Breaking News
Memuat breaking news...

Becak Dayung Bertahan di Tengah Persaingan dan Sulitnya Ekonomi

Redaksi
Redaksi
Kamis, 24 September 2026 - 11.52 AM WIB
Becak Dayung Bertahan di Tengah Persaingan dan Sulitnya Ekonomi
Saiful Makruf seorang laki-laki paruh baya selama 31 tahun menjadi penarik becak dayung sejak 1995. Foto diambil Kamis (24/9/2026).Waspada.id/Bambang
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

SERGAI (Waspada.id): Di tengah sulitnya ekonomi, penarik becak dayung masih bertahan mencari nafkah di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), Sumatera Utara.

Mereka setiap hari mengayuh becak untuk mengantar penumpang dan membawa barang.

Ketiga penarik becak yang berusia paruh baya itu biasa mangkal di sekitar pajak tradisional Desa Pekan Tanjung Beringin. Kamis (24/9/2026) pagi.

Dari pekerjaan itu, mereka mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketiga penarik becak tersebut yakni Saiful Makruf, 67, warga Kapten Wanrahmad Dusun VII, Muhammad Yusuf, 53, warga Dusun XIV Ujung Pasar, dan Amin alias Ngantuk 55, warga Gang Damai. Ketiganya warga Desa Pekan Tanjung Beringin.

Meski usia sudah tidak muda lagi, mereka masih menjalani pekerjaan tersebut. Persaingan dengan becak bermotor juga semakin terasa. Penumpang yang menggunakan becak dayung tidak lagi sebanyak dulu.

Saiful Makruf mengatakan, dirinya sudah menjadi penarik becak dayung sejak 1995. Hingga kini, pekerjaan itu masih dijalaninya.

"Sejak tahun 1995 saya bekerja sebagai penarik becak dayung. Sampai sekarang masih inilah pekerjaan saya," ujar Saiful kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).

Menurut Saiful, kehadiran becak bermotor membuat pendapatannya semakin berkurang. Dalam sehari, penghasilannya paling hanya cukup untuk makan. "Kalau soal saingan dengan becak bermotor, bagaimana lagi. Terpuruklah, parah. Pendapatan sehari paling sekadar cukup untuk makan," katanya.

Saiful mengaku sebenarnya ingin memiliki becak bermotor. Namun, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan karena tidak memiliki modal. "Ya, mau bagaimana lagi. Tidak ada modal untuk membeli becak bermotor," ucapnya.

Hal yang sama juga dirasakan Muhammad Yusuf dan Amin alias Ngantuk. Keduanya tetap mengayuh becak meski penghasilan yang diperoleh tidak seberapa.

Di tengah persaingan tersebut, masih ada warga yang memilih menggunakan becak dayung. Salah satunya Suaibattul, 61, warga Jalan Merdeka, yang mengaku sudah menjadi pelanggan.

Perempuan yang biasa disapa Habibah itu mengatakan, dirinya memilih becak dayung karena merasa lebih nyaman dan santai. "Saya memilih naik becak dayung karena enak dan santai. Lagipula sudah menjadi langganan," kata Habibah.

Bagi Saiful, Yusuf dan Amin, selama masih ada penumpang yang menggunakan jasa mereka, pekerjaan sebagai penarik becak dayung tetap akan dijalani. Setiap hari, pedal becak terus mereka kayuh untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga. (bs)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement