Al-Khiyanah

  • Bagikan

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat” (QS. Al-Anfal: 58)

Dalam kamus Bahasa Arab Al-Maany disebutkan, kata Al-Khiyanah berasal dari kata Khona yang bermakna berkhianat. Kata Khona sepadan maknanya dengan Irtadda ‘an-Addiini. Dalam kamus Al-Munjid, Irtadda secara estimologinya berarti Shorofa (menolak atau berpaling). Dalam kamus Al-Munawwir halaman 774,  jika kata Shorofa diberikan tasydid menjadi kata shorrofa, maknanya menguat yaitu “banyak menolak” atau“banyak berpaling”.

Irtadda atau riddah yang memiliki kedekatan makna dengan Al-Khiyanah, banyak dipakai dalam kitab-kitab fiqh. Istilah Riddah juga sepadan maknanya dengan kata munafiq atau nifaq. Intinya, kata Al-Khiyanah akan bermuara pada kata munafiq.

Suatu hari, Ibrahim bin Adham diminta tuannya seorang pemilik kebun apel mengambilkan apel paling manis di kebun tersebut. Berkali-kali Ibrahim mengambil buah apel yang pahit. Sehingga tuannya mulai geram dan marah, lalu bertanya: “Apa alasanmu tidak bisa mengambil buah apel yang manis untukku padahal engkau telah lama bekerja di kebun ini?”

Ibrahim menjawab, “Maaf tuanku, selama aku menjadi tukang kebun, aku tidak pernah mencicipi satu buah apel pun yang jatuh sehingga aku tidak tahu pohon apel mana yang berbuah manis. Dan sekiranya aku memakannya tanpa seijinmu, sungguh aku telah berkhianat. Padahal aku diberi upah hanya sebagai tukang kebun”.

Selanjutnya kisah yang pantas dijadikan ibrah ialah keamanahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam didatangi istrinya di tempatnya biasa mengurus keperluan rakyat. Umar langsung mematikan lampu. Istrinya pun kaget. Umar bertanya: Apakah urusanmu menemuiku istriku, jika ini adalah urusan keluarga, maka tidaklah pantas kita dengan minyak dan cahaya lampu ini. Sedangkan jika urusan yang terkait dengan kemaslahatan rakyat, tentulah lampu ini dihidupkan”.

Istrinya mengatakan kedatangannya karena ada urusan penting berhubungan dengan rakyat. Umar pun menghidupkan lampu lalu menyelesaikan urusannya.

Dua kisah di atas ibrah-nya betapa besar sifat amanah dan hati-hatinya Ibrahim bin Adham dan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Mereka menjauhkan diri dari perkara syubhat terlebih haram. Berdiri tegar di atas amanah sehingga tidak terjatuh pada lembah Al-Khiyanah atau kemunafikan. Dari Abdullah bin Amr ra, Rasulullah SAW bersabda :

“Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda (sifat) ini, maka ia disebut sebagai munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu dari tandanya, maka dalam dirinya ada sifat kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu (seseorang) jika diberi amanat, maka ia berkhianat, jika berbicara, maka ia berdusta, jika berjanji, maka ia tidak menepatinya, jika berselisih faham, maka ia berbuat zalim” (HR. Muslim)

Riwayat lain yang senada disebutkan, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, jika (seseorang) berkata maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, dan jika dipercaya maka berkhianat” (HR. Bukahri dan Muslim)

Dapat ditarik interpretasi bahwa orang yang berbuat Al-Khiyanah sungguh telah jatuh pada lembah kemunafikan (nifaq). Secara umum, manusia menerima dua amanah. Pertama, amanah ilahiyah. Yaitu amanah langsung dari Allah kepada hamba-Nya melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, amanah lin-naas, yaitu amanah berkaitan dengan urusan manusia.

Hari ini adalah masa-masa dimana teramat sulit mendapatkan orang yang benar-benar menjaga amanah. Dalam lingkungan kerja dan pergaulan, seringkali kita dihadapkan dengan orang-orang yang berkhianat. Sebagai contoh, karyawan yang bekerja dengan atasannya, hendaklah menjaga amanah tersebut. Karena jika ia berkhianat atas harta atau waktu bekerjanya, sungguh ia telah menzalimi hak-hak manusia.

Penghianatan termasuk dosa yang buruk. Allah menyediakan balasan yang setimpal kelak bagi para penghianat.”Setiap penghianatan akan mendapat bendera di hari Kiamat. Disebutkan ini penghianatan si fulan dan ini penghinatan si fulan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Khiyanah termasuk jalan pintas tercepat menuju Neraka. Ingatlah bagaiamana Al-Qur’an mengisahkan penghianatan istri nabi Nuh as dan Luth as. Sehingga Allah menghukum keduanya dengan siksa pedih. Serta menjadi buah bibir manusia atas penghianatan mereka kepada Allah dan Nabi. “…Lalu kedua istri (Nuh dan Luth) itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suami tersebut tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah” (QS. At-Tahriim: 10)

Al-Khiyanah (berkhianat) termasuk Akhlakul mazmumah yang menjadi tanda kemunafikan. Allah membenci orang berkhianat. Penghianatan bukanlah sifat orang beriman melainkan tabiat asli atau sifat buruk orang Yahudi. Sehingga hati mereka menjadi keras melebihi kerasnya batu. Mereka enggan ketika diberikan peringatan. Dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat penghianatan dari mereka, kecuali sedikit (saja) dari mereka” (QS. Al-Maidah: 13)

Mudah-mudahan Allah senantiasa menumbuhkan sifat amanah dan menjauhkan kita dari keburukan Al-Khiyanah. Kepada Allah sajalah memohon petunjuk dan segala kebaikan. Aamiin. (Wakil Divisi Penjamin Mutu Pendidikan/PMP Pesantren “Darul Mursyid”, Tapanuli Selatan)

Penulis: Oleh Darwis Simbolon, S.Pd., M.Pd
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *