Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (14)

Redaksi
Redaksi
Minggu, 27 September 2026 - 4.22 AM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (14)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Pada episode ke-14 WAJAH ABAH, TANGAN EMAK, Agusni AH membawa pembaca memasuki ruang kehidupan yang semakin kompleks: ketika kemiskinan, tanggung jawab keluarga, dan konflik bersenjata bertemu dalam satu garis nasib. Bang Ni yang kehilangan pekerjaan tetap harus berhadapan dengan kebutuhan rumah tangga, sementara Alone, meski masih muda, kembali menjadi tempat bergantung bagi keluarganya.

Yang menarik, kemiskinan dalam episode ini tidak digambarkan sekadar sebagai kekurangan materi. Ia menjadi ujian terhadap pilihan hidup. Ketika laut tidak memberi hasil, tambak terserang virus, dan pekerjaan semakin sulit ditemukan, tulisan menjadi salah satu jalan kecil yang masih dimiliki Alone. Honorarium yang sedikit justru memperlihatkan bahwa harga sebuah karya tidak selalu terletak pada nilai rupiahnya, melainkan pada kegembiraan ketika suara seorang penulis berhasil menemukan pembacanya.

Konflik kemudian masuk sebagai bayang-bayang yang lebih besar. Keterlibatan Bang Ni sebagai penghubung kelompok bersenjata menghadapkan Alone pada dilema yang getir. Ia tidak sedang mempertentangkan keberanian melawan ketakutan, melainkan mempertanyakan apa arti perjuangan bagi manusia yang sejak awal hanya ingin keluar dari kemiskinan.

Kalimat Alone, “Di dalam tubuh kita tidak mengalir darah pahlawan,” menjadi simpul kontemplatif episode ini. Bukan penyangkalan terhadap keberanian, melainkan suara seorang anak yang ingin memilih jalan lain: memerdekakan kehidupan dari kemiskinan, ketidakberdayaan, dan keterhimpitan nasib. Di sinilah Agusni AH mempertemukan perjuangan bangsa dengan perjuangan manusia yang sangat personal.

Pada akhirnya, episode ini kembali menghidupkan sosok Emak sebagai pusat nurani keluarga. Di antara kebutuhan beras, biaya sekolah, pekerjaan yang tak pasti, dan konflik yang semakin mengemuka, Emak berdiri sebagai kecemasan sekaligus ketabahan. Pertanyaan Alone tentang kemungkinan Emak mengetahui keterlibatan Bang Ni menjadi penutup yang menyisakan ketegangan: ketika seorang anak berhadapan dengan pilihan hidup saudaranya, ia pun sesungguhnya sedang berhadapan dengan kemungkinan kehilangan.

Episode ini mengingatkan kita bahwa dalam situasi apa pun, setiap manusia memiliki cara berbeda dalam memaknai perjuangan. Ada yang memilih medan konflik, ada yang memilih laut, ada yang memilih pekerjaan, dan ada pula yang memilih kata-kata. Alone memilih menulis—sebagai ikhtiar kecil untuk memerdekakan hidupnya sendiri.(red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (14)

SEJAK setahun terakhir, Bang Ni tidak lagi menjual kopi di Keude Krueng Geukueh. Penghasilan dari berjualan kopi dirasanya tak lagi cukup untuk membiayai rumah tangga yang telah dibangunnya dua tahun lalu bersama seorang perempuan yang berasal dari daerah yang cukup jauh dari pesisir kampung halamannya di Kecamatan Dewantara. Kini, ia kembali menetap di kampung pesisir itu dan telah dikaruniai dua anak lelaki.

Pekerjaannya serabutan. Apa saja yang bisa dikerjakan, ia lakukan. Kadang menjadi buruh harian, kadang membantu nelayan, dan sesekali mengambil pekerjaan apa pun yang dapat mendatangkan beberapa rupiah untuk dibawa pulang. Baginya, hidup bukan lagi tentang memilih pekerjaan yang disukai, melainkan tentang bagaimana dapur tetap mengepul dan kedua anaknya tetap memiliki sesuatu untuk dimakan esok hari.

Di kampung pesisir, ia kembali menjadi bagian dari denyut kehidupan yang sejak kecil dikenalnya: laut, sampan, lumpur tambak, jaring nelayan, dan suara mesin perahu yang sesekali memecah kesunyian. Di sana, rezeki memang tak selalu datang dengan kepastian. Namun, bagi seorang kepala keluarga, menunggu bukanlah pilihan. Tangan harus tetap bekerja, meski nasib kadang berjalan tanpa janji.

Keadaan seperti itu praktis menjadikan Alone, anak bungsu Emak, harus menanggung sendiri kebutuhan keluarganya. Dari Cut Kak pun tak banyak yang dapat diharapkan. Kondisi suaminya yang menggantungkan penghidupan dari laut lepas, ditambah tiga anak mereka yang juga harus disekolahkan, membuat kehidupan mereka sendiri tak pernah benar-benar lapang.

Maka, beban itu kembali bertumpu di pundak Alone. Ia masih muda, tetapi kehidupan seakan memaksanya belajar menjadi dewasa lebih cepat. Ketika tangan-tangan lain tak lagi mampu mengulurkan bantuan, tangan sendiri harus belajar menggenggam harapan—meski hanya dengan sisa tenaga dan sedikit keyakinan.

Belum lagi ketika Bang Ni tiba-tiba tidak mendapatkan penghasilan. Dalam keadaan seperti itu, Alone kembali menjadi tempat meminta pertolongan. Bukan karena ia paling mampu, melainkan karena hanya kepadanya harapan itu masih bisa dititipkan.

Suatu hari, Bang Ni datang menghampiri dengan wajah yang menyimpan kegelisahan.

“Lon, bantu Bang Ni... mau beli beras.”

Kalimat itu pendek. Namun bagi Alone, ada beban panjang yang ikut terbawa di dalamnya. Beras bukan sekadar makanan di meja; ia adalah tanda bahwa sebuah keluarga masih berusaha bertahan hidup.

Memang, hasil dari laut dan pertambakan sedang tidak menguntungkan. Di laut, musim Tuara¹ telah datang membawa angin sungsang² yang menerpa pesisir, membuat para nelayan tak leluasa turun melaut. Begitu pula di darat. Angin badan yang kerap berubah-ubah arah membuat cuaca sulit ditebak. Budidaya udang pun tak luput dari persoalan. Virus mematikan sering menyerang tambak, menyebabkan udang gagal tumbuh dan panen pun kembali menjadi harapan yang kandas.

Satu-satunya sumber pendapatan Alone yang tersisa hanyalah honorarium dari tulisan-tulisannya yang dikirim ke media massa. Jumlahnya tak seberapa, bahkan kadang tak sebanding dengan lelah dan waktu yang dihabiskannya untuk menulis. Namun, Alone tetap bahagia setiap kali tulisannya dimuat. Baginya, tulisan yang terbit bukan semata-mata tentang berapa rupiah yang diterima, melainkan tentang sebuah suara kecil yang berhasil menemukan tempat di tengah luasnya kehidupan.

Honorarium boleh sedikit, tetapi kegembiraan ketika namanya tercetak di halaman media massa tak pernah dapat diukur dengan uang. Sebab bagi Alone, menulis adalah cara lain untuk bertahan—ketika laut tak memberi hasil dan daratan tak menjanjikan kepastian.

Karenanya, Emak merasa tak tega melihat keadaan itu.

“Mestinya kamu jangan membebani Alone. Dia sendiri masih harus membiayai sekolahnya,” kata Emak, lirih.

“Ya, Mak... tapi Bang Ni benar-benar lagi nggak punya uang.”

Bang Ni terdiam sejenak. Ada rasa bersalah yang tak sanggup ia sembunyikan. Namun, di hadapan kebutuhan hidup, rasa malu terkadang harus disimpan lebih dalam.

“Anak-anak jangan sampai nggak bisa makan, Mak...” ujarnya kemudian.

Emak pun terdiam. Ia tahu, di antara kebutuhan sekolah dan kebutuhan perut, keduanya sama-sama tak boleh dikorbankan. Tetapi hidup sering kali memaksa orang memilih, ketika sebenarnya tak ada satu pun yang ingin dilepaskan.

***

Konflik Bersenjata Kian Mengemuka di Tanoh Indatu³

Di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu, konflik bersenjata yang kian mengemuka perlahan melumpuhkan sendi-sendi sosial masyarakat di Tanoh Indatu. Kehidupan yang dahulu berjalan dalam kesederhanaan, kini harus meniti kecemasan; sementara harapan, seperti nyala lampu teplok di tengah malam, tetap bertahan di tepian Selat Malaka yang sedang diterpa angin sungsang Tuara.

Bang Ni, yang tidak memiliki pekerjaan tetap, diam-diam ternyata telah masuk ke dalam kelompok bersenjata. Meski tidak memegang jabatan strategis dalam kelompok pergerakan ideologi Aceh Merdeka, ia mendapat tugas sebagai penghubung.⁴ Ia tidak mengangkat senjata di hutan-hutan, tidak pula terlibat dalam pertempuran atau penyerangan terhadap aparat keamanan, baik pasukan BKO⁵ (Bawah Kendali Operasi) maupun TNI organik. Sehari-hari, ia tetap melebur dengan warga, menjalani kehidupan seperti masyarakat biasa. Namun, di balik kesehariannya yang tampak sederhana, ia dianggap memiliki akses kepada pemerintahan sipil dan sejumlah perusahaan raksasa di kota petro dolar itu.

Suatu kali, Alone menjumpai Bang Ni setelah mendapatkan informasi yang cukup akurat bahwa abangnya itu telah terlibat dalam gerakan tersebut. Alone berang. Baginya, pilihan Bang Ni telah melenceng dari tujuan hidup yang selama ini mereka perjuangkan: memerdekakan diri dari jeratan kemiskinan.

“Maaf, Bang Ni, ya. Di dalam tubuh kita tidak mengalir darah pahlawan,” ujar Alone, suaranya tertahan. “Karena itu, kita tidak perlu mencari kematian di medan pertempuran. Kita harus memerdekakan kehidupan kita sendiri—dari kemiskinan, dari ketidakberdayaan, dan dari hidup yang terus-menerus menundukkan kita.”

Bang Ni hanya tertunduk diam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sementara Alone semakin mempertegas pendiriannya, seolah tak ingin lagi mundur dari keyakinan yang telah dipilihnya.

“Bagaimana kalau kemudian Emak tahu keterlibatan Bang Ni? Apa tidak membuat Emak jantungan?”(***)

(Bersambung...)

¹Satu musim angin yang datang terkadang dalam waktu bersamaan dari arah Barat dan Barat Daya

²Angin datang tiba-tiba dari berbagai arah, tak menentu

³Tanah leluhur

⁴Salah satu kelompok sipil Gerakan Aceh Merdeka (GAM)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement