Memilih Pemimpin Transformatif

  • Bagikan
Memilih Pemimpin Transformatif

Oleh Farid Wajdi

Siapa saja yang ingin mengaktualisasikan kepemimpinan transformatif dituntut mengakhiri gerak sentripetal (bergerak melingkar) dari kekuasaan yang bersifat narsistik (merasa diri lebih baik, selalu ingin dikagumi) menuju gerak sentrifugal (menjauh atau ke luar lintasan lingkaran) yang berorientasi pada kemaslahatan umum

Charles de Gaulle, Presiden Prancis (1890-1970), pernah berkata bahwa politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat memercayainya? Pidi Baiq pernah bilang, “Orang yang kau pilih waktu Pemilu, adalah yang kelak dengan sirine polisi akan menyuruhmu minggir di jalan raya.” Agar ungkapan Charles de Gaulle dan Pidi Baiq tidak semuanya benar tentu perlu direspon ketika memilih calon pemimpin masa depan, publik atau pemilih harus mengetahui rekam jejak calon pemimpinnya. Untuk itu diperlukan gaya kepemimpinan transformatif dan bukan tipe pemimpin transaksional.

Bagi Stephen P. Robbins & Timothy A. Judge (2008) kepemimpinan transformatif (transformational leaders) adalah tipe pemimpin yang mengarahkan atau memotivasi para pengikutnya pada tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas anggotanya. Transformational leadership atau kepemimpinan transformatif adalah gaya kepemimpinan yang dilakukan pemimpin dengan memotivasi dan memberdayakan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya untuk bekerja sama mewujudkan visi dan misi organisasi.

Kata Ahmad Khumaidi (2023) kepemimpinan transformatif dalam era kekinian menjadi pilihan dan solusi dalam mendorong partisipasi publik untuk menuju sebuah perubahan dalam bentuk terobosan baru atau inovasi. Ma’ruf Amin (2022) menyebut gaya pemimpin transformatif adalah pemimpin yang mampu menggerakkan dan mengubah ke arah yang lebih baik. Pemimpin transformatif bukan hanya pemimpin yang baik, tapi juga mampu melakukan perbaikan, bahkan tidak hanya pemimpin yang saleh, tapi juga muslih.

Haedar Nashir (2024) menilai kepemimpinan transformatif yang berasal dari kata “transform”, yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan. Seorang pemimpin dengan tindakannya membawa ke arah perubahan sejatinya itulah kepemimpinan transformatif. Kepemimpinan transformatif dan kharismatik merupakan hal yang berbeda. Haedar Nashir mengatakan kepemimpinan kharismatik adalah apa yang dikonstruksikan oleh orang atau publik sebagai kharisma, sehingga dengan kata lain pemimpin tersebut biasa saja, namun oleh khalayak ramai ia diagung-agungkan. Tetapi baik pikiran maupun alamiah, kepemimpinan karismatik memiliki daya tarik kepada seseorang untuk mengikuti pemimpin tersebut dan memiliki daya untuk perilaku apa yang diinginkan.

Haedar Nashir membingkai kepemimpinan transformatif, dengan ciri berikut: Pertama, memiliki aspek kreatif yaitu pemimpin melakukan sesuatu di luar cara berpikir orang dalam hal berkarya yang mampu menghasilkan kreasi, orang yang mampu menciptakan hal baru.

Kedua, kepemimpinan yang inovatif yang mampu melahirkan terobosan baru dalam ide dan karya-karyanya. Ketiga, kepemimpinan yang dapat melakukan recovery yaitu memperbarui atau mampu mendorong dan memimpin perubahan. Keempat, adanya progress yaitu kemajuan yang bisa diukur.

Adapun Siti Zuhro (2021) menegaskan pemimpin transformatif memiliki kesamaan perilaku seperti Visioning, Inspiring, Stimulating, Coaching dan Team building yang dibuktikan melalui aksi nyata, berupa keputusan atau kebijakan yang tertata, terukur dalam mengatasi persoalan dengan tepat, cerdas dan tangkas.

Secara lebih detail Audi Ul Hakim (2017) mecatat jika para pemimpin gaya trasformatif itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Memiliki kharisma. (2) Senantiasa menghadirkan stimulasi intelektual. (3) Pemimpin yang transformatif memiliki perhatian dan kepedulian terhadap setiap individu pengikutnya. Mereka memberikan dorongan, perhatian, dukungan kepada pengikutnya untuk melakukan hal yang terbaik bagi dirinya sendiri dan komunitasnya.

(4) Pemimpin transformatif senantiasa memberikan motivasi yang memberikan inspirasi bagi pengikutnya dengan cara melakukan komunikasi secara efektif dengan menggunakan simbol-simbol, tidak hanya menggunakan bahasa verbal. (5) Mereka berupaya meningkatkan kapasitas para pengikutnya agar bisa mandiri, tidak selamanya tergantung pada sang pemimpin. (6) Pemimpin transformatif lebih banyak memberikan contoh ketimbang banyak berbicara. Selalu menghadirkan sisi keteladanan kepada para pengikutnya dengan lebih banyak bekerja ketimbang banyak berpidato yang berapi-api tanpa disertai tindakan yang konkret.

Pemimpin bergaya transformatif bukan cuma dibentuk lewat pengalaman, tetapi sejatinya dilahirkan untuk memimpin.

Selain itu, pemimpin yang transformatif akan selalu meletakkan telinga ke degup jantung rakyatnya. Untuk mendapat pemimpin gaya transformatif dan bukan pemimpin transaksional, ketika memilih seorang pemimpin harus didasari banyak hal, mulai dari rekam jejak, hingga gagasan yang ditawarkan bagi kemakmuran bangsa ke depan. Namun, untuk sampai ke sana, perlu dilihat pula, jejak rekam calon pemimpin itu terbukti pernah menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang pernah dialami bangsa. Hal ini penting karena tantangan ke depan tidaklah mudah (Nikolaus Harbowo, 2023).

Muhammad Aufal Fresky (2023) memberi panduan dalam memilih pemimpin negeri. Beliau berpesan agar calon pemilih agar tidak buru-buru dan tergesa-gesa dalam memilih pemimpin. Jangan mudah terpengaruh bujuk rayu ataupun janji-janji yang tak realistis. Lihat dulu kapasitas dan integritas para calon pemimpin itu. Sejauh mana komitmennya dalam menjadi pelayan rakyat. Jangan sampai memilih orang-orang yang hanya mementingkan syahwat politiknya dan hamba kekuasaan. Diperlukan investasi cerdas dalam memilah dan memilih. Cukup memberikan mandat kepada orang-orang yang ucapannya sesuai dengan tingkah lakunya. Sebab, mereka yang akan menjabat menentukan arah perjalanan bangsa dan negari ini ke depannya.

Sungguh mencerahkan dan mencerdaskan jika setiap orang mengerahkan segenap daya dan upaya untuk mengetahui rekam jejak (track record) calon pemimpin untuk mengetahui siapa yang terbaik di antara mereka, untuk kemudian memilihnya. Jika itu dapat diraih pertanda ciri-ciri pemilih cerdas sudah hadir dan itu merupakan angin surga bagi perbaikan bangsa ini.

Hindari atau jauhkan dari gaya calon pemimpin yang lebih banyak menerapkan pola kepemimpinan transaksional.

Model kepemimpinan ini, memotivasi para pengikut dengan mengarahkannya pada kepentingan dirinya. Jenis pemimpin transaksional ini sangat banyak ditemukan jelang dan saat Pemilu. Publik dicekoki dengan berbagai janji setinggi langit agar mereka dipilih kembali. Bahkan, ada yang disertai dengan imbalan tertentu (money politics)!

Telusuri rekam jejaknya, jangan sampai ketika mereka terpilih, ternyata banyak janji tidak dapat direalisasikan. Seorang pemimpin transformatif dapat diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya. Para pengikut seorang pemimpin transformatif merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin tersebut (Rekha Adji Pratama, 2016).

Yudi Latif (2013) memberi nasihat sepatutnya setiap pemimpin dalam segala bidang dan tingkatan harus menyadari dan belajar mengemban tugas pastoral, sebagai penggembala yang menuntun dan memperjuangkan keselamatan rakyatnya. Untuk itu, mereka harus berjiwa besar agar bisa lebih besar dari dirinya sendiri. Mengembalikan Indonesia ke titik “normalitas”, memerlukan kehadiran pemimpin bergaya transformatif.

Siapa saja yang ingin mengaktualisasikan kepemimpinan transformatif dituntut mengakhiri gerak sentripetal (bergerak melingkar) dari kekuasaan yang bersifat narsistik (merasa diri lebih baik, selalu ingin dikagumi) menuju gerak sentrifugal (menjauh atau ke luar lintasan lingkaran) yang berorientasi pada kemaslahatan umum. Seperti diingatkan Bung Karno, ”Seorang tidak akan dapat mempimpin massa rakyat jika tidak masuk ke dalam lingkungan mereka…. Demi tercapainya cita-cita kita, para pemimpin politik tidak boleh lupa bahwa mereka berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat”.

Lebih sempurna lagi, ketika calon mempunyai karakter kepemimpinan profetik (prophetic leadership). Kepemimpinan profetik adalah seorang pemimpin harus mencerminkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul, yaitu: siddik (jujur, mengarus-utamakan integritas moral (akhlak)), amanah (tanggung jawab, dipercaya, dan diandalkan), tabligh (mampu berinteraksi dan berkomunikasi efektif, memiliki visi, inspirasi dan motivasi jauh ke depan), istikamah (konsisten dengan perubahan), ijtihad (selalu berpikir untuk menyelesaikan masalah) dan muhasabah (senantiasa introspeksi diri).

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, Dosen UMSU.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *