MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan global dan domestik menunjukkan tren beragam pada awal perdagangan hari ini, Kamis (16/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas tercatat menguat, namun nilai tukar rupiah justru masih melanjutkan pelemahan.
IHSG yang sempat terkoreksi pada penutupan perdagangan sebelumnya, kembali dibuka menguat di level 7.663, seiring dengan penguatan mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Sentimen positif ini didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap potensi kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat dalam pertemuan lanjutan mereka.
Di sisi lain, rupiah justru melemah ke level Rp17.140 per dolar AS. Kondisi ini dinilai cukup kontras, mengingat dolar AS secara global justru menunjukkan pelemahan. Indeks dolar (USD Index) tercatat stabil cenderung turun di kisaran 98,02, bahkan melemah terhadap sejumlah mata uang Asia seperti baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Hong Kong.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai pelemahan rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor domestik dibandingkan sentimen global.
“Rupiah saat ini menghadapi tekanan dari dalam negeri, seperti meningkatnya beban fiskal, tekanan pada neraca pembayaran, serta kebutuhan intervensi yang terus dilakukan. Secara fundamental, persoalan supply dan demand valas masih menjadi tantangan utama,” ujar Gunawan.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut berpotensi membebani pergerakan IHSG selama sesi perdagangan, meskipun saat pembukaan terlihat menguat.
Sementara itu, harga emas dunia juga mencatat kenaikan tipis ke level 4.820 dolar AS per ons troy, atau setara sekitar Rp2,67 juta per gram. Kenaikan harga emas terjadi di tengah stabilnya harga minyak mentah dunia.
Menurut Gunawan, penguatan emas masih didorong oleh faktor kehati-hatian investor yang menunggu kepastian arah geopolitik global.
“Ekspektasi pasar terhadap potensi perdamaian Iran dan AS memang memberi sentimen positif, namun di saat yang sama investor tetap mengamankan asetnya di emas sebagai safe haven,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, pasar masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global dan stabilitas fundamental ekonomi domestik dalam jangka pendek. (id09)










