WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (9)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR TEDAKSI:
Episode kesembilan cerbung "Wajah Abah, Tangan Emak" karya Agusni AH membawa Alone memasuki fase penting dalam pertumbuhan batinnya: dari seorang bocah yang gemar membaca menjadi remaja yang mulai menemukan jalan kepenulisan. Kehadiran Harian Waspada dan Serambi Indonesia bukan sekadar menghadirkan bacaan bagi Alone, tetapi menjadi jendela yang memperkenalkannya kepada dunia yang lebih luas. Halaman sastra dan budaya yang dibacanya perlahan menumbuhkan kesadaran bahwa kata-kata dapat menjadi ruang untuk memahami kehidupan, merawat kepekaan, sekaligus menyuarakan pengalaman.
Menariknya, perjalanan Alone sebagai calon penulis tidak serta-merta diwarnai keberhasilan. Naskah puisi dan cerpen yang diketik dengan mesin ketik sekolah dan dikirim melalui Kantor Pos dan Giro harus berhadapan dengan penantian panjang tanpa kepastian. Tidak ada penolakan, tetapi juga belum ada pemuatan. Dalam kesunyian itulah karakter Alone ditempa. Ia belajar bahwa kepenulisan bukan semata-mata tentang nama yang muncul di halaman koran, melainkan tentang kesediaan membaca, menulis, menunggu, dan terus mencoba. Episode ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pengalaman membaca menjadi benih awal yang kelak tumbuh menjadi kecintaan Alone terhadap sastra.
Di tengah perjalanan literasinya itu, cerita kemudian berbelok ke wilayah yang lebih jenaka: Alone diminta Bang Din menulis surat cinta untuk seorang gadis bernama samaran Bunga. Adegan tersebut menghadirkan warna lain dalam kehidupan Alone. Ia tidak hanya berperan sebagai pembaca dan calon penulis, tetapi mulai merasakan bahwa kemampuan merangkai kata juga dapat menjadi “pekerjaan” yang memiliki nilai. Surat cinta menjadi semacam latihan kreatif sekaligus ruang bermain imajinasi, sementara gurauan antara Alone dan Bang Din mencairkan suasana dan menghadirkan kepolosan cinta remaja di tengah kehidupan kampung pesisir.
Episode ini pada akhirnya mempertemukan dua benang penting dalam perjalanan Alone: membaca dan menulis. Dari halaman koran ia belajar mengenali dunia; dari pengalaman menulis surat cinta ia belajar bahwa kata-kata dapat membawa harapan, kegembiraan, bahkan kemungkinan luka. Di balik kisah sederhana tentang koran, naskah yang tak kunjung dimuat, dan surat cinta untuk Bunga, tersimpan gambaran tentang bagaimana seorang anak kampung perlahan menemukan suaranya. Dari sanalah, tanpa banyak disadarinya, perjalanan Alone sebagai manusia pembaca dan penulis mulai benar-benar tumbuh.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (9)
SURATKABAR Simponi terbitan Jakarta itu tak lagi bisa dibaca, menyusul petaka “pencurian” yang terbongkar hingga Alone harus berhadapan dengan penghakiman Emak. Satu-satunya koran yang masuk ke desa hanyalah Harian Waspada Medan. Setiap siang, menjelang berangkat ke sekolah, Alone berusaha datang lebih awal, menyempatkan diri duduk barang sejam di warung kopi Apa Nuwar, di Balee Canang, kampung pesisirnya. Di sana, ia membaca Waspada dengan lahap, seperti seseorang yang sedang menemukan jendela untuk melihat dunia yang lebih luas.
Rasa syukur tak terhingga memenuhi dada Alone ketika mengetahui ada koran baru terbitan lokal, Harian Serambi Indonesia di penghujung 1989. Apalagi koran itu setiap Minggu dan Selasa menghadirkan ruang sastra dan budaya. Bagi Alone, halaman-halaman itu seperti pintu kecil yang perlahan terbuka menuju dunia yang belum pernah ia kenal.
“Pesan kopi lah, agar bisa baca koran,” tukas Apa¹ Nuwar, si pemilik warung, sekadar basa-basi.
"Baik, kopi pancung saja." Alone tidak kalah malu.
Apa Nuwar manggut-manggut tersenyum tipis.
Sementara itu, Waspada, yang telah terbit sejak 1947, hanya pada hari Minggu menghadirkan pernak-pernik sastra yang juga memuat cerbung "Deburan Ombak Selat Malaka" karya AS Atmadi.
Dua media massa itu kemudian menjadi santapan rohani Alone. Dari lembar-lembar koran itulah ia mulai mengenal dunia yang lebih luas: bahasa yang bukan sekadar kata, tetapi juga mengajarkan kelembutan budi, ketajaman rasa, dan cara memandang kehidupan.
Tanpa disadarinya, kegemaran membaca itu perlahan menanam sesuatu di dalam dirinya. Benih kecil yang kelak tumbuh menjadi kecintaan pada kata-kata, cerita, dan sastra.
Dari lembar-lembar koran itu, Alone menemukan jalan menjadi pembaca. Dari membaca, perlahan tumbuh keberanian untuk menjadi penulis.
Ia mulai memberanikan diri mengirimkan naskah-naskah sastra berupa puisi dan cerpen. Dengan mesin ketik yang tersedia di ruang kepala sekolah SMP, Alone mengetik kata demi kata. Jari-jarinya mungkin masih kaku menekan tuts, tetapi hatinya telah jauh lebih berani: ia ingin tulisannya dibaca orang lain.
Setiap Senin, seusai upacara sekolah, Alone bergegas menuju Kantor Pos dan Giro Kecamatan yang letaknya tak jauh dari sekolah. Di sana, ia mengirimkan naskah-naskahnya. Satu per satu. Puisi dan cerpen yang lahir dari kegelisahan, pengamatan, dan dunia kecil yang selama ini ia jalani.
Setelah surat itu dikirim, datang pula pekerjaan lain yang tak kalah mendebarkan: menunggu.
Setiap Minggu dan Selasa, ketika Serambi Indonesia tiba, Alone segera mencari halaman sastra dan budaya. Matanya menyusuri nama-nama penulis yang terpampang di sana. Ia berharap menemukan namanya sendiri di antara deretan nama yang telah lebih dahulu dikenal.
Namun, minggu berganti minggu.
Selasa datang, lalu Minggu kembali menjelang.
Namanya tak kunjung ada.
Sudah beberapa bulan naskah-naskah itu dikirimkan, tetapi belum satu pun puisi atau cerpennya dimuat. Tak ada kabar. Tak ada penolakan. Hanya sunyi yang datang berulang-ulang dari halaman koran.
Namun, Alone belum menyerah.
Sebab, barangkali, menjadi penulis memang bukan perkara seberapa cepat sebuah tulisan dimuat, melainkan seberapa lama seseorang sanggup tetap menulis ketika belum ada yang membaca.
Namun, Alone tak patah arang. Ia justru semakin bersemangat membaca, terutama halaman sastra dan budaya Serambi Indonesia. Di sanalah matanya kerap berhenti lebih lama, menyusuri kata demi kata, kalimat demi kalimat.
Perhatiannya kemudian tertambat pada cerbung “Bertarung di Batas Langit” karya Papa S Kanta/T.A. Sakti. Cerita bersambung itu seperti membuka jendela lain dalam benaknya. Alone mulai menyadari bahwa kisah yang ditulis dengan tekun dapat membawa pembaca menembus batas ruang dan waktu, bahkan mengajak seseorang melihat kembali dunia di sekelilingnya dengan cara yang berbeda.
Ia membaca bukan lagi sekadar untuk mengisi waktu. Ia mulai membaca untuk belajar. Belajar bagaimana sebuah cerita dibangun, bagaimana kata-kata dirangkai, dan bagaimana sebuah peristiwa sederhana dapat menjelma menjadi kisah yang menggugah rasa.
Naskah-naskah yang pernah dikirimnya mungkin belum menemukan tempat di halaman koran. Tetapi Alone mulai memahami bahwa penolakan yang tak pernah disampaikan pun bukan alasan untuk berhenti. Ia terus membaca, terus menulis, dan terus menunggu.
***
“Lon, buatlah surat Bang Din!”
Syafruddin, abang sepupunya yang tengah dilanda asmara kepada seorang gadis yang sama sekali belum dikenal Alone, berharap ia bersedia menuliskannya.
“Soal bayaran gampang. Berapa pun tak masalah, lah...” Bang Din memastikan jerih payah Alone akan tetap dihargai.
Tawaran itu cukup menarik bagi Alone. Namun, ia masih menyimpan keraguan. Jangan-jangan surat yang ditulisnya kembali menjadi korban penolakan cinta, seperti surat Akong kepada Nurlaili dahulu.
Ingatan Alone pun melayang ke masa itu—ketika ia membantu Akong menulis surat cinta kepada Nurlaili. Surat itu memang berujung penolakan. Bahkan, kenangan tentang cinta yang belum sempat tumbuh itu menyeretnya pada peristiwa lain yang masih melekat di ingatan: ketika ia dan Akong, beberapa tahun silam, menjadi sasaran siraman air limbah oleh Macut, istri Teungku Dolah, saat mereka sedang membaca surat balasan dari Nurlaili di belakang dapur rumah.
Alone manggut-manggut kecil. Barangkali, urusan surat cinta memang tak pernah sesederhana menuliskan kata-kata. Ada hati yang dititipkan di dalamnya, ada harapan yang diam-diam dipertaruhkan, dan ada kemungkinan luka yang harus diterima ketika kata-kata itu sampai kepada orang yang dituju.
Di antara rasa cemas dan penuh harap, Alone pun menyimpan doa yang sama: semoga surat cinta Bang Din kali ini berhasil, dan gadis itu berkenan menerimanya.
Bagi Alone, surat itu bukan sekadar serangkaian kalimat. Ada semacam pertaruhan profesional di sana. Meski tak pernah dikenal dengan status apa pun sebagai “pekerja” penulis surat cinta, kali ini ia merasa sedang menjalankan sebuah pekerjaan yang harus dituntaskan dengan sungguh-sungguh. Pekerjaan itu tak memerlukan tenaga, hanya butuh konsentrasi dan pikiran jernih agar bisa melahirkan karangan surat yang apik sehingga tertambat cinta dari orang yang dituju.
Diam-diam, Alone geli sendiri. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa suatu hari ia harus melakoni pekerjaan sebagai pembuat surat cinta. Tetapi, bukankah ini uang masuk? Naluri bisnisnya pun mulai bekerja. Selama ada yang membutuhkan dan jerih payahnya dihargai, mengapa harus ditolak?
Alone sempat cengengesan sendiri sebelum mulai menulis. Entah apa yang sedang berputar di kepalanya, tetapi tingkahnya itu justru membuat Bang Din penasaran.
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Lon?”
Alone hanya geleng-geleng kecil. Ia belum menjawab. Tangannya mulai meraih kertas, sementara pikirannya sibuk mencari kata-kata yang pantas untuk mengetuk pintu hati seorang gadis yang bahkan belum pernah dikenalnya.
“Siapa nama gadis itu?” tanya Alone sesaat sebelum mulai menulis.
“Tak usah tulis nama. Sebut saja Bunga,” sergah Bang Din, entah takut Alone mengenalnya, entah memang itu nama gadis yang dimaksud.
“Wah, nama gadis ini dirahasiakan benar. Jangan-jangan seperti nama dalam berita koran, hanya disebut Bunga,” celutuk Alone menggoda.
Gelak tawa pun pecah.
“Ah, payah kau. Bagaimana mau jadi pekerja profesional kalau menjalankan profesi saja tak serius?” timpal Bang Din, setengah menghardik, tetapi nada suaranya tetap bercanda.
Alone kembali cengengesan. Kertas di hadapannya masih putih. Namun, di kepalanya, sebuah kisah cinta mulai mencari jalan untuk dituliskan.
“Assalamu’alaikum...”
Alone memulai surat itu:
Kusebut namamu Bunga. Bukan mawar atau melati, bukan pula kemboja atau bunga matahari. Sebab, semua bunga yang mekar di bumi sungguh tak berarti apa-apa bagiku. Namun, di bumi hatiku, hanya bunga cintamu yang selalu mekar. Wewangiannya telah menusuk-nusuk hingga ke dasar kalbuku.
Bang Din membaca paragraf pertama itu perlahan. Wajahnya berbinar. Kata-kata yang ditulis Alone terasa begitu mewakili isi hatinya. Ia mengangguk-angguk, tanda setuju.
Alone pun melanjutkan paragraf kedua:
Bunga... surat ini kutulis dengan tangan yang bergetar hebat, seperti hatiku yang tak pernah berhenti menggelegak, bagai bumi yang diguncang gempa. Kumohon, tuntaskanlah membacanya. Dan kuingin engkau pun merasakan getaran yang sama.
Bang Din semakin girang. Dalam rasa kepayang, ia menepuk-nepuk bahu Alone yang sedang serius menjalankan tugasnya.
“Ini tugas berat. Bayarannya pun mesti besar,” pungkas Alone, sedikit pongah karena merasa telah menjalankan profesionalitasnya dengan baik.
“Tapi, kan, belum selesai suratnya,” tukas Bang Din.
Alone tersenyum.
“Ya, pasti akan diselesaikan secara adat.”
Bang Din terdiam sejenak, lalu keduanya kembali tertawa.
Alone melanjutkan:
Bunga, tahukah engkau? Seulas senyum dari bibirmu yang ranum, bak seulas limou, telah membuatku tersuruk ke dalam cintamu yang terdalam. Sampai akhirnya, aku memberanikan diri lewat sepucuk surat ini, memohon kepadamu untuk menarikku dari danau matamu yang biru dan penuh rindu.
Melalui surat ini, kuharap kita berada dalam satu rasa: rindu nan cinta, rasa kita berdua.
Yang meminta kasihmu, balaslah suratku.
(Syafruddin)
Surat itu dilipat rapi, kemudian dimasukkan ke dalam amplop berwarna biru. Sebelum benar-benar diselipkan ke dalam amplop, surat itu beberapa kali dicium Bang Din, seperti orang yang sedang kerasukan cinta.
“Memanglah, ya. Kalau sedang mabuk cinta, orangnya pun rada-rada gila,” sindir Alone.
Namun, Bang Din seakan tak peduli, sesakit apa pun bahasa sindiran Alone.(***).
(Bersambung...)
¹Paman atau Pak Cik














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda