Tangis Anak-anak Palestina Di Pengungsian; Kelaparan

  • Bagikan
Tangis Anak-anak Palestina Di Pengungsian; Kelaparan
Tangis anak-anak Palestina di pengungsian akibat keganasan agresi Israel. AP/Lat

JAKARTA (Waspada): Anak-anak Gaza yang tinggal di kamp pengungsian di Rafah menderita tak terkira akibat bombardir Israel.

Mereka sampai-sampai harus bangun dan tidur dalam keadaan lapar, bayi meminum cairan yang berbau susu, atau makan sekali dalam sehari.

Salah satu warga Gaza yang tinggal di kamp sekolah Rafah, Yosra Al Deeb, mengatakan tak punya apa-apa lagi untuk dimasak selain hari itu.

“Anak-anak tidur dalam keadaan lapar dan bangun dalam keadaan lapar,” kata Al Deeb, dikutip Reuters.
Dia membuatkan makanan, dan ini menjadi satu-satunya makanan yang dikonsumsi anak-anak dalam sehari.

Mata dan raut muka Al Deeb tampak marah sekaligus lelah dengan kondisi sekarang.

“Di rumah, saya kasih mereka makanan bergizi, mereka tak pernah sakit. Tapi, di sini, mereka selalu sakit, setiap hari sakit flu perut,” ucap dia.

Banyak warga Gaza yang juga mengalami dehidrasi, kekurangan nutrisi, dan kehilangan berat badan secara drastis.

Warga lain yang juga merasakan dampak kekurangan makanan pokok adalah Zakaria Rehan. Ia bahkan harus mengisi botol untuk bayinya dengan lebih banyak air daripada bubuk susu.

“Ini pokoknya air yang ada sesendok bubuknya, apalagi sesendok, bau susu saja tidak apa bisa dia bisa meminumnya,” ungkap Rehan.

Rehan sadar betul tindakan itu tak sehat untuk bayinya, Yazan. Namun, dia tak punya pilihan, bantuan kemanusiaan juga tak bisa diandalkan.
“Itu tidak sehat, tak memberi nutrisi apa pun,” imbuh dia.

Bantuan kemanusiaan yang datang ke Rafah tak cukup memenuhi kebutuhan seluruh warga di tengah gempuran dan blokade Israel.

Terlebih, Israel sempat membatasi bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza.

“Iya, ada bantuan yang masuk, tapi tidak cukup sama sekali. Tidak cukup untuk seluruh keluarga,” ungkap Rehan.

Krisis pangan menjadi masalah tersendiri selama Israel melancarkan agresi ke Palestina pada 7 Oktober.

Selama operasi, Israel menyerang warga dan objek sipil seperti rumah sakit, sekolah, hingga kamp pengungsian.

Imbas serangan mereka, ratusan ribu tempat tinggal penduduk hancur, dan lebih dari 17.000 warga di Palestina meninggal.(cnni)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *