Lima Besar, Perjalanan Panjang Kafilah Sumut di MTQN

Oleh: Prof. Azhari Akmal Tarigan
Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar resmi menutup MTQ Nasional (MTQN) ke-31 di Semarang, Jawa Tengah. Seluruh pemenang dari berbagai cabang musabaqah telah diumumkan, termasuk 10 besar provinsi dengan raihan prestasi terbanyak.
Kafilah Sumatera Utara (Sumut) patut bersyukur. Sumut berhasil menempati peringkat kelima. Tepuk tangan dan kegembiraan pun pecah di barisan kafilah Sumut.
Kalimantan Timur berada di posisi pertama, disusul Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Aceh dan Jawa Timur menempati posisi berikutnya.
Capaian tersebut penting bagi Sumut. Sebab, Sumut selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil qari dan qariah berkualitas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kasubdit MTQ Kemenag RI Dr. Rijal Rangkuti pernah menyebut Sumut tetap diperhitungkan dalam ajang MTQ maupun STQ. Predikat tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Sumut untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan prestasi.
Jika melihat perjalanan sejarah, prestasi Sumut memang mengalami pasang surut. Dalam delapan pelaksanaan MTQ Nasional terakhir, posisi Sumut masing-masing yakni peringkat lima pada MTQN XXXI di Semarang (2026), peringkat delapan di Kaltim (2024), peringkat enam di Kalsel (2022), peringkat enam di Sumbar (2020), peringkat tiga saat menjadi tuan rumah di Medan (2018), tidak masuk 10 besar di NTB (2016), peringkat tujuh di Batam (2014), serta tidak masuk 10 besar di Ambon (2012).
Catatan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan prestasi di tingkat nasional bukan perkara mudah. Sumut bahkan pernah berada di luar 10 besar. Namun, sejarah itu bukan untuk membandingkan satu kepengurusan dengan kepengurusan lainnya, melainkan menjadi bahan evaluasi.
Pada ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH), prestasi Sumut relatif lebih baik. Sumut dua kali berhasil menempati peringkat ketiga. Cabang yang diperlombakan juga lebih sedikit dibanding MTQ, antara lain tilawah, tahfiz, fahmil, seni kaligrafi Al-Qur’an, serta cabang hadis.
Masuknya cabang hafalan hadis 100 dan 500 hadis, dengan atau tanpa sanad, serta karya tulis ilmiah hadis menjadi peluang tersendiri bagi Sumut. Sumber daya manusia di bidang hadis yang dimiliki Sumut selama ini cukup kuat dan kerap menghasilkan prestasi.
Dukungan Pembinaan
Keberhasilan Sumut menempati lima besar MTQN XXXI di Semarang juga perlu dilihat dari perkembangan pola pembinaan. Dunia MTQ nasional saat ini semakin kompetitif. Kualitas qari, qariah, hafiz dan hafizah memang menjadi faktor utama, tetapi pembinaan berkelanjutan juga sangat menentukan.
Pelatihan yang dilakukan sepanjang tahun, menghadirkan pelatih berpengalaman serta memperbanyak uji coba menjadi bagian penting dalam mematangkan peserta.
Di tingkat nasional, kualitas peserta yang masuk 10 besar relatif berimbang. Namun, ketika tampil di mimbar dalam waktu terbatas, kesiapan mental menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan. Peserta yang terbiasa berlatih dan mengikuti berbagai uji coba biasanya lebih siap menghadapi tekanan kompetisi.
Dalam konteks tersebut, LPTQ Sumut telah melakukan berbagai upaya pembinaan. Kepengurusan saat ini, di bawah Ketua Umum Pejabat Sekda dan Ketua Harian LPTQ Sumut Ustaz Muhammad Yasir Tanjung, S.Pd.I., juga menunjukkan komitmen tersebut.
Setelah MTQN Sumut ke-41, LPTQ Sumut langsung melaksanakan latihan terpadu melalui Training Center selama sekitar dua bulan. Pembinaan dilakukan secara luring maupun daring menggunakan aplikasi Zoom.
Dengan masa kepengurusan yang baru sekitar satu tahun, keberhasilan membawa Kafilah Sumut ke peringkat lima besar MTQN XXXI patut diapresiasi.
Namun, pekerjaan belum selesai.
Data perjalanan MTQ dan STQH menjadi cermin bagi LPTQ Sumut untuk menyusun pembinaan yang lebih sistematis, komprehensif dan terarah. Apalagi, Sumut akan menghadapi pelaksanaan MTQN berikutnya di luar daerah.
Target untuk melampaui peringkat lima dan kembali mendekati capaian terbaik di luar kandang tentu membutuhkan kerja bersama antara LPTQ Sumut dan LPTQ kabupaten/kota.
Kualitas peserta dari kabupaten/kota harus terus ditingkatkan. Sebab, semakin baik kualitas input dari daerah, semakin besar pula ruang bagi LPTQ Sumut untuk melakukan penguatan pada tingkat provinsi.
Bukan Sekadar MTQ
Di balik seluruh persiapan menghadapi MTQ, terdapat tugas yang jauh lebih besar. LPTQ tidak hanya bertugas menyiapkan kafilah untuk berlomba, tetapi juga memiliki tanggung jawab meningkatkan literasi dan edukasi baca tulis Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Hal tersebut juga menjadi perhatian Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution dalam berbagai kegiatan LPTQ.
Peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman dan pengamalannya. Dengan demikian, MTQ tidak berhenti pada kompetisi dan perolehan juara, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih dekat dengan Al-Qur’an.
Capaian lima besar di Semarang adalah hasil kerja bersama. Ke depan, tantangannya adalah bagaimana prestasi tersebut tidak hanya dipertahankan, tetapi menjadi pijakan untuk membangun pembinaan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Sebab, kejayaan Sumatera Utara sebagai salah satu lumbung qari dan qariah nasional tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan pembinaan, konsistensi, dukungan pemerintah, kerja LPTQ kabupaten/kota dan provinsi, serta dukungan seluruh masyarakat Sumatera Utara.
Penulis adalah Guru Besar UIN Sumatera Utara Medan dan Pengurus LPTQ Sumatera Utara
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda