Kriteria Pemimpin Dalam Islam

  • Bagikan
Kriteria Pemimpin Dalam Islam

Oleh: Dr. Tgk. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Hari ini Rabu tanggal 14 Februari 2024 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu). Dalam Pemilu ini, rakyat Indonesia memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan, baik pemimpin negara (presiden beserta wakilnya) maupun pemimpin perwakilan rakyat yang duduk di parlemen atau dewan.

Dalam pemilu kali ini, ada tiga pasang Capres-cawapres dan ada ribuan Caleg di seluruh Indonesia. Adapun pasangan tiga capres dan cawapres yaitu pasangan  nomor urut 1: H. Anies Rasyid Baswedan, SE, M.P.P, Ph.D dan Dr. Drs. H. Muhaimin Iskandar, M.Si, pasangan nomor urut 2: Letjend (purnawirawan) Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, B.Sc, dan pasangan nomor urut 3: Ganjar Pranowo, SH, M.I.P – Prof. Dr. Mahfudh MD.

Sebagian umat mungkin masih ada kebimbangan dan kebingungan dalam menjatuhkan pilihan mereka. Kira-kira siapa pemimpin yang layak dipilih dan diangkat sebagai pemimpin Indonesia untuk lima tahun ke depan, baik di lembaga eksekutif mau pun legislatif.

Untuk itu, penulis perlu menjelaskan kriteria calon pemimpin yang tepat untuk memimpin bangsa ini sesuai dengan kriteria pemimpin yang ditetapkan dalam Islam, agar negera ini menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur yaitu negara yang damai, berkeadilan, makmur, mendatangkan kebaikan, dan mendapat keberkahan dari Allah ta’ala.

Islam Agama Yang Sempurna

Islam merupakan agama yang sempurna. Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik aspek agama, sosial, politik, tatanegera/pemerintahan, kepemimpinan, ekonomi, pendidikan, hukum, hak asasi manusia, dan sebagainya. Semua persoalan kehidupan di dunia ini sudah di atur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aturan atau hukum Allah yang diberlakukan kepada manusia inilah  dinamakan Syariat Islam.

Allah swt berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab,” (QS. Al-An’am: 38). Allah swt berfirman, “Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).” (An-Nahl: 89).

Di antara persoalan yang diatur dalam Islam adalah kepemimpinan. Berbicara mengenai kriteria pemimpin, maka seorang wajib merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena, keduanya merupakan pedoman, petunjuk, dan aturan hidup seorang muslim untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Kita harus melihat Al-Qur’an dan As-Sunnah berbicara tentang kepemimpinan atau sifat-sifat seorang pemimpin.

Memilih pemimpin itu harus berhati-hati dan penuh pertimbangan. Tidak boleh seseorang memilih pemimpin dengan hawa nafsu karena tawaran materi berupa pangkat, jabatan dan uang. Begitu pula, tidak boleh memilih pemimpin dengan fanatik buta karena hanya ikut-ikutan atau karena hubungan keluarga, kelompok atau partainya. Pilihan kita hari ini akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah ta’ala kelak di hari Kiamat.

Oleh karena itu, kita harus memilih pemimpin sesuai dengan ketentuan Islam, agar kita tidak salah dalam memilih. Gunakan iman, hati nurani dan logika sehat dalam memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang baik dan layak menjadi pemimpin yaitu yang memenuhi kriteria pemimpin sebagaimana diatur dalam Islam. Bila tidak, maka kita akan menanggung dosa akibat memilih memimpin yang tidak baik dan tidak layak menjadi pemimpin negara. Ini akibat dari pilihan kita pada pemilu ini. Selain berdosa karena salah memilih, akibatnya juga bisa mendatangkan mudharat terhadap agama dan umat Islam serta menghancurkan tatanan kehidupan bangsa dan negara.

Kriteria Pemimpin Dalam Islam

Ada lima kriteria pemimpin dalam Islam yang harus kita ketahui sebagai panduan kita umat Islam sebelum masuk ke bilik suara untuk memilih atau mencoblos, yaitu:

Pertama; Seorang pemimpin adalah seorang muslim yang taat beragama. Maknanya, seorang muslim yang patuh perintah dan larangan agama Islam. Ini kriteria berdasarkan tinjauan agama. Kriteria ini merupakan syarat pertama dan paling utama dalam memilih pemimpin. Begitu pentingnya syarat ini sehingga para ulama sepakat mengatakan bahwa di antara syarat utama menjadi pemimpin adalah seorang muslim dan taat beragama.

Karena itu, ketika kita memilih pemimpin, maka kita harus melihat kepada ibadahnya. Di antara ibadah yang paling penting dan utama adalah shalat. Maka kita perlu melihat bagaimana jejak rekam shalat calon pemimpin yang akan kita pilih, apakah ia menjaga shalatnya atau tidak. Karena, baik atau buruk seseorang itu  tergantung kepada shalatnya. Jika shalatnya baik yaitu senantiasa dilakukan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw, maka perilakunya menjadi baik. Namun jika shalatnya tidak baik yaitu tidak menjaga shalat atau tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw, maka perilakunya menjadi tidak baik.

Allah swt berfirman, “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45).

Rasulullah saw bersabda, “Amalan yang dihisab pertama kali pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik (benar), maka baiklah semua amalannya. Dan jika shalatnya buruk (rusak), maka buruklah semua amalannya.”

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, jelaslah bahwa shalat itu timbangan atau tolok ukur perbuatan seseorang. Oleh kana itu pemimpin yang akan kita pilih harus seorang yang senantiasa menjaga shalatnya dan melakukannya dengan benar yaitu sesuai petunjuk Rasulullah saw.

Ibadah merupakan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya (yaitu Allah). Jika seseorang tidak menjaga hubungan dengan Allah swt, maka Allah swt tidak menjaganya dan tidak pula peduli dengannya sehingga tidak mendapat petunjuk. Akibatnya, perilakunya menjadi tidak baik dan senantiasa berbuat maksiat. Seorang pemimpin yang tidak peduli dengan Allah swt, maka ia pasti tidak peduli dengan rakyatnya. Ia hanya memikirkan kepentingan dirinya, keluarganya serta kelompoknya meskipun dengan cara yang haram.Tuhan saja ditinggalkan, apalagi manusia (rakyat).

Pemimpin yang tidak taat beragama, maka senantiasa melakukan maksiat seperti tidak shalat, tidak mengaji, korupsi, nepotisme, suka dusta, berkhianat,  suka berjoget, berbuat zhalim, membela orang yang melecehkan Islam, membela kezhaliman, merusak Islam, merugikan Islam dan umat Islam, meridhai kemungkaran, dan sebagainya. Inilah bahaya pemimpin yang tidak taat.

Kedua; .eorang pemimpin adalah orang yang mampu menjadi imam dan khatib. Ini kriteria berdasarkan tinjauan sejarah. Dalam sejarah, setelah wafatnya Rasulullah SAW para sahabat sepakat mengangkat Abu Bakar RA sebagai pemimpin. Alasannya, selain beliau taat beragama, beliau juga pernah ditunjuk oleh Rasul SAW sebagai imam shalat. Beliau mampun menjadi imam dan khatib.

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib RA yang berkata, “Ketika Nabi wafat, kami berpikir tentang urusan kami ke depan, lalu kami jumpai bahwa Nabi telah mengangkat Abu Bakar sebagai imam salat kami, akhirnya kami relakan urusan dunia kami, dipimpin oleh seseorang yang diridhai oleh Rasulullah SAW memimpin urusan agama kami. Karena itu, kami utamakan Abu Bakar sebagai pemimpin kami.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam at-Thabaqaat al-Kubraa)

Kenyataannya, ketika Rasul saw masih hidup dan beliau berhalangan, maka beliau menunjuk Abu Bakar sebagai imam. Di sini tersirat pesan penting bahwa ketika Abu Bakar diangkat sebagai imam shalat, sudah sangat layak pula beliau diangkat sebagai pemimpin. Kita tidak perlu bingung dan banyak pertimbangan dalam memilih seorang pemimpin. Kita bisa lihat _track record_ (rekam jejak) seseorang dalam masalah salat. Siapakah yang istiqamah shalatnya, bahkan sampai bisa menyampaikan khutbah dan menjadi imam shalat, itulah sosok pemimpin yang layak kita pilih.

Ketiga, Seorang pemimpin adalah orang yang berilmu dan cerdas. Ini kriteria berdasarkan tinjauan intelektual atau kecerdasan. Jika seorang pemimpin bodoh, maka rusaknya negara ini. Ia maka akan mudah ditipu oleh orang jahat. Bahkan dengan mudah dipengaruhi dan diatur oleh orang.jahat untuk kepentingannya. Dengan kebodohannya pula, ia berbuat maksiat.

Al-Qur’an telah menjelaskan pentingnya kriteria ini bagi seorang pemimpin. Di antaranya, kisah diangkat Thalut sebagai pemimpin bani Israil dalam melawan musuh mereka. Ketika Bani Israil meminta pemimpin untuk berjuang melawan musuh mereka Allah memilih Thalut sebagai pemimpin mereka karena kelebihan ilmu dan kekuatan fisik yang dimilikinya,  bukan pemimpin yang kaya seperti diinginkan Bani Israil.

Allah swt berfirman, “Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana (mungkin) dia memperoleh kerajaan (kekuasaan) atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.” Allah menganugerahkan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (kekuasaan dan rezeki-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 247).

Lihatlah ketika Nabi Yusuf menawarkan dirinya untuk menduduki jabatan Menteri di Kerajaan Mesir beliau menyebut kelebihan beliau dari  sisi amanah dan ilmu.

Allah swt berfirman, “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan negeri (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) lagi sangat berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).

Lihatlah raja Zulqarnain seorang pemimpin besar yang Allah berikan kekuasaan yang luas karena ilmu yang dimilikinya dan konsisten mengikuti ilmu tersebut. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan jalan (ilmu) kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka, dia menyusuri suatu jalan (ilmu). (QS. Al-Kahfi: 84-85). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan sebagian tabi’in menafsirkan kata “sababa” dalam ayat tersebut adalah ilmu,

Seorang pemimpin itu harus cerdas dan berilmu sebagaimana Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sofyan, Umar bin Abdul Aziz dan  lainnya. Mereka adalah para pemimpin yang cerdas dan berilmu. Maka Islam menjadi kuat dan maju serta mencapai peradaban.

Maka pilihlah pemimpin yang cerdas dan berilmu. Tidak boleh kita memilih pemimpin yang bodoh. Kita diharuskan memilih pemimpin yang memiliki kecerdasan, punya skill (keahlian) dan intelektualitas yang mumpuni.

Sungguh berbahaya negeri sebesar dan sekaya Indonesia jika sampai dipimpin oleh pemimpin yang bodoh. Maka memberikan kemudharatan bagi Islam dan umat Islam serta menghancurkan negara.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah, “Hai Ka’ab bin Ujrah! Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang bodoh.” Ka’ab bertanya: “Apa yang dimaksud kepemimpinan orang-orang bodoh itu?” Beliau SAW bersabda, “Para pemimpin yang akan datang sesudahku, mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak meniti jalanku. Siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan menolong kezaliman mereka, maka mereka bukan golonganku dan aku bukan golongan mereka, serta mereka tidak akan mendatangi aku di telagaku. Siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong kezaliman mereka, maka mereka termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka serta mereka akan mendatangi aku di telagaku.” (HR. Ahmad)

Hadits ini mengandung doa Rasulullah saw yang memohon kepada Allah swt agar kita dilindungi dari kepemimpinan seorang pemimpin yang bodoh. Dengan kata lain, memilih pemimpin haruslah pemimpin yang cerdas, pemimpin yang taat agama, dalam menjalankan roda kepemimpinan, tidak melenceng dari agama, tegak lurus dalam membela kebenaran dan melawan segala bentuk kezaliman.

Keempat: kriteria memilih pemimpin berdasarkan tinjauan etika. Seorang pemimpin adalah orang yang beretika dan memiliki akhlak yang mulia seperti tawadhu, lembut, jujur, amanah, berbuat adil, santun, penuh kasih sayang, merasakan penderitaan yang dirasakan oleh rakyatnya dan sangat menginginkan kebaikan bagi rakyatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin yang memiliki sifat tersebut sehingga beliau menjadi pemimpin yang dicintai oleh umatnya. Kalau harus merasakan kesulitan beliaulah orang yang paling merasakan kesulitan tersebut.

Allah swt berfirman, “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At Taubah: 128).

Allah swt berfirman, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Seorang pemimpin adalah yang berlaku lemah lembut kepada rakyatnya, senantiasa mendoakan rakyatnya bahkan bermusyawarah serta mendengarkan pendapat-pendapat rakyatnya setelah itu bertawakkal dan menyandarkan urusan kepada Allah yang menjadi lambang tauhid yang benar.

Allah swt berfirman: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.(QS. Ali Imran: 159).

Seorang pemimpin adalah orang yang berkata benar (jujur) dan amanah serta bersikap adil. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi swt dan para khulaurrasyidin.

Allah swt berfirman, “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90).

Allah swt berfirman, “Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah, setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (An-Nahl: 91).

Allah swt berfirman, “dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34).

Jika ada dua calon pemimpin yang harus kita pilih, pertama, pemimpin yang baik etikanya, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti luhur. Dan kedua, pemimpin yang lain kurang baik etikanya dan tidak berakhlak, maka kita harus memilih pemimpin yang nomor satu. Karena sesuai dengan perintah agama, hati nurani dan logika sehat.

Memilih pemimpin yang tidak beretika apalagi sampai menganggap etika itu tidak penting, bisa jatuh pada sikap pengkhianatan kepada Allah swt, Rasulullah saw dan kaum beriman.

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang memberi jabatan seseorang dari suatu kelompok, sementara di tengah-tengah mereka ada orang yang lebih diridai Allah dari pada yang dia pekerjakan, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan Kaum Mukminin.” (HR. Hakim)

Dari hadits ini kita belajar tentang memilih pemimpin. Kita harus memilih pemimpin yang paling diridhai oleh Allah swt dengan melihat rekam jejaknya dalam masalah ibadah seperti menjaga shalat, melakukan shalat dengan benar (sesuai petunjuk Nabi saw), bisa membaca Alquran, disiplin, memiliki intelektual dan integritas, santun, berwibawa, jujur, amanah, beretika, dan sebagainya. Pemimpin semacam ini adalah pemimpin yang diridhai Allah swt dan akan memimpin dengan kasih sayang terhadap rakyatnya.

Kelima; Seorang pemimpin adalah orang yang menjadi panutan dan teladan bagi rakyatnya. Kriteria berdasarkan tinjauan karakter pribadi. Kepribadian seorang pemimpin akan membawa pengaruh kepada orang-orang yang ia pimpin. Ia menjadi contoh baik atau buruk yang akan diikuti oleh rakyatnya. Jika pemimpin berkepribadian baik, maka orang-orang yang dipimpin menjadi baiklah. Namun apabila pemimpin berkepribadian buruk, maka orang-orang yang dipimpin menjadi buruk. Umar bin Khattab RA berkata, “Manusia akan mengikuti karakter keagamaan pemimpin mereka.”

Rasulullah saw adalah seorang pemimpin yang menjadi teladan dan panutan bagi semua manusia khususnya umat Islam. Allah swt berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Memilih seseorang untuk memimpin diri kita, selain bernilai ibadah karena melaksanakan perintah agama, juga membangun karakter bangsa, membangun kepribadian anak cucu keturunan kita. Jika kita memilih pemimpin yang memiliki karakter taat beribadah, taat pada ketentuan agama, intelek, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, maka karakter ini akan mempengaruhi rakyat di bawah. Rakyat akan menjadi masyarakat yang agamis, menjunjung tinggi etika, giat belajar ilmu agama, menjauhi korupsi dalam segala bentuknya, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, pemimpin yang tidak memiliki kepribadian yang baik seperti, suka meminum minuman keras, gemar berjudi, menonton tayangan-tayangan yang tidak layak ditonton, gemar berjoget ria, tidak shalat, tidak mengaji, mudah emosi dan marah-marah, suka berbohong, korupsi, nepoatisme, dan berbagai akhlak buruk lainnya, maka mau tidak mau, akan banyak rakyat yang meniru karakter pemimpinnya yang buruk ini.

Keenam: Seorang pemimpin adalah orang yang sehat jasmani dan rohani serta kuat fisiknya. Ini kriteria berdasarkan kesehatan.

Allah swt berfirman, “Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana (mungkin) dia memperoleh kerajaan (kekuasaan) atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.” Allah menganugerahkan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (kekuasaan dan rezeki-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 247).

Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah dari mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).

Pemimpin yang sehat dan kuat itu dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, baik urusan pribadinya, keluarganya maupun bangsa dan negara.  Adapun orang yang lemah fisiknya karena faktor lanjut usia atau sakit maka akan sulit dalam menjalankan tugas dan kewajibanmya, baik urusan pribadinya, keluarganya maupun urusan pribadinya, keluarganya maupun bangsa dan negara.

Inilah enam kriteria utama yang bisa kita jadikan sebagai panduan dalam memilih seorang pemimpin sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Agar terpilih pemimpin yang baik dan layak menjadi pemimpin sehingga tercipta persatuan, keadilan, kemakmuran, dan kemajuan serta terjaga agama.

Sebagai penutup, marilah kita memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria dalam Islam yaitu muslim yang ta’at beragama, jujur, amanah, cerdas, berilmu, beretika/berakhlak mulia, bersikap adil, sehat (kuat fisik) dan menjadi teladan bagi rakyatnya. Inilah sifat-sifat pemimpin yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya khulafaurrasyidin serta para pemimpin Islam lainnya yang mengikuti mereka. Inilah kriteria pemimpin yang sesuai dengan Islam.

Ingat, lima menit di bilik suara untuk memilih pemimpin (mencoblos) sangat  menentukan keadaan bangsa dan negara Indonesia untuk lima tahun ke depan. Jika salah pilih, maka rakyat akan menderita selama lima tahun ke depan. Namun jika pilihan benar, rakyat akan hidup damai, bahagia, berkeadilan, makmur, terjaga agama, serta mendapat ridha Allah swt.

Harapan kita, semoga Allah swt memberi petunjuk kepada kita untuk bisa mendapatkan pemimpin yang taat beragama, jujur, amanah, menjaga shalat, cerdas, berilmu, beretika, sehat (kuat fisik), dan menjadi teladan bagi rakyatnya. Dan semoga pemimpin yang terpilih nanti sesuai dengan kriteri pemimpin dalam Islam atau mendekati kriteria ini. Amin ya rabbal ‘alamin.

Penulis adalah Doktor Fiqh dan Ushul Fiqh pada International Islamic University Malaysia (IIUM), Dosen Fiqh dan Ushul Fiqh pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh, Wakil Ketua Majelis Pakar PW Parmusi Aceh, Ketua bidgar Dakwah PW Persis Aceh, Ketua PC Muhammadiyah Syah Kuala Banda Aceh, dan Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *