Harga : Mengapa Harus Risau

  • Bagikan

Mengapa kita harus risau dengan kenaikan harga harga saat ini. Itu adalah sebuah konsekuensi dari dilaksanakannya pemulihan ekonomi nasional. Pemulihan ekonomi berjalan bertahap dan berproses yang memerlukan biaya dan waktu serta berdampak

Saat ini banyak keluhan muncul atas kenaikan harga harga di pasar. Sejak barang sembako sampai barang konsumsi hasil olahan industri (consumers goods) terlihat naik. Coba lihat harga minyak goreng, susu, makanan kering, barang farmasi dan barang olahan lainnya naik. Ini terjadi secara tiba tiba.

Tak ketinggalan barang yang tergolong sembako juga naik seperti beras, telur, daging ayam, daging sapi, ikan asin dsb juga naik. Konsumen mengeluh tapi tak dapat berbuat banyak. Banyak konsumen yang bertanya mengapa hal ini terjadi. Dikatakan barang tidak cukup juga tidak. Barang tersedia dalam jumlah cukup yang seyogianya tidak memunculkan kenaikan harga.

Faktor awal penyebabnya adalah bergeraknya kegiatan ekonomi sebagai lonceng mulai berjalannya pemulihan ekonomi. Pemulihan ekonomi membawa konsekuensi naiknya harga harga secara perlahan dan bertahap.

Karena naiknya kesempatan kerja dan penghasilan serta daya beli/permintaan. Apa yang terjadi saat ini adalah awal kenaikan harga harga dan akan terus berlanjut sesuai dengan kemajuan pemulihan ekonomi itu.

Naiknya harga barang pemerintah (administered price) memicu pihak swasta ikut menaikan harga. Semuanya berjalan berdasar sebab dan akibat. Dan hal ini akan berpengaruh pada eskalasi kenaikan harga harga selanjutnya. Mau tidak mau konsumen harus dapat menerima keadaan ini secara lapang dada serta dapat menyusun anggaran belanja secara efektif.

Sementara ini mungkin banyak konsumen yang tidak bisa menyisihkan penghasilannya pada tabungan. Yang menjadi pikiran bagaimana pula dengan biaya pendidikan anak yang biayanya saat ini seperti membeli barang mewah.

Berikut adalah naiknya tarif pajak dan bea cukai oleh pemerintah yang dijalankan secara intensif. Pemerintah berupaya mendapatkan penerimaan pajak/cukai dalam jumlah besar bagi mencukupi penerimaan negara yang tercantum dalam APBN 22.

Pemulihan ekonomi nasional memerlukan biaya tinggi yang harus dijalankan. Pajak adalah sumber utama penerimaan negara disamping penerimaan lainnya seperti laba Badan Usaha Milik Negara dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dsb.

Seterusnya kebijakan pemerintah menaikan pajak/cukai memicu kenaikan harga barang yang dihasilkan sektor swasta. Bagi dunia usaha kenaikan pajak sama dengan kenaikan ongkos atas barang yang mereka hasilkan atau yang mereka perjual belikan.

Akhirnya sektor swasta pun tak dapat menahan harga penjualannya untuk tidak naik. Seperti buah simalakana. Kepentingan satu sektor mengganggu kepentingan sektor lain dan hal ini terus berproses pada eskalasi kenaikan harga harga selanjutnya.

Kenaikan harga saat ini diperkirakan berjalan dalam jangka panjang. Dalam jangka panjang kesempatan kerja bertambah dan diikuti oleh kenaikan penghasilan. Kenaikan penghasilan beradu kuat dengan kenaikan harga.

Jika kenaikan penghasilan lebih kuat dari kenaikan harga/inflasi maka konsumen akan menemukan naiknya kesejahteraan walau harus dibayar dalam tingkat harga yang tinggi.

Terkecuali jika kenaikan harga/inflasi lebih kuat dari kenaikan penghasilan maka konsumen akan menjadi collapse. Yang terakhir ini yang sangat dikhawatirkan. Sebab itu pemerintah harus bekerja profesional dan memperhatikan kehidupan rakyat yang berpendapatan rendah.

Jika pemulihan ekonomi berhasil maka pada masa depan akan ditemukan kesejahteraan tinggi. Namun harus ditebus dengan harga yang tinggi pula. Itu berarti kesejahteraan tinggi dan harga juga tinggi. Harga tinggi bukan disebabkan inflasi tapi karena terjadinya perubahan keseimbangan ekonomi.

Keseimbangan ekonomi berubah pada keseimbangan ekonomi tinggi (the high economy equilibrium). Ini adalah hukum ekonomi dan telah berjalan disemua negara maju. Bagi mereka yang sering ke negara maju akan merasakan kesejahteraan tinggi itu tapi harus ditebus dengan harga tinggi.

Sebab itu pada masa mendatang siapa yang produktifitasnya rendah maka ia akan tersingkir dari kesejahteraan. Ia tidak akan mampu mengejar naiknya harga. Diminta pada kelompok milenial agar giat bekerja sambil berinovasi dan berkreasi dan tidak cepat mengeluh.

Keahlian mungkin lebih penting dari gelar bagi mendapatkan keberhasilan. Itu sebabnya pendidikan keterampilan saat ini lebih penting daripada pendidikan umum. Para orang tua harus bersiap mengarahkan pendidikan anak.

Jika diamati kenaikan harga harga saat ini akan menciptakan inflasi. Tingkat inflasi akan naik baik disebabkan oleh kenaikan permintaan (demand pull inflation) atau kenaikan biaya (cost push inflation).

Diharapkan tidak ada konsumen yang berangan angan bahwa harga akan turun. Dalam waktu dekat ini masyarakat harus siap menerima kenyataan bahwa inflasi akan muncul. Untuk masa mendatang diperkirakan hampir tidak ada harga barang dan jasa yang tidak naik.

Jasa pendidikan, jasa transportasi, jasa kesehatan, jasa publik dan jasa yang diberi oleh perorangan dsb pasti naik. Jadi tidak hanya menyangkut pada kenaikan harga barang saja. Ini sebuah tantangan yang harus dihadapi masyarakat masa mendatang.

Banyak anggota masyarakat yang mengartikan pemulihan ekonomi nasional sebagai terciptanya kesejahteraan. Ini benar tapi kesejahteraan itu tidak tercipta secara instan. Ia akan berproses memerlukan waktu dan biaya serta berdampak (inflasi).

Masyarakat harus ikhlas menerima ketidak puasan saat proses sedang berjalan. Jika pemulihan ekonomi berjalan sesuai dengan harapan dipastikan masyarakat akan hidup sejahtera dengan kualitas barang dan jasa pelayanan yang lebih baik. Sebab itu masyarakat diminta sabar menerima beban saat ini bagi mendapatkan kehidupan yang lebih baik masa mendatamg.

Saat ini sektor keuangan Indonesia masih dalam kondisi baik. Cadangan devisa cukup kuat, nilai tukar rupiah relatif stabil, inflasi rendah, suku bunga rendah. Yang menjadi pertanyaan apakah Bank Indonesia dapat mempertahankan kondisi ini dalam jangka panjang.

Di samping dari ekspor dan pasar modal maka faktor eksternal menjadi ancaman akan terjadinya gangguan sektor keuangan Indonesia. Sektor keuangan sangat rentan dengan gejolak atau perubahan dari faktor eksternal.

Kondisi sektor keuangan Indonesia yang baik saat ini dikhawatirkan akan terganggu dari perubahan yang terjadi pada sektor keuangan negara lain.

Seperti contoh yang terjadi di Amerika Serikat baru baru ini. Amerika Serikat melakukan kebijakan yang tidak biasa di sektor keuangan. Mereka melakukan kebijakan yang disebut dengan Tapering.

Kebijakan ini untuk melawan kondisi ekonomi Amerika Serikat yang berjalan tidak normal saat ini. Disana terjadi inflasi tinggi tapi suku bunga acuan nya sangat rendah yang hampir mencapai nol persen. Kondisi ini tidak biasa dan terbalik dengan suasana ekonomi normal.

Kebijakan ekonomi konvensional tidak mampu membangkitkan kembali ekonomi Amerika Serikat. Itu sebabnya mereka melakukan kebijakan yang tidak biasa di sektor keuangan (Tapering).

Kebijakan Tapering menyebabkan naiknya suku bunga di Amerika Serikat dan berakibat terjadinya capital outflow dari negara negara berkembang termasuk Indonesia. Capital outflow akan menekan kinerja Bursa Efek Indonesia dan berlanjut pada menurunnya IHSG dan menurunnya nilai tukar rupiah.

Jika skenario ini berjalan maka harga barang barang di Indonesia terdorong naik. Harga barang jadi asal impor dan bahan baku impor menjadi mahal dan menjadi pendorong naiknya inflasi. Inflasi yang berjalan selama ini akan naik lagi. Ini yang disebut dengan imported inflation. Kondisi ini akan merusak kondisi keuangan Indonesia yang selama ini dikatakan baik.

Saat ini semua harga barang dan jasa di Indonesia naik. Terkecuali suku bunga acuan yang tetap dipertahankan Bank Indonesia dalam tingkat rendah. Jika inflasi di Indonesia naik tak terkendali (hyper inflation) dan Bank Indonesia masih saja menekan suku bunga acuan tetap rendah maka apa yang terjadi di Amerika Serikat saat ini akan terjadi pula di Indonesia.

Inflasi tinggi dan suku bunga acuan rendah. Suku bunga rendah tidak serta merta mendorong tumbuhnya dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi. Masih banyak faktor lain yang juga harus diperhatikan. Tentu Bank Indonesia sudah memikirkan hal ini.

Akhirnya mengapa kita harus risau dengan kenaikan harga harga saat ini. Itu adalah sebuah konsekuensi dari dilaksanakannya pemulihan ekonomi nasional. Pemulihan ekonomi berjalan bertahap dan berproses yang memerlukan biaya dan waktu serta berdampak.

Sebab itu kenaikan harga saat ini adalah hal yang wajar. Sesuatu yang akan baik masa mendatang memang memerlukan pengorbanan saat ini. Pemerintahpun diminta dapat memperhatikan masyarakat kurang mampu dengan memberi subsidi dan bantuan kepada mereka selama masa pemulihan ekonomi berjalan. Terima kasih. WASPADA

Penulis adalah Pemerhati Ekonomi, bhmiraza@gmail.com.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *