Tafakur Imam Abu Daud: Dua Ahli Hadis Di Zaman Berbeda

Oleh Dr. Tgk. H. Zulkarnain, MA (Abu Chik Diglee)

  • Bagikan
Tafakur Imam Abu Daud: Dua Ahli Hadis Di Zaman Berbeda

Setiap orang yang mempelajari hadis atau ulumul hadis dipastikan akan menemukan nama imam Abu Daud. Bagi yang tidak cermat, seolah-olah nama imam Abu Daud yang berkapasitas sebagai ulama besar ahli hadis hanya sebuah nama dari satu orang yang sama. Padahal tidak demikian yang sesungguhnya.

Di dalam dunia hadis dan Ulumul Hadis, ada dua ahli hadis bernama imam Abu Daud dengan orang yang berbeda. Pertama, imam Abu Daud Al Thayalisi (امام ابو داود الطيالسي), bernama lengkap imam Abu Daud Sulaiman Ibn Daud al Thayalisi (امام ابو داود سليمان ابن داود الطيالسي) beliau adalah penulis kitab hadis Musnad Abi Daud (مسند ابي دواد). Imam Abu Daud Al Thayalisi dilahirkan di Bashrah-Iraq pada tahun 133 H (750 M), dan wafat di Bashrah-Iraq tahun 204 H (819 M) dalam usia 71 tahun.

Kota Bashrah (البصرة) tempat kelahiran imam Abu Daud al Thayalisi adalah kota terbesar kedua di negeri Iraq, yang jaraknya 545 Km dari Baghdad. Penduduk kota Bashrah berjumlah 2.009.767 jiwa (data 1 Januari 2010). Kota Bashrah terletak di sepanjang sungai Shatt al Arab dekat teluk Persia. Kota Bashrah memiliki industri pengilangan minyak yang besar dan wilayah pertanian yang luas serta sangat subur. Apalagi, Bashrah terkenal dengan sebutan Venesia di Timur Tengah.

Bashrah adaIah kota tua yang didirikan pada tahun 636 Masehi dan pernah menjadi pusat pemerintahan pada era Umar bin Khatab. Imam Abu Daud al Thayalisi memperluas ilmunya dengan cara pindah ke Baghdad untuk berguru kepada imam Hammad Ibn Salama, imam Abu Awana, dan imam Muhammad Ibn Abdurrahman. Imam Abu Daud al Thayalisi adalah bahagian dari tokoh di antara generasi awal yang menulis kitab al Musnad, dimana kemudian diikuti oleh imam Asad bin Musa, imam Musa al Abasi, imam Musadad al Basri, imam Nu’aim bin Hammad al Khaza’i, imam Ahmad bin Hanbal, imam Ishaq bin Rahawaih, dan imam Usman bin Abi Syaibah.

Kitab Musnad Abu Daud al Thayalisi memuat hampir 3.000 hadis lengkap beserta sanad-sanadnya. Kitab Musnad Abu Daud al Thayalisi memuat hadis yang bersifat Marfu’ (sampai kepada Nabis saw) dan mauquf (sampai kepada sahabat). Adapun contoh isi Kitab Musnad imam Abu Daud al Thayalisi misalnya yang mengacu kepada nama Aisyah Ummul Mu’minin adalah sebagai berikut : مسند عاءشة ام المؤمنين رضى الله عنها ما روى الاسواد عن عاءشة رضى الله عنها
١٤٧٢ – حدثنا يونس قال حدثنا ابو داود قال حدثنا شعبة و ابو عوانة عن منصور عن ابراهيم عن الاسواد عن عاءشة قالت كان رسول الله ص يامر احدانا اذا
كانت حاءضا ان تلبس ثوبا ثم يباشرها

Hadis di atas berkaitan dengan perempuan yang haid. Hadis tentang haid di atas, di dalam kitab Musnad Abi Daud al Thayalisi dikelompokkan ke dalam bahasan tentang perempuan atau احاديث النساء . Imam Abu Daud al Thayalisi di samping sebagai seorang perawi hadis, beliau juga adalah seorang mukharij hadis dan sekaligus ulama yang terkenal ahli dalam bidang Ilmu Jarh wa Ta’dil (علم الجرح و التعديل) di abad ke-2 Hijriah.

Kedua, Imam Abu Daud Al Sijistani (امام ابو داوظ السجستاني). Nama lengkapnya adalah imam Abu Daud Sulaiman Ibn Al Asy’ats Al Azadiy Al Sijistaniy (امام ابو داود سليمان ابن العشعث الازادي السجستاني ). Imam Abu Daud al Sijistani dilahirkan di kota Sijistan provinsi Sistan dan Baluchestan di Negara Iran wilayah Timur, pada tahun 202 H (817 M) di era kekuasaan dinasti Abbasiyah dan wafat pada tahun 275 H (889 M) di kota Bashrah-Iraq. Kota Sijistan dikenal dengan kota kuno yang awalnya bernama Sakastan (ساكاستان) yang artinya Tanah Bangsa Saka.

Saka adalah suku Skithia yang sejak abad ke-2 SM hingga abad ke-1 SM bermigrasi ke Dataran Tinggi Iran dan Lembah Indus, dimana mereka mendirikan kerajaan yang dikenal sebagai India Skithia. Di dalam kitab Bundahishn penganut Zoroastrianisme yang ditulis dalam bahasa Pahlevi, Sijistan disebut dengan nama Seyansih, dan setelah Iran ditaklukkan oleh Arab namanya diubah menjadi Sistan. Bangsa Saka juga ditujukan kepada penduduk yang mendiami Timur Iran, Selatan Afghanistan (Nimruz dan Kandahar) dan wilayah Nok Kundi atau Pakistan bagian Barat.

Imam Abu Daud al Sijistani berguru kepada imam Ibrahim bin Ya’qub al Juzajaniy, imam Ahmad ibn Hanbal, imam Ali ibn al Madini, imam Ibnu Ishaq al Rahawaih, imam Yahya ibn Ma’in, imam al Bukhari, imam Muhammad bin Syafi’i, imam Abu Hatim dan lain-lainnya. Adapun yang menjadi murid-muridnya di antaranya adalah imam Muhammad ibn Isa al Tirmidzi (امام محمد ابن عيسى الترميذي) dan imam Abu Abdurrahman Ahmad ibn Syu’aib ibn Ali ibn Sinan al Nasa’i yang lebih dikenal dengan sebutan imam al Nasa’i.

Imam Abu Daud al Sijistani mengembara ke berbagai daerah dan negara dalam rangka mengumpulkan hadis. Tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain, Hijaz, Mekkah, Madinah, Syam, Mesir, Iraq, Sagar, dan Khurasan. Imam Abu Daud al Sijistani mengumpulkan 50.000 hadis selama masa pengembaraan ilmunya, dan menulis 5.274 hadis di dalam kitab Sunan Abi Daud ( كتاب سنن ابي داود).

Kitab Sunan Abi Daud terdiri atas 2 jilid dan terbagi dalam 4 juz. Hadis terakhir dalam kitab Sunan Abi Daud al Sijistani adalah hadis qudsi tentang larangan mencela waktu karena Allah yang Maha Pencipta waktu, hadis tersebut tertulis di halaman 369 jilid 2 bab 4 kitab Sunan Abi Dud al Sijistani, dengan nomor hadis 5274, Bab Fi Al Rajul Yasubbi Al Dahr (باب فى الرجل يسب الدهر).

Adapun secara lengkap hadis tersebut tertulis sebagai berikut : باب فى الرجل يسب الدهر.٥٢٧٤- حدثنا محمد ابن الصباح ابن سفيان و ابن السرح قالا حدثنا ثفيان عن الزهرى عن سعيد عن ابى هريرة عن النبي ص يقول الله عز وجل يؤ ذيني ابن ادم يسب الدهر و انا الدهر بيدي الامر اقلب الليل و النهار. Artinya, Bab Seseorang Mencela Waktu, Nomor hadis 5274, imam Abu Daud al Sijistani mengatakan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn al Shabah ibn Sufyan dan Ibn al Sarh keduanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Sufyan dari al Zuhri dari Sa’id dari Abi Hurairah dari Nabi Saw, telah berfirman Allah Yang Maha Mulia, anak Adam telah menyakiti-Ku dengan menghina waktu padahal Aku adalah Yang Maha Pencipta waktu, di bawah kekuasaan-Ku semua urusan, dan Aku Yang Maha Membolak balik malam dan siang.

Dari kedua ulama ahli hadis yang bernama Abu Daud tersebut, terdapat perbedaan dan juga persamaan. Perbedaannya, pertama Abu Daud al Thayalisi lahir dan wafat di Bashrah-Iraq sedangkan imam Abu Daud al Sijistani lahir di Sijistan-Iran Timur dan wafat di Bashrah-Iraq. Kedua, imam Abu Daud al Thayalisi ulama hadis di abad ke-2 Hijriah sedangkan imam Abu Daud al Sijistani ahli hadis pada abad ke-3 Hijriah. Ketiga, imam Abu Daud al Thayalisi adalah tabi’in sedangkan imam Abu Daud al Sijistani adalah tabi’ tabi’in.

Keempat, imam Abu Daud al Thayalisi adalah penulis kitab Musnad yaitu kitab yang disusun berdasarkan nama nama para sahabat dengan mengacu kepada alphabetis huruf hija’iyah, sedangkan imam Abu Daud al Sijistani adalah penulis kitab Sunan yaitu jenis kitab hadis yang disusun berdasarkan tema tema fikih. Kelima, imam Abu Daud al Thayalisi di samping ahli hadis beliau juga ahli dalam bidang Ilmu al Jarh wa al Ta’dil, sedangkan imam Abu Daud al Sijistani hanya ulama ahli hadis saja.

Adapun persamaan di antara keduanya adalah pertama, sama-sama wafat di Bashrah dan yang kedua, sama-sama mukharij hadis atau penulis kitab induk hadis. Dengan memahami secara baik tentang kedua mereka itu, diharapkan tidak lagi terjadi kekeliruan pada saat menyampaikan hadis yang sumbernya diambil dari mereka berdua. Wallahu’alam. WASPADA.id

Penulis adalah Dosen Hadits Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *