Kisah Rasulullah SAW Dalam Perang Khandaq (Bagian 1)

  • Bagikan
Kisah Rasulullah SAW Dalam Perang Khandaq (Bagian 1)
ZIARAH MASJID KHANDAQ: Jemaah haji Indonesia, salat sunnah saat berziarah di masjid tujuh persis di lokasi Perang Khandaq di Madinah, Arab Saudi. Waspada/Muhammad Ishak

Laporan Haji: Muhammad Ishak

MASJID Khandaq atau Masjid Al Ahzab merupakan salah satu destinasi bersejarah di Kota Suci Madinah, Arab Ssudi. Masjid yang berjarak 2,5 kilometer dari Masjid Nabawi ini menjadi saksi bisu peristiwa perang Khandaq Tahun 5 Hijriyah (Maret – April 627 Masehi.

Penulis yang tergabung dalam Tim Media Center Haji (MCH) Tahun 2023 Daker Madinah, mendapat kesempatan menziarahi tempat bersejarah tersebut. Setelah menunaikan salat sunah tahiyyatul masjid dua rakaat, lalu mengabadikan masjid-masjid kecil yang menjadi situs sejarah Perang Khandaq.

Sore itu, kebanyakan umat Islam yang menziarahi lokasi Masjid Khandaq merupakan jemaah dari beberapa negara, diantaranya jemaah dari Indonesia, India, Iran, Pakistan, Turkey, Malaysia, Filipina, dan Masir. Secara bergantian, jemaah masuk untuk salat sunnah, bahkan sebagian menunaikan salat asar.

Di lokasi, tampak enam masjid kecil masih berdiri kokoh. Bangunan-bangunan tersebut membentuk gugusan layaknya seperti pos pengawasan dalam sebuah benteng. Sementara itu, di tengah-tengah berdiri masjid kecil itu tampak sebuah masjid besar nan megah yang disebut Masjid Khandaq.

Jarak antara masjid kecil satu dengan masjid kecil lainnya berkisar antara 100-130 meter. Berdasarkan keterangan yang tertulis di banner area tersebut menjelaskan, Masjid Khandaq yang berada di sebelah barat Gunung Sela ini memiliki sejumlah nama yakni, Masjid Al Fath, Masjid Al Ahzab serta Masjid Al A’la.

Masjid tersebut didirikan tepat di mana parit-parit dibangun dahulu para sahabat Rasulullah SWA untuk membentengi serangan kafir Quraisy Makkah. Masjid yang dibangun tahun 1928 hijriah itu, khususnya kubah merupakan tempat duduknya Nabi Muhammad SAW memanjatkan doa.

Di lokasi tersebut terdapat enam masjid tambahan yang diberi nama sesuai dengan nama sesuai dengan nama penjaga pos-pos ketika terjadinya Perang Khandaq, diantaranya Masjid Salman Al Farisi, Masjid Abu Bakar, Masjid Umar, dan Masjid Ali, serta Masjid Saad bin Muadh.

Seluruh masjid di area lereng gunung itu kemudian dikenal dengan masjid tujuh. Tetapi jika menghitung jumlah masjid yang ada disana hanya terdapat enam masjid yang saling mengelilingi gunung.

Sejarah menyebutkan, masjid tujuh adalah Masjid Ar Rayah, karena kedekatannya dengan wilayah Khandaq dan area tersebut menjadi medan pertempuran. Seluruh masjid tersebut dibangun di masa pemerintahan Omar bin Abdulaziz.

Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal di tahun kelima hijriah. Perang Khandaq terjadi karena para pemimpin Bani Nadir (kaum Yahudi–red) yang sebelumnya dievakuasi dari Madinah, lalu mencari perlindungan ke kaum kafir Quraisy di Makkah.

Mereka adalah Huyay bin Akhtab, Salam dan Al-Rabee bin Abi Al-Haqeeq dan Kinana bin Al-Rabee’ yang mencari perlindungan ke kaum kafir Quraisy Makkah. Lalu kaum Bani Nadir merencanakan penyerangan ke Madinah melalui wilayah Ar Rayah.

Mengetahui rencana penyerangan tersebut Rasulullah SAW dan para sahabatnya berinisiatif menggali parit. Setiap 10 kaum muslim membuat satu titik parit dengan ketinggian mencapai tiga meter.

“Di parit inilah lalu dibangun masjid-masjid kecil ini sebagai pengingat lokasibm yang menjadi medan pertempuran kaum muslimin dengan kafir Quraisy,” kata Kasi Media Center Haji (MCH) Daker Madinah PPIH Arab Saudi, Ubaidillah, Rabu (19/7).

Pertemuan melibatkan 3.000 kaum muslimin itu dipimpin Rasulullah SAW melawan 10.000 pasukan Kafir Quraisy. Namun, berkat kesabaran akhirnya perang yang berlangsung lebih 20 hari itu dimenanhkan kaum Muslimin. “Berkat kesabaran dan bertahan di dalam parit, akhirnya kaum muslimin berhasil mencalai kemenangan,” urai Ubaidillah.

Nah, dari perang Khandak dapat diambil pelajaran bahwa peperangan harus memiliki kesabaran dan keyakinan serta keikhlasan. Terbukti, dalam perang Khandak pasukan kaum Muslimin berhasil merebut kemenangan. Berbeda dengan Perang Badar, akibat ketidaksabaran dan ambisi merebut harta rampasan Kagir Qurasy, akhirnya kaum muslimin kalah dan Rasulullah SAW juga terluka.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *