Guha Ek Leuntie: Sebuah Harapan

  • Bagikan
Guha Ek Leuntie: Sebuah Harapan

Oleh Dr Ir Dandi Bachtiar, M.Sc.

Gua Ek Leuntie berdiri megah menghadap ke arah Lautan Hindia berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai. Di hadapannya terhampar padang rumput yang sudah kembali ditumbuhi oleh semak belukar

Gempa bumi dahsyat diiringi dengan tsunami 26 Desember 2004 telah meluluhlantakkan kehidupan di bumi Aceh. Tidak ada yang menyangka musibah sebesar itu dapat terjadi. Karena dalam alam sadar sebagian besar masyarakat Aceh sama sekali belum akrab dengan fenomena tsunami. Memang ada sebagian yang sudah memahami istilah tsunami bagi yang pernah membaca literatur atau menyaksikan tayangan National Geographic di televisi, namun itu pun tentang tsunami di daerah atau negara lain. Tidak untuk Aceh.

Ada pengecualian untuk penduduk Pulau Simeulue yang mereka punya memori turun temurun tentang smong, yaitu naiknya air laut ke daratan sebagai imbas dari gempa besar. Terbukti penduduk di sana termasuk yang paling sedikit menjadi korban musibah ini. Namun, bagi sebagian penduduk Aceh yang tersapu oleh gelombang besar tsunami, mereka sama sekali tidak punya memori apa pun bahwa tsunami bakal menerpa Aceh. Sehingga jumlah korban jiwa menjadi sangat besar mencapai ratusan ribu jiwa.

Belajar dari pengalaman pahit ini para ilmuwan dan kaum intelektual kampus mulai membangun narasi dan literasi melek bencana tsunami bagi pengetahuan masyarakat umum. Mereka mendirikan pusat studi kebencanaan yang bertujuan membuat mitigasi bencana dan mempersiapkan segala hal agar bencana serupa dapat diantisipasi di masa depan. Terbukti dari salahsatu penemuan mereka dalam berbagai jenis kajian yang dilakukan ternyata tsunami besar sudah kerap terjadi di wilayah Aceh ini sejak ribuan tahun yang lalu. Dan tsunami itu kerap datang dengan interval waktu tertentu. Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?

Rahasia besar ini mulai tersingkap dengan penemuan sebuah gua besar di tepi pantai. Lokasinya berada di Lhoong Aceh Besar, sebuah desa kecil nan indah persis di tepi pantai. Berjarak sekitar 60 km dari kota Banda Aceh. Sang gua dinamakan Guha Ek Leuntie oleh penduduk setempat, karena merupakan tempat bernaungnya hewan kelelawar. Mulut gua yang menghadap persis ke arah laut berjarak sekitar 200 meter tidak akan dimasuki air laut pada kondisi normal. Namun ketika gelombang besar tsunami menerpa, limpahannya masuk penuh ke dalam gua dan membawa pasir-pasir endapan ke dalamnya. Ketika air kembali surut, endapan pasir tidak terbawa lagi ke luar sehingga kekal di dalamnya. Fenomena ini menjadi petunjuk penting bagi kita untuk mengetahui keberulangan tsunami yang terjadi.

Para ilmuwan kemudian menggali tanah di dalam gua, dan benar dugaan ternyata ditemukan lapisan endapan yang berbeda-beda layaknya kue lapis. Lapisan endapan tersebut dipisahkan oleh endapan kotoran kelelawar, yang menandakan masa normal tanpa ada intrusi pasir tsunami. Begitu tsunami terjadi lagi, kembali membawa endapan baru yang menutupi kotoran kelelawar tadi. Begitu seterusnya sampai akhirnya ditemukan ada sebanyak lebih dari setidaknya sebelas lapisan. Kemudian dengan teknologi ditemukan cara mengukur usia endapan sehingga bisa menyingkap tahun-tahun kedatangan tsunami purba tersebut.

Hasil kajian para ilmuwan ini dipublikasikan di jurnal internasional sehingga nama Guha Ek Leuntie mendunia (Rubin dkk., 2017). Situs gua ini kemudian digadang-gadang sebagai monumen alam yang merekam fenomena tsunami purba di Aceh. Tentu ini sebuah peluang langka yang tidak semua tempat memilikinya. Dari berbagai pemberitaan yang muncul sejak penemuan situs ini, pemerintah sudah punya keinginan untuk menjadikan lokasi ini sebagai destinasi wisata edukasi bencana tsunami. Sebuah ide yang brilian. Akan banyak manfaat besar yang ditimbulkan dari upaya eksploitasi situs ini. Selain masyarakat teredukasi, masyarakat lokal pun akan mendapat limpahan manfaat ekonomi dari tumbuhnya aktivitas kunjungan wisata dari luar daerah, bahkan mancanegara.

Namun saat ini, ide besar itu baru sebatas wacana. Belum bisa terealisir dengan segera. Penulis yang penasaran dengan lokasi keberadaan Guha Ek Leuntie berkesempatan singgah pada ujung tahun 2023 lalu. Belum ada rambu-rambu apa pun di sekitar lokasi yang memberi arah lokasi gua. Penulis mengandalkan informasi dari GoogleMap dan sempat tersesat ke lokasi lain. Meski akhirnya lokasi sesungguhnya dapat juga ditemukan.

Gua Ek Leuntie berdiri megah menghadap ke arah Lautan Hindia berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai. Di hadapannya terhampar padang rumput yang sudah kembali ditumbuhi oleh semak belukar. Terlihat sedikit sentuhan pembangunan seperti pagar pembatas area di depan kawasan. Namun itu pun sudah tertutupi oleh tumbuhan liar. Yang paling memilukan terdapat banyak kubangan lumpur di depan gua dan dipenuhi dengan puluhan kerbau yang sedang berkubang dengan santainya. Terlihat jelas bahwa lokasi ini belum diurus dan dikelola dengan semestinya.

Padahal potensi besar yang dimiliki oleh situs Gua E Leuntie akan sangat berkontribusi kepada banyak pihak. Karena lokasinya yang sangat strategis berada tidak jauh dari jalan nasional Banda Aceh-Meulaboh, serta berada di lokasi pantai yang menawarkan panorama alam yang sangat indah. Kita mengharapkan masyarakat sekitarlah yang sepatutnya paling banyak mendapat manfaat dari keberadaan situs Gua Ek Leuntie.

Ada berbagai opsi yang mungkin diterap untuk dapat segera mengeksplorasi situs menjadi destinasi wisata unggulan. Dengan pendekatan top-down, pemerintah bisa menawarkan konsesi kepada investor swasta untuk mengelola kawasan sebagai destinasi wisata. Namun pendekatan ini rawan terhadap penolakan masyarakat karena bisa jadi masyarakat bakal terpinggirkan.

Pendekatan lain yang lebih memungkinkan adalah pendekatan bottom-up, yaitu lebih kepada pemberdayaan masyarakat lokal untuk terlibat lebih besar dalam pengelolaan kawasan. Pemerintah dapat mengawal proses pengelolaan ini sejak dari tingkat pemerintah desa setempat. Pemerintah desa dan kelompok masyarakat didorong untuk mampu membentuk badan usaha semacam BUMG (badan usaha milik gampong) yang akan bertugas mengelola kawasan tersebut. Tentunya perlu ada bimbingan langsung dari pihak terkait menyangkut segala hal yang berkaitan dengan kompetensi BUMG dalam menjalankan tata kelola wisata alam unggulan ini.

Kunci keberhasilan dari upaya pengelolaan dengan pendekatan bottom-up ini adalah kerjasama erat dari beberapa pihak yang berkepentingan. Yang paling utama kesadaran yang tinggi di kalangan masyarakat dan aparat desa setempat bahwa lokasi Guha Ek Leuntie sangat berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Kerja sama dengan pihak kampus tentu akan sangat membantu dalam memberikan pencerahan dan ide-ide membangun. Kampus penuh dengan orang-orang yang berdedikasi dan berorientasi kepada pembangunan masyarakat. Upaya yang dibangun dari bawah dengan penuh kesadaran dan kebersamaan tentunya akan memiliki tingkat resistensi/penolakan yang rendah dan lebih mudah untuk dijalankan.

Mungkin saja pendekatan bottom-up ini memerlukan waktu yang sedikit lebih panjang, karena memerlukan proses adaptasi dan persiapan yang lama. Namun cara ini lebih demokratis dan menjunjung azas kesetaraan yang adil dan transparan di kalangan masyarakat. Dan proses pembangunan seperti inilah yang lebih memanusiakan dan nantinya akan menjamin keberlangsungan program pembangunan Guha Ek Leuntie lebih stabil dan lancar. Semoga.

Penulis adalah Dosen Jurusan Teknik Mesin dan Indystri – USK.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *