BLANGPIDIE (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Pemkab Abdya), tampaknya ingin keluar dari pola lama perayaan seremonial, yang kerap berujung pada euforia sesaat.
Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Abdya, 25 April 2026 mendatang, sebuah agenda bertajuk Meuseraya Toet Lemang, disiapkan bukan hanya untuk meramaikan perayaan, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di bantaran Sungai Krueng Beukah, Desa Lhung Asan, Kecamatan Blangpidie ini, menargetkan pembakaran 17 ribu batang lemang, angka yang bukan hanya ambisius, tetapi juga diarahkan untuk memecahkan rekor MURI.
Ketua Panitia HUT Abdya Jufri Yusuf Sabtu (18/4) menegaskan, skala kegiatan ini memang dirancang besar. Namun, menurutnya, substansi kegiatan tidak berhenti pada pencapaian rekor. “Target kita memang 17 ribu batang lemang. Tapi yang lebih penting, kegiatan ini harus memberi dampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya lemang, panitia juga menyiapkan 34 ribu bungkus tape beras, pasangan kuliner yang sudah menjadi tradisi di Aceh, khususnya di Abdya.
Namun di balik angka-angka itu, tersimpan potensi ekonomi yang tidak kecil. Kegiatan ini diperkirakan menyerap sekitar 7,5 ton beras ketan, 17 ribu batang bambu, puluhan ribu kelapa, serta daun pisang dalam jumlah besar.
Artinya, rantai pasok dari petani hingga pedagang lokal akan ikut bergerak. “Ini peluang bagi masyarakat. Petani, pekebun, hingga pelaku usaha kecil bisa terlibat langsung. Kita ingin ada perputaran uang, bukan sekadar keramaian,” kata Jufri.
Ia menyebut, panitia membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki bahan baku, untuk terlibat dalam penyediaan kebutuhan kegiatan tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret, agar perayaan daerah tidak terputus dari realitas ekonomi warga.
Lebih jauh, Jufri mengungkapkan bahwa arah kebijakan peringatan HUT Abdya tahun ini, memang didorong agar lebih produktif. “Sesuai arahan Bupati, kegiatan HUT harus memberi nilai tambah. Bukan hanya seremoni, tapi juga mampu menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih di berbagai sektor, pendekatan seperti ini menjadi penting. Event daerah tidak lagi sekadar panggung hiburan, tetapi bisa menjadi instrumen penggerak ekonomi berbasis komunitas.
Selain itu, kegiatan ini juga diproyeksikan sebagai sarana promosi daerah. Dengan skala yang besar dan potensi rekor nasional, Abdya berpeluang menarik perhatian lebih luas, yang pada akhirnya dapat berdampak pada sektor pariwisata dan investasi.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Konsistensi dalam memastikan dampak ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat menjadi kunci. Tanpa itu, agenda besar berisiko kembali jatuh menjadi sekadar perayaan tahunan tanpa jejak berarti.
Jika dikelola dengan baik, Meuseraya Toet Lemang bukan hanya tentang membakar lemang dalam jumlah fantastis, tetapi juga membakar semangat ekonomi lokal, sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar meriah.(id82)










