Breaking News
Memuat breaking news...

‘Oleh-oleh’ untuk Koran Waspada Dari Pembaca Setia Sejak 1954

Redaksi
Redaksi
Minggu, 11 Oktober 2026 - 6.39 PM WIB
‘Oleh-oleh’ untuk Koran Waspada Dari Pembaca Setia Sejak 1954
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Oleh: Hang Tuah Jasa Said

MINGGU siang, 11 Oktober 2026, tak sengaja saya berpapasan dengan seorang kakek ketika hendak masuk ke Bumi Warta Waspada. Rupanya, kakek itu sedang bertanya kepada satpam, mencari koran Waspada edisi Minggu, 11 Oktober 2026.

Begitu melihat saya, sontak ia bertanya,

“Awak keturunan Wak Said, ya?”

“Ya, betul, Kek. Nama saya Hang Tuah,” jawab saya.

“Oh, ya! Saya ingat nama itu. Hang Tuah Jasa Said, kan? Anak almarhum Teruna Jasa Said. Saya ingat, pernah melihat nama ananda dari hasil foto yang dimuat di koran. Saya juga diberitahu kalau ananda putra almarhum Teruna Jasa Said,” tambahnya.

Sebenarnya, saya sudah beberapa kali melihat kakek ini datang ke kantor untuk mencari koran-koran lama. Namun, pertemuan kali ini terasa agak berbeda. Apalagi, beliau begitu fasih menyebut nama almarhum Ayah, Teruna Jasa Said, hingga Atok kami yang akrab dipanggilnya Wak Said.

Saya pun tertarik untuk berbincang lebih panjang dengannya.

“Kakek cari berita apa?” tanya saya.

“Saya mencari lanjutan berita Sabtu soal perang Iran-AS, sama lanjutan berita Wapres Gibran. Apa mau dia mundur?” katanya.

Saya pun tertawa kecil, agak terkejut mendengar pertanyaannya yang begitu mengikuti perkembangan berita terkini.

Lalu saya bertanya lagi, “Kakek tinggal di mana? Naik apa ke sini?”

Dengan santai, beliau bercerita kalau tinggal di daerah Denai dan sudah terbiasa berjalan kaki ke mana-mana.

“Kalau saya ada doku, pasti beli koran Waspada,” katanya sambil bercanda.

Begitulah orang Medan. Sederhana, terus terang, dan sesekali menyelipkan gurauan dalam percakapan.

Dari situlah cerita panjang beliau mulai terbuka. Rupanya, kakek ini sudah menjadi pembaca setia Harian Waspada sejak tahun 1954, ketika usianya masih sembilan tahun.

Bayangkanlah, sudah lebih dari tujuh dekade beliau mengikuti perjalanan Waspada. Dari zaman masih kecil, masa pergolakan politik Indonesia, sampai hari ini, ketika berita bisa dibaca lewat telepon genggam sekalipun.

Beliau pun bercerita tentang dinamika politik Indonesia sekitar peristiwa G30S pada 1965. Ketika itu, katanya, beliau masih aktif berkuliah di Universitas Indonesia (UI) dan bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), salah satu partai politik bersejarah di Indonesia.

Saya mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian. Ada banyak kenangan yang rupanya masih tersimpan baik dalam ingatan beliau, meskipun peristiwa itu sudah berlalu puluhan tahun.

Yang membuat saya semakin tertarik, beliau mengaku pernah bertemu dan berbincang langsung dengan pendiri Harian Waspada, Atok kami, H. Mohammad Said, sekitar tahun 1965.

Katanya, pertemuan itu berlangsung di sebuah lokasi di Jakarta Pusat. Bahkan, alamatnya masih begitu jelas dalam ingatan beliau: Jalan Kramat Raya No. 45, kawasan Pasar Senen.

Pelan-pelan beliau menyusun kembali kenangan itu, seolah-olah sedang membuka lembaran lama yang sudah lama tersimpan.

Beliau bercerita bahwa ketika itu banyak hal yang dipelajarinya dari Wak Said. Mereka pernah berdiskusi bertiga bersama seorang tokoh aktivis asal Medan bernama Drs. Ombak Iskandar Siregar.

Pembicaraan mereka banyak menyentuh keadaan politik Tanah Air ketika itu, mulai dari suasana menjelang berakhirnya Orde Lama, pembubaran Partai Masyumi oleh Presiden Soekarno, hingga perkembangan PNI yang kala itu juga mengalami perpecahan dan dualisme kepemimpinan.

Mereka turut membicarakan gelombang demonstrasi di berbagai tempat, termasuk penolakan terhadap pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ketika itu masih menjadi bagian dari pergulatan politik nasional.

Mendengar kisah tersebut, saya merasa seperti diajak kembali ke masa lalu. Sejarah yang selama ini mungkin hanya kita baca di buku atau arsip, ternyata masih hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengalaminya.

Belum selesai sampai di situ, kakek ini melanjutkan ceritanya.

“Saya ini pengagum Wak Said dan sudah menjadi pembaca Waspada sejak kecil. Suatu saat, sekitar tahun 80-an atau 90-an, saya juga pernah berbicara dengan Ibu Hj. Ani Idrus. Waktu itu beliau didampingi putrinya, Kak Rayati, di sebuah rumah makan di Jalan Mahkamah, Medan.”

Beliau masih ingat betul pertemuan itu. Katanya, Ibu Ani Idrus mengenalinya karena ia sering mengikuti sayembara yang diadakan Waspada.

Bukan cuma ikut, beliau rupanya pernah pula mendapatkan hadiah sebuah jam tangan Seiko yang diserahkan langsung oleh Ibu Ani Idrus.

Wah, kalau sudah bicara soal kenangan, rupanya banyak betul cerita yang tersimpan dalam ingatan beliau.

Namun, dari sekian banyak cerita, ada satu kenangan masa kecil yang paling membekas. Bukan soal politik, bukan pula soal tokoh-tokoh besar yang pernah ditemuinya, melainkan komik strip yang dimuat di Harian Waspada pada era 1950-an.

Beliau masih ingat dua komik dari luar negeri yang pernah dibacanya di koran Waspada, yaitu Tarzan, kisah anak rimba yang hidup di tengah belantara, dan Cisco Kid, si koboi yang dikenangnya sebagai tokoh asal Amerika Latin, yang ditemani sahabatnya, Pancho, dalam petualangan membela keadilan.

Bagi generasi sekarang, mungkin komik-komik itu hanyalah bacaan lama. Namun, bagi beliau, keduanya menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang tak lekang dimakan waktu.

Dari cerita itulah saya teringat kembali bahwa sebuah surat kabar bukan sekadar lembaran kertas yang berisi berita. Di dalamnya ada cerita, hiburan, pengetahuan, dan kenangan yang ikut tumbuh bersama para pembacanya.

Sebelum berpisah, saya pun meminta izin untuk berfoto bersama beliau. Di sela-sela perbincangan, ada satu pesan yang disampaikannya kepada saya.

Beliau berharap Harian Waspada terus dirawat, dijaga, dan dapat terbit sepanjang masa.

Ada pula satu permintaan khusus. Kalau masih tersimpan di arsip koran lama, beliau ingin sekali melihat kembali komik Tarzan dan Cisco Kid yang pernah dibacanya ketika masih kecil.

Permintaan itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam maknanya. Sebab, yang ingin beliau lihat bukan sekadar gambar komik lama, melainkan sepotong kenangan dari masa kecilnya yang pernah hadir melalui lembaran Harian Waspada.

Mudah-mudahan saja arsip itu masih ada dan suatu hari nanti bisa ditemukan kembali.

Bagi saya pribadi, pertemuan siang itu menjadi ‘oleh-oleh’ tersendiri untuk Harian Waspada. Saya datang ke kantor seperti biasa, tetapi pulang membawa cerita tentang seorang pembaca yang telah membersamai Waspada sejak 1954.

Cerita tentang seorang pembaca yang masih mengingat Wak Said, mengenang Ibu Ani Idrus, menyimpan kisah pertemuan dengan tokoh-tokoh masa lalu, dan bahkan masih ingat komik-komik yang pernah menghiburnya ketika berusia sembilan tahun.

Sebagai cucu H. Mohammad Said dan cucu dari keluarga besar yang turut menyaksikan perjalanan Harian Waspada, tentu ada rasa haru tersendiri mendengar kisah seperti ini.

Ternyata, setelah puluhan tahun berlalu, nama para pendiri dan kenangan tentang Waspada masih hidup dalam ingatan pembacanya.

Dan mungkin, inilah salah satu hal yang membuat sebuah surat kabar tetap punya tempat di hati masyarakat. Bukan semata-mata karena beritanya, tetapi juga karena kenangan dan ikatan yang terbangun selama bertahun-tahun.

Di akhir pertemuan, saya mengucapkan terima kasih kepada kakek bernama Habintjaran Sipahutar, yang kini berusia 81 tahun dan mengaku telah menjadi pembaca setia Harian Waspada sejak berusia sembilan tahun, pada 1954.

Tujuh puluh dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Dari masa ke masa, dari zaman ke zaman, beliau masih menyempatkan diri datang mencari koran Waspada.

Sebuah kesetiaan yang patut kita hargai.

Dan sebelum benar-benar berpisah, ada satu pertanyaan beliau yang masih terngiang-ngiang di telinga saya. Pertanyaan yang tadi juga sempat membuat saya tertawa.

“Jadi, apa mau mundur si Gibran?” cetusnya.

Saya pun tersenyum.

Begitulah pertemuan singkat di hari Minggu itu. Berawal dari seorang kakek yang mencari koran, berakhir dengan cerita panjang tentang sejarah, persahabatan, politik, komik, dan kesetiaan seorang pembaca.

Sebuah ‘oleh-oleh’ kecil, tetapi besar maknanya bagi Harian Waspada.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement