Geng Remaja Dan Pentingnya Kontrol Orang Tua

  • Bagikan
Geng Remaja Dan Pentingnya Kontrol Orang Tua

Oleh: Nelliani, M.Pd

Akhir-akhir ini fenomena “geng remaja” menjadi perbincangan di masyarakat. Hal itu tentu ada kaitan dengan berbagai aksi kekerasan dan vandalisme yang dilakukan remaja bersama kumpulannya selama ini. Bullying berkelompok hingga menelan korban, tawuran, komunitas geng motor yang kerap anarkis serta balap liar yang mengganggu ketenangan. Karena tindakan tersebut, tak jarang sebagian orang tua memandang geng remaja sebagai toxic hingga melarang anak mereka bergabung dengan komunitas sebayanya.

Padahal bagi remaja berkumpul dengan teman kelompok sesuatu yang menyenangkan. Segala ide, gagasan atau rencana tumpah ruah dalam cerita yang tiada habis. Terlebih bagi remaja yang memiliki hobi dan minat sama. Mereka bisa ngobrol berjam-jam, bahkan ada yang tidak ingat rumah jika sudah bertemu teman-temannya.

Salah satu keunikan remaja senang berkumpul dengan rekan sebaya. Dalam circle pertemanan tersebut, mereka merasa nyaman, cocok dan lebih leluasa berbagi cerita, berdiskusi atau merancang tindakan yang sepemikiran. Untuk itu mereka membentuk kelompok sebaya (peer group) atau kelompok-kelompok kecil yang sifatnya lebih tertutup (clique).

Geng Remaja

Di kalangan remaja kelompok tersebut populer dengan istilah “geng” atau teman akrab. Menurut KBBI geng diartikan sebagai kelompok remaja yang terkenal karena kesamaan latar belakang sosial, sekolah, daerah dan sebagainya. Dalam ilmu sosiologi, makna geng mengacu pada kelompok yang beranggotakan 2 sampai 12 orang yang sering berinteraksi bersama karena kesamaan minat dan nilai-nilai (values). Kelompok ini sering ditemukan pada anak baru gede (ABG) usia SMP atau SMA, meski ada yang sejak SD sudah membentuk geng.
Hari gini, jarang ada remaja yang tidak punya geng, terlebih remaja putri. Bagi remaja perempuan, memiliki teman akrab sudah menjadi kebutuhan. Hari-hari akan terasa lebih asik jika bisa belajar bareng, kumpul bareng, belanja bareng atau melakukan keseruan lainnya. Anak-anak ini lebih terbuka dengan teman gengnya dibandingkan terhadap orang tua atau guru. Mereka nyaman bahas apa saja, dari ayah ibu yang suka ngatur, guru-guru yang jutek, cita-cita sampai urusan asmara. Bagi mereka, hanya sohib satu gengnya saja yang paling tahu dan paling memahami keadaan.

Begitu pun dengan remaja pria. Mereka membentuk kelompok pertemanan berdasarkan kesamaan minat atau hobi. Jika geng remaja putri menunjukkan sisi lembut dan feminim, pada abg putra malah sebaliknya. Mereka lebih menonjolkan sisi “kelelakian” atau maskulin.

Bagi remaja laki, membentuk geng bukan hanya sebagai wadah kumpul bersama teman sebaya. Lebih dari itu, geng merupakan tempat yang memberikan ruang kebebasan dan kesempatan mengekspresikan sifat kelelakiannnya seperti keberanian, ketegasan atau rasa setia kawan. Kegiatannya pun berkarakteristik tegas dan berani, sebagai contoh komunitas geng motor atau kumpulan anak-anak hobi balap yang gemar mengutak-atik sepeda motor.

Kenapa remaja membentuk geng? Menurut para ahli psikologis, beberapa faktor yang memotivasi remaja tertarik membentuk atau bergabung dengan kelompok pertemanan/geng, antara lain:

Pertama, ingin melepaskan diri dari dominasi orang tua secara emosional. Seiring bertambahnya usia, remaja ingin lebih bebas bertindak atau mengambil keputusan. Karena itu ia menghabiskan banyak waktu bersama teman seusia.

Kedua, untuk mengembangkan potensi diri. Remaja akan mudah mengeksplorasi bakat minatnya bila bergabung dalam komunitas dengan minat dan focus yang sama. Dalam kelompok itu ia mengetahui perkembangan, mengasah keterampilan sekaligus membangun jaringan yang berguna untuk masa depan. Selain itu, interaksi dengan berbagai individu yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda memberinya pengalaman berharga tentang kepemimpinan, empati, kerjasama maupun cara mengendalikan emosi.

Ketiga, eksistensi diri. Bertambahnya usia menjadi sebab remaja membutuhkan wadah bersosialisasi. Memiliki lingkaran pertemanan membuat remaja tidak merasa kesepian, bisa saling berinteraksi atau berbagi informasi dengan teman-teman dekatnya.

Keempat, memenuhi kebutuhan. Remaja yang tidak mendapatkan rasa nyaman dan penerimaan di lingkungan keluarga atau sekolah akan berusaha mencari teman dengan situasi yang serupa dengan dirinya. Perasaan senasib sepenanggungan dan penerimaan dari kelompok sebaya memberikan kenyamanan yang ia butuhkan.

Pengaruh Geng Sebaya Dan Kontrol Orang Tua

Lingkungan pertemanan sebaya berperan penting terhadap perkembangan perilaku dan karakter remaja. Remaja cenderung berperilaku mengikuti kebiasaan teman sebayanya seperti cara berbicara, berbusana, aktivitas, kegemaran dan sebagainya. Hal itu lebih kepada ingin diakui dan diterima dalam interaksi pertemanannya. Jika ia kesulitan mengikuti kebiasaan gengnya, maka siap-siap disisihkan atau tidak dianggap.

Geng pertemanan yang sehat akan menerapkan sejumlah aturan atau kebiasaan baik dan menjadi kesepakatan setiap anggota kelompok. Misal, terlibat dalam kegiatan sosial, membuat jadwal berolah raga bersama, belajar bareng atau kegiatan positif lainnya. Kelompok ini tidak menyenangi atau menghindari perbuatan tidak bermanfaat dan merugikan diri sendiri, orang lain maupun masa depan.

Kebiasaan positif dalam lingkungan pertemanan mempengaruhi perilaku remaja. Ia mudah berempati, menghargai, berkelakuan baik karena mengikuti perilaku baik teman se-gengnya. Sebaliknya, kelompok pertemanan yang terdiri dari remaja “berperilaku buruk” akan memberi dampak serupa. Anak cenderung destruktif, pemarah, susah diatur akibat terpengaruh perilaku buruk teman dalam grup tersebut.

Kelompok terakhir inilah yang mengkhawatirkan orang tua. Tanpa disadari, remaja mereka terlibat berbagai tindakan kenakalan yang meresahkan hingga mengganggu keamanan dan ketertiban. Sebagaimana berita yang marak kita dengar belakangan ini. Sekumpulan remaja terpaksa berurusan dengan hukum karena terlibat geng motor, tawuran, bullying atau perilaku anarkis lainnya.

Di sinilah pentingnya keterlibatan orang tua dalam mengawasi pergaulan remaja. Lalu, bagaimana kontrol paling efektif terhadap pergaulan mereka?. EB Surbakti dalam “Kenakalan Orang Tua Penyebab Kenakalan Remaja” (2008) menyatakan, tindakan paling baik adalah melakukan pengawasan secara rasional dan memadai.

Pengawasan di sini tidak berarti mengikuti kemana saja mereka pergi, memata-matai setiap gerak-geriknya atau menerapkan aturan dan disiplin ketat. Semua itu hanya berorientasi pengawasan fisik yang tidak memberi banyak manfaat. Seketat apa pun pengawasan fisik tetap saja anak bisa menemukan celah melakukan pelanggaran.
Pengalaman keseharian menunjukkan, orang tua yang berhasil mengendalikan perilaku anaknya untuk menghindari berbagai kenakalan adalah mereka yang menyadari pentingnya keteladanan. Artinya, mereka mengajar melalui nilai-nilai kebaikan pada dirinya. Keteladanan merupakan pelajaran terbaik, karena remaja mencontoh perilaku sesuai dengan apa yang dilihat. Keteladan menjadi kontrol paling efektif dalam membimbing dan mengarahkan setiap tindakan remaja agar sesuai dengan norma, adab dan etika.

Lebih lanjut Surbakti mengungkapkan beberapa hal penting perlu orang tua tanamkan agar remaja terhindar dari pertemanan yang salah yaitu kesadaran tentang apa yang patut dan tidak patut. Remaja akan mampu mempertahan diri tidak tergelincir dalam perilaku negatif bila memiliki kesadaran moral dalam diri. Selanjutnya, memberinya kepercayaan mengelola diri sendiri disertai tanggung jawab.

Orang tua juga perlu menumbuhkan kejujuran, komitmen dan identitas yang jelas agar ia mampu menegaskan diri sebagai remaja bertanggung jawab. Demikian pula membekalinya dengan pendidikan agama sebagai benteng menghadapi berbagai tantangan di kehidupan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *