Tim Horas Fisika Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Pengabdian Di Lumban Silintong Pagaran

  • Bagikan
Tim Horas Fisika Mahasiwa Universitas HKBP Nommensen Medan, Prodi Pendidikan Fisika saat melaksanakan program pegabdian kepada masyarakat melalui Progam Innovillage 2023 di Huta Untejungga, Desa Lumban Silintong, Kecamatan Pagaran, Taput. Waspada/ist
Tim Horas Fisika Mahasiwa Universitas HKBP Nommensen Medan, Prodi Pendidikan Fisika saat melaksanakan program pegabdian kepada masyarakat melalui Progam Innovillage 2023 di Huta Untejungga, Desa Lumban Silintong, Kecamatan Pagaran, Taput. Waspada/ist

TAPUT (Waspada) :Tim Horas Fisika Mahasiwa Universitas HKBP Nommensen Medan, Prodi Pendidikan Fisika, melaksanakan program pegabdian kepada masyarakat melalui Progam Innovillage 2023. Program pengabdian yang dilaksanakan mulai tanggal 21 Desember 2023 hingga 18 Januari 2024 itu mengambil judul “Pengabdian Implementasi Teknologi Electric Conductivity Soil Sensor dengan Metode Geolistrik Menuju Pertanian Presisi di Desa Lumban Silintong”.

Tim Horas Fisika Mahasiswa HKBP Nommensen ini diketuai oleh Bulus Tua Purba, dengan 1 anggotanya, Erika Sihombing. Sedangkan Dosen Pembingnya adalah Juliaster Marbun SPd, MSi.

Juliaster Marbun, SPd,MSi mengatakan, Program Innovillage 2023 ini merupakan kompetisi Social Project tahun ke-tiga dengan tema: “Empowering Young Sociopreneur for National Development” dan, tagline #DigitalUntukSemua.

“Program Innovillage 20023 ini mewadahi mahasiswa untuk melakukan kegiatan sosial di tengah-tengah masyarakat yang dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi,” jelas Juliaster Marbun, Dosen Pembimbing Tim Horas Fisika Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen, seraya menambahkan bahwa kegiatan ini di danai melalui Innovillage 2023.

Ketua Tim Horas Fisika Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen, Bulus Tua Purba mengatakan, dengan program ini diharapkan memberikan kebermanfaatan, tidak hanya pada saat pelaksanaan program, namum manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Masyarakat desa merupakan petani dan pertanian menjadi sumber pedapatan utama, namun, kata Bulus Tua, mahasiswa sadar bahwa masyakat belum paham akan struktur lahan pertanian sebelum diolah, seperti ketersediaan air dan drainase.

Dijelaskannya, bahwa struktur tanah mempengaruhi kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air, serta drainase atau kemampuan tanah untuk mengalirkan air berlebih.

“Tanah yang terlalu padat atau terlalu liat dapat menghambat infiltrasi air dan menyebabkan genangan. Sementara tanah yang terlalu berpori bisa membuat air cepat meresap dan mengurangi kelembaban tanah,”jelasnya.

Kemudian, kata Erika Sihombing, menambahkan, adalah masalah aerasi akar. Tanaman memerlukan udara di sekitar akar mereka untuk bernapas dan mengakses nutrisi.

“Struktur tanah yang baik memberikan ruang untuk udara masuk ke dalam tanah, yang mendukung pertumbuhan akar yang sehat dan kuat,”jelas Erika Sihombing.

Selanjutnya, kata kedua mahasiswa semester 5 ini, adalah masalah penyediaan nutrisi. Struktur tanah mempengaruhi kemampuan tanah untuk menyimpan dan menyediakan nutrisi bagi tanaman.

“Tanah yang longgar dan berstruktur baik cenderung memiliki kapasitas yang lebih baik untuk menyimpan nutrisi dan memperbaiki ketersediaan nutrisi bagi tanaman,”terang Bulus Tua Purba dan Erika Sihombing kepada Waspada, Rabu (21/2).

Lalu, tambah Bulus Tua, mengenai masalah erosi tanah. Tanah yang terkikis atau erosi dapat menyebabkan kehilangan lapisan tanah yang subur dan mengurangi produktivitas lahan pertanian.

“Memahami struktur tanah memungkinkan petani untuk mengambil tindakan preventif untuk mencegah atau mengurangi erosi tanah,” sebutnya.

Dan, terakhir, terkait kesesuaian pengolahan lahan. Disampaikan Bulus Tua, memahami struktur tanah akan membantu petani dalam menentukan metode pengolahan tanah yang tepat.

“Seperti pemupukan, penggemburan tanah, atau penggunaan bahan organik. Ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan input pertanian dan mengoptimalkan hasil pertanian,” urai anak pertama dari pasangan Jantu Purba dan Rismawati Lumbantoruan ini.

Dengan memahami susunan struktur tanah, kata Bulus Tua dan Erika, maka petani dapat mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk merawat dan memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan produktivitas pertanian, serta menjaga keberlanjutan lingkungan dan lahan pertanian untuk masa depan.

Masyarakat Desa Lumban Silintong menyambut baik kegiatan tersebut karena dapat membantu untuk membangun pertanian mereka dan berharap agar program seperti itu berlanjut dan dapat perhatian dari pemerintah.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat berlanjut di desa ini karena sangat membantu kami dalam bertani. Kami juga berharap agar pemerintah juga memberikan perhatiannya dan mendukung kegiatan mahasiswa seperti ini,” kata Gokni Purba ditimpali Toga Purba.

Untuk diketahui, dalam program pengabdian ini, selain melakukan instalasi sensor tanah, mahasiswa juga memberikan pelatihan kepada petani setempat tentang penggunaan dan manfaat teknologi.

Diharapkan petani di Desa Lumban Silintong dapat memanfaatkan informasi yang diperoleh dari sensor tanah untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan meningkatkan hasil panen mereka.

Melalui penerapan teknologi canggih ini, para mahasiswa berharap dapat memberikan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan pertanian modern.(chp)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *