Menggagas Kahmi Ke Depan

  • Bagikan
<strong>Menggagas Kahmi Ke</strong><strong> D</strong><strong>epan</strong><strong></strong>

Oleh Hasrul Harahap

Tugas KAHMI adalah memastikan agar terwujud persebaran partisipasi kewajiban pengabdian secara merata-proporsional. Tinggi rendahnya tingkat partisipasi kewajiban pengabdian disebabkan oleh dua faktor

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam atau KAHMI akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) yang ke XI di Sriti Convention Hall Kota Palu Sulawesi Tengah pada tanggal 24-28 November 2022 mendatang. Munas kali ini, KAHMI mengusung tema “Bangkit, Bersinergi Membangun Negeri Menuju Peradaban Baru”.

Beberapa pertimbangan dipilihnya Kota Palu sebagai tuan rumah Munas ke XI KAHMI menurut Koordinator Presidium Nasional KAHMI Ir. Ahmad Riza Patria, MBA karena Palu beberapa waktu yang lalu terjadi bencana gempa bumi dan tsunami dan pertimbangan lainnya Sulawesi Tengah salah satu daerah yang kerap terjadi konflik.

Melalui Munas, KAHMI ingin memberikan pesan agar konflik di Sulawesi Tengah segera berhenti demi kedamaian bersama. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa KAHMI lahir dari hasil Musyawarah Alumni HMI bersamaan dengan Kongres ke-8 HMI di Surakarta tanggal 10-17 September 1966 merupakan bentuk kesadaran para alumi HMI untuk melanjutkan perjuangan mencapai tujuan HMI, yaitu terbinanya insan akademis, pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridlai Allah SWT.

Eksistensi KAHMI sebagai pelanjut perjuangan tujuan HMI berada dalam wadah keorganisasian/kelembagaan dan SDM, dan tata laksana yang berbeda dengan HMI sekalipun hubungan keduanya tidak dapat dipisahkan. KAHMI dengan HMI memiliki hubungan ideologis dalam rangka mewujudkan masyarakat berkeadilan dan berkemakmuran. Karena itu, KAHMI harus mampu menempatkan secara tepat area perjuangan agar tidak face to face dengan area perjuangan HMI. 

Maka KAHMI harus berpikir dan bergerak dalam ranah supporting HMI sebagai organisasi kader akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

KAHMI Ke Depan

Dalam menyongsong munas KAHMI XI ke depan di Palu Sulawesi Tengah ada beberapa agenda besar yang seyogiyanya dilakukan oleh KAHMI diantaranya adalah: Pertama, pembangunan SDM dan IPTEK, tahun 2030 hingga 2045 nanti, Indonesia mendapatkan bonus demografi di mana Indonesia akan lebih banyak ditopang oleh 52% penduduk usia produktif. Jika pembangunan SDM bisa dikerjakan, itu akan jadi sebuah kekuatan besar bangsa Indonesia.

Tetapi jika gagal melaksanakan pembangunan SDM, ini akan menjadi beban negara yang sangat besar. Pembangunan SDM menjadi kunci dalam rangka menghantarkan bangsa Indonesia kepada Indonesia emas di 2045. Keberadaan KAHMI menyebar di dalam negeri maupun luar negeri, dengan berbagai latar belakang, baik di bidang pemerintahan, dunia usaha, maupun kemasyarakatan secara umum. Kenyataan ini adalah modal besar bagi pencapaian visi KAHMI.

Silatrurahmi adalah kunci mendayagunakan modal besar dimaksud. Silaturrahmi pendekatan struktural dilakukan dengan memperkuat struktur organisasi yang efektif efisien dan proporsional baik di dalam negeri maupun di luar negeri. KAHMI sebagai agen perubahan merupakan konsekuensi bahwa KAHMI adalah pelanjut cita-cita dan tujuan HMI dalam ikhtiar mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridlai Allah SWT.

Dalam posisi sebagai agen perubahan, KAHMI wajib menyiapkan SDM yang handal dan siap pakai. Menguatkan SDM berbasis meritokrasi, yaitu andal professional dan berakhlak mulia (akhlakul karimah) dalam kapasitas dan kualitas insan akademis, insan pengabdi, insan pencipta yang bernafakan nilai-nilai keislaman.

Terkait dengan hal ini, KAHMI harus memperhatikan secara sungguh-sungguh tentang perkaderan dan sistem perkaderan di HMI, mulai dari LK I, LK II, dan LK III, termasuk mengenai senior course (SC)Kita mungkin teringat bagaiman tembok Cina yang terbentang sekitar 6000 Km, yang dibangun selama 300 tahun.

Pertanyaannya mengapa pemimpinnya mau melakukan itu? Artinya para pemimpin mencintai dan membela rakyatnya. Jadi pemimpin harus memiliki visi yang jauh kedepan untuk membela rakyatnya. Kini China telah membangun tembok raksasa kebijakan dan ekonomi untuk rakyatnya. Sama halnya dengan Jepang, sebelumnya yang merasa keturunan dewa matahari dan sebagai bangsa terbaik ternyata setelah di bom atom Hiroshima dan Nagasaki hancur, ketika samurai bisa mati tertembak, mereka terkejut.

Akhirnya mereka berpikir bahwa pendidikanlah yang mampu mengubah semua itu. Sekarang virus pendidikan itu menyebar di Korea Selatan. Terkait pembangunan SDM dan IPTEK ini, kita mau KAHMI ikut andil dan berpartisipasi dengan SDM yang dimiliki oleh KAHMI.

Kedua, perkembangan ekonomi berkelanjutan, saat ini pertumbuhan ekonomi mencapai 6.2%, diharapkan dekade antara 2035-2045 harus naik dua digit hingga 10%. Ini akan tercapai bila kebijakan pengelolaan ekonomi yang tidak terlalu konservatif disamping pembangunan ekonomi yang lebih agresif.

Di antaranya dengan membangun infrastruktur yang mendorong pembangunan ekonomi. Good governance ditandai oleh adanya pemerintahan, masyarakat, dan dunia usaha yang kuat sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing dalam prinsip-prinsip partisipasi, kepastian hukum, transparasi, kesetaraan, daya tanggap, wawasan Kedepan, akuntabilitas, pengawasan, efesiensi & efektivitas, dan profesionalisme. KAHMI sebagai wadah para intelekual Muslim mampu memberikah ruang secara luas bagi para anggota dalam rangka penguatan good governance.

Ketiga, partisipasi pengabdian keumatan dan kebangsaan adalah keharusan teologis sebagaimana doktrin Islam. Tugas KAHMI adalah memastikan agar terwujud persebaran partisipasi kewajiban pengabdian secara merata-proporsional. Tinggi rendahnya tingkat partisipasi kewajiban pengabdian disebabkan oleh dua faktor.

Pertama adalah faktor kultural. Kedua adalah faktor struktural. Yang pertama lahir dari kebiasaan kebiasaan yang berkembang di lingkungan masyarakat. Sedangkan faktor kedua disebabkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah melalui struktur pemerintahan dan alat kelengkapan negara. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.

Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa partisipasi kewajiban pengabdian masih dinikmati oleh kelompok-kelompok tertentu dan tidak merata. Terkait dengan hal ini maka KAHMI perlu mendorong terwujudnya partisipasi pengabdian keumatan dan kebangsaan melalui kebikan-kebijakan pemerintah yang berdimensi keadilan dan pemerataan secara proporsional. Dengan demikian akan tercipta keadilan di berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keempat, stabilitas adalah perspektif pembangunan nasional yang berorientasi pada terciptanya sistem politik nasional yang efektif, demokratis, stabil, berlandaskan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Sukses stabilitas juga berarti kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa, tegaknya kedaulatan negara dan integrasi nasional, terwujudnya pertahanan dan keamanan nasional sebagai landasan yang kokoh bagi peningkatan kesanggupan negara dalam melindungi segenap bangsa.

Maka, salah satu upaya strategis yang perlu dilakukan, adalah menata dan membangun serta mengelola sumber daya nasional, khususnya sumber daya manusia sebagai komponen cadangan dan komponen pendukung pertahanan negara. Pertahanan dan keamanan negara tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI/Polri serta Kementerian Pertahanan, tapi juga menjadi hak dan kewajiban seluruh komponen bangsa, sumber daya nasional, yang bersifat semesta, termasuk resimen mahasiswa.

Penutup

Kita berharap semua agar Munas KAHMI ke XI ini menjadi momentum bagi keluarga besar KAHMI dan HMI untuk semakin memahami berbagai aspek tentang pentingnya merajut kebhinekaan, demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Kita semua berharap ke depan kiprah KAHMI laksana seperti air yang jernih yang selalu membawa kebermanfaatan oleh setiap orang, air yang jernih senantiasa diperlukan oleh siapapun. Kehadirannya selalu ditunggu atau bahkan dicari karena kelangsungan hidup ini sangat bergantung dengan air. Kita semua berharap agar eksistensi KAHMI sama seperti air yang jernih seperti yang dijelaskan diatas. Jangan jadi air yang keruh dan kotor yang akan menjadi sumber penyakit.

Metafora ini sejalan dengan narasi Al-Quran yang menyatakan “dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup/Wa ja’alna minal ma’i kulla syai’in hayyinSelamat Ber-Munas KAHMI yang ke XI di Kota Palu Sulawesi Tengah. Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal. Yakin Usaha Sampai.

Penulis adalah Dosen Universitas JakartaTulisan ini dibuat dalam rangka Munas KAHMI Ke-XI di Kota Palu Sulawesi Tengah pada tanggal 24-28 November 2022.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *