WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (22)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Dalam episode ke-22 cerbung Wajah Abah, Tangan Emak, Agusni AH menghadirkan persimpangan hidup Alone, seorang mahasiswa yang harus berjuang di antara tuntutan pendidikan dan desakan kebutuhan hidup. Ketika honor menulis belum mampu menopang biaya kuliah, kesempatan menjadi wartawan di Aceh hadir sebagai secercah harapan. Pertemuan dengan dua redaktur senior di kantor redaksi Harian Waspada bukan sekadar perjumpaan profesional, melainkan awal dari kemungkinan baru yang dapat mengubah arah perjalanan hidupnya. Di tengah ketidakpastian, Alone belajar bahwa terkadang jalan keluar datang bukan ketika segala persoalan telah teratasi, melainkan ketika keberanian mengambil keputusan mulai tumbuh dalam diri.
Lebih dari sekadar kisah tentang pekerjaan dan pendidikan, episode ini menyimpan makna tentang ikhtiar, pengorbanan, dan doa seorang ibu yang bekerja dalam diam. Bayangan tangan Emak yang merajut tikar pandan menjadi metafora kasih sayang yang tak pernah putus, sekaligus pengingat bahwa di balik langkah seorang anak yang merantau, ada harapan keluarga yang ikut dipertaruhkan. Agusni AH merangkai pergulatan batin Alone dalam narasi yang lirih dan kontemplatif, menegaskan bahwa hidup tidak selalu menyediakan peta untuk menemukan arah. Manusia hanya perlu keberanian untuk melangkah, kesungguhan untuk berikhtiar, dan keyakinan bahwa setiap pintu yang terbuka layak disambut dengan doa.
(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (22)
SITUASI sulit kian menghinggapi Alone. Di tengah jadwal kuliah yang semakin padat, kebutuhan biaya hidup dan pendidikan pun kian mendesak. Ia membutuhkan pekerjaan tetap, agar ada penghasilan bulanan yang dapat menjamin kelangsungan pendidikannya.
Honor dari menulis belumlah seberapa. Tulisan-tulisannya memang mulai mendapat tempat di sejumlah media, tetapi penghasilannya belum mampu menopang kebutuhan hidup seorang mahasiswa yang tinggal jauh dari kampung halaman.
Alone pernah mencoba melamar pekerjaan sebagai sales marketing di sebuah perusahaan manufaktur di Kota Medan. Ia berharap pekerjaan itu dapat menjadi jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapinya.
Namun, pekerjaan tersebut hanya bertahan sebentar.
Bukan karena gajinya tidak memadai. Justru penghasilannya cukup menjanjikan bagi seorang mahasiswa yang sedang berjuang membiayai kuliah. Persoalannya, pekerjaan itu menuntut waktu penuh, sementara Alone harus tetap mengikuti perkuliahan.
Ia pun dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: mempertahankan pekerjaan dengan risiko kuliahnya terganggu, atau meninggalkan pekerjaan itu demi menyelesaikan pendidikan.
Akhirnya, dengan berat hati, Alone memilih mengundurkan diri.
Ia kembali ke jalan yang selama ini telah membesarkan namanya—dunia kata-kata dan jurnalistik.
Suatu siang, setelah menyelesaikan urusan kuliah, Alone kembali mendatangi kantor redaksi Harian Waspada.
Gedung itu terasa akrab baginya. Di tempat inilah beberapa tulisannya pernah menemukan ruang untuk dibaca. Di tempat ini pula ia mengenal sejumlah wartawan dan redaktur yang perlahan membuka jendela lebih luas bagi masa depannya.
Alone menemui Rizaldi Anwar, redaktur yang selama ini cukup dekat dengannya.
“Permisi, Bang.”
“Ya, Lon. Ada apa?”
Alone menarik napas sejenak.
“Adakah lowongan kerja di Waspada, Bang? Atau mungkin di Harian Berita Sore atau Majalah Dunia Wanita?”
Rizaldi memandang Alone. Sejenak ia diam.
“Kalau sebagai wartawan untuk tugas di dalam wilayah Kota Medan, sepertinya belum dibutuhkan, Lon.”
Alone mengangguk pelan.
Ada sedikit kecewa yang disembunyikannya di balik wajah tenang.
Namun, Rizaldi kemudian melanjutkan.
“Tetapi, untuk wilayah Aceh, sepertinya masih ada yang diperlukan wartawannya.”
Alone mengangkat wajah.
“Aceh, Bang?”
“Iya. Beberapa daerah masih membutuhkan wartawan. Kalau kau berminat, nanti kita bicarakan lebih lanjut.”
Kata Aceh tiba-tiba terasa seperti mengetuk pintu yang lama tertutup.
Di dalam benak Alone, terbayang kampung halaman. Wajah Emak. Rumah sederhana di tepi Selat Malaka. Tikar pandan yang dirajut dengan tangan tua. Juga jalan panjang yang dahulu ditempuhnya dengan kaki telanjang.
Ia tahu, menjadi wartawan bukan pekerjaan yang mudah.
Namun, dunia itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Ia pernah hidup dari kata-kata.
Ia pernah mengirim cerpen, menulis berita, membaca koran dengan penuh gairah, dan belajar bahwa sebuah tulisan tidak sekadar rangkaian kalimat. Di balik kata-kata, ada kehidupan manusia yang harus dicatat dengan jujur.
Dan kini, mungkin jalan itu kembali terbuka.
“Kalau untuk Aceh, Alone bersedia, Bang,” jawabnya.
Rizaldi tersenyum.
“Pikirkan baik-baik. Tugas wartawan bukan hanya menulis. Ada tanggung jawab, ada waktu yang harus kau korbankan, dan ada risiko yang harus kau hadapi.”
Alone mengangguk.
“Alone mengerti, Bang.”
Dalam hati, ia berkata lirih:
Barangkali inilah jalan yang kembali dibukakan Allah.
Ia belum tahu ke mana jalan itu akan membawanya. Ia juga belum tahu apakah pekerjaan itu kelak mampu menyelesaikan seluruh persoalan hidupnya.
Tetapi Alone percaya, manusia tidak selalu harus mengetahui seluruh jalan untuk berani melangkah.
Kadang-kadang, cukup satu pintu terbuka.
Lalu kaki melangkah.
Selebihnya, biarlah takdir yang menuntun.
Di luar gedung redaksi, matahari Medan masih terik. Kendaraan lalu-lalang. Suara klakson bersahutan. Manusia bergerak dengan kesibukannya masing-masing.
Alone berdiri sejenak di tepi jalan.
Di tengah hiruk-pikuk kota itu, ia teringat Emak.
Perempuan yang di kampung sana mungkin sedang duduk merajut pandan, menunggu rezeki dari anyaman yang dikerjakannya dengan kedua tangan.
Wajah Abah telah lama menjadi tanda tanya.
Tetapi tangan Emak selalu menjadi jawaban.
Benaknya kini hanya dipenuhi dua hal: kuliah dan bekerja.
Keduanya sama penting.
Kuliah adalah jalan yang sedang ditempuhnya untuk mengubah masa depan. Sementara pekerjaan adalah jalan yang harus dilaluinya agar perjalanan itu tidak terhenti di tengah jalan.
Alone mulai berpikir: mungkinkah kuliahnya dipindahkan ke Aceh?
Namun, semua itu sangat bergantung pada satu hal: jika ia diterima menjadi wartawan Harian Waspada, di mana kelak ia akan ditempatkan?
Pikiran itu berputar-putar di kepalanya.
Jika ditempatkan di Lhokseumawe, ia bisa mencari kampus di sana. Jika di Langsa, mungkin ia dapat melanjutkan kuliah di Langsa. Begitu pula jika ditugaskan ke daerah lainnya.
Yang penting baginya hanya satu: kuliah tetap berjalan, pekerjaan pun didapat.
Alone kembali menemui Rizaldi.
“Bang, berikan Alone kesempatan menjadi wartawan dan bertugas di Aceh, ya.”
Rizaldi—yang akrab disapa Rizal Bey—memandangnya sejenak. Alisnya terangkat, seperti hendak memastikan kesungguhan anak muda di hadapannya.
“Bagaimana dengan kuliah kamu di USU?” tanyanya.
Alone tersenyum tipis.
“Itu gampang, Bang.”
“Gampang bagaimana?”
“Di mana Alone ditempatkan, di situ Alone akan kuliah nantinya.”
Jawaban itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya tersimpan keberanian yang tidak kecil.
Alone sadar, keputusan tersebut bisa berarti meninggalkan kenyamanan yang belum sempat ia rasakan di Medan. Ia harus kembali menata hidup dari awal: mencari tempat tinggal, mencari kampus, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, sekaligus menjalankan tugas jurnalistik.
Namun, ia tidak ingin terlalu banyak menghitung kesulitan.
Baginya, kesempatan harus diraih ketika pintunya terbuka.
Pembicaraan mereka semakin hangat. Di ruang Redaktur Aceh itu, Alone mulai merasa ada secercah jalan keluar dari kesulitan yang selama ini membelitnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Seorang lelaki yang tampak berwibawa masuk ke ruang redaksi.
Rizaldi segera menoleh.
“Ini Alone, Bos,” katanya memperkenalkan.
Alone berdiri.
Lelaki itu adalah Edwar Thahir, salah seorang redaktur senior di Harian Waspada.
Edwar memandang Alone beberapa saat.
“Ini Alone?”
Alone mengangguk hormat.
“Iya, Pak.”
Edwar ternyata sudah mengenal Alone melalui tulisan-tulisannya selama ini.
“Aslinya Aceh kau, Lon? Aceh di mananya? Aku lahir di Meulaboh, Aceh Barat.”
“Alone lahir dan dibesarkan di pesisir Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Pak.”
“Ya... ya. Soal pesisir aku sudah tahu dari cerpen-cerpen kamu. Hampir semuanya berlatar laut, kan?”
Alone tersenyum.
“Tapi tak perlu menyebut saya Bapak segala.”
“Ooo... ya, maaf, Pak. Eh, Bang. Oi, pimpinan...”
Rizal dan Edwar tertawa.
Suasana yang semula serius mendadak pecah. Entah memang disengaja, entah karena Alone gugup, sapaan yang berubah-ubah itu justru membuat percakapan menjadi cair.
“Gugup apa sengaja nih?” Edwar mencandai. “Soalnya, bicara dengan pengarang bisa saja sebuah dramatisasi.”
“Ya, seperti dalam percakapan naskah cerpen,” Rizal Bey menimpali.
Gelak tawa kembali pecah.
Pertemuan itu berlangsung sederhana dan renyah, seperti perjumpaan antarteman di ruang Redaktur Halaman Aceh Harian Waspada.
Namun bagi Alone, ada satu urusan yang tidak boleh terlupakan.
Ia menarik napas.
“Bang, izin, Bang... Alone berminat menjadi wartawan. Bisakah saya diterima?”
Kini pertanyaan itu dialamatkan kepada Edwar Thahir.
“Tapi, dengar-dengar kamu kuliah di USU. Bagaimana bisa kalau ditugaskan di Aceh?” tanya Edwar.
“Jika Alone diterima dan ditugaskan di Aceh, kuliah akan ikut pindah, Bang.”
Edwar tersenyum.
“Okay juga, tuh.”
Kalimat pendek itu membuat dada Alone sedikit lapang.
Tidak ada yang menyangka, perjumpaan singkat di ruang redaksi tersebut kelak akan menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan hidupnya.
Hari itu, Alone belum tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Yang ia tahu, ia sedang berdiri di antara dua dunia: kampus yang ingin memberinya masa depan, dan dunia jurnalistik yang mungkin memberinya jalan untuk bertahan.
Di antara keduanya, ia hanya memiliki satu modal yang tak pernah habis:
kemauan untuk terus berjalan.
Ia teringat Emak.
Tangan perempuan itu mungkin masih merajut pandan di kampung. Mengikat helai demi helai, menyusun lembar demi lembar, seolah sedang merajut pula harapan untuk anak-anaknya.
Alone tidak tahu apakah langkahnya menuju dunia jurnalistik akan membawa kehidupan yang lebih baik.
Ia hanya tahu, pintu telah terbuka.
Dan ia memilih mengetuknya.
Sebab hidup kadang-kadang tidak memberikan peta.
Hidup hanya memberikan jalan.
Kita berjalan sambil mencari arah.
Dan di setiap langkah itu, ada doa seorang Emak yang mungkin tidak pernah terdengar oleh dunia, tetapi diyakini sampai ke langit.
Alone menundukkan kepala.
Dalam hati ia berbisik:
_Ya Allah,_ _jika ini jalan-Mu,_ mudahkanlah.
Lalu ia melangkah meninggalkan gedung Waspada.
Matahari Medan masih menyala.
Namun, di dalam dadanya, untuk pertama kali setelah sekian lama, sebuah harapan mulai tumbuh kembali.(***).
(Bersambung...)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda