Guru Multitalenta Katalisator Pendidikan Kini Dan Esok

  • Bagikan
Guru Multitalenta Katalisator Pendidikan Kini Dan Esok

Oleh Tabrani Yunis

Usai sarapan pagi di warung Cut Nun, yang letaknya hanya berjarak 50 meter dari POTRET Gallery, penulis bergerak berjalan kaki ke POTRET Gallery. Rencananya mau live mempromosikan barang-barang yang ada di POTRET Gallery. Belum sempat melakukan hal itu, penulis menemukan dua buku menarik yang penulis simpan beberapa hari lalu. Buku yang pertama berjudul “ Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia” karya Haidar Bagir dan buku kedua berjudul, Merdeka Belajar( Menjadi Manusia Autentik)” karya Momon Sudarma. Kedua buku itu melahirkan sebuah inspirasi bagi penulis untuk menulis, sebagaimana biasanya ide itu bisa datang ketika melihat atau membaca judul buku, dan juga ketika sedang membacanya. Juga tidak tertutup kemungkinan setelah membaca buku. Pokoknya ide menulis itu bisa datang dari segala arah yang dicari atau yang tak terduga-duga. Yang penting selalu punya keinginan untuk mencarinya. Kalau sudah dapat, berusahalah untuk menulisnya, agar ide tersebut tidak hilang atau lenyap begitu saja.

Ketika membaca dua bab dari buku- buku tersebut penulis mendapat ide untuk menulis mengenai guru. Penulis membayangkan sosok guru yang multitalenta serta bertanya-tanya dalam hati. Seperti apakah guru multitalenta itu. Berapa banyakkah guru yang multitalenta di antara 3.36 juta guru di Indonesia ini? Perlukah bagi negeri ini memiliki banyak guru yang multitalenta? Banyak sekali pertanyaan yang keluar dari benak atau pikiran penulis, yang akhirnya mendorong penulis untuk menulisnya.

Sebelum lebih lanjut kita bicarakan soal guru multitalenta, akan lebih baik bila kita samakan persepsi tentang guru multitalenta tersebut. Multitalenta, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan multitalents. Artinya banyak bakat atau talenta. Kata multitalenta ini biasanya ditambat kepada seseorang yang memiliki bakat lebih dari satu. Bisa pula diartikan dengan sebutan serba bisa.

Karena tulisan ini ingin memaparkan tentang guru multitalenta, maka pertanyaan lanjutan seperti apa sosok guru yang multitalenta itu, bisa pula kita deskripsikan dengan berbagai profil. Artinya, sesuai pula dengan sebutan yang multi tersebut. Sosok guru multitalenta adalah guru yang memiliki kemampuan, ketrampilan dan bakat yang lebih atau banyak, sehingga layak disebut sebagai sosok guru yang istimewa. Sosok guru multitalenta bukan hanya bisa melaksanakan peran dan tugas mengajar dan mendidik peserta didik dengan tugas profesional yang dibebankan pada dirinya.

Bukan hanya itu, sosok guru multitalenta juga bisa melakukan hal-hal lain di luar tugas pokok atau peran profesional sebagai guru yang mengajarkan satu mata ajaran. Biasanya pula, guru yang multitalenta ini bisa sekaligus menjadi guru yang multitasking. Sehingga ia mampu melakukan tugas dan perannya sebagai guru yang menarik, impresif dan inspiratif.

Kehebatannya, selain menjadi sosok yang kreatif, innovatif dan produktif, guru multitalenta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang sedang berlangsung. Jadi guru multitalenta bisa terlihat superlatif. Sosok guru multitalenta sebenarnya juga menjadi sosok guru yang pembelajar. Ia suka belajar dan belajar meningkatkan kapasitasnya, walau juga memiliki kelemahan, karena tidak bisa menjadi specialis, tetapi generalis. Artinya ia tidak bisa fokus dan ahli pada satu bidang saja, sebagaimana kebanyakan orang yang memilih menjadi sosok profesional yang specialis atau khusus.

Kita tidak tahu berapa banyak guru yang memiliki multitalenta dari jumlah guru yang kini sudah lebih dari 3.36 juta guru di negeri tercinta ini. Tidak ada data yang bisa kita peroleh.Mungkin belum ada yang melakukan pendataan terhadap jumlah guru multitalenta ini. Padahal di tengah hiruk pikuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ketika gadgets lekat di setiap tangan, termasuk guru dan para peserta didik, gaya hidup terus berubah mengikuti gerakan waktu data guru multitalenta itu sangat dibutuhkan.

Hal ini penting karena semakin cepat perubahan berganti. Ya, perubahan yang menyebabkan terjadinya disrupsi yang terwujud pada banyaknya yang hilang dan banyak pula yang tumbuh subur, bagai kata pepatah, patah satu, tumbuh seribu. Disrupsi yang melanda semua sektor atau bidang si dalam kehidupan kita. Fenomena ini tanpa kecuali merambah ke dalam dunia pendidikan, sehingga dengan derasnya arus perubahan saat ini diperlukan guru yang mampu beradaptasi dengan perubahan yang terus berlanjut.

Momon Sudarma dalam bukunya “ Merdeka Belajar, Menjadi manusia otentik”, mengingatkan kepada kita bahwa perkembangan peradaban modern sedang memasuki industri 4.0 atau society 5.0. Industri 4.0 merupakan tantangan terbuka untuk pengembangan ketrampilan abad 21. Ketrampilan abad ke 21 ini di antaranya adalah 4 C yakni critical thinking, communication, collaborative, creative and innovative, STEM ( Science, technology, Engineering, match ) dan juga multiliteracy yang dibutuhkan generasi milenial. Pertanyaannya, apakah para guru kita sudah siap menghadapi tantangan itu? Pertanyaan lanjutannya, ketika hadirnya banyak sumber dan model pembelajaran yang berbasis digital seperti belajar virtual dengan segala karakternya akan membutuhkan banyak guru atau sebaliknya, malah tidak membutuhkan banyak guru, termasuk guru yang multitalenta, multitasking dan guru multiple inteligences seperti yang kita bicarakan ini. Karena guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar dan sumber pengetahuan bagi para peserta didik. Namun demikian, apa pun alasannya, seiring dengan cepatnya arus disrupsi yang terus terjadi, guru dipaksa untuk berubah, agar tidak terlindas oleh kemajuan teknologi dan kehilangan peran. Oleh sebab itu, guru memang harus terus belajar mengelola kemampuan atau kompetensi diri dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai guru di era 4.0 atau era society 5.0 ini.

Nah, sejalan dengan program pemerintah era Jokowi dengan nahkoda kementrian pendidikan di tangan Nadiem Makarim, telah meluncurkan kurikulum merdeka dan merdeka belajar, maka seharusnya guru-guru yang multitalenta bisa dijadikan sebagai sebuah pilihan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka. Walau dalam hal ini kemdekbudristek telah menyiapkan guru-guru penggerak, kepala sekolah penggerak serta sekolah penggerak, menyiapkan guru yang multitalenta adalah sebuah keniscayaan.

Ya, dunia pendidikan seperti halnya di Indonesia yang tengah menerapkan kurikulum merdeka, membutuhkan guru-guru yang multitalenta. Guru yang multitalenta, karena guru yang multitalenta, sesungguhnya juga memiliki multi inteligence dan bisa bergerak lebih kreatif, innovatif, inspiratif dan juga berorientasi ke masa depan peserta didik dengan menghadirkan solusi yang membahagiakan para peserta didik, kapan saja, di mana saja dan dalam kondisi apa saja. Guru multitalenta juga menjadi guru yang mampu menjalankan fungsi dan peran guru penggerak yang kini dibutuhkan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka saat ini. Oleh sebab itu, selayaknya pemerintah bisa mengidentifikasi dan melakukan pendataan terhadap guru yang ada di tanah air, dengan banyaknya guru yang multitalenta, bisa diorganisir serta dikelola untuk mempercepat pelaksanaan kurikulum merdeka. Guru Multitalenta sekaligus menjadi katalisator penerapan kurikulum merdeka. Mari kita bergerak dengan lebih cepat dan sigap.

Pegiat literasi dan pensiunan guru Bahasa Inggris, berdomisili di Banda Aceh

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *