Mandi Sungai Di Lau Mentar, Menyentuh Awan Ke Gunung Meriah

  • Bagikan
Mandi Sungai Di Lau Mentar, Menyentuh Awan Ke Gunung Meriah

By: Nurhalim Tanjung

ADA papan nama berplat besi di pintu rimba menuju sungai di Desa Liang Pematang. Papan nama itu bertuliskan: Selamat datang di Objek Wisata Lau Mentar Canyon.Objek wisata ini cukup populer di kalangan anak muda dari Medan sekitarnya. Mereka suka kemari. Sungainya berwarna putih bening kebiruan dengan jeram-jeram yang menggoda karena mengalir di antara bebatuan. Apalagi ada air terjun yang jatuh dari sungai berselimut pepohonan hutan di atasnya. Dingin, segar, dan basah!

Desa Liang Pematang berada di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deliserdang. Desa ini berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo. Ada jalan setapak melintasi hutan yang menghubungkan Deliserdang dan Karo di sini. “Kami kalau mau ke Karo melewati jalan hutan itu saja, sekitar tiga jam berjalan kaki bisa sampai di Barus Jahe dekat Tahura Berastagi sana,” kata Senang Barus, penduduk Desa Liang Pematang. Tetapi, Barus menambahkan, apabila jalan itu dibangun menjadi aspal atau beton diperkirakan perjalanan bisa menjadi setengah jam saja dengan mengendarai sepeda motor atau mobil.

Mandi Sungai Di Lau Mentar, Menyentuh Awan Ke Gunung Meriah

Kalau dari Medan menuju Desa Liang Pematang membutuhkan waktu 2-3 jam, dengan jarak sekitar 63 kilometer. Perjalanan bisa dimulai dari Amplas ke arah Patumbak atau dari Delitua ke Talunkenas, terus ke Tiga Juhar, lalu melewati Titi Besi yang bertikungan estetik, Danau Linting dan Jembatan Lau Luhung. Saat sampai di persimpangan tiga, silakan ambil jalan Tanjung Muda di sebelah kanan menuju Desa Rumah Liang sebelum masuk Desa Liang Pematang. Jalannya sudah beton, tidak lagi jalan tanah berbatuan seperti dulu. Ada pun jalan sebelah kiri di persimpangan tadi adalah kawasan Tanjung Raja yang menuju Gunung Meriah.

Lembah Sungai Putih

Main-main di Lau Mentar Canyon mengasyikkan. Banyak aliran sungai dari sekitarnya bertemu di sini. Ada aliran sungai yang bening menyejukkan dan ada pula sungai berwarna putih hangat mengandung belerang. Sungai yang disebut terakhir ini lah yang membuat masyarakat Karo di Desa Liang Pematang menyebutnya Lau Mentar, yang berarti Lembah Sungai Putih. Mungkin supaya lebih populer kemudian disebut Lau Mentar Canyon, untuk membuat orang terbayang indahnya Grand Canyon di Arizona, Amerika Serikat, di sini.

Mandi Sungai Di Lau Mentar, Menyentuh Awan Ke Gunung Meriah

Memang, kalau kita melakukan susur sungai dari arah hilir, sungguh Lau Mentar sangat mengagumkan. Tapi untuk mencapai hilir sungai itu pengunjung harus treking melintasi perladangan dan menuruni hutan selama 30-45 menit. Ketika sampai di titik ini maka tampak Lau Mentar benar-benar merupakan sebuah lembah. Patutlah banyak sungai bertemu di sini, termasuk aliran Air Terjun Dua Warna yang datang dari kawasan lebih tinggi di Sibolangit.

Tampak dinding-dinding cadas tinggi yang memanjang ke arah hilir dengan aliran sungai semakin gelap karena diselimuti hutan lebat di sini. Sementara saat menyusur naik ke hulu banyak ditemui gua di tepian sungai, bahkan kadangkala pengunjung harus menembus masuk gua untuk berjalan ke seberang. Sejumlah spot menarik di sungai pun sangat menggoda untuk mandi, berendam, atau lompat ke kolam-kolam mengalir yang terbentuk alami. Pengunjung sering berlama-lama di sini. Asyik lah!

Saking asyiknya, penyusuran dari hilir sampai ke titik sungai di sekitar pintu rimba tadi, mungkin bisa berlangsung selama 2-3 jam, bahkan empat jam pun. Padahal jaraknya sekitar 3 kilometer saja.

Mandi Sungai Di Lau Mentar, Menyentuh Awan Ke Gunung Meriah

Main Air Terjun

Namun kali ini saya dan teman-teman dari Komunitas Mandi Sungai tidak melakukan susur sungai dari hilir Lau Mentar. Maklum, kami sampai di pintu rimba yang ada papan nama berplat besi menjelang siang. Makanya, tidak cukup waktu untuk melakukan susur sungai dari hilir. Apalagi cuaca cepat berubah beberapa bulan terakhir hingga Desember 2023, dimana langit cerah bisa tiba-tiba berubah mendung. Lalu hujan pun turun: byuurrr. Bahaya.

Masuk dari pintu rimba itu kami tinggal mengikuti jalan tanah yang menurun sebentar. Tak lama kemudian gemericik jeram-jeram Lau Mentar pun seakan menarik-narik kami untuk menyeburkan diri. Konon pula air terjun di seberangnya juga mencipratkan titik-titik air, seolah mengajak bercengkrama. Airnya terasa lebih dingin karena jatuh dari sungai di atasnya, yang mengalir dengan melintasi kerapatan hutan. Ada ruang untuk bersandar ke dinding tebing di balik air terjun itu, setiap orang juga bisa menerobosnya guna membasahi kepala hingga sekujur tubuh. Kami mencobanya. Saat menerobos itu serasa kepala disiram shower raksasa. Saya terhuyung-huyung, jatuh tenggelam ke kolam air terjun yang tidak dalam, tapi dingin dan sejuk luar biasa.Seruuu..!

“Sedap kali, bah. Ini harus kita ulangi lagi kemari,” kata Yento, salah seorang dari Komunitas Mandi Sungai, disambut yang lainnya dengan mengangguk. Setuju.

Menyentuh Awan di Gunung Meriah

Puas mandi sungai di Lau Mentar, kami mengambil jalan pulang melalui Gunung Meriah terus ke Bangun Purba dan Galang, lalu singgah untuk makan malam di Lubuk Pakam. Iya, perjalanan menjadi lama karena jaraknya jauh lebih panjang, mencapai 116 kilometer. Tetapi semua itu terbayar lunas karena panoramanya sungguh menakjubkan. Soalnya, awan menggantung di atas kami sepanjang perjalanan. Ini karena Gunung Meriah merupakan kawasan dataran tinggi di Deliserdang, bahkan lebih tinggi dari kawasan STM Hulu dimana Lau Mentar Canyon berada. Makanya, mobil terus menanjak sejak kami keluar dari Desa Liang Pematang.

Mandi Sungai Di Lau Mentar, Menyentuh Awan Ke Gunung Meriah

Kami berulangkali menghentikan mobil di kawasan pegunungan ini. Panorama awan menggantung, yang menyelimuti kawasan Gunung Meriah seusai hujan, sungguh menggoda. Pantang dilewatkan, kami seolah dapat menyentuhnya dengan jangkauan tangan. Suasana pun terasa teduh di jalanan basah yang lengang. Tenang sekali, juga menyejukkan hati.

Ah, sungguh luar biasa: puas mandi sungai di Lau Mentar, kami beruntung bisa menyentuh awan di Gunung Meriah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *