Sidimpuan Menggugah Kenangan Di PRSU Ke-49

  • Bagikan
Wali Kota Irsan Nasution, Ketua TP PKK Derliana Irsan, Wakil Wali Kota Arwin Siregar dan Linda Arwin disambut secara adat pada malam pagelaran seni budaya Padangsidimpuan di PRSU. (Waspada/Sukri Falah Harahap)
Wali Kota Irsan Nasution, Ketua TP PKK Derliana Irsan, Wakil Wali Kota Arwin Siregar dan Linda Arwin disambut secara adat pada malam pagelaran seni budaya Padangsidimpuan di PRSU. (Waspada/Sukri Falah Harahap)

Wajahnya sumringah. Dua bola mata mengarah ke kiri atas, seperti ada yang ia kenang. Mulut sedikit terbuka dan dengan suara pelan mengikuti lagu pengiring tarian anak-anak perempuan di atas panggung.

Eneng-eneng cangkoa, marpira ambaroba, ulang paboaboa, anso ulehen di ho sambola“. Itulah sebait lirik lagu yang ia nyanyikan.

Namanya Mara Laut Siregar, 61 tahun. Lahir di Padangsidimpuan dan usia 14 tahun pindah bersama orangtua ke Kuala, Kabupaten Langkat. Anak tiga dan cucu lima, namun masih fasih berbahasa Batak Angkola.

Sidimpuan Menggugah Kenangan Di PRSU Ke-49
Anak-anak Padangsidimpuan membawakan permainan sembari menyanyikan lagu Jambatan Tapanuli. (Waspada/Sukri Falah Harahap).

Sabtu (8/7/2023) malam, hadir di Tapian Daya Jalan Gatot Subroto Medan. Duduk di tribun kiri Panggung Keong Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), bersama kerabatnya menyaksikan pagelaran seni budaya Kota Padangsidimpuan.

“Lagu ini kami nyanyikan saat berkumpul dan bermain di saat kanak-kanak dahulu. Di Padangsidimpuan atau Tapanuli Selatan saat itu, hampir semua anak hafal dengan lagu ini,” kenang Mara Laut Siregar.

Kemudian ia menyebut beberapa jenis permainan anak-anak ketika masih tinggal di Padangsidimpuan. Seperti marolo umak, marcawen, marsimbak, mammase, markalas-kalas, markaderen dan lainnya.

Selain itu ada juga lagu anak-anak yang sering dinyanyikan ketika berkumpul dan bermain. Seperti aikaruaya, sikucelle belek-belek, awawe, jambatan Tapanuli dan lainnya.

“Sejak ada vidio game dan apalagi di jaman hand phone sekarang, anak-anak sudah tidak mengetahui itu. Ketika mudik lebaran kemarin, permainan dan nyanyi-nyanyian itu hilang ditelan jaman,” ujarnya.

Baginya, pagelaran seni budaya Kota Padangsidimpuan di PRSU ke-49 ini benar-benar menggugah memory akan kenangan di masa kecil dahulu.

Apalagi ada juga drama kolosal kehidupan anak remaja pada malam hari yang hanya mengandalkan cahaya sinar rembulan. Ketika itu, kampung-kampung di Padangsidimpuan belum memiliki jaringan listrik PLN.

“Terimakasih Pemko Padangsidimpuan yang telah mengingatkan kami pada masa anak-anak dan jaman marhakaposoan. Semoga budaya ini dapat muncul dan dilestarikan kembali para generasi muda kita,” harapnya.

Sidimpuan Menggugah Kenangan Di PRSU Ke-49
Muda-mudi Padangsidimpuan bawakan cerita kisah remaja jaman dahulu yang pada malam hari berkumpul di bawah sinar rembulan. (Waspada/Sukri Falah Harahap)

Sebelumnya, Wali Kota Padangsidimpuan Irsan Efendi Nasution mengajak seluruh masyarakat bersama-sama melestarikan seni, adat, budaya dan kearifan lokal.

‘’Kita harus jaga, pelihara dan lestarikan budaya lokal Padangsidimpuan. Kita tumbuh kembangkan sebagai nilai-nilai sejarah. Sehingga tidak hilang ditelan jaman yang terus berubah,’’ ajak Irsan.

Didampingi Ketua TP PKK Derliana Siregar, Irsan menyebut misi kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Arwin Siregar antara lain menumbuh kembangkan kembali adat budaya Padangsidimpuan.

Dua tahun terakhir, muatan lokal berupa mata pelajaran bahasa dan adat budaya telah diajarkan kembali bagi murid SD dan siswa SMP di Kota Padangsidimpuan. “Alhamdulillah, generasi muda kita telah mengenal adat budaya warisan leluhur,” ungkapnya.

Sidimpuan Menggugah Kenangan Di PRSU Ke-49

Sesuai tema PRSU ke-49 yaitu ‘Berikan Cerita Terbaikmu’. Maka pada malam pagelaran seni dan budaya ini tim kreasi membawakan cerita ‘Mangalap Holong di Tano Dalihan Na Tolu Padangsidimpuan’.

‘’Mari bersama memajukan kota tercinta kita Padangsidimpuam dengan tetap menjunjung tinggi adat istiadat, nilai-nilai seni dan budaya ,’’ ajaknya.

Malam pagelaran seni budaya yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah itu diakhiri dengan lagu berjudul ‘Horas Horas’ yang ditutup seruan bersama “Sidimpuan Bersinar… !”. WASPADA.id/Sukri Falah Harahap

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *