Menjaga Kemandirian Berpikir di Kolom Komentar

Oleh R. Joyo Pasaribu
Saya menemukan sesuatu yang menarik ketika membaca kolom komentar di media sosial. Suatu unggahan yang sama, yang diunggah oleh dua akun yang berbeda dapat memperoleh tanggapan yang sangat berbeda. Ketika komentar awal memberi penilaian yang positif, komentar-komentar berikutnya cenderung menjadi komentar yang positif. Begitu juga sebaliknya, ketika komentar awal bernada sinis dan menyerang, maka komentar selanjutnya akan sinis dan menyerang.
Misalnya, sebuah unggahan membicarakan seorang pejabat yang melakukan sidak mendadak di suatu sekolah. Jika komentar pertama yang muncul berbunyi, “Bapak ini adalah contoh pemerintah yang peduli, bertangung jawab, dan telah melaksanakan tugasnya dengan baik,” biasanya akan muncul komentar-komentar senada di kolom komentar. Namun, ketika unggahan yang sama diunggah ulang oleh pengguna lain dan komentar pertama justru berbunyi, “Beliau sedang pencitraan karena pemilu semakin dekat,” suasana percakapan akan berubah. Kita akan melihat kolom komentar dipenuhi oleh narasi negatif terkait pejabat tersebut. Topiknya sama, tetapi suasana diskusinya berbeda.
Pada awalnya, fenomena semacam ini tampaknya sangat sederhana. Bukankah semua pengguna media sosial bebas untuk mengatakan setuju ataupun tidak setuju? Kita mungkin merasa bahwa pendapat yang kita tuliskan sepenuhnya merupakan pemikiran kita sendiri. “Saya akan mengatakan ya jika memang ya dan mengatakan tidak jika memang tidak,” demikian mungkin pembelaan kita. Tidak seorang pun, termasuk orang yang memberikan komentar pertama, yang dapat memengaruhi saya.
Namun, sebuah penelitian mengenai perilaku manusia di ruang daring menunjukkan bahwa persoalanya tidak sesederhana itu. Hsueh dan Yogeeswaran menunjukkan bahwa komentar yang dibaca seseorang di ruang daring dapat mempengaruhi respons dan komentar yang kemudian ia tuliskan. Temuan tersebut sejalan dengan istilah bandwagon effect, yakni kecenderungan seseorang mengikuti pandangan yang dianggap benar oleh orang lain. Hal ini bukan berarti bahwa kita selalu mengikuti pendapat orang lain, akan tetapi kita cenderung untuk mengikuti apa yang kita kira sebagai pendapat kebanyakan orang.
Di media sosial, kita dapat melihat jumlah orang yang menyukai sebuah pendapat, komentar yang memperoleh banyak dukungan, serta respons orang lain terhadap suatu persoalan. Semua itu memberikan semacam petunjuk mengenai apa yang dianggap benar, pantas, atau populer di mata orang lain. Akibatnya, kita tidak hanya membaca sebuah pendapat, tetapi juga membaca bagaimana orang lain menyetujui pendapat tersebut. Situasinya menjadi lebih rumit ketika kita melihat bagaimana sebuah kolom komentar berkembang. Katakanlah komentar pertama mendukung sebuah kebijakan. Kemudian muncul sepuluh komentar lain yang juga mendukung. Seseorang yang sebenarnya tidak setuju mungkin melihat suasana tersebut, namun mmemilih untuk tidak memberi komentar. Ia merasa pendapatnya berbeda dari kebanyakan orang dan khawatir akan mendapat serangan. Bahkan yang lebih parah, demi menghindari konflik atau ingin merasa menjadi bagian kelompok, seseorang memilih untuk menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan isi pikirannya sendiri.
Maka selanjutnya, suara yang jujur dan berbeda semakin jarang terlihat, sementara pendapat mayoritas semakin tampak seolah-olah menjadi sebuah kebenaran. Sebaliknya, ketika komentar pertama bernada kritis dan kemudian diikuti oleh komentar-komentar serupa, orang yang memiliki pandangan kritis dapat lebih berani menyampaikan pendapatnya. Dengan demikian, suasana di kolom komentar dapat memengaruhi pola pikir seseorang.
Kenyataan ini menjadi penting untuk dicermati karena media sosial bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan. Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, hingga WhatsApp kini telah menjadi ruang publik digital bagi masyarakat untuk memperoleh informasi, membicarakan politik, menilai kebijakan pemerintah, serta menyampaikan pendapat. Di ruang semacam ini, komentar bukan sekadar kalimat yang lewat di bawah sebuah unggahan, melainkan isyarat sosial yang membentuk persepsi pembaca.
Di sinilah pemikiran Immanuel Kant mengenai Sapere aude menjadi sangat relevan. Artinya, kita tidak seharusnya langsung mengikuti pendapat orang lain, tetapi berani menggunakan akal untuk menilai dan menentukan pendapat sendiri. Dalam media sosial, hal ini berarti kita tidak langsung mengikuti suatu pendapat hanya karena banyak orang mengatakan hal yang sama, tetapi berusaha menilai sendiri alasan di balik pendapat tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan kehidupan sosial politik karena media sosial telah menjadi ruang masyarakat membicarakan pejabat, pemerintah, dan kebijakan. Jika masyarakat hanya mengikuti pendapat yang paling ramai, maka opini publik dapat terbentuk tanpa pertimbangan yang mandiri.
Kondisi ini sangat berbahaya karena standart kebenaran bisa bergeser. Sesuatu yang benar tidak lagi dinilai berdasarkan alasan atau bukti yang jelas, melainkan hanya diukur dari seberapa banyak orang yang menyetujuinya. Kebiasaan mengikuti arus ini membuat kita enggan memeriksa ulang informasi dan semakin sulit menerima sudut pandang yang berbeda. Namun yang paling mengkhawatirkan, tanpa disadari kita telah menyerahkan kemandirian berpikir kita kepada orang lain di kolom komentar.
Karena itu, mungkin kita membutuhkan kebiasaan sederhana ketika menggunakan media sosial, yakni berhenti sejenak sebelum mengikuti arus. Sebelum menyukai, membagikan, atau memberikan komentar, kita dapat bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya mengetahui persoalanya?”, “Apakah saya sudah memeriksa informasinya?”, “Apakah saya setuju karena memang memiliki alasan, atau karena banyak orang mengatakan hal yang sama?”, “Jika komentar pertama yang saya baca berbeda, apakah pendapat saya akan tetap sama?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi latihan untuk menjaga kebebasan berpikir. Media sosial memberikan kita kebebasan untuk berbicara. Namun, kebebasan berbicara tidak akan banyak berarti jika kita tidak memiliki kebebasan untuk berpikir. Kita tidak harus selalu berbeda dari orang lain. kita juga tidak harus selalu menentang pendapat mayoritas, namun yang terpenting ialah memastikan bahwa ketika kita mengatakan “ya” atau “tidak”, kita tahu mengapa kita mengatakan demikian.
Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Filsafat, Fakultas Filsafat UNIKA Medan
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda