Catatan Akhir Tahun Avena Matondang, Soroti Apresiasi Musik Medan

  • Bagikan
Avena Matondang
Avena Matondang

Pada akhir tahun 2023 ini Kota Medan banyak menyelenggarakan peristiwa dalam beragam kategori seni, termasuk seni berkehidupan. Rentang kegiatan seni pertunjukan akhir tahun ini meliputi; musik, rupa, instalasi, kontemporer, hibrid, tradisi dan lain sebagainya.

Catatan seni akhir tahun ini tidak bermaksud memberi analisis secara panjang dan lebar tetapi sebagai catatan singkat, ringan dan peringatan dengan fokus perhatian terhadap kegiatan seni musik.

Tentunya masyarakat Kota Medan mendambakan adanya suatu acara apresiasi terhadap insan musisi secara menyeluruh, sepengetahuan bersama Medan sepi dari usaha apresiasi musik walau memiliki catatan panjang dan lengkap perjalanan musik di Indonesia.

Secara kultural, Kota Medan menjadi tolok ukur perkembangan dangdut modern masa kini lewat lintasan sejarah estetis musik etnis Melayu dan irama musik padang pasir; gambus. Begitupun dengan musik rock, Kota Medan adalah barometer pertunjukan musik rock secara nasional pada paruh era ‘70an dan juga peredaran materi fisik luaran musik; vinyl, kaset pita, compact disc yang masih bertahan hingga saat ini.

Diketahui bersama pada awal bulan November yang lalu diadakan apresiasi terhadap musisi dan karya musik bagi insan pemusik Kota Medan diselenggarakan secara bersama dengan pemerintah Kota Medan, tentunya secara ideal hal ini mengembalikan ruh musik kepada ragawi musik Medan yang lengkap itu, tapi bak panggang jauh dari api, usaha apresiasi tersebut menjadi panggung eksistensi bagi segelintir orang.

Percakapan dengan Avena Matondang, seorang akademisi dan musisi Kota Medan menguak realita lain dari perhelatan tersebut, menjadi hal sumir ketika kategori karya produksi musik menjadi permainan eksistensi, semisal penggabungan antara musik aliran blues dengan reggae pada kategori musik yang sama tentunya menjadi pertanyaan begitu minimnya kah sumberdaya musik blues dan reggae sehingga harus digabungkan? Atau aspek ketidaktahuan panitia menggabungkan dua aliran musik dari aras yang berbeda.

Tidak berhenti di situ saja, terdapat kategori lain yang cukup menggelitik logika, yakni kategori karya produksi world music/kontemporer/tradisional terbaik yang memberikan pada dua nominator, tidak seperti kategori lainnya berjumlah Tiga hingga lima nominator.

Avena Matondang memberikan pandangannya jika hal ini mengingkari proses tumbuh kembang dunia musik Kota Medan menuju arah lebih baik. Pertarungan ideologi world music, kontemporer dan tradisional secara global saja bias hingga hari ini seperti ide dikemukakan Peter Gabriel melalui WOMAD dan WE7.

Selain itu, proses kurasi karya secara tertutup menjadikan acara apresiasi musik Medan ini menjadi batu sandungan dalam mengembangkan ekosistem musik yang layak dan ideal.

Avena mengatakan jikalau ia mengharapkan yang menjadi kurator atau penilai adalah sosok diakui pada kehidupan musik Kota Medan agar dapat memberikan penilaian yang baik dan berbobot secara pengalaman dan akademis, tapi hingga saat ini Avena mengakui jikalau siapa sosok yang menjadi kurator pada perhelatan tersebut masih menjadi tanda tanya besar dan disimpulkannya bahwa proses penilaian menjadi timpang dan berdasarkan soalan suka atau tidak suka semata, bukan pada soal penilaian karya yang kritis, analitis dan akademis.

Secara umum, penyelenggaraan apresiasi musik Medan bisa dibilang sebagai sebuah coda tanpa prelude pada komposisi musik.
Seutuhnya musik Medan adalah milik masyarakat Kota Medan bukan segelintir orang; pemusik, karya, apresiasi dan atribusi lainnya.

Kota Medan memiliki identitas musik yang kaya dari sisi komposisi, ornamentasi, kebudayaan hal ini bukan dibentuk dalam waktu yang singkat melainkan dalam proses perjalanan waktu yang panjang, ada banyak proses pertemuan, pertentangan untuk menjadi komposisi bunyi yang diakui pada saat ini begitupun dengan penyelenggaraan apresiasi terhadap musik Medan yang diakui dilakukan perdana pada tahun ini namun menjadi catatan hitam pada lintasan musik Kota Medan secara panjang.

Dalam pengamatan Avena Matondang sebagai akademisi, belum ada perhelatan sebesar apresiasi musik Kota Medan seperti dilaksanakan pada tahun 2023 ini dan tentunya dengan dana penyelenggaraan yang besar pula namun proses itu menjauhkan musik Kota Medan dari masyarakat pendengarnya, Pierre Schaeffer (1910) menulis gagasan tentang musik konkret sebagai idiom musik adalah setiap bunyi yang dapat ditemukan.

Lebih lanjut Davies (2005) menulis secara gamblang tentang tiga dasar ontologis musik, yang ditujukan kelak agar musik menjadi proses seni membangun kesadaran terhadap bunyi secara bertanggung-jawab, tidak serampangan.

Soalan-soalan dalam dunia musik tentunya tidak selesai pada proses apresiasi secara institusional semata melainkan pada tindakan masyarakat luas di Kota Medan untuk sadar akan peran musik dan komposisi musik yang hidup dalam kehidupan peradaban Kota Medan, hal ini menjadi catatan penting pada proses merangkai bunyi dan musisi Kota Medan dan pembelajaran bahwa merangkai bunyi menjadi materi penilaian bukan sekedar proses mendengar dan melihat akan tetapi meresapi makna dalam karya komposisi musik dan kehidupan musisi sebagai bagian yang tidak terpisahkan pada proses apresiasi; kritik dan saran.(m12)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *