Pemindahan Nisan Kuno Bertipe Nisan Pasai Di Genangan Bendungan Keureuto Bergejolak

Laporan: Maimun Asnawi, S.Hi.,M.Kom.I

  • Bagikan

KEPADA Harian Waspada, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Bendungan Keureuto dari Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Fardianti, ST.,MT (foto) perlahan-lahan dan dengan penuh kehati-hatian bercerita bahwa teman-teman dari abipraya – indra – nusa kso. yang sedang melaksanakan pekerjaan di daerah genangan bendungan menemukan ratusan makam bernisan kuno.

Makam-makam bernisan kuno itu berada di daerah hulu dan untuk mengantisipasi agar tidak tenggelam setelah bendungan itu selesai dikerjakan, maka teman-teman pelaksana pada Proyek Startegis Nasional (PSN) yaitu dari abipraya – indra – nusa kso. berinisiatif untuk merelokasikan makam-makam bernisan kuno tersebut ke tempat yang lebih aman.

Kata Fardianti, sebelum relokasi makam dilakukan, Abipraya – indra – nusa kso. lebih dulu mengadakan pertemuan dengan masyarakat sekitar di Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara. Mereka di sana memanggil tokoh masyarakat, tokoh adat, dan para alim ulama. Bukan hanya tokoh dari Aceh Utara yang diundang, akan tetapi juga para tokoh dari Kabupaten Bener Meriah. Dari sana yang diundang para reje.

Setelah mendapatkan sebuah kesepakatan, Abipraya – indra – nusa kso. melaksanakan doa bersama untuk kegiatan pemindahan makam-makam bernisan kuno tersebut. Pada saat proses relokasi sedang dilakukan muncul gejolak dari pihak yang mengaku ahli waris dari salah satu makam bernisan kuno tersebut di Kabupaten Bener Meriah.

Karena muncul protes dari pihak yang mengaku ahli waris, maka proses relokasi makam bernisan kuno di Proyek Strategis Nasional (PSN) itu dihentikan sementara waktu. Selanjutnya, kata Fardianti, Pj Bupati Bener Meriah membuat rapat khusus dan Fardianti mengaku datang memenuhi undangan tersebut.

“Saya datang menjelaskan kepada mereka di sana tentang mengapa makam-makam bernisan kuno itu harus dipindahkan. Saya jelaskan kepada mereka, ketika Proyek Strategis Nasional (PSN) itu telah selesai dikerjakan oleh teman-teman rekanan maka pada proses impounding (pengisian awal), maka yang paling awal tergenang itu adalah makam-makam tersebut. Karena makam-makam itu berada di daerah hulu. Untuk mengatasi agar tidak tenggelam, maka kami berinisitif untuk merelokasikan ke tempat yang lebih aman dan tentunya lebih tinggi dari elevasi bendungan. Proses pemindahan dilakukan secara muslim,” sebut Fardianti.

Kemudian setelah menjelaskan hal tersebut, Fardianti menyampaikan permintaan maafnya kepada tokoh masyarakat, tokoh adat, alim ulama, dan juga kepada pihak yang mengaku ahli waris dari salah satu makam di sana tentang kealpaan pihaknya untuk memberitahukan pihak ahli waris. Pasalnya, kata Fardianti, pihaknya tidak tahu masih ada ahli waris dan pihaknya menganggap itu merupakan makam bernisan kuno yang ditaksir berusia 700 tahun lalu.

“Karena sekarang sudah ada yang mengaku ahli waris, maka kita meminta maaf. Bukan kami tidak menjumpai pihak ahli waris pada saat relokasi makam kita lakukan pada Agustus lalu. Kita tidak tahu bahwa ada pihak ahli waris dari salah satu makam di sana. Kami tidak tahu harus menjumpai siapa,” sebut Fardianti meyakinkan.

Kembali dari rapat dengan Bupati Bener Meriah, Fardianti selaku Kasatker pada Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Keureuto membentuk tim. Lalu BWS Sumatera I berkirim surat kepada Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Provinsi Aceh untuk menindak lanjuti masalah tersebut.

Setelah mendapat persetujuan Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Aceh, BWS Sumatera I membentuk Tim Investigasi, Inventarisasi dan Dokumentasi Objek Diduga Cagar Budaya (ODCP) pada pekerjaan Penyelesaian Pembangunan Bendungan Keureuto, Kabupaten Aceh Utara (MYC).

Selanjutnya, tim yang diketuai oleh Kepala Sub Koordinasi Cagar Budaya Dishubpar Aceh, Yudi Andika turun ke lokasi hulu Bendungan Keureuto. Mereka di sana menghabiskan waktu lebih kurang tiga minggu untuk proses investigasi, inventarisasi dan dokumentasi. Tim tersebut menginap di sana.

“Untuk memaparkan hasil temuan tim investigasi dan dokumentasi kita buat Focus Group Discusion (FGD) di Hotel Diana Lhokseumawe, Kamis (19/10) kemarin. Harapan kami setelah dipaparkan hasil temuan di sana seluruh masyarakat dapat menerimanya dengan baik. Kita sebagai pelaksana Proyek Startegis Nasional (PSN) bisa melanjutkan pekerjaan di sana dan persoalan makam bernisan kuno terselesaikan dengan baik,” sebut Fardianti.

Ditanya, jika setelah FGD selesai dilaksanakan dan ternyata pihak yang mengaku ahli waris tidak setuju dengan hasil FGD tersebut, Fardianti mengatakan, jika makam-makam kuno itu tidak bisa dipindahkan, maka pekerjaan PSN Bendungan Keureuto tidak bisa diteruskan. Agar PSN tidak terhenti, maka pihak BWS Sumatera I harus mencari jalan keluar terbaik, agar pekerjaan proyek tetap berjalan. Kenapa harus demikian, karena PSN tersebut dibangun untuk kepentingan (kelangsungan hidup) masyarakat banyak.

“Bukankah dengan direlokasi ke tempat yang lebih aman itu lebih baik. Di sana kita siapkan tempat yang lebih layak (komplek makam), kita siapkan akses sehingga nantinya dapat diziarahi dan dikunjungi kapan saja oleh ahli waris atau oleh siapapun yang ingin mengetahui sejarah tentang makam-makam bernisan kuno tersbut. Karena setiap budaya punya ciri khas masing-masing. Ingin mempelajari budaya, maka dipersilahkan datang ke situ nantinya. Tapi jika dibiarkan tetap berada di daerah hulu, maka kami pastikan makam-makam itu tenggelam,” terang Fardianti. WASPADA.id

Baca juga:

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *