Survei: Bisa Sesat, Bisa Tepat Manfaat

  • Bagikan
Survei: Bisa Sesat, Bisa Tepat Manfaat

Oleh Zulkarnain Lubis

Hasil survei hanya nilai dugaan, sedang hasil real adalah nilai sesungguhnya dan nilai yang benar, dengan asumsi pemilunya berjalan dengan baik, tidak ada penyelewengan, dan tidak ada kecurangan

Kata ‘survei’ sekarang menjadi salah satu yang paling dibahas dan dikomentari, hasil survei dari lembaga survei menjadi sesuatu yang diperdebatkan bahkan dipertengkarkan. Survei yang sesungguhnya merupakan terminologi metode penelitian sudah menjadi pembicaraan orang awam. Berbagai pihak memberikan komentar tentang survei dan hasil survei, khususnya yang menyangkut hasil survei mengenai elektabilitas pasangan calon dalam sebuah kontestansi pemilihan umum, baik secara nasional maupun di daerah. Lembaga survei menjadi salah satu yang dicari-cari dan hasilnya menjadi perdebatan baik di warung kopi, di café, di hotel, di restoran, di kantin kampus, di kantor, di ruang kelas, di ruang keluarga, di tempat arisan, di perhelatan, di tempat jualan sayur, di ruang rapat, di ruang seminar, mapun di group-group media sosial.

Ada yang dengan lantang mengatakan tidak percaya dengan survei, survei dianggap adalah bohong-bohongan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas seseorang, ada yang bilang survei itu menipu, lembaga survei adalah lembaga abal-abal bahkan ada yang menggugat agar lembaga survei dilarang melakukan survei dan dilarang mempublikasikan hasil surveinya. Sebagian lagi bersuara bahwa lembaga survei hanya sekedar mencari duit, memenuhi keinginan kliennya.

Sementara di sisi lain, ada yang selalu menonjol-nonjolkan dan memamerkan hasil survei untuk menunjukkan keunggulan suara calon pasangan dukungannya, dengan hasil survei yang ada, mereka mengklaim bahwa pasangan pilihannya pasti menang, dan dengan meyakinkan mengatakan sia-sia untuk berjuang dalam pasangan kompetitornya. Mereka dengan percaya diri mengatakan bahwa penyelenggaraan pemilu nanti dipastikan curang jika pasangannya kalah karena survei menunjukkan pasangannya yang menang. Hasil survei sangat dipercaya dan dijadikan bahan kampanye untuk menarik pendukung dan pemilih serta dijadikan senjata untuk menyerang kompetitor mereka. Hasil survei yang menguntungkan pihaknya dijadikan juga sebagai psywar untuk menekan dan meruntuhkan mental pesaingnya.

Muncul pula tudingan bahwa hasil survei adalah pesanan oleh pasangan atau timnya dan untuk itu hasilnya sesuai dengan kehendak pasangan yang memesan, hal ini disebutkan karena masing-masing lembaga survei menunjukkan hasil yang berbeda-beda bahkan bertolak belakang satu sama lainnya. Mereka meragukan kredibilitas, kualitas, dan integritas lembaga pelaksana survei.

Agar bisa memberikan komentar yang proporsional serta memahami survei dan hasil survei, agar bisa bersikap lebih netral terhadap lembaga survei dan hasil survei yang dilakukan, ada baiknya kita memahami apa sebetulnya survei tersebut, apakah sesungguhnya hubungan hasil survei dengan hasil real, apakah hasil survei yang mengklarifikasi hasil real atau hasil real yang mengklarifikasi hasil survei, apakah keduanya harus sama atau boleh berbeda atau malah harus berbeda. Dalam bahasa penelitian, survei merupakan salah satu strategi penelitian di samping strategi lainnya seperti percobaan, studi kasus, penelitian tindakan, grounded theory, etnografi, dan penelitian arsip. Survei merupakan penelitian untuk menguji hipothesis ataupun untuk menemukan solusi terhadap masalah atau mengkaji topik tertentu yang dicirikan oleh pengumpulan data dalam jumlah yang besar, diambil dari populasi yang cukup besar, dan selanjutnya membakukannya agar memungkinkan dilakukan analisis data untuk mengambil kesimpulan.

Penelitian dengan survei ini merupakan strategi penelitian yang paling sering digunakan dan paling dipertimbangkan khususnya untuk ilmu sosial. Penelitian dengan survei biasanya dilakukan untuk menduga karakteristik populasi tertentu berdasarkan sampel yang ditarik sedemikian rupa sehingga sampel dianggap merepresentasikan populasinya. Sampel dianggap representatif apabila metode pengambilan sampelnya tepat dan jumlah sampelnya cukup. Semakin representatif sampel yang ditarik yang berarti semakin besar ukuran sampelnya dan semakin tepat metode penarikan sampelnya, sehingga akan semakin mendekati antara hasil sebuah survei dengan hasil real, dengan catatan faktor lain sudah mengikuti langkah sesuai prosedur ilmiah. Statistik menyediakan berbagai metode sampling dan berbagai pertimbangan dalam menentukan ukuran sampel yang harus menjadi pertimbangan dalam melakukan penarikan sampel dalam sebuah survei agar sampelnya dianggap cukup representatif.

Sebagai salah satu strategi dalam melaksanakan penelitian, dalam melaksanakan survei mesti mengikuti metode ilmiah, selain representasi sampel, hal lain yang menjadi pertimbangan agar hasil survei mendekati hasil real adalah survei harus memenuhi komponen metode ilmiah yang sistematis, rasional, dan empiris serta memiliki ciri-ciri ilmiah yang objektif, skeptis, bebas prasangka, dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, dan menggunakan prinsip-prinsip analisis, serta sebisa mungkin menggunakan teknik-teknik kuantifikasi. Proses pelaksanaan survei yang dilaksanakan harus juga mengikuti proses pelaksanaan penelitian yang dimulai dari identifikasi masalah, penentuan tujuan survei, studi kepustakaan, menentuan metode penelitian, analisis data, dan kesimpulan.

Jika semua langkah dan proses diikuti secara baik dan benar dan dengan menggunakan metode ilmiah, maka hasil survei yang dilakukan tidak akan berbias dan akan mendekati nilai real atau nilai yang seharusnya. Jadi dari apa yang dijelaskan di atas, jelas bahwa survei dilakukan adalah menduga keadaan yang sebenarnya, atau dengan kata lain hasil survei hanyalah sebuah dugaan yang digunakan sesuai keperluan untuk mencapai tujuan penelitian dan nilai dugaan tersebut digunakan sebagai pengganti dari nilai yang sesungguhnya. Nah, demikian juga halnya dengan survei elektabilitas pasangan calon pemilu, semestinya gunanya adalah untuk memperkirakan atau menduga elektabilitas para kandidat yang bersaing yang mestinya digunakan sebagai masukan bagi para kandidat dan timnya untuk mengambil langkah-langah dan menyusun strategi pemenangan.

Mungkin akan ada pertanyaan, jika pada saatnya hasil real sudah diketahui, apakah hasil survei harus berbeda atau kalau hasil keduanya berbeda, apa pula artinya, kenapa pula bisa berbeda. Seperti dikatakan di atas, bahwa hasil survei hanya nilai dugaan, sedang hasil real adalah nilai sesungguhnya dan nilai yang benar, dengan asumsi pemilunya berjalan dengan baik, tidak ada penyelewengan, dan tidak ada kecurangan. Jadi jika Pemilu berjalan dengan jujur dan adil dan jika ada perbedaan antara hasil survei dengan data real, meskipun keduanya diklaim telah dilakukan dengan benar, maka yang diakui dan diterima adalah hasil real atau yang sesungguhnya, bukan hasil survei, karena hasil survei hanyalah nilai dugaan. Jadi hasil survei tidak dapat dijadikan untuk mengklarifikasi data real dan data real juga tidak perlu untuk dibandingkan dengan hasil survei, karena yang satu adalah nilai dugaan dan yang satunya lagi adalah nilai sesungguhnya.

Bisa saja nilai dugaan berbeda dengan nilai yang sesungguhnya, hanya saja jika surveinya menggunakan cara ilmiah dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan alat ukur yang valid dan reliable, dengan alat analisis yang sesuai dan memenuhi asumsi yang disyaratkan, serta dengan sampel yang representative, maka mestinya antara penduga dan yang diduga atau antara nilai dugaan dan nilai yang sesungguhnya tidak akan jauh perbedaannya.

Tentang kenapa hasil survei dari berbagai lembaga survei yang ada menunjukkan hasil yang berbeda, sebenarnya dapat diterima akal, apalagi masing-masing lembaga survei mungkin menggunakan metode yang berbeda, sampel yang berbeda, ukuran sampel yang berbeda, metode pengambilan sampel yang berbeda, konsep dan teori yang berbeda, alat ukur yang berbeda, keahlian pelaksana survei yang berbeda, apalagi dengan reputasi dan integritas dari lembaga survei juga berbeda, serta niat dan motif penyelenggara survei yang mungkin saja juga berbeda. Jadi untuk survei yang sama-sama dilakukan dengan jujur dan diupayakan dengan sebaik-baiknya sesuai kaidah ilmiah, bisa saja hasilnya berbeda, apalagi ditambah dengan reputasi dan integritas para pelaksana surveinya yang berbeda, pasti akan makin membuat hasil survei yang lebih berbeda-beda.

Tapi yang namanya hasil survei, hal tersebut tidak masalah karena semestinya hasil survei tersebut tidak perlu dijadikan sebagai patokan utama bagi para pemilih sebagai pertimbangan dalam menentukan pilihannya, hasil survei tersebut lebih sesuai dijadikan oleh kandidat calon untuk mengambil langkah dan strategi pemenangan mereka. Sementara itu, para pemilih juga lebih baik menggunakan pertimbangan objektif-rasional yaitu kelayakan, kompetensi, integritas, kapasitas, dan kapabilitas para calon daripada hasil-hasil survei yang sekedar sebagai nilai dugaan terhadap hasil pilihan real para pemilih. Kepada para kontestan, jika memang merasa pantas sebagai pemimpin bangsa, tidak perlu menonjol-nonjolkan hasil survei apalagi memesan lembaga survei untuk menukangi hasil survei untuk menaikkan popularitas dan elektabilitasnya, lebih baik menunjukkan kemampuan dan kualitas kepemimpinannya, sehingga rakyat betul-betul memilih karena yakin dengan figur yang dipilihnya.

Ringkasnya, kita tidak perlu apriori menuduh lembaga survei dan hasil surveinya sebagai sesuatu yang salah apalagi menganggapnya sesat, tapi tidak tepat juga jika kita terlalu cepat menganggapnya sebagai sesuatu kebenaran. Kita dapat menerimanya sebagai sebuah kebenaran jika kita yakin betul bahwa metodologi yang digunakan adalah benar, sampelnya benar, metode samplingnya benar, cara mengukur variabelnya benar, alat ukurnya benar, cara mengumpulkan datanya benar, alat analisisnya benar, cara menganalisisnya benar, dan cara mengambil kesimpulannya juga benar. Namun yang paling penting adalah reputasi pelaksana survei harus meyakinkan serta pelaksananya juga diyakini memiliki integritas. Jika semuanya sudah tepat, tentu saja hasil survei akan tepat dan bermanfaat. Jadi hasil survei bisa sesat, tetapi bisa juga bermanfaat jika dilakukan secara tepat dan hasilnya akurat.

Penulis adalah Ketua Dewan Guru Besar, Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian, Ketua Program Studi Magister Agribisnis.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *