Rp4,7 Triliun Kebutuhan Revitalisasi Perguruan Tinggi Siap Dipenuhi Produsen Dalam Negeri

Dari Pameran Bussines Matching 2024

  • Bagikan
Rp4,7 Triliun Kebutuhan Revitalisasi Perguruan Tinggi Siap Dipenuhi Produsen Dalam Negeri

DENPASAR (Waspada): Dalam forum Business Matching 2024 yang digelar di Denpasar, Bali, 4-7 Maret 2024, Kemendikbudristek memberi umpan untuk kebutuhan revitalisasi perguruan tinggi senilai Rp4,7 triliun.

“Kita sampaikan kepada industri barang-barang yang kami butuhkan, bisa tidak industri tersebut mengerjakan dan menyiapkan kebutuhan itu pada tahun ini,” ujar Kepala Biro Umum dan Pengadaan Jasa Kemendikbudtistek, Triyantoro, saat dijumpai di tengah pameran, Rabu (6/3/2024).

Selain memberi umpan, Kemendikbudristek juga menggelar 22 stan dari 182 stan produk nasional yang mengisi pameran hasil produksi dalam negeri bertajuk Bussines Matching 2024. Stan yang dihadirkan Kemendikbudristek merupakan hasil inovasi internal dari perguruan tinggi dan pendidikan vokasi.

“Keikutsertaan Kemendikbudristek dalam acara Business Matching 2024 juga merupakan upaya dalam menyinergikan antara sektor pendidikan dengan perkembangan dunia industri terkini,” ujar Triyantoro menambahkan,

“Pada kesempatan ini kami juga ingin mengenalkan produk hasil dari perguruan tinggi dan vokasi yang belum banyak diketahui oleh publik. Inovasi tersebut berasal dari bidang teknologi, prasarana transportasi, energi, kesehatan, dan budaya. Semoga produk tersebut dapat menarik minat pengunjung, khususnya para pelaku bisnis,” sambung Triyantoro.

Pada bidang teknologi, Kemendikbudristek melalui Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan produk Drone ZEKE. Dosen Fakultas Teknis Mesin dan Teknik Dirgantara ITB, Yazdi Ibrahim Jenie, menjelaskan bahwa produk ZEKE merupakan hasil karya mahasiswa Teknik Dirgantara ITB yang kini sudah memasuki seri perkembangan ketiga.

“Pada seri pertama, drone ZEKE didesain dengan dapat menjangkau ruang terbatas, termasuk inspeksi permukaan dan skema warming. Untuk seri kedua, perkembangan drone dilanjutkan dengan misi inspeksi secara horizontal dan vertikal dalam ruang tanpa sinyal Global Positioning System (GPS),” ucap Yazdi.

Selanjutnya, Yazdi menuturkan bahwa drone ZEKE seri kedua telah diuji untuk inspeksi pesawat N219 dan hanggarnya di PT Dirgantara Indonesia. Beberapa kelebihan dari produk ZEKE antara lain adalah kapasitas baterai yang dapat melakukan inspeksi 20 menit sekali charge, sistem Flight Control Computer yang telah fine-tune sesuai dengan tempat inspeksi, roda drone yang dilengkapi karet untuk menambah traksi, dan ukuran mini airframe dengan energi kinetik rendah sehingga aman untuk objek inspeksi.

“Ke depannya kami melalui mitra TerraDrone Indonesia akan terus mengembangkan produk ini. Pada pameran ini kami juga melakukan uji terbang dan inspeksi drone ZEKE, serta tersedia desain produk prototype drone ZEKE pada seri di masa mendatang,” tegas Yazdi.

Selain itu, pada bidang prasarana transportasi, Kemendikbudristek melalui Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan produk charging station bernama BANGGA (Barata Airlangga). Salah satu tim penggagas BANGGA, Gilbert Samuel Frederich Hutagaol, yang juga mahasiswa Teknik Elektro UNAIR, menegaskan bahwa produk ini merupakan hasil karya dari mahasiswa Teknik Elektro yang awalnya bermula dari proyek pekerjaan kelompok bernama Neophyte – BANGGA EXCS. Produk ini juga merupakan hasil pengembangan dari kerja sama antara Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR dengan PT. Barata Indonesia (Persero) melalui skema Matching Fund 2023.

“BANGGA ini menawarkan charging station yang dilengkapi dengan aplikasi sehingga memudahkan para pengguna dalam melakukan transaksi energi, dan mengetahui lokasi charging station terdekat. Aplikasi tersebut bahkan dilengkapi dengan fasilitas transaksi sewa-menyewa charging station,” imbuh Samuel.

Samuel menambahkan bahwa produk BANGGA ini memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40%. “Kedepannya kami akan mengembangkan sistem fast charging pada produk ini dan para pembeli nantinya juga akan dapat kemudahan akses serta jaminan keamanan transaksi. Selain itu, dengan nilai TKDN lebih dari 40% tersebut, spare part produk ini juga tersedia di pasar Indonesia,” tambah Samuel.

Salah satu pengunjung pameran, Sepia Fajar Maulana, mengungkapkan bahwa kehadiran produk charging station buatan lokal merupakan hal yang langka di Indonesia. Menurut Sepia, produk BANGGA dapat menjadi warna baru bagi penikmat kendaraan listrik, saat ini para produsen charging station masih didominasi oleh produk dari luar negeri.

“Semoga produk BANGGA dapat diproduksi secara massal dan dapat dinikmati oleh publik. Saya melihat bahwa pemakaian dan industri kendaraan listrik akan berkembang pesat dan menjadi kebiasaan baru bagi warga Indonesia,” tutup Sepia.(J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *