Tafakur Imam Al Nasa’i: Mutiara Hadis Dari Kota Nasa’

Oleh Dr. Tgk. H. Zulkarnain, MA (Abu Chik Diglee)

  • Bagikan
Tafakur Imam Al Nasa'i: Mutiara Hadis Dari Kota Nasa'

Imam al Nasa’i adalah penulis kitab Sunan al Nasa’i. Sunan al Nasa’i merupakan kitab ke-5 dalam jajaran kutub al tis’ah (9 kitab induk hadis). Kitab Sunan al Nasa’i (كتاب سنن النساىء) disebut juga dengan nama kitab al Sunan al Shugra (السنن الصغري ) atau kitab al Mujtaba (المجتبي). Kitab Sunan al Nasa’i merupakan ringkasan dari kitab aslinya yaitu al Sunan al Kubra. Kitab Sunan al Nasa’i berisi 5270 hadis.

Adapun nama lengkap imam al Nasa’i adalah Abu Abdurrahman Ahmad Ibn Syu’aib Ibn Ali Ibn Bahar Ibn Sinan Ibn Dinar al Khurasani al Nasa’i. Imam al Nasa’i dilahirkan pada tahun 215 H (830 M) di desa Nasa’ – Khurasan sekarang masuk wilayah Iran bahagian Utara. Ia wafat pada hari Senin tanggal 13 Shafar tahun 303 Hijriah.

Menurut imam al Dzahabi, Ibnu Yunus, Abu Ja’far al Thahawi, dan Abu Bakar al Naqatah bahwa imam al Nasa’i wafat di Ramalah-Palestina dan dikebumikan di seputaran Baitul Maqdis. Muhammad ‘Ajjaj al Khatib di dalam kitabnya Ushul al Hadis menjelaskan bahwa imam al Nasa’i meninggalkan Syiria menuju Ramalah-Palestina setelah dianiaya oleh kelompok ghulat Nashibi Syiria (ekstremis fanatik buta kepada Mu’awiyah) yang ada di Damaskus pada bulan Dzulqa’dah tahun 302 Hijriah.

Pada saat itu imam al Nasa’i ditanya tentang hadis keutamaan Mu’awiyah, namun imam al Nasa’i menjawab: الا يرضى راسا براس حتى يفضل Artinya, apakah Mu’awiyyah tidak rela sehingga harus diutamakan. Jawaban itu sepontan membuat orang ghulat Nashibi Syiria itu memukulinya (imam al Dzahabi, Siyar A’lam al Nubala’, Juz 1, halaman 132-133). Imam al Nasa’i adalah ulama ahli hadis abad ke-3 Hijriah yang karyanya di dalam kitab Sunan al Nasa’i memiliki akurasi keshahihan satu tingkat di bawah kitab Shahihain imam al Bukhari dan imam Muslim.

Imam al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani mengatakan di dalam kitabnya al Nukat ‘Ala Ibni al Shalih, juz 1, 1984, halaman 484-485, tentang kitab Sunan al Nasa’i sebagai berikut :
و في الجملة فكتاب النسايء اقل الكتاب بعد الصحيحين حديثا ضعيفا و رجلا مجروحا و يقاربه كتاب ابي داود و كتاب الترميذي و يقابله في الطرف الاخر كتاب ابن ماجه فانه تفرد فيه باءخراج احاديث عن رجال متهمين بالكذب و سرقة

Artinya, secara umum kitab Sunan al Nasa’i adalah kitab yang paling sedikit memuat hadis dan perawi lemah setelah kitab Shahih al Bukhari dan kitab Shahih Muslim, kitab Sunan Abi Daud dan kitab Sunan al Tirmidzi. Kualitas keshahihan kitab Sunan al Nasa’i mendekati Shahih al Bukhari dan Muslim.

Dalam hal ini, kitab Sunan Ibnu Majah berbanding terbalik dengan kitab Sunan al Nasa’i, karena imam Ibnu Majah masih meriwayatkan hadis-hadis dari perawi yang dicurigai sebagai pendusta dan mencuri hadis. Imam al Dzahabi di dalam kitab Siyar A’lam al Nubala, Juz 16, 1983, halaman 131 menjelaskan bahwa imam al Nasa’i lebih ketat atau lebih mutasyadid dalam penyaringan hadis bila dibandingkan dengan imam al Bukhari dan imam Muslim.

Imam al Nasa’i memulai pengembaraan ilmunya sejak usia 15 tahun dengan meninggalkan desa kelahirannya Nasa’ menuju ke kota Baghlan untuk belajar hadis dan ulum al hadis kepada imam Qutaibah Ibn Sa’id selama satu tahun dua bulan. Kemudian ia melanjutkan rihlah keimuannya ke kota Khurasan, Hijaz, Iraq, Syam, dan Mesir.

Di Mesir ia menetap lama sehingga banyak para pakar hadis di zamannya datang untuk menggali ilmu darinya. Selanjutnya, di Mesir imam al Nasa’i diangkat menjadi qadhi yang sebelumnya ia juga pernah menjadi qadhi di kota Homs-Syiria. Posisinya sebagai qadhi pertanda bahwa imam al Nasa’i adalah ulama ahli hadis yang juga sekaligus ahli fikih (Lihat al Mizzi dalam kitabnya Tahdzib al Kamal, juz 1, 1980, halaman 338).

Menurut catatan Syarif Hatim al ‘Auni, imam al Nasa’i memiliki 457 orang guru. Imam al Nasa’i belajar tentang ilmu kritik hadis (naqdu al hadis) dari imam al Bukhari, imam Abu Daud, imam Abu Hatim al Razi, Abu Zur’ah al Razi, imam Ishak Ibn Rahawaih. Ilmu qira’at dipelajarinya dari imam Ahmad Ibn Nashr al Naisaburi dan imam Shalih Ibn Ziyad al Susi. Belajar ilmu lughah kepada Abu Hatim al Sijistani. Belajar fikih kepada imam Muhammad Ibn Abdul Hakim dan imam Yahya Ibn Abdul Hakim murid dari imam Malik dan juga belajar kepada imam Yunus Ibn Abdul A’la murid dari imam al Syafi’i dan kepada imam Abdullah Ibn Ahmad Ibn Hanbal murid sekalugus putra imam Ahmad Ibn Hanbal.

Sedangkan murid-murid imam al Nasa’i di antaranya adalah Abu ‘Awanah, al ‘Uqaili, Abu Ja’far al Thahawi, Abu Ali al Naisaburi, imam Ibnu Yunus dan lain lainnya (Lihat kitab Tasymiyyatu Masyayikhin Nasa’i, 2002, halaman 10-13). Kepakaran imam al Nasa’i dalam bidang hadis teruji ketika para ulama ahli hadis di Baghdad berkumpul untuk menentukan Intiqa’u al Syuyukh (menyeleksi hadis hadis dari para perawi terdahulu), maka semua mereka sepakat menunjuk imam al Nasa’i.

Selain itu, imam al Nasa’i juga diakui kepakarannya dalam bidang fiqh al hadis sebagaimana yang diungkapkan oleh imam al Hakim berikut ini: كلام النسايء على فقه الحديث كثير
و من نظر في سننه تحير في حسن كلامه

Artinya, al Nasa’i banyak berbicara tentang fiqh al hadis, siapapun yang membaca kitab Sunannya akan ta’ajub atau kagum dengan keindahan kalamnya. Imam al Dzahabi dengan sedikit agak berlebihan mengatakan : هو احذف بالحديث و علله و رجاله من مسلم و من ابي داود و من ابي عيسى و هو جارفي مضمار البخاري و ابي زرعة. Artinya, Imam al Nasa’i lebih mahir dari imam Muslim, Abu Daud, dan Abu Isa al Tirmidzi dalam bidang hadis, ilmu ‘illat hadis, dan ilmu rijalul hadis.

Dia (imam al Nasa’i) satu level dengan imam al Bukhari dan imam Abu Zur’ah (Lihat imam al Dzahabi, kitab Siyar A’lam al Nubala’, Juz 14, halaman 130-133). Imam al Nasa’i telah banyak menulis kitab, di antaranya adalah kitab Sunan al Kubra, Sunan al Sughra(Sunan al Nasa’i), al Khasha’is, Fadha’il al Shahabah, al Manasik, dan lain lainnya. Menurut imam Ibnu al Atsiir al Jazairi di dalam kitabnya Jami’ al Ushul bahwa semua kitab yang ditulis oleh imam al Nasa’i berdasarkan pandangan fikih madzhab Syafi’i.

Abu Abdillah al Rasyid dalam pendahuluan kitab Sunan al Nasa’i menuliskan bahwa kitab Sunan al Nasa’i adalah kitab terbaik, karena di dalamnya terkandung dua perpaduan metodologi imam Bukhari dan imam Muslim serta memberikan tambahan keterangan yang banyak tentang illat (cacat) sanad. Contoh hadis shahih yang tercantum di dalam kitab Sunan al Nasa’i, jilid 4, juz 8, Nomor Hadis 4.379 adalah sebagai berikut : اخبرنا قتيبة قال حدثنا ابن ابي عدي عن داود ابن ابي هند عن سعيد ابن ابي خيرة عن الحسن عن ابي هريرة قال قال رسول لله ص ياتي على الناس زمان ياكلون الربا فمن لم ياكله اصابه من غباره.

Artinya, telah mengabarkan kepada kami Qutaibah ia berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Adi dari Daud Ibn Abi Hindun dari Sa’id Ibn Abi Khairah dari al Hasan dari Abi Hurairah ia berkata telah bersabda Rasulullah saw akan datang kepada manusia suatu zaman dimana mereka memakan riba, dan orang yang tidak memakannya ia akan mendapatkan debunya.

Demikian bermanfaatnya hadis hadis yang dihimpun oleh imam al Nasa’i di dalam kitab Sunannya. Hal itu bagaikan mutiara dari Nasa’ yang berkilau menerangi umat Islam sepanjang masa, meskipun awalnya kitab Sunan al Nasa’i sebenarnya hanya ingin dipersembahkan sebagai hadiah untuk gubernur Ramalah-Palestina di masa itu.

Mudah-mudahan sebagai umat Islam kita bisa menghargai semangat dan kerja keras para ulama seperti imam al Nasa’i ini. Wallahu’alam. WASPADA.id

Oleh Dr. Tgk. H. Zulkarnain, MA (Abu Chik Diglee), Dosen Hadits Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *