Kerling “Madam” di Dapur Etomidate

Sebuah industri narkotika baru sedang membangun dapurnya di negeri ini. Peraciknya kebanyakan WN China.
RUMAH mewah di PIK 2 itu ternyata menyimpan dapur lain. Bukan tempat memasak makan malam, melainkan laboratorium yang diduga mampu melahirkan lebih dari 20 ribu cartridge etomidate.
Di dalamnya polisi menemukan bubuk, cairan, timbangan, alat pemanas, ribuan cartridge kosong, serta seorang warga negara China berinisial CF. Tetapi CF tampaknya hanya tangan. Polisi kini memburu kepala yang menyuruh tangan itu bekerja: seseorang berinisial AC.
Kasus PIK 2 tidak boleh dibaca sebagai kejahatan seorang pemuda China yang datang ke Indonesia mencari upah. Jejak etomidate beberapa bulan terakhir menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan: sebuah industri narkotika baru sedang membangun dapurnya di negeri ini.
Pada Agustus lalu, Polda Metro Jaya membongkar clandestine lab di Tangerang dan Penjaringan. Seorang WN China ditangkap. Polisi menyebut sekitar 15 ribu cartridge telah beredar, sedangkan 2,8 kilogram bahan bakunya berasal dari Vietnam.
Belum selesai.
Pada 25 September, Bea Cukai dan Bareskrim menangkap lima warga Malaysia yang membawa lima kilogram serbuk etomidate dari Kuala Lumpur, disembunyikan di dalam sepatu. Pengembangan perkara membawa polisi kepada Wu Song, warga China yang menguasai laboratorium di apartemen Jakarta Utara.
Para kurir dibekuk mengaku bekerja atas perintah perempuan misterius yang dipanggil “Madam”. Komunikasi menggunakan Telegram dan Signal. Dari bahan yang ditemukan, polisi memperkirakan jaringan itu dapat memproduksi lebih dari 42 ribu pod bernilai sekitar Rp127,5 miliar.
Di tempat lain, barang bergerak melalui “sistem tempel”: penjual dan pembeli tak perlu bertemu. Pada September, Polda Metro menyita 261 etomidate di Jakarta Barat dengan pola tersebut. Modus serupa ditemukan di Tangerang.
Maka investigasinya tak boleh berhenti pada siapa sosok CF?
Pertanyaan yang lebih mengerikan ialah: siapa yang membuka jalan bagi jaringan berbahaya dan sebesar ini? Adakah oknum aparat negara kita bersinggungan melindungi bisnis ini hingga mereka begitu leluasa?
Bagaimana warga asing dapat datang, memperoleh rumah atau apartemen, mendapatkan bahan baku, mendatangkan ribuan cartridge, memasang peralatan produksi, lalu bekerja berminggu-minggu di tengah kawasan padat tanpa terendus?
Apakah ada fasilitator lokal? Siapa menyewa tempat? Siapa membayar? Dari mana uang bergerak? Siapa memasok peralatan? Siapa menerima produk akhirnya? Dan adakah orang dalam yang memberi perlindungan?
Sampai hari ini belum tersingkap bahwa ada aparat, pengelola kawasan, pejabat, atau pihak tertentu menjadi beking. Karena itu, tugas polisi, membongkar mata rantai jaringan ini. Bangun penyidikan serius dan mendalam.
Polisi perlu mengejar AC sampai ketemu. Telusuri rekening, telepon, Telegram, Signal, data perjalanan, transaksi sewa, pemasok bahan, jaringan kurir hingga pembeli besar. Cocokkan pula kasus PIK 2 dengan laboratorium yang lebih dahulu ditemukan. Apakah mereka cabang pohon yang sama, atau beberapa sindikat yang sedang berebut pasar Indonesia?
Sebab menangkap tukang masak narkoba bukanlah akhir pemberantasan. Ia baru permulaan.
Seberapa berbahaya etomidate? Penyalahgunaan etomidate dapat menekan sistem saraf pusat, memicu gangguan gerak hingga hilangnya kesadaran. UNODC mencatat zat ini kian marak dicampurkan ke cairan vape di pasar narkoba ilegal Asia Timur dan Asia Tenggara.
Kalau dapurnya berkali-kali ditemukan sementara pemiliknya selalu lenyap, yang harus diburu bukan lagi asap tungku, melainkan tangan yang membuka pintu, memasok bahan, dan menangguk untung.
Benarkah ia seorang “Madam”? Jika ya, polisi jangan bertekuk lutut pada kerling perempuan misterius itu. Tangkap, bongkar jaringannya, dan adili. Sebab yang mereka bakar bukan sekadar etomidate—melainkan tungku dapur masa depan generasi muda Indonesia.















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda