Terakhir kali Alone berjumpa dengan Abah sekitar setahun lalu. Itu pun hanya sebentar, ketika Abah datang mengantar daging meugang¹ menjelang Lebaran. Selebihnya, Abah hanya datang setahun sekali, seperti seseorang yang sekadar singgah di halaman kehidupan anaknya.
Wajahnya pun lebih sering menjadi bayang-bayang daripada kenyataan. Bayangan yang telah mengikuti perjalanan hidup Alone sejak ia masih berada dalam kandungan—sejak tiga bulan sebelum kelahirannya.
Sejak itu pula, Alone tumbuh tanpa benar-benar mengenal bagaimana rasanya memiliki seorang Abah yang selalu ada di rumah.
Maka ketika Pak Abdul Aziz meminta orang tuanya datang ke sekolah, yang terbayang di benaknya hanya wajah Emak. Wajah yang selama ini menjadi tempat segala beban disandarkan, sekaligus tangan yang tak pernah berhenti bekerja agar anak-anaknya tetap bisa melangkah. Sedangkan, Cut Kak dan Bang Ni, keduanya sudah berumah tangga serta telah memiliki anak-anaknya dengan beban hidupnya yang dihimpit kekurangan.
Alone kembali menunduk.
Undangan itu memang membuka sebuah pintu. Tetapi di balik pintu itu, ada jalan panjang yang belum tahu bagaimana harus ditempuhnya.

Memang, sejak kecil Alone telah terbiasa menjalani hidup tanpa seorang ayah di sisinya. Ia tumbuh bersama kesunyian yang perlahan dianggapnya sebagai bagian dari kehidupan. Untuk makan dan bersekolah, hampir semua kebutuhan hidupnya diusahakan sendiri, dengan kedua tangan Emak sebagai penopang utama.

Tangan yang kasar oleh pekerjaan, tetapi tak pernah lelah menggenggam harapan. Dari tangan itulah Alone belajar bahwa hidup bukan sekadar tentang menerima, melainkan tentang bertahan, berikhtiar, dan terus melangkah meski jalan di hadapan tak selalu terang.

Karena itu, ketika kesempatan kuliah di USU datang, yang pertama kali terlintas di benaknya bukan kebanggaan, melainkan pertanyaan sederhana yang terasa begitu berat:

“Dengan apa aku harus berangkat, Mak?”

Pihak sekolah hanya mengetahui Alone sebagai siswa berprestasi dan pandai menulis. Mereka tidak pernah benar-benar tahu bahwa di balik prestasi itu, ia hanyalah seorang anak pesisir yang tumbuh dalam kesunyian dan terbiasa menghadapi hidup dengan kedua tangannya sendiri.

Jika ia mampu mengenakan pakaian sekolah yang baik dan selalu tepat waktu membayar SPP, itu bukan karena hidupnya berkecukupan. Semua dilakukan melalui ikhtiar yang diupayakannya sejak awal, agar kewajiban bulanan tidak sampai menunggak.

Bagi Alone, apa pun yang bisa diselesaikan lebih awal, akan diusahakannya untuk segera dituntaskan. Dengan begitu, sesuatu yang berada di depan masih dapat dikerjakan tanpa harus dibebani oleh urusan yang semestinya telah selesai.

Prinsip itu sederhana, tetapi telah lama menjadi cara Alone bertahan hidup. Menyelesaikan hari ini sebelum esok datang, menunaikan kewajiban sebelum menjadi beban, dan berikhtiar lebih awal sebelum keadaan memaksanya terlambat.

Jika semua dapat terealisasi tepat pada waktunya, Alone merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Sebab, beberapa agenda yang sebenarnya belum sampai waktunya telah lebih dahulu ia selesaikan.

Begitulah seterusnya ia menjalani hidup. Selangkah lebih awal, agar langkah berikutnya tidak terlalu berat.

Apa pun yang dilakukannya, siapa dirinya sesungguhnya tidak pernah diumbar kepada siapa pun. Alone tidak ingin hidupnya menjadi beban bagi orang lain. Biarlah segala sesuatu mengalir sebagaimana adanya, tanpa perlu banyak penjelasan dan tanpa harus meminta siapa pun memahami seluruh perjalanan hidupnya.

Jika kelak orang-orang mengetahuinya, biarlah mereka mengenal Alone apa adanya, dengan segala persepsi yang tumbuh dari cara pandang mereka masing-masing. Ia tidak merasa perlu meluruskan setiap prasangka atau menjelaskan setiap sisi kehidupannya.

Lagi pula, ia tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan siapa dirinya kepada dunia. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada sekolah yang harus dijalani, ada Emak yang harus dipikirkan, dan ada masa depan yang harus diperjuangkan.

Alone memilih berjalan daripada menjelaskan. Berbuat daripada bercerita. Menyelesaikan daripada mencari pengakuan.

Ia tidak membutuhkan validasi dari siapa pun. Baginya, cukup Allah yang mengetahui apa yang telah dilalui, apa yang sedang diperjuangkan, dan ke mana langkah itu kelak akan bermuara.(***).
(Bersambung...)

¹Hari punggahan, merupakan hari makan besar sehari sebelum memasuki puasa Ramadhan dan lebaran Idul Fitra dan Idul Adha. Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun di Aceh

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement