Prodi Ikom FIS UIN SU Menuju Generasi Emas 2045 & Akreditasi Internasional


Oleh: Dr. Suheri Harahap, M.Si
Pendahuluan: Visi Generasi Emas 2045 dan Transformasi Sosiologis Perguruan Tinggi Islam
Visi Indonesia Emas 2045 merupakan sebuah cetak biru peradaban yang menuntut kesiapan fundamental dari seluruh elemen bangsa, di mana pendidikan tinggi menempati posisi episentrum sebagai pabrik pencetak agen-agen perubahan sosial. Menjelang satu abad kemerdekaan Republik Indonesia, negara dihadapkan pada sebuah jendela peluang demografis yang sangat sempit, di mana rasio penduduk usia produktif mencapai titik puncaknya. Namun, dalam kajian sosiologi pendidikan, kuantitas demografis tanpa diiringi kualitas intelektual, integritas moral, dan kesadaran ekologis justru berpotensi menjadi ancaman struktural. Di sinilah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memegang mandat historis dan sosiologis yang sangat krusial, yakni tidak sekadar berfungsi sebagai institusi vokasional, melainkan sebagai kawah candradimuka bagi lahirnya kaum intelektual organik yang memiliki kedalaman spiritual, ketajaman analisis sosial, dan daya saing global.
Dalam lanskap kompetisi akademik nasional maupun internasional, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Medan telah bermanuver melalui langkah-langkah strategis yang terukur. Paradigma pengembangan institusi yang berorientasi pada pencapaian Smart Islamic University kini mulai menunjukkan hasil yang sangat terukur. Berdasarkan pemeringkatan internasional bergengsi dari UniRanks yang dirilis pada awal tahun 2026, UIN SU Medan berhasil menembus dan memantapkan posisinya di peringkat ke-5 sebagai PTKIN terbaik di seluruh Indonesia1. Capaian ini secara langsung menempatkan UIN SU dalam jajaran elit perguruan tinggi Islam tanah air, bersaing dengan sangat ketat dengan institusi bersejarah lainnya1. Lebih luas lagi, dalam konstelasi pendidikan tinggi nasional, UIN SU Medan berhasil menempati peringkat ke-159 nasional1. Pemeringkatan ini bukanlah sekadar angka statistik, melainkan merefleksikan keberhasilan tata kelola institusi yang holistik.
Di jantung transformasi struktural dan kultural ini, Program Studi Ilmu Komunikasi (Prodi Ikom) yang bernaung di bawah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN SU mencuat sebagai salah satu lokomotif utama perubahan. Ilmu Komunikasi, sebagai fondasi epistemologis yang esensial dalam menghadapi era konvergensi media dan kecerdasan buatan, menjadi kunci. Tulisan akademis ini akan membedah secara mendalam bagaimana Prodi Ikom FIS UIN SU memproyeksikan arsitektur akademiknya menuju pengakuan akreditasi internasional FIBAA, mengintegrasikannya dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), mencetak luaran mahasiswa kelas dunia di ajang SeIBa International Festival, serta mensinergikan kepemimpinan intelektual para Guru Besar untuk meretas jalan menuju Generasi Emas 2045.
Arsitektur Mutu Akademik: Dari Akreditasi Unggul Nasional Menuju Standar Internasional FIBAA
Kualitas institusi pendidikan tinggi harus diuji, divalidasi, dan diukur melalui proses audit mutu eksternal yang ketat. UIN SU Medan telah berhasil meraih puncak akreditasi nasional melalui predikat "Unggul" dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melalui Surat Keputusan (SK) Nomor: 1936/SK/BAN-PT/AK/PT/X/20242. Pencapaian prestisius ini menjadi momentum fundamental yang menaikkan standar mutu bagi seluruh fakultas dan program studi2.
Fakultas Ilmu Sosial (FIS) menunjukkan akselerasi luar biasa merespons hal ini. Program Studi Ilmu Komunikasi FIS UIN SU turut mereplikasi kegemilangan institusi dengan berhasil meraih akreditasi "Unggul" berdasarkan SK BAN-PT Nomor: 7113/SK/BAN-PT/Ak/S/XII/2024 yang diraih pada bulan Desember 20244. Capaian gemilang ini melengkapi keberhasilan prodi lain di ekosistem FIS UIN SU, seperti Program Studi Ilmu Perpustakaan yang meraih "Unggul", serta Program Studi Sosiologi Agama yang meraih peringkat "Baik Sekali"2.
Unit Pengelola / Program Studi
Lembaga Akreditasi
Peringkat Akreditasi
Nomor Surat Keputusan (SK)
Batas Masa Berlaku
UIN Sumatera Utara (Institusi)
BAN-PT
Unggul
1936/SK/BAN-PT/Ak/PT/X/2024
19 Oktober 2029
Ilmu Komunikasi (S1)
BAN-PT
Unggul
7113/SK/BAN-PT/Ak/S/XII/2024
Desember 2029
Ilmu Perpustakaan (S1)
BAN-PT
Unggul
5636/SK/BAN-PT/Ak/S/VIII/2024
27 Agustus 2029
Sosiologi Agama (S1)
BAN-PT
Baik Sekali
6257/SK/BAN-PT/Ak/S/III/2026
31 Maret 2031
Namun, visi progresif menuju Generasi Emas 2045 menuntut lebih dari sekadar pengakuan di tingkat nasional. Integrasi ke dalam ekosistem World Class University mengharuskan adanya kalibrasi akademik lintas batas negara. Menyadari urgensi pergeseran paradigma tersebut, kepemimpinan Fakultas Ilmu Sosial di bawah komando Dekan Prof. Dr. Mesiono, M.Pd., telah mencanangkan roadmap strategis menuju pencapaian akreditasi internasional, secara spesifik membidik The Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA)6.
Berbeda dengan instrumen nasional, matriks penilaian FIBAA menitikberatkan pada implementasi Outcome-Based Education (OBE), internasionalisasi kurikulum, hingga tingkat kepekerjaan (employability) lulusan di pasar tenaga kerja internasional8. Langkah konkret telah dieksekusi melalui program benchmarking kelembagaan ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang sukses mengakreditasi 18 program studinya melalui FIBAA7. Tim Unit Penjaminan Mutu (UPM) FIS UIN SU membedah secara teknis penyusunan Self-Assessment Report (SAR) dan menyusun strategi taktis7. Transformasi ini dipahami sebagai perombakan ontologis kurikulum agar mahasiswa Ikom UIN SU memiliki portofolio kompetensi yang ekuivalen dengan mahasiswa global.
Internasionalisasi Kompetensi Mahasiswa: SeIBa International Festival dan Ekspansi Literasi Global
Parameter keberhasilan fundamental dari sebuah program studi yang mengakselerasi diri menuju peraihan akreditasi internasional ditentukan oleh luaran mahasiswanya di arena kompetisi global. Prestasi gemilang yang ditorehkan oleh Sinta Puspita Sari, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FIS UIN SU, pada ajang SeIBa 4th International Festival tahun 2026, menjadi milestone sosiologis yang membuktikan bahwa ekuivalensi kompetensi mahasiswa UIN SU telah setara dengan standar global9.
SeIBa 4th International Festival yang diselenggarakan di UIN Imam Bonjol Padang pada Juli 2026 merupakan arena kompetisi multinasional yang diikuti delegasi dari 8 negara (termasuk Jepang, Singapura, dan Malaysia) dengan tema "Sustainable From Nusantara to Global Harmony"9. Sinta Puspita Sari berhasil unjuk gigi dengan meraih Medali Silver pada cabang perlombaan Puisi9. Dari perspektif Ilmu Komunikasi, seni pembacaan puisi adalah medium komunikasi pertunjukan (performance communication) yang menuntut kecerdasan retorika, komunikasi non-verbal (kinesik dan paralinguistik), serta empati lintas budaya.
Pencapaian ini melengkapi dominasi sapu bersih kontingen UIN SU yang memborong medali Emas, Perak, hingga Platinum pada 10 cabang perlombaan berbeda, termasuk film pendek, monolog, dan seminar kebudayaan9. Dalam pernyataannya, Sinta menegaskan bahwa "Raihan medali emas, perak, hingga penghargaan Platinum ini membuktikan bahwa bakat dan kerja keras mahasiswa dan dosen mampu bersaing dan bersinar di panggung internasional"9. Pernyataan ini merepresentasikan mentalitas Generasi Emas 2045 yang berani berkonfrontasi gagasan dengan masyarakat global.
Sinergi Kepemimpinan Intelektual: Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A. dan Prof. Dr. Hasan Sazali, M.A., Serta Fondasi S2 Komunikasi
Kesuksesan institusional dan prestasi mahasiswa ini tidak tumbuh secara organik tanpa motor penggerak dari para guru besar yang merancang bangunan epistemologis disiplin ilmu komunikasi di UIN SU. Terdapat dua figur sentral yang bermanifestasi sebagai arsitek peradaban, yakni Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A., dan Prof. Dr. Hasan Sazali, M.A.
Prof. Dr. Anang Anas Azhar, yang resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi Politik Islam pada April 2026, memiliki rekam jejak hibrida dari seorang jurnalis (bersertifikat UKW Utama Dewan Pers) hingga pakar akademik10. Dalam orasi ilmiahnya, ia menawarkan antitesis yang bersumber dari ontologi Islam terhadap hipokrisi pencitraan politik kontemporer, dengan mengembalikan komunikasi pada prinsip qaulan sadida (perkataan yang lurus dan objektif)11. Kapasitas leadership beliau mendapatkan legitimasi absolut saat terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Sumatera Utara (2026–2029), di mana beliau secara progresif menghapus sekat dikotomi antara PTN dan PTS guna mengakselerasi kualitas keilmuan12.
Pilar akademik kedua yang menopang keilmuan komunikasi UIN SU adalah Prof. Dr. Hasan Sazali, M.A., Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi kedua di institusi ini13. Lulusan doktoral Komunikasi Pembangunan dari UGM ini memancangkan kepakarannya pada ranah komunikasi publik dan komunikasi pembangunan berdimensi agama6. Bukti pengakuan kepakarannya tidak hanya terlihat dari riset terindeks Scopus terkait komunikasi strategis penanganan stunting13, tetapi juga posisinya sebagai Ketua Umum Forum Dekanat Dakwah dan Komunikasi (Fordakom) Pusat se-Indonesia (2024–2026)15. Di level internasional, beliau bahkan diundang sebagai visiting professor di Universiti Malaya (UM) Malaysia untuk mengajar kelas internasional di jenjang pascasarjana16.
Secara objektif, sinergi pemikiran dan reputasi dua raksasa intelektual ini—Prof. Anang Anas Azhar dan Prof. Hasan Sazali—merupakan fondasi primer yang secara langsung menguatkan inisiasi dan lahirnya Program Magister (S2) Ilmu Komunikasi di lingkungan FIS UIN SU7. Keberadaan mereka memastikan terpenuhinya kualifikasi kepakaran dosen tingkat tinggi untuk pembukaan program pascasarjana. Kolaborasi wacana komunikasi politik dan komunikasi pembangunan dari kedua tokoh ini menjamin bahwa S2 Komunikasi FIS UIN SU kelak akan lahir dengan reputasi akademik yang paripurna.
Komitmen Global: Sinergi SDGs dan Paradigma Eko Teologi di Era Disrupsi
Capaian internasionalisasi UIN Sumatera Utara tidak hanya berhenti pada standarisasi dokumen mutu atau jejaring asosiasi, melainkan menukik tajam pada kontribusi nyata bagi kelangsungan peradaban global, khususnya menyangkut Sustainable Development Goals (SDGs). Pada tahun 2026, UIN SU mencatatkan sejarah monumental dengan melesat masuk ke dalam pemeringkatan global Times Higher Education (THE) Sustainability Impact Ratings 2026, merangsek ke kelompok peringkat 1001-1500 dunia dan menempati posisi ke-3 untuk lingkup PTKIN se-Indonesia17. Lompatan eksponensial ini adalah bukti konkret bahwa ekosistem pendidikan UIN SU telah berhasil menyelaraskan riset, pengajaran, dan pengabdian masyarakatnya dengan 17 indikator pencapaian SDGs18.
Sebagai respons strategis dan manifestasi dari komitmen pelestarian kehidupan global tersebut, Fakultas Ilmu Sosial UIN SU, melalui Pusat Studi (Pusdi) Eko Teologi, mengambil garda terdepan. Mengawinkan perspektif sosiologi agama, komunikasi ekologis, dan teologi pelestarian lingkungan, Pusdi Eko Teologi mendorong lahirnya "Manifesto Hijau Islam" yang menyadarkan bahwa merawat bumi dan ekosistem adalah konsekuensi tak terpisahkan dari keimanan dan tanggung jawab peradaban manusia19.
Dalam konteks Prodi Ilmu Komunikasi, persilangan antara paradigma SDGs dan Eko Teologi ini menghasilkan kurasi riset yang berorientasi pada keberlanjutan masa depan. Mahasiswa dan dosen didorong untuk mengkaji dan memproduksi kampanye pelestarian alam, mitigasi krisis iklim berbasis kearifan lokal, serta resolusi konflik agraria melalui mediasi komunikasi interkultural yang moderat. Oleh karenanya, akselerasi menuju akreditasi internasional FIBAA dan kesuksesan menembus THE Sustainability Impact Ratings adalah satu napas perjuangan; keduanya bermuara pada kesiapan FIS UIN SU meretas jalan lahirnya Generasi Emas 2045 yang paripurna—generasi yang tidak sekadar cerdas secara digital, melainkan juga memiliki sensitivitas ekologis dan integritas moral (Eko Teologi) tingkat tinggi dalam menyelamatkan peradaban dunia.
Kesimpulan dan Proyeksi Strategis Menuju Generasi Emas 2045
Transformasi akademik yang tengah berlangsung di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) adalah sebuah rekayasa sosial yang dirancang presisi untuk menjawab tantangan Generasi Emas 2045. Konvergensi antara capaian purna akreditasi "Unggul" dari institusi BAN-PT2 dengan ambisi visioner menuju perolehan sertifikasi internasional FIBAA di bawah arahan Dekan Prof. Dr. Mesiono, M.Pd., membuktikan kedewasaan pada level penjaminan mutu. Visi internasionalisasi ini secara tegak lurus beresonansi dengan agenda makro Rektor UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., yang menargetkan penguatan ekosistem World Class University dan capaian Sustainability Impact Ratings berskala global3.
Determinasi kultural di ranah mahasiswa, yang direpresentasikan dengan raihan medali internasional SeIBa oleh Sinta Puspita Sari9, memastikan bahwa transfer pengetahuan (SDGs, Eko Teologi, literasi media) telah teraplikasi ke dalam kompetensi rill. Pada aras makro-intelektual, keberadaan dan sinergitas dua Guru Besar unggulan, Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A., dan Prof. Dr. Hasan Sazali, M.A., tidak hanya mematangkan kepemimpinan di ruang publik melalui ASPIKOM dan Fordakom12, tetapi juga meletakkan batu pijakan terkuat bagi perwujudan Magister S2 Ilmu Komunikasi di UIN SU7.
Membangun Generasi Emas 2045 dari rahim FIS UIN Sumatera Utara berarti merawat ekosistem holistik ini secara persisten. Dengan fondasi Outcome-Based Education, spirit kolaboratif antar-institusi, serta penanaman kesadaran krisis ekologis berlandaskan Eko Teologi (Manifesto Hijau Islam), Prodi Ilmu Komunikasi FIS UIN SU tidak lagi berjalan sekadar mencari label internasional, melainkan tengah menunaikan tanggung jawab peradaban. Kampus ini bersiap mencetak agen-agen komunikator strategis masa depan yang akan memastikan wajah kemajuan Indonesia pada tahun 2045 kelak tetap berpijak pada objektivitas, kelestarian lingkungan, peradaban sains, dan harmoni sosial bagi alam semesta.
Penulis adalah Dosen Sosiologi Agama/Ketua Pusdi Eko Teologi Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda