Cognitive Behaviour Therapy Dan LivingWorks Program Alternatif Kurangi Kasus Bunuh Diri Di Indonesia

  • Bagikan
Cognitive Behaviour Therapy Dan LivingWorks Program Alternatif Kurangi Kasus Bunuh Diri Di Indonesia

Oleh Nabila Ariiqah

Menurut survei World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, bunuh diri menjadi penyebab kematian keempat terbanyak di kalangan individu berusia 15-29 tahun. Rentang usia 15-29 tahun ini mencakup sebagian besar pelajar dan mahasiswa.

Selain itu, survei dari World Health Organization (WHO) juga menunjukkan bahwa lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya, artinya satu orang setiap 40 detik. Selain itu, studi tahun 2022 yang dilakukan oleh Dr. Sanderson Onnie, mahasiswa pasca-doktoral di Black Dog Institute Australia mengatakan bahwa angka bunuh diri di Indonesia kemungkinan bisa jauh lebih besar dari yang terlapor. Anak usia 18-25 tahun memiliki kerentanan lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri. Kasus-kasus bunuh diri banyak terjadi pada mahasiswa. Hal ini menunjukkan tekanan besar yang dialami oleh para mahasiswa, depresi dan kurangnya komunikasi antara korban dan orang-orang di sekitarnya diduga menjadi faktor terbesar yang mengakibatkan mereka melakukan bunuh diri.

Menurut data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI, ada 971 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Menurut laporan dari UNICEF, Indonesia menduduki peringkat kelima dan keempat tertinggi dalam hal kasus bunuh diri. Jumlah ini sudah melampaui kasus bunuh diri sepanjang tahun 2022 yang jumlahnya 900 kasus. Berdasarkan lokasi pelaporannya, kasus bunuh diri di Indonesia paling banyak dijumpai di Jawa Tengah, yaitu 356 kasus, diikuti oleh Jawa Timur dengan 184 kasus dan Bali dengan 94 kasus. Data lain dari Kepolisian RI mencatat bahwa sejak Januari hingga Juli 2023, terdapat 640 kasus bunuh diri di Indonesia.

Menurut data yang dihimpun dari beberapa sumber, termasuk media lokal, terdapat total 36 kasus bunuh diri di Provinsi Aceh selama beberapa tahun terakhir. Sebuah artikel menyebutkan bahwa data yang dihimpun dari berbagai media lokal Aceh mulai dari tahun 2015-2017 menunjukkan adanya 36 kasus bunuh diri di Aceh. Selain itu, data lain yang dihimpun dari Kompas menunjukkan bahwa selama rentang waktu 2020-2023, terdapat 19 kasus bunuh diri di Aceh.

Dengan meningkatnya kasus bunuh diri di Indonesia dan di Aceh, penulis mencoba memaparkan dari beberapa sumber tentang salah satu faktor penyebab bunuh diri, yaitu depresi, dan bagaimana usaha yang dapat dilakukan dari prespektif ilmu psikologi, untuk mengurangi dan mengatasi faktor depresi sehingga percobaan bunuh diri dapat dihindari.

Depresi adalah gangguan mental yang ditandai oleh perasaan sedih, kehilangan minat atau kesenangan, energi yang rendah, kesulitan tidur, perubahan nafsu makan, perasaan rendah diri, dan gangguan konsentrasi. Depresi dapat diakibatkan oleh masalah keluarga (kekerasan di dalam rumah tangga, perceraian dll.), kondisi ekonomi (terlilit hutang, kasus korupsi dll.), masalah pertemanan (bullying, pelecehan dan kekerasan seksual dll.) masalah pendidikan (tugas yang menumpuk, drop out, dll.)

Depresi yang tidak tertangani dapat menyebabkan bunuh diri karena gejala depresi, seperti perasaan tidak berharga, putus asa, dan kehilangan minat, merupakan faktor risiko bunuh diri. Sebanyak 55% orang dengan depresi memiliki kemauan untuk bunuh diri. Selain itu, depresi juga dapat membuat seseorang merasa lelah, dan menyesali hidupnya. Ketika individu tidak menerima pengobatan yang tepat, seperti terapi atau obat, gejala depresi dapat intensif. Pada kasus yang parah, depresi yang tidak diobati dapat berkontribusi pada ideasi dan percobaan bunuh diri, serta bunuh diri dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak dapat dihindari.
 
Oleh karena itu, manajemen gejala depresi perlu dioptimalkan untuk mengurangi risiko bunuh diri dan mencegah bunuh diri pada orang dengan depresi. Sangat penting bagi individu yang mengalami gejala depresi untuk mencari bantuan profesional. Psikolog, terapis, dan psikiater dapat memberikan pengobatan dan dukungan yang efektif untuk mengatasi depresi dan mengurangi risiko bunuh diri. Kampanye kesadaran masyarakat dan pendidikan kesehatan mental juga memainkan peran penting dalam menekankan pentingnya mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.
 
Pada lama Better Health Victoria dijelaskan bahwa perawatan psikologis yang juga dikenal sebagai terapi berbicara, telah terbukti menjadi cara yang efektif untuk mengobati depresi. Perawatan psikologis dapat membantu penderita depresi mengubah pola pikirnya dan meningkatkan keterampilan penanganan sehingga penderita depresi lebih siap menghadapi tekanan dan konflik dalam kehidupannya. Selain mendukung pemulihan penderita depresi, terapi psikologis dapat membantu agar tetap sehat dengan mengidentifikasi dan mengubah pikiran dan perilaku penderita depresi.

Ada beberapa jenis perawatan psikologis, termasuk cognitive behaviour therapy (CBT, terapi perilaku kognitif), interpersonal therapy (IPT, terapi interpersonal), behaviour therapy (terapi perilaku) dan mindfulness-based cognitive therapy (MBCT, terapi kognitif berbasis kesadaran). CBT adalah salah satu terapi psikologis yang paling umum digunakan. Di dalam Pedoman Praktik Klinis Australia dan Selandia Baru untuk pengobatan depresi, CBT juga menjadi salah satu rekomendasi penanganan depresi sedang dan berat.
 
The American Foundation for Suicide Prevention juga mencantum Cognitive Behavioral Therapy for Suicide Prevention (CBT-SP) sebagai salah satu dari beberapa metode yang dapat secara efektif mengurangi pemikiran dan perilaku bunuh diri serta mendukung pengembangan alasan untuk hidup bagi penderita depresi. CBT bertujuan untuk menunjukkan bagaimana pemikiran penderita depresi memengaruhi moodnya. CBT mengajarkan penderita depresi untuk berpikir dengan cara yang mengurangi pikiran negatif tentang dirinya dan hidupnya. Ini didasarkan pada pemahaman bahwa berpikir negatif adalah lumrah yang, seperti kebiasaan lainnya, dapat diubah, sehingga dapat menciptakan perubahan positif yang langsung terasa dalam kualitas hidupnya. Dengan demikian CBT dapat mengurangi dan mengatasi depresi sehingga percobaan bunuh diri dapat dihindari.
 
Selain CBT, ada sebuah program yang lebih luas cakupannya dari pada mengurangi dan mengatasi faktor depresi penyebab bunuh diri. Program tersebut bernama LivingWorks, didirikan oleh empat profesional layanan manusia dari bidang psikiatri, psikologi, dan pekerjaan sosial. Para pendiri tersebut adalah David J. Lohman, Ph.D., C.Psych., yang menjabat sebagai CEO pertama LivingWorks. Program LivingWorks berfokus pada peningkatan kemampuan individu untuk mengenali tanda-tanda bunuh diri dan melakukan intervensi dengan efektif menunjukkan bahwa program LivingWorks mungkin berkontribusi untuk mengurangi risiko bunuh diri, yang dapat terkait dengan mengurangi dan mengatasi depresi.
 
LivingWorks menawarkan berbagai program pelatihan pencegahan bunuh diri yang dirancang untuk memberdayakan individu, organisasi, dan komunitas untuk bekerja sama dalam upaya menjaga orang agar lebih aman dari bunuh diri. Program pelatihan, seperti LivingWorks ASIST (Applied Suicide Intervention Skills Training), LivingWorks Start, dan LivingWorks safeTALK, bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan untuk mengenali tanda-tanda bunuh diri dan melakukan intervensi dengan efektif untuk membantu menjaga keselamatan individu.
 
Program LivingWorks ASIST adalah workshop interaktif selama 2 (dua) hari dalam pertolongan pertama bunuh diri. Kegiatan dalam workshop ini terstruktur berdasarkan model intervensi ASIST dan memberikan latihan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dengan penekanan pada kebutuhan individu. Pelatihan ini berfokus pada mengajarkan peserta untuk mengenali kapan seseorang mungkin berisiko bunuh diri dan bekerja dengan mereka untuk membuat rencana yang akan mendukung keselamatan segera mereka. Kegiatan workshop melibatkan bantuan audiovisual seperti slide berkualitas tinggi, diagram, dan video untuk membantu peserta memahami dan mengingat konsep-konsep. Program ini dirancang sebagai pendekatan langsung dengan mendorong pembicaraan yang jujur, terbuka, dan langsung tentang bunuh diri. LivingWorks ASIST diakui sebagai standar emas dalam pelatihan intervensi bunuh diri dan didukung oleh lebih dari 40 tahun penelitian dan bukti. Telah terbukti membantu peserta menjadi lebih bersedia, siap, dan mampu untuk mengintervensi dengan seseorang yang berisiko bunuh diri dan terbukti dapat mengurangi tingkat bunuh diri bagi mereka yang berisiko.
 
Program LivingWorks Start adalah pelatihan online selama 90 menit yang mengajarkan peserta untuk mengenali tanda-tanda seseorang mungkin sedang memikirkan tentang bunuh diri dan mengambil tindakan nyata untuk menghubungkannya dengan bantuan. Program ini dirancang untuk diselesaikan sesuai dengan kecepatan peserta dan memberikan sertifikat digital setelah selesai. Ini adalah program masuk berbasis bukti ke dalam kewaspadaan bunuh diri, yang memungkinkan semua orang memainkan peran dalam mencegah bunuh diri. Pelatihan ini mencakup konten berkualitas tinggi dengan berbagai pilihan simulasi, berdasarkan praktik terbaik dalam pengembangan kurikulum online
 
Program LivingWorks safeTALK adalah pelatihan selama 4 (empat) jam yang membekali peserta dengan keterampilan untuk lebih peka terhadap seseorang yang sedang memikirkan bunuh diri dan dapat menghubungkannya dengan bantuan yang tepat. Pelatihan ini menggunakan model yang sederhana namun efektif, sehingga memungkinkan semua orang untuk berperan dalam mencegah bunuh diri. Dalam pelatihan ini, peserta akan belajar bagaimana menghubungi seseorang yang sedang memikirkan bunuh diri dan membantunya tetap aman dengan segera menghubungkannya dengan dukungan yang lebih lanjut. Pelatihan ini mencakup konten berkualitas tinggi dengan berbagai pilihan simulasi, berdasarkan praktik terbaik dalam pengembangan kurikulum online. Pelatihan ini diselenggarakan oleh pelatih terdaftar LivingWorks. Setiap pelatihan LivingWorks safeTALK juga dilengkapi dengan Community Support Resource (CSR) untuk menjaga keamanan ruangan. Pelatihan ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan peserta dalam mengenali tanda-tanda seseorang yang sedang memikirkan bunuh diri dan menghubungkannya dengan sumber bantuan yang tepat.
 

Penulis adalah Mahasiswa Psikologi, Fakultas Kedokteran, USK

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *