Sinema Budi Pekerti

  • Bagikan
Sinema Budi Pekerti

Oleh Budi Agustono

Menjadi guru dalam era media sosial tidaklah mudah. Salah berbicara dan salah bertindak amat mudahnya divideokan dan disebarkan ke dunia maya

25 November adalah Hari Guru. Di awal abad kedua puluh guru memainkan peran signifikan dalam menggerakkan perubahan sosial. Status sosialnya tinggi dan menjadi agensi perubahan masyarakat. Peran guru masa lalu dan kekinian tentu berbeda. Peran guru di masa digitalisasi teknologi atau masa rezim media sosial sangat kompleks yang digambarkan kompleksitas itu dengan baik dalam film Budi Pekerti yang sedang diputar di bioskop kota besar.

Film Budi Pekerti bertutur soal guru perempuan Prani Siswoyo (Inge Febrianti) bersuami Didit (Dwi Sasono) berputra dua anak Mukhlas (Angga Yunanda) dan Tita (Prilly Latuconsina) yang diadili media sosial dengan seting masa berkecamuknya Covid 19. Citra guru dilukiskan berada di golongan ekonomi menengah bawah dengan kehidupan keseharian ditindih berbagai bongkahan persoalan namun harus berdisiplin tinggi mengajar mendidik dan membimbing murid.

Prani Siswoyo selain sebagai guru Bimbingan Konseling juga mengajar dan mendidik tidak pernah terlupa sekejap pun membawa ponsel. Ponsel merupakan perlengkapan teknologi dan kesempurnaan hidup dalamjagad pendidikan saat ini. Sebagai guru saban waktu selalu membuka ponsel mengakses kebaruan informasi. Di masa pandemi global proses belajar mengajar di sekolah selalu memakai zoom. Penggunaan zoom, laptop dan ponsel menjadi bagian utama dalam proses belajar mengajar. Melalui zoom, laptop, ponsel dan tentu saja jaringan internet yang mengglobal sampai menembuas jantung perkampungan murid sekolah semakin akrab dengan teknologi digital dan media sosial. Murid sekolah sangat akrab dengan istilah-istilah digital dan media sosial kekinian yang tak pernah dijumpai di masa- masa sebelumnya

Didit, suami Prani Siswoyo mengalami penyakit gangguan mental yang harus secara teratur berkonsultasi dengan psikolog. Didi menyadari pengobatan penyakitnya memerlukan biaya. Dari mana uang mengobati penyakit ini. Demi menyenangkan dan menghibur suaminya Prani dengan enteng mengatakan,” saya akan diangkat sebagai Wakil Kepala Sekolah, (Wakasek). Jabatan Wakasek memang sedang lowong tapi entah kapan Prani Siwoyo dilantik.

Mukhlas dan Tita mempunyai pekerjaan berbeda. Muhklas setiap harinya mencari konten berita karena seorang pendengung, influencer. Sedangkan Tita berbisnis pakaian bekas layak pakai. Hidup keluarga Prani Siswoyo biasa biasa saja malah agak jempalitan menegakkan hidup. Rumah masih mengontrak dan ditagih untuk melunasi uang kontrakan. Namun suasana berkekurangan tak pernah menyurutkan semangat Prani Siswoyo mengajar di sekolah. Ibu guru ini selalu memerbarui informasi melalui jaringan internet di telepon selularnya.

Suatu pagi ketika hendak berangkat bekerja Prani Siwoyo meminta anaknya membelikan sarapan untuk suaminya yang akan ditinggal kerja. Ia meminta Mukhlas dan Tita membeli sarapan buat ayahnya. Mukhlas menolak permintaan ibunya ke pasar lantaran sibuk bermain ponsel sebagai pendengung. Tita idem dito berkeberatan ke pasar dengan alasan sibuk dengan pakaian bekas layak pakai. Akhirnya Prani Siswoyo mengendarai sepeda motor yang mulutnya dan hidungnya bertutup masker membeli sarapan suaminya di pasar.

Sesampai di pasar pembeli antri menunggu layanan sarapan dari penjual sarapan berusia sepuh. Sambil menunggu giliran panggilan antri, tiba-tiba Prani Siwoyo melihat seorang laki-laki yang meminta bantuan orang lain menitip membeli sarapan tanpa antri. Guru Bimbingan Konseling yang sedang antri merespons cepat laki-laki yang dianggapnya menyerobot antrian dan mendatanganinya dengan mengatakan harus antri. Laki-laki ini tidak terima dan tetap mengatakan dia menitip sama kawannya. Pecah baku mulut antara Prani Siswoyo dengan laki-laki ini. Rupanya baku mulut ini menjadi santapan berita penjual dan pembeli di pasar merekam dan memvideokan baku mulut ini. Di sinilah bencana digital datang melibas guru sekolah yang tangkas dan cekatan itu.

Pasar tradisional jamak dijumpai di seluruh republik. Di masa rezim media sosial penjual dan pembeli sangat cepat mengakses informasi dari belahan penjuru dunia. Penjual dan pembeli genggamannya telepon pintar untuk keperluan menjalankan bisnisnya. Hampir setiap waktu mereka membuka ponsel membaca informasi kekinian yang masuk ke ponselnya yang adakalanya tak lagi mampu membedakan mana benar dan salah.

Penjual dan pembeli di pasar berupaya pula mencari informasi apa saja yang selekas kilat diviralkan ke media sosial tanpa ada kendali. Tak terkecuali baku mulut Prani Siswoyo dengan laki-laki itu mulai dari awal baku mulut sampai selesai divideokan. Ratusan tangan mengarahkan ponselnya merekam dan memvideokan baku mulut yang mulanya hanya persoalan kecil. Omongan Prani Siswoyo yang menegaskan tentang antri digoreng dan diplintir memojokkan dirinya sehingga dianggap tidak pantas diucapkan seorang guru. Prani sebagai guru sekolah terpojok dan dihakimi sepihak oleh media sosial.

Saling Terkam

Mulanya Prani tidak mengetahui kalau baku mulut itu diviralkan. Lingkungan sekolah yang sebelumnya nyaman dan tidak bermasalah menjadi terdisrupsi akibat pemviralan baku mulut dari netizen pasar tradisional. Sewaktu mengajar Bimbingan dan Konseling bersama anak didiknya lewat zoom, muridnya keceplosan tentang viral baku mulut gurunya yang beritanya telah menyebar ke dunia maya.

Beroleh informasi dari muridnya Prani Siswoyo dengan cepat membuka ponselnya dan menyaksikan sendiri kalau dirinya tengah viral di jagad maya. Ia kaget, limbung dan berupaya mencari solusi menyelesaikan baku mulut itu. Dua anaknya yang menjadi pendengung dan berbisnis pakaian layak pakai membantu mencari jalan keluar atas kasus yang menimpanya orang tua. Namun di waktu yang sama ibu dan dua anaknya menyimpan bencana digital ini sedalam mungkin agar tidak terdengar ayah mereka karena dapat memengaruhi kesehatan ayahnya yang sedang menderita gangguan mental.

Berbagai cara dilakukan mengatasi pemiralan baku mulut mulai dari penggalangan alumni sampai menjumpai penjual sarapan yang tidak lagi berjualan karena tidak kuat berhadapan dengan pengadilan netizen yang menyalahkan ibu guru Prani Siswoyo. Antara Prani Siwoyo dan dua anaknya terjadi kegaduhan saling menyalahkan satu sama lain saat mereka tidak bersedia membantu orang tuanya diminta tolong membeli sarapan ayahnya. Ini belum lagi tekanan dari Kepala Sekolah yang merasa sekolahnya telah tercemar dan jika ini tak dihentikan akan memengaruhi pendaftaran siswa ke sekolah ini lantaran viral guru Prani Siswoyo.

Sesudah berdiskusi dengan keluarga untuk menyelesaikan pemiralan baku mulut guru Parni Siswoyo meminta maaf atas baku mulut itu yang hanya soal sepele tetapi terlanjur dihakimi netizen bersalah dan disebarkan ke dunia maya. Ujungnya keluarga Prani Siswoyo berhenti bekerja sebagai guru dan pindah dari rumah kontrakannya ke tempat lain. Inilah ujung film Budi Pekerti.

Menjadi guru dalam era media sosial tidaklah mudah. Salah berbicara dan salah bertindak amat mudahnya divideokan dan disebarkan ke dunia maya. Pemberitaan viral tidak lagi dapat dikontrol karena kontennya dipotong dan dicincang sehingga tak lagi bisa dibedakan siapa salah dan benar. Suara terbesar netizen dianggap kebenaran meskipun dalam jagad media sosial netizen tampak akrab dan kenal namun sesungguhnya mereka tidak saling kenal. Suara bergemuruh besar dianggap paling benar.

Di masa rezim media sosial guru tak lagi bebas menyuarakan pendapat dan pikiran. Dalam proses pembelajaran memukul, menampar dan mencubit murid yang di tahun 1970-an sering dilakukan guru demi mendisiplin dan menghukum murid dianggap hal biasa. Orang tua murid tidak pernah merah jika mendengar anaknya dihukum guru. Hampir setiap murid bandel dan badung pernah merasakan tangan guru menempel ke wajah dan tubuh mereka. Di masa rezim media sosial jika guru ringan tangan memukul, menampar dan mencubit murid demi mendisiplinkan murid dipandang pelanggaran hak asasi manusia dan tindakan kekerasan. Apalagi bila diviralkan ke media sosial guru akan mengalami perundungan bersalah.

Dalam rezim media sosial nurani dan akal sehat semakin tipis. Netizen saja saling menerkam, saling menjatuhkan tanpa belas kasihan dan sangat ringan mengadili orang lain tanpa mencari keseimbangan berita benar dan salah. Seperti judul film Budi Perkerti, sudah waktunya pendidikan budi pekerti diajarkan dan digiatkan di sekolah-sekolah agar menjadi pengarah dan pedoman anak didik menjadi bermoral dan berakhlak hidup bersama dengan media sosial.

Penulis adalah Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *